yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
BEKASI – Aksi blokade tol kembali terjadi. Ribuan warga kemarin menutup jalan tol Jakarta–Cikampek di Km 8, Jatibening, Pondok Gede Timur, Bekasi, hingga menyebabkan arus lalu lintas lumpuh total selama beberapa jam.
Berulangnya aksi pemblokadean ini menunjukkan lemahnya peran negara terhadap penyelesaian berbagai masalah masyarakat. Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia (UI) Andrinof Chaniago menuturkan, aksi pemblokadean tol mengonfirmasi anggapan bahwa hukum dan pemerintahan sudah tidak berfungsi normal.Pemerintah tidak bisa diandalkan sebagai pemberi jalan keluar masalah.
“Memblokade tol adalah kegiatan yang merugikan kepentingan umum.Namun masyarakat melakukan ini karena teriakan dan cara-cara yang formal dirasa sudah tidak mempan. Makanya, cara-cara instan yang sebenarnya merugikan kepentingan masyarakat umum tak segan-segan dilakukan,” ujar Andrinof kepada harian SINDO di Jakarta kemarin.
Dia menilai pemblokadean tol Jatibening adalah bukti bahwa masyarakat sudah tidak peduli pada aturan hukum maupun sistem penyelesaian masalah oleh pemerintah. Selain itu,alur komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah dan badan layanin publik sudah mandek. Sosiolog Universitas Nasional Aris Munandar mengungkapkan, aksi pemblokadean jalan tol bukan kali pertama terjadi.
Dia melihat aksi massa terjadi akibat adanya sebuah masalah berlarut-larut dan tidak terselesaikan. Permasalahan menjadi kompleks karena ketika terjadi aksi massa, aparat keamanan tidak bisa mengendalikan. “Ini merupakan bukti bahwa negara tidak memiliki kekuasaan yang absolut,padahal sebenarnya hal tersebut tidak boleh terjadi,”ujarnya.
Kemarin pagi, ribuan warga memblokade tol Jatibening Km 8.Aksi massa dipicu penertiban terminal bayangan di eks gerbang tol Pondok Gede Timur oleh PT Jasa Marga. Dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, pintu akses menuju terminal bayangan ditutup dengan pagar besi yang dilas. Praktis,warga yang biasa memanfaatkan akses itu pun terhalang.Menjelang pagi, jumlah warga yang akan memanfaatkan akses tersebut semakin banyak.Mereka mulai terbakar emosi.
Di sisi lain,puluhan anggota ormas diketahui mengusir para penumpang yang baru turun dari bus di terminal bayangan tersebut. Aksi ini sontak memicu kemarahan sejumlah tukang ojek di sisi selatan dan utara ruas tol. Dengan menggunakan batu, mereka menyerang anggota ormas. Baku hantam tak lama kemudian terjadi. Kericuhan semakin besar ketika warga di sekitar tol Jatibening ikut turun ke ruas tol.
Tidak hanya pria, puluhan ibu-ibu turut terlibat bentrokan hingga jumlahnya mencapai ribuan orang. Serangan balik warga akhirnya membuat anggota ormas tunggang langgang. Sebagian mencari aman ke dalam kantor cabang Jasa Marga dan lainnya kabur menggunakan kendaraan. Massa yang telanjur naik pitam akhirnya meluapkan kemarahan dengan membakar mobil derek bernomor B9548 YT milik Jasa Marga yang sedang melintas ke arah Jakarta.
Mereka juga membakar ban bekas di tengah jalan.Wakapolda Metro Jaya dan rombongan yang datang ke lokasi kejadian turut menjadi sasaran. Mereka dilempari batu. Aksi pemblokadean sejak pukul 05.00 hingga 08.00 WIB itu menyebabkan kemacetan panjang di ruas tol. Dari pantauan di lapangan, kemacetan terjadi di Km 2 hingga gerbang tol Karawang Timur. Kemacetan merembet hingga tol Wiyoto–Wiyono dan JORR.
