Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Bertahan dari Diskriminasi Agama, Balada Penghayat Budi Daya
Prosesikirab sesajenoleh 13 perempuan Wanoja Budi Daya dalam Pangeling-ngeling Pamendak Mei Kartawinata 96 Taun di Pasewakan Waruga Jati, Cicalung, Wangunharja, Lembang, Sabtu (16/9/2023). (Foto: Mohamad Akmal Albari/Suaka).
SUAKAONLINE.COM Kala itu, di dataran tinggi Bandung Barat, mentari mulai terbenam, cahaya langit mulai gelap. Keramaian mulai memenuhi sepanjang Jalan Cicalung, Wangunharja, Lembang. Baik warga yg berdagang hingga tamu acara memadati Bale Pasewakan Waruga Jati. Terlihat para perempuan mengenakan kebaya putih, merah, & biru bersiap untuk pentas pada penyelenggaraan Pangeling-ngeling Pamendak Mei Kartawinata ke-96 Taun.
Kegiatan Pangeling Pamendak merupakan ketekunan tahunan para penghayat kepercayaan Budi Daya untuk mengingat turunnya wangsit atau wahyu yg diterima Mei Kartawinata. Sesaat usai adzan Isya berkumandang. Jam di tangan menunjukkan pukul 19.10 WIB. Kegiatan selanjutkan akan dimulai denganTutunggulanoleh lima perempuan paruh baya berkebaya biru. Bernamakan Wanoja Budi Daya, kelima perempuan tersebut resmi membuka kegiatan pada Sabtu, (16/9/2023).
Selepas itu, 13 wanita berkebaya putih membawasesajen, satu memegang bendera merah putih, & di depan seorang lelaki di tanganya membawaparukuyan.Perlahan iring-iringan itu keluar dari Bale sebagai tanda dimulainya prosesikirab sesajen.Bau kemenyan menyebar di sekitar Pasewakan. Kecapi mulai dipetik. Gendang mulai dipukul & lantunanpupuholeh gadis muda berkacamata, Kiranti mulai dinyanyikan.
Salah seorang penghayat sekaligus panitia acara, Cakra Agranata sedikit menjelaskan proses upacara adat tersebut kepadaSuaka. Prosesikirabitu kami juga begitu mengagungkan hasil karyakersa(kuasa) Tuhan,sesajenitu bukan sebagai alat komunikasi dengan gaib, itu bentuk tulisan Tuhan, ada yg nyebuttisastra jendra hayuningrat, tulisan yg maha agung untuk keselamatan, tuturnya, Sabtu (16/9/2023).
Sesajenmulai ditaruh di hadapan foto Mei Kartawinata. Sesajen tersebut berisikan buah pisang, nanas, jeruk & pir. Tak lupa, sayur-sayuran ditempatkan melingkari tiang, dari bawang putih, tomat, kacang panjang, kol & terong.
13 wanita itu bersimpuh, dilanjutkan denganamitsunatau memohon izin kepada orangtua, leluhur,ibu agung(tanah kelahiran),rama agung(langit) & Tuhan Yang Maha Esa. Bagi penghayat, tata cara sepertikirabadalah bentuk terima kasih atas segala tulisan Tuhan melalui sumber daya alam.
Setelahamitsun,pembacaanrajahuntuk menghilangkan & melindungi dari hal buruk jadi akhir momen sakral para Penghayat Budi Daya. Kemudian, lagu kebangsaan Indonesia Raya mulai dilantunkan, disusul dengan pembacaan Pancasila & sambutan-sambutan. Hal ini tidak lepas dari paham kuat para Penghayat kepada Pancasila.
Memakai tema Pancasila Dasar Hidup Berbangsa & Bernegara, menurut Cakra, Mei Kartawinata sering erat dengan Pancasila Dasar Salira selama perjalanan kebatinan & spiritualitasnya. Apa yg Cakra katakan pernah ditelusuri oleh Ilim Abdul Halim dalam studinya Nilai-Nilai Aliran Kebatinan Perjalanan Dan Dasar Negara pada 2016. Ilim membahas perjuangan Mei Kartawinata & aliran kebatinan di tatar Sunda yg memperjuangkan nilai-nilai dasar hidup.
Karena Pancasila ini hasil perasan para pendiri bangsa yg paham betul dengan keanekaragaman negara ini, jadi kami harap mengingatkan kembali, bukan saja kami, tetapi warga & tamu yg datang, jelas Cakra.
