Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pernahkah Sobat Medcom mengunjungi Maha Vihara Mojopahit di Mojokerto, Jawa Timur? Di sana, terdapat patung raksasa Siddhartha Gautama atau diketahui juga sebagai Sang Buddha.
Dengan panjang mencapai 22 meter, lebar 6 meter, & tinggi 4,5 meter, patung ini dinobatkan sebagai Patung Buddha Tidur terbesar di Indonesia. Bahkan, patung dengan posisi tertidur itu merupakan yg terbesar ketiga di dunia setelah Thailand & Nepal.
Bukan sembarang pose, posisi tertidur itu menggambarkan detik-detik wafatnya Sang Buddha. Beliau wafat dalam posisi tidur miring ke kanan dengan telapak tangan kanan menyangga kepala, sebagaimana kebiasaannya saat beristirahat.
Untuk mengenal sosok Siddhartha Gautama lebih lanjut, simak biografi berikut ini
Sekilas tentang Siddharta Gautama
Siddhartha Gautama merupakan seorang guru, filsuf, & pemimpin spiritual. Tanggal kelahiran & wafat Siddhartha tidak diketahui pasti, namun diperkirakan lahir sekitar 623 SM & wafat pada 543 SM.
Siddhartha Gautama diketahui sebagai pendiri agama Buddha. Pemeluk agama ini menganggap beliau sebagai Buddha Agung (Samm?sambuddha).
Nama Siddhartha Gautama bermakna seseorang yg mencapai tujuannya, sedangkan nama Buddha memiliki arti seseorang yg terbangun, seseorang yg tercerahkan, atau orang yg sudah mencapai penerangan sempurna.
Semasa hidupnya, Siddharta sudah bermeditasi dengan berbagai pengajaran atau ilmu yg berbeda. Namun, beliau merasa pengajaran tersebut masih belum dapat memberikan jawaban.
Hingga akhirnya, Siddharta memutuskan menghabiskan malam untuk bermeditasi mendalam di bawah pohon Bodhi. Saat meditasi tersebut, semua jawaban yg beliau cari selama ini akhirnya tercerahkan jelas.
Lantaran sudah mencapai pencerahan yg sempurna, Siddharta jadi Buddha. Dia lantas tinggal & mengajar di wilayah sekitar perbatasan Nepal & India modern antara zaman ke-6 hingga ke-4 SM.
Kehidupan Siddharta sebelum jadi Sang Buddha
Siddhartha tumbuh sebagai seorang anak laki-laki dari penguasa klan Shakya. Itulah sebabnya, beliau juga diketahui sebagai Shakyamuni yg berarti orang bijak dari kaum Shakya.
Siddhartha merupakan anak dari pasangan Suddhodana & Maya Devi. Sayangnya, sang ibu, Maya Devi, meninggal tujuh hari setelah melahirkan Siddharta.
Sang ayah lantas membesarkan Siddharta di tengah kemewahan istana yg spesifik dibangun untuk anaknya. Hal ini dilakukan demi melindungi Siddharta dari pengetahuan tentang dunia luar, termasuk kesedihan & penderitaan duniawi.
Siddhartha muda pernah diramalkan oleh seorang lelaki suci. Menurut ramalan tersebut, Siddharta akan tumbuh jadi sosok yg hebat, entah itu jadi raja, pemimpin militer, atau pemimpin spiritual.
Ketika usianya menginjak 16 tahun, Siddhartha menikah dengan putri Yashodhara. Dia dikaruniai putra bernama R?hula dari perkawinan tersebut.
Meskipun sudah berkeluarga, kehidupan Siddharta masih terisoloasi dari dunia luar. Hal itu terus berlanjut hingga 13 tahun kemudian.
Kehidupan Siddharta saat mulai mengenal dunia luar
Bertahun-tahun hidup terisolasi, Siddhartha tak banyak memiliki pengetahuan maupun pengalaman tentang dunia yg sesungguhnya. Beliau baru mulai keluar istana & mengenal dunia luar setelah menginjak usia dewasa.
Suatu hari, ketika sedang berkelana bersama kusirnya, dia melihat seorang lelaki yg sangat tua. Sang kusir menjelaskan kepada Siddhartha bahwa di dunia ini, semua orang akan bertumbuh tua, seperti orang yg dilihatnya itu.
Siddhartha pun mulai mengerjakan lebih banyak perjalanan penjelajahan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang dunia luar yg selama ini tidak beliau ketahui.
