• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Bertaruh Nyawa Demi Keyakinan

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Bertaruh Nyawa Demi Keyakinan

Bertaruh Nyawa Demi Keyakinan


Mempertahankan keyakinan sebagai penghayat Sunda Wiwitan tidaklah mudah. Selain mengalami diskriminasi, nyawa harus siap dipertaruhkan.

Seperti masa DI/TII & PKI. Saat itu, selain suhu politik yg memanas, masyarakat Indonesia penganut agama kepercayaan ketar-ketir menyelamatkan diri. Kabar penyiksaan & pembunuhan sejumlah komunitas kepercayaan di sejumlah daerah sering hingga di telinga penghayat.

Kami menyebutnya di PKI-kan. Bagaimana para penghayat itu disiksa, dibunuh, bahkan dikubur hidup-hidup, ujar penghayat Sunda Wiwitan yg juga anak tetua adat Sunda Wiwitan Cigugur Kuningan, Dewi Kanti kepada INILAH, belum lama ini.

Di tengah ketakutan ini, tetua adat Pangeran Jatikusuma mendapat petunjuk spiritual untuk menyelamatkan generasi.

Yakni berteduh di bawah cemara putih yg dimaknainya sebagai Kristen.

Saat itu kondisi sedang genting.

Penghayat ada yg masuk Protestan ataupun Katolik. Yang penting gereja, terangnya.

Sebelum masuk ke gereja, Pangeran Jatikusuma bernegosiasi dengan pastur.

Penghayat bersedia mengikuti aturan gereja asal mengakomodir ritual adat & tidak meninggalkan sistem tradisi adat.

Meski kami Katolik tetapi Katolik yg nyunda, bukan Romawi, sambungnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, pastor Belanda cenderung misionaris. Saat hendak mengadakan peringatan 1 syuro di gereja, pastor diminta mengenakan pakaian tradisi supaya setara antara umat & imam.

Apalagi, pastor tersebut sudah tinggal di tanah Sunda, sehingga wajar kalau menghargai akar budaya sunda. Namun usul itu ditolak panitia liturgy.

Daripada memunculkan konflik internal, Pangeran Jatikusuma memutuskan untuk mundur dari ummat.

Banyak ketidakcocokan. Misalnya saat acara serentaun yg diwariskan leluhur untuk mengakomodasi semua golongan, ada acara doa bersama lintas agama. Tapi setelah masuk Katolik, pastor keberatan, terangnya.

Setelah keluar dari Katolik, tekanan kembali muncul. Tahun 1980-1990-an, pemerintah melarang acara seren taun. Di waktu yg bersamaan, jumlah penghayat Sunda Wiwitan berkurang karena banyak yg bertahan di cemara putih.

Seperti yg dilakukan Asep & keluarganya. Dia tetap bertahan di cemara putih karena anak-anaknya diberi pekerjaan. Tapi, walaupun saya Katolik.

Jiwa raga saya tetap sunda, memegang adat budaya Sunda. Saya Katolik nu nyunda, ucap Asep.

Bagi Dewi Kanti sendiri, disparitas agama bukan jadi pemisah. Dia tak harap terjebak pada pembungkus agama itu berasal. Kalau lihat fakta sejarah, lereng Gunung Ciremai ini plural. Situs-situs Pra Hindu, Hindu, Budha, Islam, semuanya berdampingan.

Ayah saya punya delapan anak, ada yg Katolik, malah ada yg jadi pendeta Kristen, tak masalah. Di Cigugur, peran adat jadi perekat. Kita berbaur dalam adat, imbuhnya.

Adat, sambung Dewi Kanti, berfungsi sebagai fasilitator. Bahkan dalam berbagai advokasi yg dilakukan para penghayat. Dari perjalanan panjang tersebut, kini sekolah di Kuningan, memberi ruang bagi penghayat untuk mempelajari keyakinannya di sekolah.

