Diggie
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 287751
- Sejak
- 6 Apr 2020
- Pesan
- 13.684
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 0
Berikut adalah berita Bola Illahiah.
Morgan Freeman & Ghanim al Muftah dalam upacara pembukaan Piala Dunia FIFA 2022 di Al Bayt Stadium, Al Khor, Qatar pada 20 November 2022. ANTARA/ REUTERS/Matthew Childs
Jakarta (ANTARA) - Bulan-bulan ini, para Malaikat menguncupkan & merebahkan sayap. Melongo & menatap anak-anak ‘asuhan spiritual’ mereka berlari maju-mundur, berputar, sesekali terjatuh, meringis.
Pangeran yg berlari itu, bertugas mengejar benda bundar yg menggelinding liar & menjinak. Bisa dilambung, gerakan lurus datar atau melenting diagonal. Kali yg lain berpelukan & mendabik dada. Sebelum & setelah kisah lari-berlari itu, mereka mencium tanah, sujud, bahkan rebah.
Tuhan pun "rehat” sejenak, spesifik menatap kelakuan debu astroid yg mengulang-ulang perbuatan per empat tahun. Kali ini, di tanah Qatar. Sebuah "Divine Trouper” [Hiburan Ilahi]? Permainan imajinal di atas imajinasi?
Agama cuma mempersatu umat dalam satu visi spiritual. Namun bola [sepak], akibat tendangan & jotos-jotosan itu, malah mempersatukan dunia. Dalam persaingan, rupanya ada kaidah ‘mempersatu’. Maka, bertandinglah!!! Jangan lekas berkolaborasi.
Freudian boleh berkata tentang ‘anime’ arkhaik yg dipoles dalam genderang permainan modern dihiasi sorak sorai; mereka yg bersorak, sekaligus disorak. Mereka yg menjerit adalah jua yg dijerit.
Inilah semesta partisipatoris, ujar John Wheeler. Kita adalah kanvas, sekaligus lukisan di atasnya. Kita adalah kuas pelukis, sekaligus pelukisnya. Di sini, batas keterpisahan antara seni & seniman, pudar. Dia bergerak dalam "keutuhan tak terbagi dalam gerak mengalir” [Undivided Wholeness in flowing Movement].
Sekali lagi, Freudian melunjurkan medan konflik antara Ayah-anak lelaki, demi percumbuan [united] dengan sosok ibu [isteri] dalam senarai Oedipus: Semangat mempersatu & memisah dalam prinsip bilokasi.
Bilokasi? Ya, bilokasi terkadang dilayani oleh semburan dalam rona pesta pora [Qatar] & bencana [Cianjur]. Bilokasi tipe ini dilayani oleh jentera simultanitas [keserempakan medan gerak@ simultaneous]. Bahwa ‘alam bawah’ [bumi] menyelenggarakan moda kehidupan yg berlangsung dalam keserempakan dinamis. Pesta pora di sana, bencana di sini. Kasalehan waraq di sebelah, di seberang sana kemaksiatan berjenang.
Semua gerak turun naik antara pesta & bencana tersambung pada satu matriks rekanan illahiah. Manusia, adalah ikhtisar/ringkasan dari jagad gede [makro kosmos]. Sebaliknya, alam raya [makro kosmos] adalah ensiklopedi purna tentang diri manusia yg memikul ‘alam bawah’ dengan ciri utamanya; keragaman, pluralitas, multiplisitas. Sebaliknya ‘alam atas’ itu [yang memikul prinsip Wahdah, Ketunggalan, Oneness], tiada keragaman.