Selama berkelana, Siddharta berjumpa dengan beragam bentuk manusia, mulai dari pria yg sakit, mayat manusia yg membusuk, hingga seorang pertapa. Sang kusir menjelaskan kepada Siddhartha bahwa pertapa tersebut sudah meninggalkan kegiatan duniawinya untuk mencari pembebasan dari ketakutan manusia akan kematian & penderitaan.
Siddharta terus memikirkan penjelasan mengenai pertapa tersebut. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk meninggalkan istri & anaknya supaya dapat menempuh jalan spiritual yg lebih mendalam.
Siddharta bertekad menemukan cara meringankan penderitaan universal yg sudah dipahami sebagai salah satu ciri khas kemanusiaan.
Kehidupan Siddharta sebagai pertapa hingga jadi Sang Buddha
Enam tahun berikutnya, Siddhartha hidup sebagai pertapa. Dia belajar & bermeditasi dengan ilmu yg didapatnya dari berbagai guru spiritual sebagai pedoman.
Siddharta mempraktikkan cara hidup baru ini bersama dengan sekelompok pertapa yg terdiri atas lima orang. Karena sangat berdedikasi mencari jawaban atas pertanyaan hidupnya, kelima pertapa itu memutuskan jadi pengikut Siddhartha.
Ketika jawaban atas pertanyaannya tidak ditemukan, Siddhartha akan menggandakan usahanya, menahan rasa sakit, berpuasa, bahkan menolak air minum. Namun, setelah mencoba berbagai hal, Siddhartha masih belum mencapai tingkat wawasan yg dicari.
Hingga suatu hari, seseorang menawarinya semangkuk nasi. Dari kejadian sederhana itu, Siddharta menyadari bahwa pertapaan jasmani bukanlah cara untuk mencapai pembebasan batin.
Siddhartha sadar, hidup di bawah batasan fisik yg keras tidak akan membantunya mencapai pelepasan spiritual. Dia akhirnya mengambil nasi, minum air, & mandi di sungai.
Kelima pertapa yg menyaksikan hal ini mengira Siddhartha sudah menyerah hidup di jalan pertapa. Sehingga, mereka pun memutuskan untuk berhenti jadi pengikutnya.
Suatu malam, Siddhartha duduk sendirian di bawah pohon Bodhi. Siddhartha bertekad untuk tidak bangun hingga kebenaran yg beliau cari datang kepadanya.
Benar saja, Siddhartha bermeditasi & tinggal di bawah pohon Bodhi selama beberapa hari. Selain memurnikan pikirannya, dia juga melihat seluruh hidupnya & kehidupan sebelumnya dalam pikirannya.
Selama bermeditasi, Siddhartha harus mengatasi ancaman Mara, sosok iblis jahat yg menentang haknya untuk jadi Buddha. Mara mengeklaim bahwa keadaan tercerahkan merupakan miliknya & Siddhartha tidak akan dapat mendapatkannya.
Pada malam itu pula, Siddhartha bertekad mengusir Mara. Dia lantas menyentuhkan tangannya ke tanah & meminta bumi untuk jadi saksi atas pencerahannya.
Sebuah citra tentang semua yg terjadi di alam semesta pun mulai terbentuk di benak Siddhartha. Dia akhirnya melihat jawaban atas pertanyaan penderitaan yg sudah dicarinya selama bertahun-tahun.
Pada saat pencerahan murni itu, Siddhartha Gautama jadi Buddha & berhasil mengusir Mara. Berbekal pengetahuan barunya, Sang Buddha semula ragu untuk mengajar, karena apa yg beliau ketahui tidak dapat dikomunikasikan kepada orang lain dengan kata-kata.
Namun, saat itulah Sang Raja para Dewa, Brahma, meyakinkan Buddha untuk tetap mengajar. Sang Buddha bangkit dari tempatnya di bawah pohon Bodhi & berangkat untuk mengajarkan ilmu yg sudah beliau dapatkan.
Wafatnya Sang Buddha
Buddha diperkirakan meninggal sekitar usia 80 tahun karena sakit. Sebelum berpulang, dia berpesan kepada muridnya untuk tidak sekadar mengikuti pemimpin, tetapi juga harus "menjadi terangmu sendiri".
Sang Buddha wafat dengan posisi seperti tidur miring ke kanan dengan telapak tangan kanan menyangga kepalanya. Posisi tersebut kini banyak diabadikan jadi patung Buddha Tidur atau Sleeping Buddha di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia.
Kemarin 21:11
Dengan panjang mencapai 22 meter, lebar 6 meter, & tinggi 4,5 meter, patung ini dinobatkan sebagai Patung Buddha Tidur terbesar di Indonesia. Bahkan, patung dengan posisi tertidur itu merupakan yg terbesar ketiga di dunia setelah Thailand & Nepal.
Bukan sembarang pose, posisi tertidur itu menggambarkan detik-detik wafatnya Sang Buddha. Beliau wafat dalam posisi tidur miring ke kanan dengan telapak tangan kanan menyangga kepala, sebagaimana kebiasaannya saat beristirahat.
Untuk mengenal sosok Siddhartha Gautama lebih lanjut, simak biografi berikut ini
Sekilas tentang Siddharta Gautama
Siddhartha Gautama merupakan seorang guru, filsuf, & pemimpin spiritual. Tanggal kelahiran & wafat Siddhartha tidak diketahui pasti, namun diperkirakan lahir sekitar 623 SM & wafat pada 543 SM.
Siddhartha Gautama diketahui sebagai pendiri agama Buddha. Pemeluk agama ini menganggap beliau sebagai Buddha Agung (Samm?sambuddha).
Nama Siddhartha Gautama bermakna seseorang yg mencapai tujuannya, sedangkan nama Buddha memiliki arti seseorang yg terbangun, seseorang yg tercerahkan, atau orang yg sudah mencapai penerangan sempurna.
Semasa hidupnya, Siddharta sudah bermeditasi dengan berbagai pengajaran atau ilmu yg berbeda. Namun, beliau merasa pengajaran tersebut masih belum dapat memberikan jawaban.
Hingga akhirnya, Siddharta memutuskan menghabiskan malam untuk bermeditasi mendalam di bawah pohon Bodhi. Saat meditasi tersebut, semua jawaban yg beliau cari selama ini akhirnya tercerahkan jelas.
Lantaran sudah mencapai pencerahan yg sempurna, Siddharta jadi Buddha. Dia lantas tinggal & mengajar di wilayah sekitar perbatasan Nepal & India modern antara zaman ke-6 hingga ke-4 SM.
Kehidupan Siddharta sebelum jadi Sang Buddha
Siddhartha tumbuh sebagai seorang anak laki-laki dari penguasa klan Shakya. Itulah sebabnya, beliau juga diketahui sebagai Shakyamuni yg berarti orang bijak dari kaum Shakya.
Siddhartha merupakan anak dari pasangan Suddhodana & Maya Devi. Sayangnya, sang ibu, Maya Devi, meninggal tujuh hari setelah melahirkan Siddharta.
Sang ayah lantas membesarkan Siddharta di tengah kemewahan istana yg spesifik dibangun untuk anaknya. Hal ini dilakukan demi melindungi Siddharta dari pengetahuan tentang dunia luar, termasuk kesedihan & penderitaan duniawi.
Siddhartha muda pernah diramalkan oleh seorang lelaki suci. Menurut ramalan tersebut, Siddharta akan tumbuh jadi sosok yg hebat, entah itu jadi raja, pemimpin militer, atau pemimpin spiritual.
Ketika usianya menginjak 16 tahun, Siddhartha menikah dengan putri Yashodhara. Dia dikaruniai putra bernama R?hula dari perkawinan tersebut.
Meskipun sudah berkeluarga, kehidupan Siddharta masih terisoloasi dari dunia luar. Hal itu terus berlanjut hingga 13 tahun kemudian.
Kehidupan Siddharta saat mulai mengenal dunia luar
Bertahun-tahun hidup terisolasi, Siddhartha tak banyak memiliki pengetahuan maupun pengalaman tentang dunia yg sesungguhnya. Beliau baru mulai keluar istana & mengenal dunia luar setelah menginjak usia dewasa.
Suatu hari, ketika sedang berkelana bersama kusirnya, dia melihat seorang lelaki yg sangat tua. Sang kusir menjelaskan kepada Siddhartha bahwa di dunia ini, semua orang akan bertumbuh tua, seperti orang yg dilihatnya itu.
Siddhartha pun mulai mengerjakan lebih banyak perjalanan penjelajahan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang dunia luar yg selama ini tidak beliau ketahui.
