• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

BOM BUNUH DIRI DAN SEJARAHNYA?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
kejadian terbaru dalam konflik di ukraina adalah pemboman jembatan krimea yg diduga oleh serangan bom bunuh diri,bagaimana sejarahnya?

BOM BUNUH DIRI DAN SEJARAHNYA?

Perang global melawan terorisme adalah perang paling lama di masa modern. Dideklarasikan oleh Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, lalu diikuti sekutu Amerika Serikat & banyak negara di dunia, perang kepada terorisme berawal dari serangan bunuh diri teroris pada menara kembar WTC di New York & Gedung Pentagon pada 11 September 2001.

Secara resmi perang global melawan terorisme dihentikan oleh Presiden Amerika Serikat Barrack Obama pada 2013, ditandai dengan penarikan beberapa akbar punggawa Amerika Serikat dari Afganistan & Irak. Namun secara faktual hingga hari ini, perang melawan terorisme masih berlangsung, khususnya melawan kelompok-kelompok teror baru yg muncul belakangan seperti ISIS & kelompok-kelompok afiliasinya, & juga kelompok-kelompok yg muncul belakangan dengan afiliasi kepada Al Qaeda, serta kelompok-kelompok teror independen atau yg tidak jelas afiliasinya.

Dengan begitu hingga hari ini perang melawan terorisme sudah berlangsung selama 17 tahun & masih akan terus berlangsung, dengan medan perang hampir di seluruh dunia, meliputi Asia, Afrika, Eropa, Amerika, & Australia. Berdasarkan laporan riset Physicians for Social Responsibility pada 2017, dalam sepuluh tahun perdana perang global melawan teror sejak 2001-2011, jumlah kematian akibat perang itu antara 1,3 juta jiwa hingga 2 juta jiwa.

Sejarah & Peta Terorisme
Walau baru dideklarasikan sebagai musuh dunia pada 2001, sebenarnya terorisme memiliki jejak yg sangat panjang di dalam sejarah dunia. Pun begitu dengan serangan bunuh diri dalam aktivitas terorisme, dapat dilacak hingga berabad-abad ke belakang.

Masih jadi perdebatan, secara definisi, siapa yg perdana kali mengerjakan aksi serangan bunuh diri. Umumnya, serangan bunuh diri akan mengingatkan banyak pengamat teror & pakar sejarah pada kelompok Hashashin, kelompok Islam Syiah Ismaili radikal, yg lahir & membentuk kekuatan teror pada zaman 11 hingga 13 Masehi. Hashashin dibentuk oleh Hasan Al Sabah, seorang tokoh dalam kelompok Syiah Ismaili, yg memisahkan diri dari kelompok itu & membentuk kelompok baru yg diberi nama Nizari Ismailinama resmi dari kelompok/sekte Hashashin.

Di bawah kepemimpinan Hasan Al Sabah, Nizari Ismaili terkenal sebagai kelompok teror & sangat ditakuti oleh dua kekuatan akbar muslim saat itu, Kekaisaran Seljuk yg berpusat di Istanbul (Turki saat ini) & Kekhalifahan Abbasid yg berpusat di Bagdad (Irak saat ini). Kelompok Hasan Al Sabah kerap diidentikkan sebagai bagian dari strategi Kekalifahan Fatimid yg berpusat di Kairo (Mesir saat ini), dalam melawan dua pesaingnya, Seljuk & Abbasid. Hashashin meraih ketenarannya, setelah keberhasilan kelompok itu membunuh wazir Kekaisaran Seljuk, Nizam Al Mulk di tengah balairung istana Seljuk.

Dalam perkembangannya kelompok Hashashin berhasil meraih kekuasaan & memiliki wilayah yg cukup luas di perbatasan wilayah Fatimid & Seljuk, dengan berbagai benteng pertahanan di wilayah itu. Walau diketahui sebagai sekte atau kelompok pembunuh, faktanya cuma beberapa kecil saja dalam kelompok Nizari Ismaili yg benar-benar sebagai pembunuh. Anggota kelompok kecil itu diketahui sebagai fidai, atau orang yg meyakini fondasi keagamaan kelompok itu sepenuh hati. Para fidai itulah yg jadi pembunuh terlatih & siap mati dalam menjalankan tugasnya.

