Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net - Aku akan sedikit bercerita "ngalor-ngidul" tentang Instagram (atau juga Facebook), sebuah aplikasi yg biasanya saya pakai 30 menit hingga 1 jam perhari, meskipun banyak di luar sana yg dapat mentengin aplikasi ini hingga 9 jam tiap harinya. Ini cukup lama dengan fakta bahwa dalam sehari kita sama-sama diberi "jatah" 24 jam, 8 jam buat tidur & sisa 16 jam, dari 16 jam itu 9 jam diantaranya adalah scrolling di Instagram, cuma tersisa sekitar 7 jam dalam siklus hidup meleknya untuk mengerjakan hal yg lain.
Kamu sendiri berapa lama main Instagram dalam sehari? Kamu dapat cek di profile - lalu klik ikon garis tiga di pojok atas - Aktifitas Anda.
Pertanyaannya apakah bakal ada akibat negatif kalau kita terlalu lama tenggelam dalam
Jadi belum lama ini adawhistleblower,salah satu karyawan Facebook membeberkan sebuah fakta internal Facebook, di mana isinya adalah reportase terhadapmental healthgadis remaja, apakah Instagram ini toxic atau tidak. Publikasi tentang "the facebook files" ini dipublikasikan Wallstreet Journal, gara-gara hal ini, Instagram mengerjakan pengunduranprojectInstagram kids. Tapi itu asumsiku aja sih, dapat aja diundur karena sistemnya belum siap, perizinan yg belum dapat stempel basah dari pemda, atau bahkan belum nemu hari yg cocok sesuai weton pemiliknya.
Jadi untuk akibat negatif, akan sering ada, & yg pasti sesuatu yg dikonsumsi terlalu banyak akan menciptakan manusia "mabuk", apalagi dalam hal ini adalah media sosial yg dikonsumsi oleh anak di bawah umur. Banyak publikasi yg sudah membahas hal ini, tetapi yg akan saya ceritakan adalah gimana jawaban dari orang Instagram atas berita atau publikasi yg mengarah pada mereka.
Facebook Instagram Chief, Adam Mosseri merespon dengan menganalogikan mobil. Di mana ketika mobil diciptakan, angka kecelakan di jalan raya meningkat, bahaya emisi karbon, dll. Kemudian orang-orang merespon balik. Kalo misal beneran mau pake analogi mobil, penggunanya butuh safety tool misal seat belt, airbag, wajib mempunyai lisensi, ada badan terpisah yg menvalidasi tiap pengguna mobil. Intinya kalau mau pakai analogi mobil ya harus ada equivalen yg disamakan antara pengguna mobil & instagram.
Mungkin di awal-awal kita mengpakainya biasa-biasa aja, kita merasa sedang membuang stres atau mencari ide, sekadar untuk penyegaran pikiran seperti merokok, misal. Tapi karena enak & nagih, efek dopaminnya mulai terasa dalam jangka panjang. Merasa kurang kalau belum scrolling, merasa mati gaya, tidak dapat ide, & lain sebagainya, pun mirip dengan rokok bagi beberapa orang.
Banyak media yg kemudian menyerang Facebook secara keseluruhan ataupun salah satu kroconya, misal Instagram ataupun Whatsapp. Bahkan di Amerika sana, facebook didorong untuk mengerjakan editorial tiap konten dalam platformnya. Ini opsi berat buat Facebook. Kalau mereka mengerjakan editorial, berarti akan ada banyak pembatasan, konten tidak sebebas konten kreator, harus difilter & melalui proses kurasi, lah kok kayak Cangkeman?
Facebook jelas enggak mau. Toh mereka ada di level face (muka), mosok harus downgrade ke level cangkem (mulut). Karena facebook masih kekeuh bahwa mereka ini platform, setiap konten dalam kendali masing-masing publisher, yg pencet post adalah si pemilik akun, bukan kurator Facebook.
Nah isi dari beranda masing-masing pengguna ini akan berbeda, karena Facebook sudah mempunyai "rewang" yg nama kerennya algoritma itu loh. Isi beranda pengguna akan sangat berkorelasi dengan kebiasaannya, Facebook (atau instagram) enggak memaksa pengguna buat melihat suatu konten, pengguna sendiri yg mengajari algoritma untuk mengenalinya, misal sering nonton konten toxic, konten dewasa, atau apapun, algoritma akan mengenali pengguna itu sesuai kebiasaannya & menyajikan konten selanjutnya sesuai yg ia anggap "disukai oleh pengguna".
Nah kalau pembahasannya kita kembalikan lagi ke pertanyaan awal, apakah ada akibat negatifnya? Lalu kalau jawabannya adalah kembali lagi ke masing-masing pengguna, bagaimana dengan pengguna yg belum dapat mengendalikan dirinya?
Limitasi ke anak-anak di bawah umur udah jadi sesuatu yg wajib, melihat keadaan di mana banyak sekali anak yg akhirnya kecanduan di depan layar gadget. Ia akan terus merengek untuk minta gadget, salah siapa? anak? enggak dong.
Sebenarnya bukan cuma terjadi di anak, banyak rkeator lainnya yg sudah di atas umur, atau udah jadi dewasa, punya kesulitan untuk mengendalikan dirinya dalam bersosial media, banyak yg merasa tidak harap merasa ketinggalan sesuatu di media sosial, apalagi yg sudah terlanjur tenggelam, atau yg memang pekerjaannya bermain media sosial.
Influencer misal, jangan dipandang bahwa hidup mereka penuh dengan kesenangan dengan uang yg terus berdatangan cuma dari endorsement. Coba kita lihat dibaliknya.
Jadi influencer beda dengan bisnis lainnya, misal kita bikin bisnis akan ada organisasinya, enggak sendirian, & posisinya dapat diganti orang lain. Nah Influencer enggak dapat gitu, kita adalah ujung tombak itu sendiri. Walaupun ada regu di balik itu, banyak kerjaan yg didelegasikan ke orang lain, tetapi brand image seorang influencer itu ya dirinya sendiri, enggak dapat diganti ke orang lain, yg muncul ya harus di Influencer itu, enggak dapat diganti dengan tukang riasnya misal, & enggak ada opsi break dari kerjaan untuk dihandle orang lain. Jadi beban mental yg harus dibawa Influencer ini nggak gampang juga.
Jadi akibat Instagram itu nyata adanya, untuk yg menjadikannya penghasilanpun, memainkan media sosial dalam waktu yg lama akan melelahkan mental, apalagi kepada anak-anak.
Tapi, kembali lagi kepada kebutuhan manusia, ia butuh bersosial, butuh curhat, butuh melampiaskan kondisi emosional. Di situlah Instagram & Facebook mendapatkan ruang.
Tapi kalo anda cuma curhat & misuh di sana,who care about you, dude?
Mulai sekarang tinggalkan media sosial buatan
Walaupun balesannya cuma "Terima kasih sudah mengirimkan karyanya di Cangkeman. Semuanya sudah kami terima tanpa kurang suatu apapun."
Terus lanjutannya
"Namun kami memohon maaf untuk karya kali ini belum dapat dimuat di Cangkeman."
Ditulis Oleh ZEN di Cangkeman.net
Mau nulis dibayar Ceban? Yuk kirim artikel keCANGKEMAN Hari ini 00:10