Polisi dan Jasa Marga sempat berupaya mengatasi kemacetan dengan mengalihkan arus kendaraan dari Cikampek menuju Cawang ke gerbang tol Cikunir. Selain itu, kendaraan dari arah Tanjung Priok yang hendak menuju tol Jakarta– Cikampek melalui Wiyoto– Wiyono dialihkan melalui jalan tol dalam kota atau jalan tol Grogol–Cawang.Tapi, upaya itu tak membawa hasil. Kemacetan tetap tidak terhindarkan mulai dari Jalan Kalimalang, Bekasi, hingga Jakarta Timur sepanjang 14 km.
Pemblokadean warga terhenti setelah warga dengan Polda Metro Jaya melakukan negosiasi sekitar pukul 08.00 WIB. Salah satu warga, Masran, mengakui aksi warga dipicu sikap Jasa Marga yang memaksa menutup terminal bayangan tanpa sosialisasi.Apalagi, penertiban itu melibatkan kelompok ormas.”Kami sangat kecewa karena Jasa Marga tidak berkoordinasi terlebih dahulu dengan kami,” kata Masran.
Doman yang juga warga setempat menyatakan, penertiban terminal bayangan akan memutus urat nadi ekonomi warga.Menurut dia, penertiban itu ditentang karena tidak memberikan solusi apa pun. Salah seorang tukang ojek yang menggantungkan jasa di tempat itu,Deny,menuturkan, terminal bayangan menjadi sandaran untuk mengais rezeki.
Menurut dia,area tersebut kerap dipenuhi ribuan penumpang asal Bekasi dan sekitarnya yang akan bekerja di Jakarta.Penumpang dengan tujuan luar kota pun turut menunggu di titik ini. Sementara sore hari,para pekerja tersebut turun pula di lokasi ini dengan melanjutkan perjalanan menggunakan moda transportasi lain.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto mengatakan, penutupan terminal bayangan itu sudah berkalikali dilakukan Jasa Marga, tetapi selalu saja gagal karena warga terus menjebol pagar pembatasnya. “Polisi hanya bisa memberikan rekomendasi agar kedua pihak mencapai kata sepakat. Selama ini kan sendiri-sendiri karena persoalan tata ruang. Warga juga jangan dilupakan, harus diberikan solusi terbaik,” tuturnya.
Kesepakatan Baru
Untuk meredam aksi warga, pihak kepolisian akhirnya mengaktifkan kembali terminal bayangan dan membuka paksa akses masuk kawasan tersebut. Jasa Marga, Polri, Pemkot Bekasi, dan perwakilan warga selanjutnya berunding untuk mencari solusi atas persoalan itu. Perundingan akhirnya menyepakati beberapa hal.
Pertama, Jasa Marga tetap membuka akses naik turun penumpang di tol Jatibening Km 8 baik dari arah Jakarta maupun Cikampek sambil menunggu kajian dari Dinas Perhubungan Kota Bekasi dan Badan Pengelola Jalan Tol.Jasa Marga juga sepakat menata jalur khusus bus ke areal parkir. Kesepakatan yang lain, masyarakat akan turut menjaga agar kondisi lalu lintas di kawasan itu tidak semrawut.
Direktur Utama Jasa Marga Adityawarman mengungkapkan, pihaknya siap menyediakan jalan arteri agar bus dapat menaikkan dan menurunkan penumpang di eks gerbang tol Pondok Gede Timur. Dengan jalan arteri,bus kembali masuk ke tol Jatibening tanpa dikenai biaya.”Pembuatan jalur arteri ini akan diaplikasikan dalam dua hari ke depan,”kata dia. Kepala Jasa Marga cabang tol Jakarta–Cikampek Yudi Krisyunoro mengakui terminal bayangan untuk sementara diperbolehkan.
Namun, aktivitas naik turun penumpang tidak boleh di bahu jalan tol.”Bus-bus harus keluar dulu untuk menaikkan atau menurunkan penumpang setelah itu masuk tol lagi,”terangnya. Khusus untuk lajur arah Jakarta, Yudi mengungkapkan, bus masuk kantung parkir atau pool derek Jasa Marga guna menaikkan atau menurunkan penumpang kemudian masuk tol lagi.Dengan demikian, lalu lalang kendaraan di jalan tol tidak terhambat. ”Kita sudah sepakati, jangan ada lagi warga memblokade tol,”tegasnya.