Selama Perang Salib berlangsung, kelompok Hashashin juga memerangi & banyak membunuh pemimpin Pasukan Salib, & sangat ditakutibahkan dihormatioleh beberapa pemimpin Pasukan Salib.

Kembali ke pertanyaan siapa yg perdana kali mengerjakan serangan bunuh diri dalam sejarah, Robert Pape, penulis buku Dying to Win: The Strategic Logic of Suicide Terrorism, dalam wawancaranya dengan npr.org, meyakini serangan bunuh diri perdana dilakukan oleh anggota Zealot, gerakan politik Yahudi di zaman perdana Masehi yg bertujuan mengusir kekuatan Romawi dari tanah suci mereka. Taktik anggota Zealot biasanya dengan menghampiri seorang tentara Romawi di tengah keramaian, lalu membunuhnya dengan pisau, seringkali dengan menggorok leher tentara itu. Anggota Zealot yg mengerjakan serangan itu menyadari dirinya akan langsung dibunuh atau dieksekusi oleh para tentara Romawi yg ada di sekitar tempat kejadian.

Walau ada beda pendapat tentang siapa yg perdana kali mengerjakan serangan bunuh diri dalam sejarah, namun semua pihak mengakui, serangan bunuh diri dengan mengpakai bom terjadi untuk perdana kali di Rusia pada 13 Maret 1881. Pelakunya adalah Ignaty Grinevitsky, anggota kelompok Peoples Will (Kehendak Rakyat), organisasi teror sayap kiri yg bertujuan membunuh Alexander II, Kaisar Rusia saat itu.

Pembunuh Alexander II dihukum gantung (sumber: WikiCommons)
Peoples Will sudah mengerjakan sejumlah aksi untuk membunuh Alexander II dengan mengpakai dinamit & bom antara tahun 1879 hingga awal 1881. Semua percobaan pembunuhan itu sering gagal, hingga akhirnya berhasil dilakukan oleh Grinevistky.

Aksi itu tidak direncanakan sebagai serangan bunuh diri. Grinevitsky & seorang rekannya berencana mengerjakan penyergapan kepada rombongan Alexander II, mengpakai bom kecil yg dilempar tangan, yg radius berbahayanya cuma 1 meter. Rekan Grinevitsky melemparkan bom ke kereta yg membawa Alexander dari jarak dekat, tetapi cuma berhasil merusak keretanya saja, & orang itu langsung ditangkap. Grinevitsky yg masih berada di tempat itu rupanya melihat kesempatan dirinya dapat melemparkan diri ke dalam kereta Alexander II dengan membawa bom. Maka terjadilah aksi serangan bom bunuh diri perdana di dunia, dengan pelaku seorang teroris sayap kiri & korbannya seorang kaisar.

Sejak aksi Grinevitsky itu, banyak aksi teror untuk membunuh orang penting dilakukan oleh anggota kelompok sayap kiri di Rusiadan banyak yg mengerjakannya dengan serangan bunuh diri walau tak sering berhasil. Tetapi tak dapat dikatakan, serangan-serangan bunuh diri itu sebagai aksi terorganisasi atau diniatkan sebagai aksi bunuh diri.

Pola di Rusia itu sama dengan pola serangan teror kelompok Zealot pada zaman perdana Masehi, juga yg dilakukan para fidai dalam kelompok Nizari Ismaili atau Hashashin, yaitu tidak ada rencana maupun perintah secara organisasional supaya pelaku teror mengerjakan serangan bunuh diri. Serangan bunuh diri dilakukan sebagai keputusan taktis perseorangan terorisnyadi mana keadaan lapangan menciptakannya harus mengambil keputusan itusaat mengerjakan serangan ke targetnya. Juga tidak pernah ada catatan ada organisasi yg merekrut & mendoktrin anggotanya untuk mengerjakan tugas spesifik serangan bunuh diri. Yang pasti sering ada alasan ideologis & politis yg melatari aksi teror itu.