Hal itu seiring dengan UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 12 (1) yg berbunyi, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yg dianutnya & diajarkan oleh pendidik yg seagama.

Selain itu, saat ini Dewi & penghayat lainnya sedang gencar mengadvokasi penolakan eksplorasi Chevron di Gunung Ciremai. Seperti diketahui, Chevron tengah mengerjakan penyelidikan awal tentang potensi geothermal di Ciremai & akan dilanjutkan dengan pengeboran.

Rencana tersebut ditolak penduduk lereng Ciremai. Para penghayat berkonsolidasi dengan seluruh jaringan desa. Akhirnya, warga sekitar melihat peran komunitas adat jadi perekat & bermanfaat bagi warga sekitar.

Advokasi ke DPR pun terus dilakukan.

Dalam sidang pleno DPR, penghayat pernah mengusulkan dua opsi. Pertama, kolom agama diisi oleh keyakinan yg dianut. Kedua, mengosonghkan kolom agama, karena sejumlah negara menerapkan hal yg sama.

Salah satu yg datang ke pleno DPR adalah Ira Indra Wardhana. Sebagai antropolog, dalam sidang tersebut dia menyampaikan, agama itu religi.

Religi adalah unsur kebudayaan. Jika Indonesia memiliki 500 kebudayaan, maka ada 500 religi. Di Indonesia, ada agama yg datang dari luar, namun ada pula yg berangka dari kebudayaan Indonesia.

Ajaran Sunda Wiwitan

Menurut Pangeran Djatikusuma, Sunda Wiwitan berarti Sunda permulaan, akar, atau pertama. Sesuai naskah Carita Parahiyangan, makna Sunda Wiwitan disebut Jati Sunda. Sunda Wiwitan berpegang teguh pada adat budaya sunda. Pangkal ajarannya, mendasari hidup dengan memaknai kehidupan sehari-hari, dari tanah & air yg dipijak.

Pengeran Djatikusuma meyakini, setiap manusia yg dilahirkan ke dunia tidak dapat memilih untuk jadi manusia ataupun etnis tertentu. Semuanya atas kehendak Maha Pencipta. Setiap manusia mempunyai kodratnya sendiri-sendiri atau cara-ciri. Karena itu, Sunda Wiwitan sangat memegang teguh pikukuh tilu, ungkapnya.

Pertama, cara-ciri manusia (kodrat manusia) yakni unsur-unsur dasar yg ada di dalam kehidupan manusia.

Setidaknya ada lima unsur dalam konsep Sunda Wiwitan.

Yakni welas asih (sayang kasih), undak usuk (tatanan/hierarki dalam kekeluargaan, tata krama (tatanan perilaku), budi bahasa & budaya, Wiwaha Yudha Naradha (sifat dasar manusia yg sering memerangi segala sesuatu sebelum mengerjakannya).

Kalau satu saja cara-ciri manusia yg lain tidak sesuai dengan hal tersebut maka manusia pasti tidak akan mengerjakannya.

Kedua, cara-ciri bangsa (kodrat kebangsaan). Dalam ajaran Sunda Wiwitan, perbedaan-perbedaan antarmanusia didasarkan pada cara-ciribangsa yg terdiri dari Rupa, Adat, Bahasa, Aksara, Budaya.

Pikukuh yg ketiga adalah Madep ka ratu raja (mengabdi kepada yg semestinya).

Itulah mengapa, penghayat Sunda Wiwitan sangat toleran. Mereka sangat meyakini bahwa semua manusia pada dasarnya adalah sama & tak berdaya kepada kodrat kemanusiaannya.

Kami tak pernah membeda-bedakan agama, suku, ras, & lainnya. Karena Katolik di sini, Katolik yg Nyunda. Islam di sini, Islam yg nyunda, ungkapnya.

Namun sayangnya, masih ada orang yg menganggap penghayat orang yg berbeda. Karena itu, pihaknya tak akan pernah letih berjuang & mengerjakan advokasi. (gin)




Hari ini 04:40
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.