Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Melanjutkan kembali pembahasan yg menarik, dimana kebodohan adalah saudara kembar kemiskinan dari Part 2 yg dapat anda klik disini.
Miskin memang jadi sosok yg menjangkiti banyak orang dimasa sekarang, apalagi ketika pandemi menghadang. Hancur sudah ekonomi masyarakat, lalu cuma berharap pada penguasa untuk menerima bantuan sosial.
Quote:
"Jang, kunaon maneh teh miskin?"
"Ya, iyalah fokus aja sama akhirat, kekayaan kan gak akan dibawa mati. Coba anda kumpulin harta sebanyak-banyaknya, terus maneh maut terus kekayaan itu untuk apa? Emang dibawa ke akhirat?"
Nah, pemikiran ini di part sebelumnya sudah kita bahas. Padahal harta yg dikumpulkan adalah untuk keturunannya nanti supaya tidak miskin, & iman pun tergadaikan.
Ada dinar yg anda infakkan di jalan Allah, dinar yg anda infakkan untuk memerdekakan budak & dinar yg anda sedekahkan kepada orang miskin. Namun dinar yg anda keluarkan untuk keluargamu (anak-isteri) lebih akbar pahalanya. (HR. Muslim)
Jadi sejak awal Islam memang tidak mengajarkan pemikiran seperti itu. Jadi di dalam Islam apabila kemiskinan itu perbuatan berarti itu haram. Karena memang tidak boleh miskin, sebab miskin di dalam Islam adalah pintu gerbang menuju kekufuran.
Karena miskin bukanlah perbuatan maka tidak dapat dilabeli dengan mengatakan haram apalagi berdosa, namun di dalam Islam memang diberikan ilmu supaya menghindari segala sesuatu yg mengarah kepada kemiskinan.
Quote:
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yg sudah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah anda lupakan bagianmu di dunia & berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah sudah berbuat baik kepadamu, & janganlah anda berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yg berbuat kerusakan."
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 77)
* Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com
Karena dalam Islam hukum syariat dapat jadi batal bila alasannya adalah miskin.
Loh, kok begitu? Jadi contohnya adalah seperti ini,
Sebagaimana ditulis oleh Husein Haykal dalamHayatu Muhammad,dalam kasus pencurian yg semestinya dilakukan hukum potong tangan, Umar pernah menolak melaksanakannya dengan alasan bahwa pencurian itu dilakukan dalam keadaan terpaksa (darurat).
Atau ada cerita di zaman nabi ada seseorang yg puasa di bulan Ramadhan namun puasanya batal maka dianjurkan untuk membayar fidyah ini & itu.
Quote:
Karena itu barangsiapa di antara anda hadir di negeri tempat tinggalnya di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu."(Al-Baqarah ayat 185).
Dan bagi orang yg berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.:"(Albaqarah ayat 184)
Lalu orang itu tidak dapat mengerjakan itu semua karena ia orang miskin, maka syariat itu dibatalkan & orang itu diberikan sekeranjang kurma untuk dibagikan ke keluarganya.
Dan hal yg sangat penting, bila kita melihat saat ini marak prostitusi, di peradaban modern, begitu juga di zaman nabi juga marak bisnis yg memang sudah setua peradaban manusia. Mereka para pelaku prostitusi mengpakai tanda berupa bendera-bendera, supaya pelanggan dapat tau bahwa ditempat itu ada bisnis pelacuran.
Namun Nabi, tidak pernah ada catatan riwayat menggerebek tempat tersebut, atau menghukum pelacur yg berzina. Namun Nabi fokus memutus rantai pelacuran tersebut, yaitu kemiskinan dengan menjadikannya wanita merdeka supaya dapat menjaga diri dari perbuatan zina. Dengan memberikan ilmu & proteksi bagi mereka yg harap menjaga diri.
Quote:
Janganlah kalian memaksa perempuan-perempuan kalian untuk melacur padahal mereka menghendaki menjaga diri mereka, (jangan kalian mengerjakannya) cuma untuk mencari kehidupan dunia. Dan barangsiapa yg yang memaksa mereka, maka Allah adalah yg Mahapengampun lagi Mahapenyayang setelah pemaksaan mereka. (QS. Al-Nur: 33)
Bisa dibilang cara berfikir nabi & para sahabat dimasa lalu, bila menemukan masalah atau kita anggap masalah itu adalah seekor ular, maka yg harus dilumpuhkan adalah kepalanya bukan ekornya.
Kalau dimasa sekarang terbalik yg dilumpuhkan adalah ekornya, jadi zaman sekarang sering kita melihat akibat dari kemiskinan, baik itu pelacuran, kriminalitas, premanisme, & sebagainya. Yang di incar adalah ekornya, maka tak jarang terjadi penggerebekan, sweeping, bukan masalah utamanya yaitu "miskin".
Quote:
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Tahukah anda (orang) yg mendustakan agama?"
(QS. Al-Ma'un 107: Ayat 1)
"Maka itulah orang yg menghardik anak yatim,"
(QS. Al-Ma'un 107: Ayat 2)
"dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."
(QS. Al-Ma'un 107: Ayat 3)
* Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com
Padahal jelas, tidak memberantas kemiskinan maka dapat disebut orang yg mendustakan agama! Maka Nabi sering berderma setiap harinya untuk memberantas kemiskinan.
Karena syariat Islam dapat dilakukan apabila agan sudah kaya, contoh berhaji, zakat, sedekah tentu tidak dapat dilakukan kalau miskin.
Bahkan sanksi syariat tidak dapat dikerjakan kalau agan itu miskin, seperti pelacur, pencuri & lainnya terpsksa karena miskin, maka hukum syariatnya jadi batal.
Untuk itu hiduplah kaya tetapi sederhana, jangan hidup sederhana karena terpaksa. Dan untuk jadi kaya perlu ilmu, perlu pendidikan, perlu keahlian, maka selain memberantas kemiskinan juga harus memberantas kebodohan.
Demikian sekedar cerita-cerita sederhana ini, semoga jadi bacaan yg menghibur.
Terima kasih yg sudah membaca thread ini hingga akhir, bila ada kritik silahkan dihinggakan & semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat & merdeka. See u next thread.
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2022
referensi : klik, klik, klik
Pic : google