Serangan bunuh diri yg dilakukan secara sistematis & terorganisir yg perdana kali terjadi di dunia, justru bukan oleh organisasi teror, tetapi oleh sebuah negara: Jepang. Kita mungkin sudah akrab dengan istilah Kamikaze, yg fenomenal di akhir Perang Pasifik.

Kekaisaran Jepang melancarkan lebih dari 3.000 serangan bunuh diri, yg dilakukan secara sistematis melalui perekrutan orang-orang sipil untuk masuk ke dalam Tokubetsu Kogekitai atau unit serangan khusus. Serangan bunuh diri itu dilakukan dengan menerbangkan pesawat yg didesain jadi bom terbang & dikendalikan oleh pilot yg akan menabrakkan pesawatnya ke armada angkatan laut Amerika Serikat. Tujuan serangan bunuh diri itu untuk melemahkan moral lawan, dengan menunjukkan bahwa rakyat Jepang adalah rakyat yg fanatik & akan mengerjakan segala bentuk perlawanan kalau Amerika Serikat menginvasi Jepang.

Tujuan itu berhasil mereka capai, bukan saja di masa perang, tetapi juga hingga hari ini, karena dunia melihat aksi itu sebagai tonggak peringatan bahwa serangan bunuh diri dilakukan bukan saja untuk membunuh musuh, tetapi yg paling utama adalah sebuah pesan untuk mengintimidasi lawan atau sebuah ancaman untuk serangan yg lebih berbahaya. Definisi serangan bunuh diri sebagai pesan itulah yg hingga sekarang dipakai oleh para teroris.

Sejak Perang Dunia II berakhir, tidak ada catatan serangan bunuh diri yg sistematis & terorganisirbaik oleh negara maupun oleh organisasi terorhingga era 1980-an. Serangan bunuh diri baru terjadi lagi pada 1983, kali ini dilakukan oleh partai politik di Lebanon: Hizbullah (Partai Allah). Serangan itu terjadi pada 23 Oktober 1983 pukul 06.45, dilakukan oleh anggota Hizbullah yg mengendarai truk berisi berton-ton bahan peledak, & meledakkan diri di gedung yg jadi markas punggawa marinir Amerika Serikat yg bertugas sebagai punggawa penjaga perdamaian dalam perang saudara Lebanon. Selain sang penyerang, korban tewas adalah 241 tentara Amerika Serikat. Nyaris bersamaan dengan serangan ke markas tentara Amerika Serikat, serangan bom bunuh diri oleh Hizbullah terjadi di markas punggawa parasut Perancis, yg menewaskan 58 orang tentara Perancis.

Walau serangan itu dilakukan oleh Hizbullah, namun banyak pihakterutama Amerika Serikat & sekutunyameyakini yg jadi otak serangan itu adalah Iran, yg mendesain & mengorganisasi kelompok Syiah Lebanon untuk menyerang kepentingan Barat & Israel di wilayah itu. Keyakinan itu diperkuat dengan banyak pernyataan dari para pemimpin Iran yg mengagung-agungkan serangan bom bunuh diri di Lebanon, sekaligus juga terlacak negara itu memberikan pasokan para pakar & bahan peledak untuk menciptakan bom mobil. Karenanya, aksi Hizbullah bukan aksi berlatar keyakinan agama saja, tetapi aksi yg merupakan perkimpoian antar fanatisme relijius & politik perang antarnegara.

Serangan bom bunuh diri perdana Hizbullah itu mendapat perhatian dunia, & malah ditiru oleh lawan-lawannya di dalam perang saudara Lebanon, yaitu kubu Kristen & kubu sekuler. Akhirnya selama bertahun-tahun Lebanon jadi medan serangan-serangan bom bunuh diri dari berbagai kubu yg berperang, & baru mereda di akhir dekade 1980-an.