Dia menjelaskan, penertiban terminal bayangan sebenarnya dilakukan sesuai dengan UU Lalu Lintas No 22 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No 15 Tahun 2005 Pasal 41 yang melarang menaikkan atau menurunkan penumpang di jalan tol. ”Karena, terminal itu sering kali menimbulkan kecelakaan. Bahaya bila banyak bus berhenti dan kendaraan dari belakangnya jalan dalam kecepatan tinggi. Kecelakaan besar bisa terjadi.”
Direktur Operasi Jasa Marga Hasanudin menegaskan,selain melanggar regulasi,keberadaan terminal bayangan sangat meresahkan.“ Kriminalitas marak dan ancaman keselamatan pada ratusan ribu pengguna jalan tol Jakarta–Cikampek,” katanya. Data Jasa Marga menyebutkan, pada puncak jam sibuk dari jam 06.00 hingga pukul 14.00 per hari, sedikitnya ada 936 angkutan umum yang melakukan aktivitas menaikkan dan menurunkan penumpang.
Sementara itu, Corporate Secretary Jasa Marga Okke Merlina mengaku pihaknya belum menghitung kerugian akibat aksi demonstrasi warga.“Belum dihitung.Tapi tidak terlalu besar.Mobil yang dibakar massa pun bukan milik operasional perusahaan,”terang dia. Anggota Komisi V DPR Yudi Widiana Adia menyesalkan aksi pemblokadean jalan tol Jatibening yang berujung pada kerusuhan dan pembakaran mobil petugas.
Menurut dia, insiden ini sebenarnya tidak perluterjadijikakebijakanJasa Marga untuk menutup terminal bayangan sebelumnya sudah disosialisasikan dan dimusyawarahkan dengan Pemkot Bekasi dan masyarakat sehingga bisa dicarikan solusinya.
Yudi mengusulkan agar PT Jasa Marga membangun rest area mini di sekitar Km 8 sehingga kegiatan turun-naik penumpang di ruas tol Jatibening menjadi lebih aman dan tidak mengganggu kelancaran lalu lintas.
Berulangnya aksi pemblokadean ini menunjukkan lemahnya peran negara terhadap penyelesaian berbagai masalah masyarakat. Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia (UI) Andrinof Chaniago menuturkan, aksi pemblokadean tol mengonfirmasi anggapan bahwa hukum dan pemerintahan sudah tidak berfungsi normal.Pemerintah tidak bisa diandalkan sebagai pemberi jalan keluar masalah.
“Memblokade tol adalah kegiatan yang merugikan kepentingan umum.Namun masyarakat melakukan ini karena teriakan dan cara-cara yang formal dirasa sudah tidak mempan. Makanya, cara-cara instan yang sebenarnya merugikan kepentingan masyarakat umum tak segan-segan dilakukan,” ujar Andrinof kepada harian SINDO di Jakarta kemarin.
Dia menilai pemblokadean tol Jatibening adalah bukti bahwa masyarakat sudah tidak peduli pada aturan hukum maupun sistem penyelesaian masalah oleh pemerintah. Selain itu,alur komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah dan badan layanin publik sudah mandek. Sosiolog Universitas Nasional Aris Munandar mengungkapkan, aksi pemblokadean jalan tol bukan kali pertama terjadi.
Dia melihat aksi massa terjadi akibat adanya sebuah masalah berlarut-larut dan tidak terselesaikan. Permasalahan menjadi kompleks karena ketika terjadi aksi massa, aparat keamanan tidak bisa mengendalikan. “Ini merupakan bukti bahwa negara tidak memiliki kekuasaan yang absolut,padahal sebenarnya hal tersebut tidak boleh terjadi,”ujarnya.
Kemarin pagi, ribuan warga memblokade tol Jatibening Km 8.Aksi massa dipicu penertiban terminal bayangan di eks gerbang tol Pondok Gede Timur oleh PT Jasa Marga. Dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, pintu akses menuju terminal bayangan ditutup dengan pagar besi yang dilas. Praktis,warga yang biasa memanfaatkan akses itu pun terhalang.Menjelang pagi, jumlah warga yang akan memanfaatkan akses tersebut semakin banyak.Mereka mulai terbakar emosi.