Ketunggalan, Oneness itulah ‘wujud kecerdasan’ yg bertanggung-jawab atas dunia fisik kita, ujar Max Plank sang juru kunci Quantum. Setiap orang boleh menduga, "Kecerdasan” itu ditampung dalam ruang kosong. Namun, sebaliknya, alam tak menyukai kevakuman. Walhasil, alam cuma memperlihatkan kepada kita "ekor singanya saja”, mengatakan Einstein. Pesta pora bola di Dhoha & selingkar kota-kota Qatar, gempa yg menghias kepulauan lingkaran api, adalah tipe ekor-ekor Singa dalam salinan nyata di dunia kita, yg copy masternya ada di alam sana [iPad-Ilahiah]. Sejenis "Pokok Wujud” [Whusul Wujud] yg menjuntaikan efek ekor Singa. Ekor itu terkadang diam, tak bergerak, sesekali bergerak kaku. Pada kala yg lain gerak ritmis, dinamis & bahkan bergoncang sekaligus efek mendegup.
Maka, sambung Einstein lagi; "manusia, sayuran, atau pun debu kosmik, semuanya menari dalam alunan musik misterius, yg dilantunkan dari jarak super sayup oleh sosok peniup seruling gaib”. Lalu, beberapa jeda kemudian, Max Plank menyambut; "segala sesuatu terkoneksi melalui energi yg sangat nyata meskipun tak lazim”.
Alam semesta raya maha luas ini, apakah penduduknya kita sendiri [manusia]? Jika demikian, betapa mubazirnya kehadiran bermilyar bintang & planet [bila dijelaskan sebagai lokasi]. Kalau memang demikian, begitu ‘semena-menanya’ Tuhan sebagai "Kecerdasan” yg bertanggung-jawab ke atas dunia fisik & nir-fisik” itu. Kenapa dijadikan "begitu banyak lokasi”, tetapi dibiarkan tanpa penghuni, paling tidak dapat disewakan. Jika, berisi semua letak itu, apakah statusnya sama dengan status kita yg memikul ‘alam bawah’ dengan prinsip ‘multiplisitas, keragaman’ selaku makhluk? Keragaman itu lah yg hendak dihimpun dalam semangat pertandingan yg [sedang] dimainkan di Qatar.
Apakah pesta Qatar itu sebuah salinan & tafsir gerak pesta yg dilantunkan oleh juntaian ekor Singa yg [juga] tengah asyik menonton perilaku makhluk di dunia lain? Yang berlangsung & berjalan serempak dalam copy-copy-an [darat & udara?].
Sebentang tarik-menarik, tolak-menolak dalam pesta pora Qatar & bencana gempa di Cianjur, kita tautkan garis lurus antara otak Einstein & Akal-Kemalaikatan yg sebelumnya ditiupkan Konrad Finagle: "Simak secara seksama! Apa yg akan berlaku kalau kita menghilangkan ruang di antara materi?
Segala yg ada di semesta akan mengkerut secara serempak, & menjelma bak volume tak lebih dari sebutir debu halus. Ruang menjaga supaya segala sesuatu tidak terjadi pada tempat yg sama”.
Dialog bintang Hollywood Morgan Freeman dengan seorang difabel asal Qatar [Ghanim al Muftah] pada majelis pembukaan Festival Bola 2022 pekan lalu, adalah jarum jahit yg ditekan & disembulkan kembali, demi memahami siapa kita: "Bagaimana begitu banyak negara, bahasa & budaya, kalau cuma satu cara yg diterima?”
Dengan cergas Ghanim menjawab: "Kami dibesarkan untuk percaya bahwa kami tersebar di bumi ini sebagai bangsa, sebagai suku, sehingga kami dapat belajar satu sama lain & menemukan keindahan dalam perbedaan”.
Kita yg memikul hak "multiplisitas, pluralitas, keragaman” sebagai hak kemakhluk [bukan Hak Khalik], didorong untuk memahami segala ihwal yg terjadi secara serempak dalam moda bilokasi. "Bahwa, tanpa pemahaman tentang jati diri kita, sergah Louis Leakey, kita tidak pernah benar-benar berkembang”.
*) Prof Dr Yusmar Yusuf adalah budayawan & Guru Besar Kajian Melayu Universitas Riau
Berita diatas dikutip dari internet, jika Bola Illahiah adalah spam, mohon beritahu kami.