Taktik bom bunuh diri Hizbullah, rupanya memberi ide pula pada kelompok pemberontak di Srilanka, Liberation Tiger of Tamil Eelam (LTTE) atau Macan Tamil. Banyak milisi Macan Tamil yg dikirim ke Lebanon untuk belajar kepada Hizbullah mengenai strategi serangan bom bunuh diri. Gerilyawan Tamil itu lalu mempraktikannya dalam pemberontakan di Srilanka, & diberi wadah spesifik yg diberi nama Macan Hitam.

Sejak 1987 hingga 2003, LTTE melancarkan setidaknya 137 serangan bom bunuh diri. Dari serangan sebanyak itu, mereka berhasil membunuh dua kepala negara, yaitu Perdana Menteri Srilanka, Ranasinghe Premadasa, & Perdana Menteri India, Rajiv Gandhi. Lima anggota kabinet Srilanka juga tercatat jadi korban serangan bom bunuh diri LTTE.

Serangan bom bunuh diri LTTE berhenti pada 2009, setelah pemimpin mereka, Vellupillai Prabakharan tewas dibunuh punggawa Srilanka. Walau sekarang LTTE sudah dimusnahkan, namun organisasi teror itu ikut memberi kontribusi akbar bagi peralatan serangan bom bunuh diri, yaitu sabuk bom, yg dapat dikenakan di balik pakaian. Sabuk bom hasil ciptaan LTTE itu di kemudian hari ditiru & dipakai oleh para pelaku bom bunuh diri di Afganistan, Irak, & Pakistan.

Serangan-serangan bom bunuh diri oleh LTTE juga semakin membuktikan, bukan cuma kelompok fanatik agama yg sanggup mengerjakan tindakan fatal itu, tetapi juga kelompok yg tidak memiliki agenda keagamaan juga sanggup mengerjakannya.

Memasuki era 1990-an, serangan bom bunuh diri merambah ke Israel, yg dilakukan oleh kelompok-kelompok perlawanan Palestina, yaitu Hamas & Jihad Islam. Serangan bom bunuh diri kepada target-target di Israel itu memiliki kaitan langsung dengan Hizbullah, karena partai itulah yg melatih anggota Hamas & Jihad Islam dalam mengerjakan serangan bom bunuh diri yg efektif.

Serangan Hamas & Jihad Islam, memiliki motif yg sama dengan Hizbullah di Lebanon, yaitu fanatisme agama yg berkelindan dengan kepentingan politik. Namun, pada awal 2000-an, serangan bom bunuh diri kepada Israel mulai dilakukan oleh kubu sekuler di Palestina, yaitu Fatah melalui Brigade Al-Aqsa sebagai sayap militernya.

Berdasarkan catatan Action On Armed Violence, kelompok-kelompok perlawanan Palestina tercatat mengerjakan 103 serangan bom bunuh diri ke Israel, & serangan itu banyak yg ditujukan secara langsung ke penduduk sipil Israel. Total korban serangan bunuh diri Palestina tercatat sebanyak 742 orang, & melukai 4.899 orang. Namun dalam data pemerintah Israel, antara 2000 hingga 2005 terjadi 147 serangan bom bunuh diri, & aparat Israel berhasil menggagalkan 450 upaya serangan bom bunuh diri ke Israel.

Palestina mengajukan pembenaran atas serangan bom bunuh diri Palestina ke populasi sipil Israel. Dalam pandangan kelompok perlawanan Palestina, Israel adalah negara militer, karena seluruh warga negaranya wajib mengikuti program wajib militer, & dengan begitu seluruh warga Israel dapat dipandang sebagai personel militer. Selanjutnya, warga sipil Israel adalah kepanjangan tangan negara Israel dalam program pendudukan & perluasan permukiman Israel ke wilayah Palestina. Dan yg paling mendasar, kelompok perlawanan Palestina memandang serangan bom bunuh dirinya sebagai aksi balasan atas pembunuhan yg dilakukan militer Israel kepada banyak warga sipil Palestina.

