• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

BI Rate Naik, Waspadai Risiko Kredit Macet

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
dOsZ8.jpg
Keputusan bunk Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan BI rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi tujuh persen diperkirakan akan berdampak pada peningkatan risiko kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).

Menurut Chief Economist PT bunk Tabungan Negara (bed) Agustinus Prasetyantoko, dengan kenaikan suku bunga acuan BI, bunk-bunk akan ketat menaikkan suku bunga danang murah seperti tabungan, giro, dan deposito.

"Dengan demikian, maka biaya danang (cost of fund) bunk akan meningkat," ujar Agustinus di Jakarta, Minggu 1 September 2013.

Dalam kondisi peningkatan biaya danang tersebut, bunk tentunya tidak ingin labanya turun. Menurut hematnya, bunk akan mencoba tetap mempertahankan margin keuntungan bersih atau net interest margin. Dan hasilnya, bunga kredit akan menyesuaikan ke atas.

"Kenaikan suku bunga salah satu faktor penting, kredit makin mahal dan kredit macet akan meningkat," kata Agustinus di Jakarta, Minggu 1 September 2013.

Menurutnya, mahalnya suku bunga kredit tentu akan menyusahkan masyarakat. Sehingga, dampaknya permintaan kredit diperkirakan akan mengalami penurunan.

Penurunan permintaan ini, lanjutnya, lebih disebabkan oleh depresiasi nilai tukar rupiah dan ketidakstabilan ekonomi dalam negeri.

"Permintaan akan menurun karena dua faktor. Pertama, pendapatan masyarakat menurun akibat depresiasi nilai tukar, ditambah lagi perlambatan ekonomi, dan kedua tingginya angka inflasi yang diperkirakan mencapai sembilan persen tahun ini," jelasnya.

Menjalar ke properti

Selain itu, ia juga memprediksi, penawaran kredit di sektor properti juga akan melambat. Keterlambatan ini disebabkan oleh aturan BI mengenai kenaikan Loan to Value (LTV) untuk rumah kedua dan ketiga dengan tipe di atas 70 meter persegi.

"Yang lebih berat dari sisi penawaran kredit properti melambat. Karena aturan LTV, ditambah dengan kenaikan bahan baku. Jadi harga akan naik," ungkap Agustinus.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.