Nemesis
IndoForum Activist E
- No. Urut
- 55724
- Sejak
- 26 Okt 2008
- Pesan
- 9.732
- Nilai reaksi
- 503
- Poin
- 113
WASHINGTON, RABU — Para penyelidik Federal memulai pemeriksaan atas kasus mantan Kepala Dinas Rahasia AS (CIA) yang bertugas di Aljazair. Pernyataan ini dikeluarkan Departemen Luar Negeri AS, Rabu (28/1), setelah media massa AS melaporkan dugaan bahwa ia melakukan pembiusan dan pemerkosaan terhadap dua perempuan.
ABC melaporkan, Kepala CIA di Aljazair yang berusia 41 tahun dan bertugas di Aljazair sejak 2007 itu diperintahkan pulang pada Oktober setelah dua perempuan tahun lalu secara terpisah mengajukan tuntutan bahwa mereka diperkosa di kediaman resmi pejabat CIA itu di Algiers.
Disebutkan, kedua perempuan itu menyampaikan pernyataan di bawah sumpah kepada penyidik federal dalam persiapan kasus kejahatan terhadap pejabat itu. Penuntut umum kemungkinan mempertimbangkan dakwaan mengenai kasus pelecehan seksual paling lambat bulan depan. "AS menganggap serius tuduhan kelakuan tidak senonoh yang melibatkan personel pejabat AS di luar negeri," kata juru bicara Departemen Luar Negeri, Robert Wood, dalam satu pernyataan.
"Pelaku tersebut telah kembali ke Washington dan Pemerintah AS sedang menyelidiki kasus tersebut," kata Wood. Dia meminta media agar mencari keterangan lebih lanjut kepada Departemen Kehakiman. Seorang juru bicara CIA menolak memberikan nama pelaku dan menolak mengonfirmasi karena penyelidikan Departemen Kehakiman atas kasus itu sedang berlangsung.
Departemen Kehakiman dan FBI menolak mengomentari kasus tersebut.
Namun, dalam satu pernyataan, Direktur CIA Urusan Publik Mark Mansfield mengatakan, "Saya dapat memastikan kepada Anda bahwa CIA menganggap serius masalah ini dan mengikuti perkembangan mengenai setiap tuduhan ketidakpantasan."
Munculnya tuduhan itu secara potensial dapat memengaruhi citra AS di luar negeri saat Presiden Barack Obama menyerukan "suatu jalan kemajuan baru berdasarkan kepentingan bersama dan saling menghormati" dengan dunia Islam.
Aljazair secara khusus dipandang sebagai titik panas karena keberadaan cabang Al Qaeda Afrika Utara di sana. Ledakan bom bunuh diri pada Agustus di Issers, 60 km sebelah timur Algiers, menewaskan 48 orang. "Kasus pelecehan seksual itu akan dipandang sebagai tipe kebodohan orang-orang AS," kata mantan pejabat CIA, Bob Baer, kepada ABC News. "Pertanyaan saya adalah bagaimana CIA tidak menangkap masalah ini dalam peninjauan rutin mereka tentang para pejabat CIA di luar negeri," katanya.
Menurut satu dokumen keterangan di bawah sumpah di peradilan federal oleh Badan Keamanan Diplomatik Departemen Luar Negeri AS, yang salinannya dimuat di halaman internet ABC News, salah seorang perempuan korban mengatakan, ia diperkosa oleh pejabat CIA itu pada September 2007 setelah diundang ke sebuah acara bersama para pegawai Kedutaan AS di kediaman pejabat CIA itu.
Perempuan itu mengungkapkan, ketika berada di sana ia diberi minuman campuran cola dan wiski. Pada malam harinya, setelah diberi minuman itu, ia tiba-tiba merasa sakit dan mual, dan pada pagi harinya ia terbangun dari tidur di rumah pejabat dengan keadaan telanjang setelah diperkosa. Perempuan tersebut mengatakan, ia tidak dapat mengingat kembali hubungan badan tersebut.
Korban kedua menggambarkan insiden serupa yang terjadi pada Februari 2007, menurut keterangan di bawah sumpah. CNN mengatakan, pel dan bukti lainnya, termasuk belasan kaset rekaman video, memperlihatkan pejabat itu sedang melakukan hubungan seks dengan para perempuan, beberapa di antara mereka diyakini dalam kondisi setengah sadar. Rekaman ini ditemukan ketika mencari bukti-bukti dakwaan di kediaman pejabat tersebut.
Disebutkan, para jaksa telah memperluas penyelidikan ke Mesir karena tanggal pembuatan beberapa kaset video itu terjadi saat pejabat itu ditugaskan di Kairo.
Keterangan di bawah sumpah mengatakan, obat bius Valium dan Xanax— digambarkan sebagai "biasa digunakan untuk melakukan pelecehan seksual"— ditemukan di kediaman pejabat itu di Aljazair. "Obat bius yang biasa dirujuk sebagai patokan tanggal perkosaan itu sulit dideteksi karena obat itu secara cepat memengaruhi metabolisme tubuh," kata mantan agen FBI, Brad Garrett, kepada ACN News. "Banyak kasus para perempuan itu tidak merasa bahwa mereka telah diperkosa hingga hari berikutnya."