Serangan-serangan bom bunuh diri Palestina menandai era bom bunuh diri yg ditujukan untuk meneror seluruh populasi musuh, tidak cuma militer saja.

Bom Bunuh Diri & Organisasi Teroris Transnasional
Dalam perkembangan selanjutnya, serangan bom bunuh diri dijadikan metode oleh kelompok teroris transnasional, Al Qaeda. Berbeda dengan Hizbullah di Lebanon, atau Hamas, Jihad Islam, & Fatah di Palestina, yg mengerjakan serangan bom bunuh diri demi kepentingan agama, politik, & wilayah nasional mereka, kelompok teroris seperti Al Qaeda mengobarkan perang dengan alasan agama & untuk mengusir pengaruh Amerika Serikat & sekutunya dari negara-negara muslim, tetapi tak ada agenda nasionalismebandingkan misalnya dengan Hizbullah, Hamas, & LTTE. Artinya, Al Qaeda tidak terlihat memiliki kecenderungan untuk mengerjakan teror demi mendapatkan wilayah teritorial atau untuk mendirikan negara, & anggotanya berasal dari berbagai negara, juga memiliki organisasi-organisasi afiliasi di berbagai negara.

Ironisnya, Al Qaeda sendiri lahir dari perang antara Uni Soviet (Rusia) dengan Afganistan, di mana Amerika Serikat & Arab Saudi memberikan dukungan berupa uang & senjata kepada gerilyawan Afganistan & milisi-milisi muslim dari berbagai negaratermasuk juga Indonesiauntuk melawan pencaplokan Uni Soviet kepada Afganistan. Al Qaeda terbentuk dari milisi-milisi itu & malah menyerang balik kepentingan Amerika Serikat & sekutunya, setelah Uni Soviet meninggalkan Afganistan.

Al Qaeda melancarkan serangan bom bunuh diri perdana kali pada 1995 ke markas militer Amerika Serikat di Arab Saudi, yg menewaskan lima orang. Lalu pada 1998 pemimpian Al Qaeda, Osama bin Laden mengeluarkan fatwa yg menyatakan seluruh warga Amerika Serikat adalah target serangan. Pada 7 Agustus 1998 Al Qaeda melancarkan dua serangan bunuh diri secara bersamaan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kenya & Tanzania, membunuh 223 orang.

Kemudian pada 11 September 2001, Al Qaeda melancarkan serangan bunuh diri dengan mengpakai dua pesawat maskapai sipil, meledakkan gedung kembar WTC di New York & Gedung Pentagon, yg menewaskan hampir 3.000 orang, & menciptakan dunia terbakar dalam perang melawan terorisme hingga hari ini.

Perang melawan terorisme, yg menempatkan Afganistan sebagai target perdana pencaplokan Amerika Serikat & sekutunya (karena Al Qaeda dilindungi Taliban, penguasa Afganistan saat itu), berlanjut ke Irak, yg menciptakan rezim Saddam Husein jatuh. Invasi Amerika Serikat ke Afganistan & Irak menciptakan dua negara itu porak-poranda & jadi ladang serangan teror yg berkepanjangan.

Di Irak saja, antara 2004 hingga 2010 terjadi setidaknya 1.003 serangan bom bunuh diri yg membunuh 12.000 warga sipil. Warga sipil bukan cuma jadi korban tak sengaja dalam peperangan, tetapi memang jadi target yg sesungguhnya. Serangan teror di Irak terjadi akibat berubahnya peta politik negara itu setelah kejatuhan pemerintahan Saddam Husein, di mana warga minoritas Sunni yg selama Saddam Husein berkuasa jadi kelompok yg dominan dalam politik & pemerintahan, digeser oleh mayoritas Syiah mendapat jatah lebih banyak dalam pemerintahan baru Irak.