Selama berkelana, Siddharta berjumpa dengan beragam bentuk manusia, mulai dari pria yg sakit, mayat manusia yg membusuk, hingga seorang pertapa. Sang kusir menjelaskan kepada Siddhartha bahwa pertapa tersebut sudah meninggalkan kegiatan duniawinya untuk mencari pembebasan dari ketakutan manusia akan kematian & penderitaan.
Siddharta terus memikirkan penjelasan mengenai pertapa tersebut. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk meninggalkan istri & anaknya supaya dapat menempuh jalan spiritual yg lebih mendalam.
Siddharta bertekad menemukan cara meringankan penderitaan universal yg sudah dipahami sebagai salah satu ciri khas kemanusiaan.
Kehidupan Siddharta sebagai pertapa hingga jadi Sang Buddha
Enam tahun berikutnya, Siddhartha hidup sebagai pertapa. Dia belajar & bermeditasi dengan ilmu yg didapatnya dari berbagai guru spiritual sebagai pedoman.
Siddharta mempraktikkan cara hidup baru ini bersama dengan sekelompok pertapa yg terdiri atas lima orang. Karena sangat berdedikasi mencari jawaban atas pertanyaan hidupnya, kelima pertapa itu memutuskan jadi pengikut Siddhartha.
Ketika jawaban atas pertanyaannya tidak ditemukan, Siddhartha akan menggandakan usahanya, menahan rasa sakit, berpuasa, bahkan menolak air minum. Namun, setelah mencoba berbagai hal, Siddhartha masih belum mencapai tingkat wawasan yg dicari.
Hingga suatu hari, seseorang menawarinya semangkuk nasi. Dari kejadian sederhana itu, Siddharta menyadari bahwa pertapaan jasmani bukanlah cara untuk mencapai pembebasan batin.
Siddhartha sadar, hidup di bawah batasan fisik yg keras tidak akan membantunya mencapai pelepasan spiritual. Dia akhirnya mengambil nasi, minum air, & mandi di sungai.
Kelima pertapa yg menyaksikan hal ini mengira Siddhartha sudah menyerah hidup di jalan pertapa. Sehingga, mereka pun memutuskan untuk berhenti jadi pengikutnya.
Suatu malam, Siddhartha duduk sendirian di bawah pohon Bodhi. Siddhartha bertekad untuk tidak bangun hingga kebenaran yg beliau cari datang kepadanya.
Benar saja, Siddhartha bermeditasi & tinggal di bawah pohon Bodhi selama beberapa hari. Selain memurnikan pikirannya, dia juga melihat seluruh hidupnya & kehidupan sebelumnya dalam pikirannya.
Selama bermeditasi, Siddhartha harus mengatasi ancaman Mara, sosok iblis jahat yg menentang haknya untuk jadi Buddha. Mara mengeklaim bahwa keadaan tercerahkan merupakan miliknya & Siddhartha tidak akan dapat mendapatkannya.
Pada malam itu pula, Siddhartha bertekad mengusir Mara. Dia lantas menyentuhkan tangannya ke tanah & meminta bumi untuk jadi saksi atas pencerahannya.
Sebuah citra tentang semua yg terjadi di alam semesta pun mulai terbentuk di benak Siddhartha. Dia akhirnya melihat jawaban atas pertanyaan penderitaan yg sudah dicarinya selama bertahun-tahun.
Pada saat pencerahan murni itu, Siddhartha Gautama jadi Buddha & berhasil mengusir Mara. Berbekal pengetahuan barunya, Sang Buddha semula ragu untuk mengajar, karena apa yg beliau ketahui tidak dapat dikomunikasikan kepada orang lain dengan kata-kata.
Namun, saat itulah Sang Raja para Dewa, Brahma, meyakinkan Buddha untuk tetap mengajar. Sang Buddha bangkit dari tempatnya di bawah pohon Bodhi & berangkat untuk mengajarkan ilmu yg sudah beliau dapatkan.
Wafatnya Sang Buddha
Buddha diperkirakan meninggal sekitar usia 80 tahun karena sakit. Sebelum berpulang, dia berpesan kepada muridnya untuk tidak sekadar mengikuti pemimpin, tetapi juga harus "menjadi terangmu sendiri".
Sang Buddha wafat dengan posisi seperti tidur miring ke kanan dengan telapak tangan kanan menyangga kepalanya. Posisi tersebut kini banyak diabadikan jadi patung Buddha Tidur atau Sleeping Buddha di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia.
Kemarin 21:11