roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Menontonlah film di bioskop dan jadilah modern. Pada era 1920-an, siapa yang tidak tahu gemerlapnya Concordia di Kota Bandung? Terletak di Jalan Braga dan dikenal sebagai bioskopnya kalangan elite, orang-orang menyebutnya "kaleng biskuit" atau blikken trommel karena bentuknya bulat pendek seperti kaleng. Setiap malam, 472 tempat duduk ludes terjual.
Kondisi serupa terlihat di Elita Biograph di sebelah timur Alun-alun Bandung, hanya beberapa meter dari Pendopo Bandung. Bioskop berkapasitas sekitar 400 penonton ini pun kesohor untuk kalangan atas. Di bioskop itu, film Loetoeng Kasaroeng (1926), film pertama yang diproduksi di Hindia Belanda, diputar perdana. Film ini menyedot perhatian karena dibintangi anak-anak Bupati Bandung RAA Wiranatakusumah V.
Masih terdapat sejumlah bioskop yang menjadi pencetus ikon modernitas pada era 1920-1940, antara lain Radio City dan Oriental di Alun-alun, Luxor di Kebonjati, dan Oranje di Cikakak.
Meski sempat surut pada masa pergerakan kemerdekaan, bioskop di Kota Bandung kembali gemerlap pada era 1970-an dengan berdirinya 30 gedung dari kelas bawah hingga elite. Film pada masa itu menggunakan pita seluloid 35 milimeter, yang hanya dapat diputar dengan proyektor di bioskop. Jadilah bioskop sebagai satu-satunya media untuk menonton film.
Akhir 1980-an, banyak bioskop rontok, tak terkecuali Concordia dan Elita. Setelah bertahan selama enam dekade dan sempat berganti-ganti nama menjadi Dewi dan Majestic, bioskop Concordia pun tutup pada tahun 1990-an. Sejak tahun 2000, gedung bioskop itu dijadikan Sekretariat Pusat Kebudayaan Asia Afrika (AACC).
Kurang penyesuaian
Nasib gedung bioskop Concordia lebih beruntung karena Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih mempertahankan bentuk asli gedung itu. Ini berbeda pada bioskop di kawasan Alun-alun Bandung. Elita, Varia, dan Oriental pada pertengahan 1980-an dirobohkan dan dijadikan pusat perbelanjaan Palaguna. Di dalam plaza ini sempat berdiri bioskop Palaguna dan Nusantara yang berkonsep cineplex. Namun, kini hanya Nusantara yang masih bertahan.
Lain lagi nasib bioskop Radio City di kawasan Alun-alun Bandung. Bioskop yang berganti nama menjadi bioskop Dian dan menikmati puncak kejayaannya tahun 1970-an ini pun gulung tikar pada akhir 1980-an. Gedungnya kini difungsikan sebagai tempat bermain futsal.
Menurut Ketua DPP Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia Jabar Edison Nainggolan, surutnya bioskop disebabkan berubahnya lingkungan bisnis perbioskopan yang tidak dapat diikuti pengusaha. Apalagi, alternatif hiburan sudah beragam dan bioskop bukan lagi satu-satunya media untuk menonton film.
"Saat ini orang pergi ke bioskop tidak hanya menonton film, tetapi juga untuk mencari atmosfer lainnya," ujar Edison, Rabu (19/11). Bioskop yang tidak bisa menyesuaikan perubahan bisnis akhirnya kehilangan penonton. (NDW/Litbang Kompas)
Kondisi serupa terlihat di Elita Biograph di sebelah timur Alun-alun Bandung, hanya beberapa meter dari Pendopo Bandung. Bioskop berkapasitas sekitar 400 penonton ini pun kesohor untuk kalangan atas. Di bioskop itu, film Loetoeng Kasaroeng (1926), film pertama yang diproduksi di Hindia Belanda, diputar perdana. Film ini menyedot perhatian karena dibintangi anak-anak Bupati Bandung RAA Wiranatakusumah V.
Masih terdapat sejumlah bioskop yang menjadi pencetus ikon modernitas pada era 1920-1940, antara lain Radio City dan Oriental di Alun-alun, Luxor di Kebonjati, dan Oranje di Cikakak.
Meski sempat surut pada masa pergerakan kemerdekaan, bioskop di Kota Bandung kembali gemerlap pada era 1970-an dengan berdirinya 30 gedung dari kelas bawah hingga elite. Film pada masa itu menggunakan pita seluloid 35 milimeter, yang hanya dapat diputar dengan proyektor di bioskop. Jadilah bioskop sebagai satu-satunya media untuk menonton film.
Akhir 1980-an, banyak bioskop rontok, tak terkecuali Concordia dan Elita. Setelah bertahan selama enam dekade dan sempat berganti-ganti nama menjadi Dewi dan Majestic, bioskop Concordia pun tutup pada tahun 1990-an. Sejak tahun 2000, gedung bioskop itu dijadikan Sekretariat Pusat Kebudayaan Asia Afrika (AACC).
Kurang penyesuaian
Nasib gedung bioskop Concordia lebih beruntung karena Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih mempertahankan bentuk asli gedung itu. Ini berbeda pada bioskop di kawasan Alun-alun Bandung. Elita, Varia, dan Oriental pada pertengahan 1980-an dirobohkan dan dijadikan pusat perbelanjaan Palaguna. Di dalam plaza ini sempat berdiri bioskop Palaguna dan Nusantara yang berkonsep cineplex. Namun, kini hanya Nusantara yang masih bertahan.
Lain lagi nasib bioskop Radio City di kawasan Alun-alun Bandung. Bioskop yang berganti nama menjadi bioskop Dian dan menikmati puncak kejayaannya tahun 1970-an ini pun gulung tikar pada akhir 1980-an. Gedungnya kini difungsikan sebagai tempat bermain futsal.
Menurut Ketua DPP Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia Jabar Edison Nainggolan, surutnya bioskop disebabkan berubahnya lingkungan bisnis perbioskopan yang tidak dapat diikuti pengusaha. Apalagi, alternatif hiburan sudah beragam dan bioskop bukan lagi satu-satunya media untuk menonton film.
"Saat ini orang pergi ke bioskop tidak hanya menonton film, tetapi juga untuk mencari atmosfer lainnya," ujar Edison, Rabu (19/11). Bioskop yang tidak bisa menyesuaikan perubahan bisnis akhirnya kehilangan penonton. (NDW/Litbang Kompas)