Konflik antarsekte muslim di Irak itu menandai era pertarungan berdarah baru dalam skala besar, antara Syiah & Sunni, & meluas ke seluruh jazirah Arab, bahkan hingga juga ke Indonesia. Kelompok-kelompok teroris, seperti Al Qaedayang bermazhab Sunnimembonceng konflik itu, & menciptakan peta konflik jadi semakin rumit. Serangan-serangan bom bunuh diri, selain menargetkan punggawa sekutu, juga meluas hingga ke pemboman masjid-masjid & tempat-tempat suci kelompok Syiah.

Serangan teror kemudian meluas ke seluruh dunia, mulai dari serangan di dalam negeri Amerika Serikat & negara-negara Eropa, juga hingga Afrika, & Asiatermasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, & Singapura. Serangan teror itu, bukan saja ditujukan menyerang institusi negara & pemerintahan, tetapi juga menyerang kelompok yg dianggap musuh, seperti para penganut Syiah & pemeluk agama lain. Pola serangan seperti itu tercermin dalam aktivitas teroris & kelompok muslim radikal di Indonesia.

Musim Semi Arab & Perubahan Peta Teror
Kelompok-kelompok teroris dalam perkembangan selanjutnya menemukan lahan subur baru dalam pergolakan politik Timur Tengah, yg diketahui sebagai fenomena Musim Semi Arab, di mana warga yg lama berada di bawah rezim diktator mengerjakan pemberontakan. Musim Semi Arab dimulai di Tunisia pada 18 Desember 2010 di mana revolusi rakyat berhasil menjatuhkan rezim diktator Zine el Ebidine el Ali, & menciptakan sang diktator lari & diberi suaka oleh Arab Saudi. Kemudian revolusi menyebar ke Mesir, di mana rezim Hosni Mubarak terguling. Selanjutnya Libya diguncang revolusi berdarah, yg melibatkan pula punggawa sekutu untuk berpihak di kubu pemberontak, & berhasil menggulingkan & membunuh Moamar Qadafi sekeluarga.

Lalu revolusi berlanjut ke Suriah, yg bertujuan menggulingkan rezim Bashar Al Assad. Namun kali ini revolusi malah berlarut tak karuan. Revolusi sipil itu malah berujung jadi konflik sektarian, dengan Arab Saudi & negara-negara sekutunya di Jazirah Arab mendanai kelompok Sunni untuk mengerjakan pemberontakan bersenjata kepada rezim Bashar Al Assad yg Syiah. Al Qaeda masuk pula ke dalam konflik ini melalui kelompok-kelompok teroris yg baru lahir di Suriah. Sementara Bashar Al Assad untuk menghadapi serangan musuh-musuhnya di dalam negeri & di luar negeri dibantu oleh sekutunya, Iran & Rusia, serta mendapatkan pasokan milisi dari Lebanon, yaitu Hizbullahyang selama ini mendapatkan bantuan dana & senjata dari Suriah & Irandan juga pasokan milisi Syiah dari Irak.

Ketika Suriah jadi medan perang baru antara Sunni & Syiah, negara-negara yg sebelumnya berhasil menggulingkan para diktator, malah berubah jadi sarang kelompok-kelompok teroris & fundamentalis agama, seperti di Tunisia & Libya. Mesir malah membalik hasil revolusi, di mana militeryang jadi tangan kanan rezim Hosni Mubarakberhasil merebut pentas kekuasaan, & mengkriminalkan pemerintahan yg didominasi kelompok Ikhwanul Muslimin. Tidak cuma itu, dengan bantuan lobi politik Arab Saudi, Ikhwanul Muslimin malah berubah status: ditetapkan sebagai organisasi teroris dunia oleh Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, & Mesir.

ABU HAAAAAJJJJAAAAAR...WHAT IS WRONG WITH YOU?


Hari ini 14:04
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.