Morgan Freeman & Ghanim al Muftah dalam upacara pembukaan Piala Dunia FIFA 2022 di Al Bayt Stadium, Al Khor, Qatar pada 20 November 2022. ANTARA/ REUTERS/Matthew Childs
Jakarta (ANTARA) - Bulan-bulan ini, para Malaikat menguncupkan & merebahkan sayap. Melongo & menatap anak-anak ‘asuhan spiritual’ mereka berlari maju-mundur, berputar, sesekali terjatuh, meringis.
Pangeran yg berlari itu, bertugas mengejar benda bundar yg menggelinding liar & menjinak. Bisa dilambung, gerakan lurus datar atau melenting diagonal. Kali yg lain berpelukan & mendabik dada. Sebelum & setelah kisah lari-berlari itu, mereka mencium tanah, sujud, bahkan rebah.
Tuhan pun "rehat” sejenak, spesifik menatap kelakuan debu astroid yg mengulang-ulang perbuatan per empat tahun. Kali ini, di tanah Qatar. Sebuah "Divine Trouper” [Hiburan Ilahi]? Permainan imajinal di atas imajinasi?
Agama cuma mempersatu umat dalam satu visi spiritual. Namun bola [sepak], akibat tendangan & jotos-jotosan itu, malah mempersatukan dunia. Dalam persaingan, rupanya ada kaidah ‘mempersatu’. Maka, bertandinglah!!! Jangan lekas berkolaborasi.
Freudian boleh berkata tentang ‘anime’ arkhaik yg dipoles dalam genderang permainan modern dihiasi sorak sorai; mereka yg bersorak, sekaligus disorak. Mereka yg menjerit adalah jua yg dijerit.
Inilah semesta partisipatoris, ujar John Wheeler. Kita adalah kanvas, sekaligus lukisan di atasnya. Kita adalah kuas pelukis, sekaligus pelukisnya. Di sini, batas keterpisahan antara seni & seniman, pudar. Dia bergerak dalam "keutuhan tak terbagi dalam gerak mengalir” [Undivided Wholeness in flowing Movement].
Sekali lagi, Freudian melunjurkan medan konflik antara Ayah-anak lelaki, demi percumbuan [united] dengan sosok ibu [isteri] dalam senarai Oedipus: Semangat mempersatu & memisah dalam prinsip bilokasi.
Bilokasi? Ya, bilokasi terkadang dilayani oleh semburan dalam rona pesta pora [Qatar] & bencana [Cianjur]. Bilokasi tipe ini dilayani oleh jentera simultanitas [keserempakan medan gerak@ simultaneous]. Bahwa ‘alam bawah’ [bumi] menyelenggarakan moda kehidupan yg berlangsung dalam keserempakan dinamis. Pesta pora di sana, bencana di sini. Kasalehan waraq di sebelah, di seberang sana kemaksiatan berjenang.
Semua gerak turun naik antara pesta & bencana tersambung pada satu matriks rekanan illahiah. Manusia, adalah ikhtisar/ringkasan dari jagad gede [makro kosmos]. Sebaliknya, alam raya [makro kosmos] adalah ensiklopedi purna tentang diri manusia yg memikul ‘alam bawah’ dengan ciri utamanya; keragaman, pluralitas, multiplisitas. Sebaliknya ‘alam atas’ itu [yang memikul prinsip Wahdah, Ketunggalan, Oneness], tiada keragaman.
Ketunggalan, Oneness itulah ‘wujud kecerdasan’ yg bertanggung-jawab atas dunia fisik kita, ujar Max Plank sang juru kunci Quantum. Setiap orang boleh menduga, "Kecerdasan” itu ditampung dalam ruang kosong. Namun, sebaliknya, alam tak menyukai kevakuman. Walhasil, alam cuma memperlihatkan kepada kita "ekor singanya saja”, mengatakan Einstein. Pesta pora bola di Dhoha & selingkar kota-kota Qatar, gempa yg menghias kepulauan lingkaran api, adalah tipe ekor-ekor Singa dalam salinan nyata di dunia kita, yg copy masternya ada di alam sana [iPad-Ilahiah]. Sejenis "Pokok Wujud” [Whusul Wujud] yg menjuntaikan efek ekor Singa. Ekor itu terkadang diam, tak bergerak, sesekali bergerak kaku. Pada kala yg lain gerak ritmis, dinamis & bahkan bergoncang sekaligus efek mendegup.
Maka, sambung Einstein lagi; "manusia, sayuran, atau pun debu kosmik, semuanya menari dalam alunan musik misterius, yg dilantunkan dari jarak super sayup oleh sosok peniup seruling gaib”. Lalu, beberapa jeda kemudian, Max Plank menyambut; "segala sesuatu terkoneksi melalui energi yg sangat nyata meskipun tak lazim”.
Alam semesta raya maha luas ini, apakah penduduknya kita sendiri [manusia]? Jika demikian, betapa mubazirnya kehadiran bermilyar bintang & planet [bila dijelaskan sebagai lokasi]. Kalau memang demikian, begitu ‘semena-menanya’ Tuhan sebagai "Kecerdasan” yg bertanggung-jawab ke atas dunia fisik & nir-fisik” itu. Kenapa dijadikan "begitu banyak lokasi”, tetapi dibiarkan tanpa penghuni, paling tidak dapat disewakan. Jika, berisi semua letak itu, apakah statusnya sama dengan status kita yg memikul ‘alam bawah’ dengan prinsip ‘multiplisitas, keragaman’ selaku makhluk? Keragaman itu lah yg hendak dihimpun dalam semangat pertandingan yg [sedang] dimainkan di Qatar.
Apakah pesta Qatar itu sebuah salinan & tafsir gerak pesta yg dilantunkan oleh juntaian ekor Singa yg [juga] tengah asyik menonton perilaku makhluk di dunia lain? Yang berlangsung & berjalan serempak dalam copy-copy-an [darat & udara?].
Sebentang tarik-menarik, tolak-menolak dalam pesta pora Qatar & bencana gempa di Cianjur, kita tautkan garis lurus antara otak Einstein & Akal-Kemalaikatan yg sebelumnya ditiupkan Konrad Finagle: "Simak secara seksama! Apa yg akan berlaku kalau kita menghilangkan ruang di antara materi?
Segala yg ada di semesta akan mengkerut secara serempak, & menjelma bak volume tak lebih dari sebutir debu halus. Ruang menjaga supaya segala sesuatu tidak terjadi pada tempat yg sama”.
Dialog bintang Hollywood Morgan Freeman dengan seorang difabel asal Qatar [Ghanim al Muftah] pada majelis pembukaan Festival Bola 2022 pekan lalu, adalah jarum jahit yg ditekan & disembulkan kembali, demi memahami siapa kita: "Bagaimana begitu banyak negara, bahasa & budaya, kalau cuma satu cara yg diterima?”
Dengan cergas Ghanim menjawab: "Kami dibesarkan untuk percaya bahwa kami tersebar di bumi ini sebagai bangsa, sebagai suku, sehingga kami dapat belajar satu sama lain & menemukan keindahan dalam perbedaan”.
Kita yg memikul hak "multiplisitas, pluralitas, keragaman” sebagai hak kemakhluk [bukan Hak Khalik], didorong untuk memahami segala ihwal yg terjadi secara serempak dalam moda bilokasi. "Bahwa, tanpa pemahaman tentang jati diri kita, sergah Louis Leakey, kita tidak pernah benar-benar berkembang”.
*) Prof Dr Yusmar Yusuf adalah budayawan & Guru Besar Kajian Melayu Universitas Riau
Berita diatas dikutip dari internet, jika Bola Illahiah adalah spam, mohon beritahu kami.