Ketika diselidiki oleh para penyelidik keamanan diplomatik, pejabat itu mengklaim bahwa ia melakukan persetubuhan atas dasar suka sama suka, menurut keterangan di bawah sumpah.
Sumber : Ant
ABC melaporkan, Kepala CIA di Aljazair yang berusia 41 tahun dan bertugas di Aljazair sejak 2007 itu diperintahkan pulang pada Oktober setelah dua perempuan tahun lalu secara terpisah mengajukan tuntutan bahwa mereka diperkosa di kediaman resmi pejabat CIA itu di Algiers.
Disebutkan, kedua perempuan itu menyampaikan pernyataan di bawah sumpah kepada penyidik federal dalam persiapan kasus kejahatan terhadap pejabat itu. Penuntut umum kemungkinan mempertimbangkan dakwaan mengenai kasus pelecehan seksual paling lambat bulan depan. "AS menganggap serius tuduhan kelakuan tidak senonoh yang melibatkan personel pejabat AS di luar negeri," kata juru bicara Departemen Luar Negeri, Robert Wood, dalam satu pernyataan.
"Pelaku tersebut telah kembali ke Washington dan Pemerintah AS sedang menyelidiki kasus tersebut," kata Wood. Dia meminta media agar mencari keterangan lebih lanjut kepada Departemen Kehakiman. Seorang juru bicara CIA menolak memberikan nama pelaku dan menolak mengonfirmasi karena penyelidikan Departemen Kehakiman atas kasus itu sedang berlangsung.
Departemen Kehakiman dan FBI menolak mengomentari kasus tersebut.
Namun, dalam satu pernyataan, Direktur CIA Urusan Publik Mark Mansfield mengatakan, "Saya dapat memastikan kepada Anda bahwa CIA menganggap serius masalah ini dan mengikuti perkembangan mengenai setiap tuduhan ketidakpantasan."
Munculnya tuduhan itu secara potensial dapat memengaruhi citra AS di luar negeri saat Presiden Barack Obama menyerukan "suatu jalan kemajuan baru berdasarkan kepentingan bersama dan saling menghormati" dengan dunia Islam.
Aljazair secara khusus dipandang sebagai titik panas karena keberadaan cabang Al Qaeda Afrika Utara di sana. Ledakan bom bunuh diri pada Agustus di Issers, 60 km sebelah timur Algiers, menewaskan 48 orang. "Kasus pelecehan seksual itu akan dipandang sebagai tipe kebodohan orang-orang AS," kata mantan pejabat CIA, Bob Baer, kepada ABC News. "Pertanyaan saya adalah bagaimana CIA tidak menangkap masalah ini dalam peninjauan rutin mereka tentang para pejabat CIA di luar negeri," katanya.
Menurut satu dokumen keterangan di bawah sumpah di peradilan federal oleh Badan Keamanan Diplomatik Departemen Luar Negeri AS, yang salinannya dimuat di halaman internet ABC News, salah seorang perempuan korban mengatakan, ia diperkosa oleh pejabat CIA itu pada September 2007 setelah diundang ke sebuah acara bersama para pegawai Kedutaan AS di kediaman pejabat CIA itu.
Perempuan itu mengungkapkan, ketika berada di sana ia diberi minuman campuran cola dan wiski. Pada malam harinya, setelah diberi minuman itu, ia tiba-tiba merasa sakit dan mual, dan pada pagi harinya ia terbangun dari tidur di rumah pejabat dengan keadaan telanjang setelah diperkosa. Perempuan tersebut mengatakan, ia tidak dapat mengingat kembali hubungan badan tersebut.
Korban kedua menggambarkan insiden serupa yang terjadi pada Februari 2007, menurut keterangan di bawah sumpah. CNN mengatakan, pel dan bukti lainnya, termasuk belasan kaset rekaman video, memperlihatkan pejabat itu sedang melakukan hubungan seks dengan para perempuan, beberapa di antara mereka diyakini dalam kondisi setengah sadar. Rekaman ini ditemukan ketika mencari bukti-bukti dakwaan di kediaman pejabat tersebut.
Disebutkan, para jaksa telah memperluas penyelidikan ke Mesir karena tanggal pembuatan beberapa kaset video itu terjadi saat pejabat itu ditugaskan di Kairo.
Keterangan di bawah sumpah mengatakan, obat bius Valium dan Xanax— digambarkan sebagai "biasa digunakan untuk melakukan pelecehan seksual"— ditemukan di kediaman pejabat itu di Aljazair. "Obat bius yang biasa dirujuk sebagai patokan tanggal perkosaan itu sulit dideteksi karena obat itu secara cepat memengaruhi metabolisme tubuh," kata mantan agen FBI, Brad Garrett, kepada ACN News. "Banyak kasus para perempuan itu tidak merasa bahwa mereka telah diperkosa hingga hari berikutnya."
Ketika diselidiki oleh para penyelidik keamanan diplomatik, pejabat itu mengklaim bahwa ia melakukan persetubuhan atas dasar suka sama suka, menurut keterangan di bawah sumpah.
Sumber : Ant