• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Bom Makassar 2021: Catatan Pribadi dari Pinggir Tragedi

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Bom Makassar 2021: Catatan Pribadi dari Pinggir Tragedi


Video detik-detik ledakan bom Makassar 2021

Suara-suara itu masih bergaung, seperti gema yg tidak pernah menemukan dinding untuk berhenti. Rekaman detik-detik sebelum bom bunuh diri Makassar 2021, yg tersebar luas di media sosial, bukan sekadar arsip visual. Ia adalah artefak auditori yg terlalu akrab bagi pendengaran saya. Bukan soal aksen, bukan logat, melainkan sesuatu yg lebih spesifik: suara. Timbre yg tidak dapat dipalsukan atau disamarkan. Saya dapat menyebut lima nama dari percakapan yg terekam itu, satu per satu, dengan keyakinan yg tidak mungkin salah.

Suara-suara tersebut adalah suara warga Desa Kalosi, sebuah desa kecil di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan desa tempat saya lahir, tumbuh & mengenal banyak paras & suara. Identifikasi ini bukan sekadar pengakuan geografis, tetapi pengenalan yg lahir dari keakraban yg tidak dapat dipalsukan oleh rekaman atau teknologi apa pun.

Keakraban kepada suara-suara tersebut justru menyingkap paradoks yg sulit dinalar. Individu-individu yg terdengar dalam rekaman diketahui luas sebagai muslim taat. Namun, rekaman itu menghadirkan realitas yg berlawanan. Suara-suara tersebut jelas menunjukkan bahwa mereka baru saja keluar dari gereja, seolah mengungkap bahwa bukti diri muslim yg mereka tampilkan selama ini hanyalah topeng yg dipakai dengan rapi.

Mereka memainkan peran sebagai muslim taat di hadapan masyarakatberjilbab, rajin ke masjid, aktif di pengajiannamun rekaman itu menelanjangi lapisan kepura-puraan tersebut, membuka kemungkinan bahwa seluruh citra kesalehan yg mereka bangun hanyalah bagian dari skenario yg lebih besar, disusun dengan presisi untuk menutupi keterlibatan dalam sesuatu yg jauh lebih kompleks & tersembunyi.

Ingatan saya kembali ke malam Minggu, 21 April 2019. Sekitar pukul dua dini hari, beberapa jam sebelum Paskah, terdengar ketukan pelan di pintu kamar kos saya. Tidak ada nada ancaman, cuma ketukan biasa yg tidak membangkitkan rasa curiga. Belakangan, saya mengetahui bahwa dua pria yg mengaku sebagai polisi meminta bantuan petugas kebersihan kos untuk mengetuk pintu. Tanpa berpikir panjang, saya membukanya. Saat pintu terbuka, keduanya langsung menerobos masuk. Salah satu dari mereka mengangkat pistol, mengarahkannya ke paras saya. Jaraknya tidak hingga menempel, tetapi cukup dekat untuk menegangkan udara di dalam kamar.

Mereka menyuruh saya menyalakan lampu, memeriksa ruangan secara singkat, lalu meminta saya ikut bersama mereka tanpa memberikan penjelasan apa pun. Saya menurut, dengan anggapan sederhana bahwa saya akan dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Namun, perjalanan itu tidak mengarah ke kantor mana pun. Dengan mengpakai sepeda motor pribadi, salah satu dari mereka mengemudikan kendaraan melewati jalan-jalan sunyi Makassar. Tidak ada percakapan, cuma suara mesin yg memecah kesunyian malam. Perjalanan berhenti di sebuah warung kopi yg tampak sepi. Di sana, saya secara kebetulan berjumpa seorang teman. Entah apa pertimbangannya, pertemuan itu tampaknya mengubah rencana mereka. Tanpa penjelasan lebih lanjut, kedua pria itu membiarkan saya pulang, meninggalkan kebingungan & pertanyaan yg tidak pernah terjawab.

Peristiwa itu tidak pernah masuk ke catatan resmi, tidak dilaporkan di media, & tidak terdokumentasi di arsip mana pun. Namun, pengalaman tersebut mengajarkan bahwa kekuasaan sering hadir tanpa tanda, tanpa prosedur, & tanpa pertanggungjawaban. Giorgio Agamben, dalam State of Exception(2005), menjelaskan kondisi ini sebagai keadaan pengecualian, di mana hukum tidak dihapus, tetapi digantung. Negara menciptakan ruang abu-abu yg melegitimasi tindakan-tindakan ekstrem tanpa kehilangan legitimasi formal. Malam itu, saya berada di ruang abu-abu tersebut ruang di mana hukum seolah hadir, tetapi tidak pernah benar-benar berlaku, & tubuh saya direduksi jadi objek yg dapat diintervensi kapan saja.

Dua tahun kemudian, ketika bom meledak di depan Gereja Katedral Makassar & rekaman suara beredar, bunyi ketukan pintu malam itu kembali terdengar di kepala saya. Suara-suara dari Kalosi itu memaksa ingatan untuk kembali ke ruang yg sudah saya coba tinggalkan. Dalam keheningan, pertanyaan-pertanyaan muncul, bukan sekadar tentang apa yg sebenarnya terjadi, tetapi juga tentang bagaimana narasi akbar dibangun, diulang, & didistribusikan tanpa pernah membuka ruang bagi keraguan.

Narasi resmi negara berjalan seperti biasa. Terdapat pelaku, jaringan radikal, & motif ideologis. Media mengulang narasi itu tanpa kritik, mencetak berita dengan format yg sama, & membentuk opini publik yg seragam. Publik diarahkan untuk percaya bahwa peristiwa itu adalah hasil ekstremisasi perseorangan yg kehilangan kendali. Namun, pengalaman personal saya menolak kesederhanaan semacam itu. Rekaman suara tersebut menunjukkan bahwa peristiwa ini bukanlah ledakan yg lahir dari spontanitas, melainkan skenario yg dibangun dengan presisi. Orang-orang yg saya kenal, orang-orang yg sehari-hari hadir di masjid, justru terdengar di letak & waktu yg terlalu tepat untuk dianggap kebetulan.

Agamben mengingatkan bahwa keadaan dispensasi bukanlah deviasi, melainkan paradigma pemerintahan modern. Dalam kerangka ini, teror bukan cuma ancaman, tetapi juga instrumen pengaturan populasi. Negara menciptakan krisis, lalu mengpakai krisis itu untuk memperluas legitimasi & mengatur kehidupan sehari-hari warganya. Michel Foucault, dalam Society Must Be Defended (1997), menambahkan bahwa kekuasaan bekerja melalui distribusi ancaman. Teror jadi bagian dari teknologi kekuasaan; ia tidak cuma menghancurkan, tetapi juga menata, mendisiplinkan, & mengatur perilaku kolektif.

Bom Makassar dapat dipahami sebagai bagian dari teater kekuasaan: eksibisi yg mengatur opini publik, membentuk rasa takut kolektif, & membenarkan kehadiran aparat keamanan yg semakin dalam menjangkau ruang-ruang privat warga. Dalam kerangka ini, tubuh perseorangan tidak lagi netral. Ia jadi arena operasi kekuasaan. Tubuh pelaku bom bunuh diri, misalnya, adalah representasi ekstrem dari tubuh yg sudah didisiplinkan, diarahkan, & dimobilisasi hingga mencapai titik kehancuran. Foucault menyebut tubuh seperti ini sebagai docile body, tubuh patuh yg dapat diatur & dimanfaatkan sebagai instrumen kekuasaan.

Suara-suara dari Kalosi mengungkap bahwa yg lokal tidak pernah terpisah dari yg global. Desa kecil yg tenang, dengan rutinitas yg sederhana, tiba-tiba masuk ke dalam jaring narasi global tentang terorisme, keamanan, & politik ketakutan. Agamben menulis bahwa dalam keadaan pengecualian, semua ruang berpotensi jadi zona perang. Tidak ada lagi garis tegas antara medan konflik & ruang privat. Malam 21 April membuktikan tesis tersebut: kamar kos sederhana dapat berubah jadi arena intervensi kekuasaan.

Teror, pada akhirnya, bukan cuma peristiwa. Ia adalah bahasa, bekerja melalui tanda, simbol, & pengulangan. Bom yg meledak, rekaman suara yg beredar, & liputan media yg terstruktur adalah bagian dari produksi makna yg mengikat publik dalam logika ketidakpastian, ketakutan, & kepatuhan. Dalam kerangka ini, peristiwa Makassar tidak cuma berbicara tentang ledakan, melainkan tentang cara kekuasaan memproduksi rasa takut untuk mengatur populasi.

Ledakan demi ledakan yg diklaim sebagai aksi terorisme di Indonesia sering kali mengalir mengikuti pola naratif yg terlalu rapi untuk diabaikan. Setiap peristiwa dibungkus dengan cerita yg konsisten: pelaku yg tiba-tiba radikal, pesan-pesan digital yg konon jadi bukti, & kehadiran aparat yg sering berhasil tiba tepat waktu, seolah mengikuti skenario yg sudah dipersiapkan dengan presisi. Dalam Discipline and Punish (1975), Michel Foucault menekankan bahwa kekuasaan bekerja bukan cuma melalui penindasan langsung, tetapi juga lewat pengelolaan ketakutan kolektif yg memaksa masyarakat untuk terus merasa diawasi.

Fenomena ini bukan semata-mata tentang bom atau dentuman yg memecah keheningan, tetapi tentang reproduksi simbol ketakutan yg tertata. Di Indonesia, skema ini beroperasi dengan sangat efektif: media mengulang narasi tunggal, laporan investigatif tercekat oleh regulasi, & ruang diskusi publik diselimuti rasa curiga. Teror jadi tidak lagi sekadar peristiwa, melainkan sebuah bahasa bahasa yg dikonstruksi, didistribusikan, lalu diterima tanpa banyak pertanyaan.

Dalam kerangka ini, wajar bila publik mulai mempertanyakan keaslian peristiwa-peristiwa tersebut. Sejarah modern mencatat berbagai false flag operations, dari Reichstag Fire 1933 yg mengantarkan Hitler ke puncak kekuasaan, hingga Operation Northwoods pada era Kennedy yg dirancang, namun tidak pernah dieksekusi, sebagai alasan untuk memulai perang. Narasi teror di Indonesia, dengan pola yg terus berulang, menimbulkan tanda tanya yg sama: apakah ini refleksi murni dari ancaman atau sekadar produksi ketakutan yg dikelola?

Kini, setiap kali mendengar berita tentang ancaman bom bunuh diri atau aksi teror, saya tidak lagi mendengar dentuman semata. Saya mendengar gema malam itusuara pintu diketuk, langkah tergesa, pistol yg diarahkan, & keheningan panjang di jalan-jalan sunyi Makassar. Semua itu menciptakan saya percaya bahwa di balik setiap ledakan, sering ada naskah yg ditulis, disunting, & dipentaskan dengan presisi. Sebuah naskah yg mungkin tidak pernah selesai, terus diperbarui, & menunggu bab berikutnya untuk dimainkan.​
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.