Di sisi lain,puluhan anggota ormas diketahui mengusir para penumpang yang baru turun dari bus di terminal bayangan tersebut. Aksi ini sontak memicu kemarahan sejumlah tukang ojek di sisi selatan dan utara ruas tol. Dengan menggunakan batu, mereka menyerang anggota ormas. Baku hantam tak lama kemudian terjadi. Kericuhan semakin besar ketika warga di sekitar tol Jatibening ikut turun ke ruas tol.
Tidak hanya pria, puluhan ibu-ibu turut terlibat bentrokan hingga jumlahnya mencapai ribuan orang. Serangan balik warga akhirnya membuat anggota ormas tunggang langgang. Sebagian mencari aman ke dalam kantor cabang Jasa Marga dan lainnya kabur menggunakan kendaraan. Massa yang telanjur naik pitam akhirnya meluapkan kemarahan dengan membakar mobil derek bernomor B9548 YT milik Jasa Marga yang sedang melintas ke arah Jakarta.
Mereka juga membakar ban bekas di tengah jalan.Wakapolda Metro Jaya dan rombongan yang datang ke lokasi kejadian turut menjadi sasaran. Mereka dilempari batu. Aksi pemblokadean sejak pukul 05.00 hingga 08.00 WIB itu menyebabkan kemacetan panjang di ruas tol. Dari pantauan di lapangan, kemacetan terjadi di Km 2 hingga gerbang tol Karawang Timur. Kemacetan merembet hingga tol Wiyoto–Wiyono dan JORR.
Polisi dan Jasa Marga sempat berupaya mengatasi kemacetan dengan mengalihkan arus kendaraan dari Cikampek menuju Cawang ke gerbang tol Cikunir. Selain itu, kendaraan dari arah Tanjung Priok yang hendak menuju tol Jakarta– Cikampek melalui Wiyoto– Wiyono dialihkan melalui jalan tol dalam kota atau jalan tol Grogol–Cawang.Tapi, upaya itu tak membawa hasil. Kemacetan tetap tidak terhindarkan mulai dari Jalan Kalimalang, Bekasi, hingga Jakarta Timur sepanjang 14 km.
Pemblokadean warga terhenti setelah warga dengan Polda Metro Jaya melakukan negosiasi sekitar pukul 08.00 WIB. Salah satu warga, Masran, mengakui aksi warga dipicu sikap Jasa Marga yang memaksa menutup terminal bayangan tanpa sosialisasi.Apalagi, penertiban itu melibatkan kelompok ormas.”Kami sangat kecewa karena Jasa Marga tidak berkoordinasi terlebih dahulu dengan kami,” kata Masran.
Doman yang juga warga setempat menyatakan, penertiban terminal bayangan akan memutus urat nadi ekonomi warga.Menurut dia, penertiban itu ditentang karena tidak memberikan solusi apa pun. Salah seorang tukang ojek yang menggantungkan jasa di tempat itu,Deny,menuturkan, terminal bayangan menjadi sandaran untuk mengais rezeki.
Menurut dia,area tersebut kerap dipenuhi ribuan penumpang asal Bekasi dan sekitarnya yang akan bekerja di Jakarta.Penumpang dengan tujuan luar kota pun turut menunggu di titik ini. Sementara sore hari,para pekerja tersebut turun pula di lokasi ini dengan melanjutkan perjalanan menggunakan moda transportasi lain.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto mengatakan, penutupan terminal bayangan itu sudah berkalikali dilakukan Jasa Marga, tetapi selalu saja gagal karena warga terus menjebol pagar pembatasnya. “Polisi hanya bisa memberikan rekomendasi agar kedua pihak mencapai kata sepakat. Selama ini kan sendiri-sendiri karena persoalan tata ruang. Warga juga jangan dilupakan, harus diberikan solusi terbaik,” tuturnya.
