Tiopan1990
IndoForum Newbie E
- No. Urut
- 282834
- Sejak
- 28 Mar 2014
- Pesan
- 63
- Nilai reaksi
- 0
- Poin
- 6
Dampak stop operasi yang nantinya akan dilakukan Organda Sumut terkait putusan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) secara otomatis bakal berimbas pada pendapatan Belawan International Container Terminal (BICT) Belawan, yang merupakan unit usaha dari PT Pelindo I, salah satu perusahaan yang bernaung di bawah Kementerian BUMN.
Sehari saja para Pengusaha Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) Belawan itu stop operasi, BICT bakal kehilangan atau merugi Rp2 miliar. “Kalau sampai Organda stop operasi satu hari saja, BICT sudah rugi Rp2 miliar, apalagi sampai satu minggu. Artinya, BICT akan rugi Rp14 miliar,” tegas Manager Operasional Belawan International Container Terminal (BICT) Suriono kepada wartawan.
Oleh karena itu, lanjut Suriono, BICT sangat cemas dengan rencana stop aksi tersebut. BICT berharap ancaman stop operasi itu jangan sampai terjadi. “Tentunya kita mengharapkan ada solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah yang menjerat Organda Sumut terutama Angsuspel. Apabila mogok itu terjadi maka akan terganggulah sendi perekonomian di Sumut ini,” papar Suriono saat menerima kunjungan Anggota DPD RI Parlindungan Purba didampingi rombongan Organda Sumut dan pengurus Angsuspel, baru-baru ini.
Seperti kita ketahui bersama, sambung Suriono dengan raut cemas seandainya stop operasi itu terjadi, Belawan merupakan pintu gerbang perekonomian di Sumatera Utara. “Jika mogok, distribusi barang pasti akan terganggu, sudah pasti itu. Sementara kunjungan kapal terus berlangsung. Kita melakukan bongkar, namun untuk distribusinya tidak ada, karena tidak ada pengangkutan, ya praktis, kontainer akan menumpuk di lapangan kita. Bisa-bisa kontainer tidak ada tempat, terpaksa harus berada di kapal. Kondisi ini sungguh-sungguh mencemaskan kita sebagai terminal operator,” jabar Suriono.
Oleh karena itu, BICT sangat berharap ada solusi terbaik yang bisa dilakukan Anggota DPR RI Parlindungan Purba agar perekonomian di Sumut tetap lancar dan tidak ada kendala. “Selama ini sudah cukup baik,” cetusnya.
Diakui Suriono di BICT ada 2.000 pergerakan peti kemas keluar masuk setiap hari. Jika mogok sudah pasti banyak yang bakal menumpuk. Bahkan, terminal tersebut tidak akan mampu menampung ribuan kontainer yang turun dari kapal-kapal internasional maupun domestik.
“Kami berharap, persoalan ini selesai dengan baiklah,” jelas Suriono seraya menambahkan kerugian Rp 2 miliar yang nantinya mereka alami akibat efek stop operasi Organda Sumut itu, merupakan pendapatan dari kegiatan bongkar muat dan penumpukan kontainer yang turun dari kapal-kapal internasional maupun domestik.
Dijelaskan Suriono, untuk terminal internasional, dalam satu minggu ada 10 kapal kontainer yang sandar, jadi satu hari ada dua kapal yang sandar. Sementara, untuk terminal domestik ada 28 kapal yang sandar dalam satu bulan, jadi dalam satu hari ada satu atau dua kapal yang sandar.
Sehari saja para Pengusaha Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) Belawan itu stop operasi, BICT bakal kehilangan atau merugi Rp2 miliar. “Kalau sampai Organda stop operasi satu hari saja, BICT sudah rugi Rp2 miliar, apalagi sampai satu minggu. Artinya, BICT akan rugi Rp14 miliar,” tegas Manager Operasional Belawan International Container Terminal (BICT) Suriono kepada wartawan.
Oleh karena itu, lanjut Suriono, BICT sangat cemas dengan rencana stop aksi tersebut. BICT berharap ancaman stop operasi itu jangan sampai terjadi. “Tentunya kita mengharapkan ada solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah yang menjerat Organda Sumut terutama Angsuspel. Apabila mogok itu terjadi maka akan terganggulah sendi perekonomian di Sumut ini,” papar Suriono saat menerima kunjungan Anggota DPD RI Parlindungan Purba didampingi rombongan Organda Sumut dan pengurus Angsuspel, baru-baru ini.
Seperti kita ketahui bersama, sambung Suriono dengan raut cemas seandainya stop operasi itu terjadi, Belawan merupakan pintu gerbang perekonomian di Sumatera Utara. “Jika mogok, distribusi barang pasti akan terganggu, sudah pasti itu. Sementara kunjungan kapal terus berlangsung. Kita melakukan bongkar, namun untuk distribusinya tidak ada, karena tidak ada pengangkutan, ya praktis, kontainer akan menumpuk di lapangan kita. Bisa-bisa kontainer tidak ada tempat, terpaksa harus berada di kapal. Kondisi ini sungguh-sungguh mencemaskan kita sebagai terminal operator,” jabar Suriono.
Oleh karena itu, BICT sangat berharap ada solusi terbaik yang bisa dilakukan Anggota DPR RI Parlindungan Purba agar perekonomian di Sumut tetap lancar dan tidak ada kendala. “Selama ini sudah cukup baik,” cetusnya.
Diakui Suriono di BICT ada 2.000 pergerakan peti kemas keluar masuk setiap hari. Jika mogok sudah pasti banyak yang bakal menumpuk. Bahkan, terminal tersebut tidak akan mampu menampung ribuan kontainer yang turun dari kapal-kapal internasional maupun domestik.
“Kami berharap, persoalan ini selesai dengan baiklah,” jelas Suriono seraya menambahkan kerugian Rp 2 miliar yang nantinya mereka alami akibat efek stop operasi Organda Sumut itu, merupakan pendapatan dari kegiatan bongkar muat dan penumpukan kontainer yang turun dari kapal-kapal internasional maupun domestik.
Dijelaskan Suriono, untuk terminal internasional, dalam satu minggu ada 10 kapal kontainer yang sandar, jadi satu hari ada dua kapal yang sandar. Sementara, untuk terminal domestik ada 28 kapal yang sandar dalam satu bulan, jadi dalam satu hari ada satu atau dua kapal yang sandar.
Terakhir disunting oleh moderator: