yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Inflasi IHK berdasarkan data Badan Pusat Statistik mencapai 3,29 persen (month to month/mtm) atau 8,61 persen (year on year/yoy).
Direktur Departemen Komunikasi BI, Peter Jacobs, dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat 2 Juli 2013, menjelaskan bahwa tingginya tekanan inflasi, terutama disebabkan gangguan pasokan sejumlah komoditas pangan seperti bawang merah, cabai, daging ayam dan daging sapi, di tengah kenaikan permintaan musiman Ramadan.
Menurutnya, hal ini menyebabkan inflasi bulanan kelompok volatile food meningkat hampir tiga kali di atas perkiraan sebelumnya, sehingga mencapai 6,07 persen (mtm) atau 16,12 persen (yoy). Untuk dampak kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap harga bensin dan solar serta tarif angkutan sudah mencapai puncaknya di bulan Juli dan menyumbang hampir separuh dari realisasi inflasi IHK.
"Dengan perkembangan tersebut, inflasi administered prices mencapai 7,90 persen (mtm) atau 15,10 persen (yoy). Sedangkan inflasi inti masih relatif terjaga meskipun meningkat mencapai 0,99 persen (mtm) atau 4,44 persen (yoy), didukung harga komoditas global yang menurun dan permintaan yang terkendali," ujarnya.
Ke depan, Peter memperdiksikan angka inflasi akan mereda dan kembali pada pola normalnya. Inflasi IHK diperkirakan akan turun ke sekitar 0,9 persen (mtm) pada Agustus dan sekitar 0,1 persem (mtm) pada September 2013. Penurunan inflasi didorong pengaruh positif kebijakan pemerintah untuk mempercepat dan menambah kuota impor daging sapi dan menambah pintu masuk impor bawang merah melalui Jawa.
Selain itu, penurunan inflasi juga dipengaruhi meredanya dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan kembali normalnya permintaan setelah Lebaran.
BI, lanjut Peter akan terus memperkuat koordinasi kebijakan bersama pemerintah baik di tingkat pusat dan daerah, dengan fokus pada upaya menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi bahan pangan. Dengan berbagai langkah tersebut, inflasi IHK akan dapat dijaga dan secara bertahap terus menurun mencapai kisaran sasaran inflasi sebesar 4,5 persen ±1 persen pada 2014.
Sementara itu, realisasi neraca perdagangan Indonesia bulan Juni 2013 secara umum masih searah dengan perkiraan BI. Berdasarkan rilis BPS Kamis kemarin, defisit neraca perdagangan tercatat US$0,8 miliar, lebih besar daripada defisit di bulan Mei 2013 sebesar US$0,5 miliar.
Peningkatan defisit dipengaruhi oleh lebih besarnya penurunan ekspor dibandingkan penurunan impor. Pertumbuhan ekspor secara bulanan terkontraksi sebesar 8,6 persen (mtm), sedangkan pertumbuhan impor terkontraksi lebih rendah sebesar 6,4 persen (mtm).
"Penurunan ekspor dipengaruhi pertumbuhan ekonomi global dan harga komoditas ekspor yang belum kuat, terutama pada ekspor kelompok barang tambang (batubara, tembaga, dan nikel). Sementara itu, penurunan impor khususnya terjadi pada kelompok bahan baku dan barang modal, tidak terlepas dari pengaruh tren perlambatan permintaan domestik dan permintaan ekspor," ungkap Peter.