Kesepakatan Baru
Untuk meredam aksi warga, pihak kepolisian akhirnya mengaktifkan kembali terminal bayangan dan membuka paksa akses masuk kawasan tersebut. Jasa Marga, Polri, Pemkot Bekasi, dan perwakilan warga selanjutnya berunding untuk mencari solusi atas persoalan itu. Perundingan akhirnya menyepakati beberapa hal.
Pertama, Jasa Marga tetap membuka akses naik turun penumpang di tol Jatibening Km 8 baik dari arah Jakarta maupun Cikampek sambil menunggu kajian dari Dinas Perhubungan Kota Bekasi dan Badan Pengelola Jalan Tol.Jasa Marga juga sepakat menata jalur khusus bus ke areal parkir. Kesepakatan yang lain, masyarakat akan turut menjaga agar kondisi lalu lintas di kawasan itu tidak semrawut.
Direktur Utama Jasa Marga Adityawarman mengungkapkan, pihaknya siap menyediakan jalan arteri agar bus dapat menaikkan dan menurunkan penumpang di eks gerbang tol Pondok Gede Timur. Dengan jalan arteri,bus kembali masuk ke tol Jatibening tanpa dikenai biaya.”Pembuatan jalur arteri ini akan diaplikasikan dalam dua hari ke depan,”kata dia. Kepala Jasa Marga cabang tol Jakarta–Cikampek Yudi Krisyunoro mengakui terminal bayangan untuk sementara diperbolehkan.
Namun, aktivitas naik turun penumpang tidak boleh di bahu jalan tol.”Bus-bus harus keluar dulu untuk menaikkan atau menurunkan penumpang setelah itu masuk tol lagi,”terangnya. Khusus untuk lajur arah Jakarta, Yudi mengungkapkan, bus masuk kantung parkir atau pool derek Jasa Marga guna menaikkan atau menurunkan penumpang kemudian masuk tol lagi.Dengan demikian, lalu lalang kendaraan di jalan tol tidak terhambat. ”Kita sudah sepakati, jangan ada lagi warga memblokade tol,”tegasnya.
Dia menjelaskan, penertiban terminal bayangan sebenarnya dilakukan sesuai dengan UU Lalu Lintas No 22 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No 15 Tahun 2005 Pasal 41 yang melarang menaikkan atau menurunkan penumpang di jalan tol. ”Karena, terminal itu sering kali menimbulkan kecelakaan. Bahaya bila banyak bus berhenti dan kendaraan dari belakangnya jalan dalam kecepatan tinggi. Kecelakaan besar bisa terjadi.”
Direktur Operasi Jasa Marga Hasanudin menegaskan,selain melanggar regulasi,keberadaan terminal bayangan sangat meresahkan.“ Kriminalitas marak dan ancaman keselamatan pada ratusan ribu pengguna jalan tol Jakarta–Cikampek,” katanya. Data Jasa Marga menyebutkan, pada puncak jam sibuk dari jam 06.00 hingga pukul 14.00 per hari, sedikitnya ada 936 angkutan umum yang melakukan aktivitas menaikkan dan menurunkan penumpang.
Sementara itu, Corporate Secretary Jasa Marga Okke Merlina mengaku pihaknya belum menghitung kerugian akibat aksi demonstrasi warga.“Belum dihitung.Tapi tidak terlalu besar.Mobil yang dibakar massa pun bukan milik operasional perusahaan,”terang dia. Anggota Komisi V DPR Yudi Widiana Adia menyesalkan aksi pemblokadean jalan tol Jatibening yang berujung pada kerusuhan dan pembakaran mobil petugas.
Menurut dia, insiden ini sebenarnya tidak perluterjadijikakebijakanJasa Marga untuk menutup terminal bayangan sebelumnya sudah disosialisasikan dan dimusyawarahkan dengan Pemkot Bekasi dan masyarakat sehingga bisa dicarikan solusinya.
Yudi mengusulkan agar PT Jasa Marga membangun rest area mini di sekitar Km 8 sehingga kegiatan turun-naik penumpang di ruas tol Jatibening menjadi lebih aman dan tidak mengganggu kelancaran lalu lintas.