• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

BI Temukan Lima Korporasi yang Berpotensi Bangkrut

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
P0lUi.jpg
bunk Indonesia (BI) melakukan tes ketahanan (stress test) sistem keuangan Indonesia. Tes ini dilakukan untuk melihat dampak pelemahan nilai tukar dan penurunan harga aset terhadap ketahanan perbankan.

Dari sisi ketahanan korporasi, pelemahan nilai tukar akan berdampak pada peningkatan kewajiban valas korporasi. Peningkatan kewajiban valas yang tidak diikuti oleh peningkatan aset valas berpotensi menggerus permodalan korporasi sebagaimana tercermin dalam rasio Posisi Devisa Neto (PDN) korporasi.

Berkaitan dengan hal tersebut, BI telah melakukan stress testlanjutan pada korporasi yang memiliki Utang Luar Negeri (ULN) dan posisi Net Foreign Liabilities (NFL) atau liabitas net asing.

Hasil simulasi terhadap 57 korporasi menunjukan bahwa diperkirakan terdapat 5 korporasi atau 8,77 persen dari total korporasi yang diobservasi berpotensi insolvent alias bangkrut. "Apabila nilai tukar rupiah melemah di atas kurs Rp15.500/USD," tulis BI dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (21/10/2014).

Sementara itu dari sisi rumah tangga, hasil survei menunjukan tingkat yang masih berada pada level aman. Utang rumah tangga masih dapat ditutup oleh pendapatan dan asetnya. Dari sisi perkembangannya, ketahanan rumah tangga terhadap leverage(jangkauan) juga menunjukkan perbaikan.

Ini ditunjukkan dengan menurunnya tingkat utang, baik total utang, utang jangka panjang (dengan jatuh tempo di atas 12 bulan) serta utang kepada perbankan, dibandingkan dengan pendapatannya dan aset.

Rasio total utang terhadap pendapatan pada 2010 mencapai 19,53 turun menjadi 15,54 pada akhir tahun 2013.

Sementara itu, rasio total utang terhadap aset pada 2010 mencapai 4,06 turun menjadi 2,96 pada akhir tahun 2013. Hal ini mengindikasikan bahwa rumah tangga di Indonesia masih mampu untuk membayar seluruh utangnya dengan aset ataupun menggunakan pendapatannya.

Meski demikian, peningkatan rasio Non Performing Loan (NPL) alias kredit macet rumah tangga dari level 1,41 persen pada posisi akhir 2013 menjadi 1,72 persen pada Juni 2014 tetap perlu dicermati.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.