Ratusan warga & tamu undangan mulai menikmati jajanan & hidangan. Kegiatan ini jadi ladang meningkatkan perekonomian warga & peran karang taruna menjaga lahan parkir. Jarum jam tangan menunjukkan pukul 21.00 WIB, 20 wanita dengan kebaya merah & biru mengerjakanrampak sekar, lagu Gentra Pancasila dinyanyikan. Tanpa alas kaki, mereka bergerak dari kanan ke kiri di depan para pengunjung.
Selanjutnya, enam senjata golok disimpan di depan keris yg ditancapkan ke meja. Terlihat golok tersebut diselimuti kain berwarna oranye. Dari Bale, dengan cepat enam perempuan muda memakai kostum berwarna hijau & emas dominan bersiap mengerjakan tarian Bedog Lubuk. Tari khas Karawang itu menyimbolkan ikut serta warga dalam penampilan kesenian.
9 Tahun Terpaksa Mengaku Islam
Di tengah acara yg dilanjutkan pergelaran wayang,Suakamewawancarai salah satu pemudi penghayat, Canisa di ruang perpustakaan Bale. Ia yg bertugas among tamu dengan berkebaya hitam, memberitahu kalau dirinya sebagai penghayat perlu banyak menutup diri tentang agama yg dianut.
Canisa bercerita, di bangku Sekolah Dasar (SD), ia mengaku beragama Islam kepada teman-temanya & mengikuti kegiatan ibadah salat di sekolah. Hal ini terus ia lalui hingga usai jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pernah sekali, ia memberanikan mengaku sebagai penganut kepercayaan, karena capek harus memenuhi yg bukan kewajibannya. Namun, tak ada yg percaya, ia yg bersemangat, kembali takut membuka diri.
Udah beres kelas, orang-orang mau salat zuhur, akutuhnyoba, akumahbukan Islam, gak akan solat. Aku bilang lah penganut kepercayaan. Emang itu agama apaceunah? Emang itu ada agama itu? mengatakan Canisa kepadaSuaka.
Memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), Canisa mengambil Paket C sembari kerja di tempat konveksi. Berangkat dari Putusan Mahkamah Konstitusi No. 97/PUU/XIV/2016 tentang kepercayaan masuk ke dalam agama, ia mulai melihat asa atas pemenuhan hak penganut kepercayaan.
Saat bergabung di organisasi Budi Daya, Canisa mulai membuka diri untuk mengungkapkan identitasnya ke masyarakat. Apa yg menciptakannya berkeyakinan kuat seperti itu, berasal dari ajaran Jembar atau mengikhlaskan apapun yg terjadi selagi memperjuangkan hak & kebenaran. Setiap sebulan atau dua pekan sekali, organisasi menyelenggarakan diskusilalampahan,wadah perbincangan ajaran darisesepuhdan antar anak muda.
Tantangan penghayat bukan saja takut membuka diri, tetapi label yg sering dikaitkan dengan penyembah hal-hal gaib. Para penghayat yg bersekolah, terkadang perlu dibantu oleh penyuluh berkonsultasi, namun tetap rentan diskriminasi.
Penyuluh datang ke sekolah, buat ngobrol. Kadang udah ada yg ngejelasin, tetapi guru itu kayak benci aja, ujar pemudi yg kini tengah kuliah di Sekolah Tinggi Desain Indonesia.
Labelisasi & Dikotomi
Putusan MK tidak sepenuhnya mengembalikan keadaan para penghayat. Kenyataan pahit dalam administrasi masih dibedakan, khususnya Kartu Tanda Penduduk (KTP). Kolom agama di KTP penghayat diganti dengan mengatakan kepercayaan. Hal ini dikeluhkan Cakra karena istilah agama sudah dipakai sejak dulu di tatar Sunda.
Leluhur kita itu sudah pakai istilah agama dari zaman kuno, Sunda kuno, bahasa kawi, dalam buku Siksa Kandang Karesian atau dari amanat Galunggung, itu ada nyebutin soal agama. Bahkan bukan cuma agama, ada sebutanHana-Gama,Parigama, itu leluhur kita sudah pakai itu. Jadi mengatakan agama itu asli Nusantara, jelas penghayat yg berusia 37 tahun itu.
Cakra mengakui pemerintah memfasilitasi penganut kepercayaan, menerima kebijakan itu adalah jalan berjuang tanpa harus memaksa pemerintah. Dengan tegas, ia berpandangan negara cuma mengakui golongan agama yg diakui saja, seperti; Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, & Konghucu.
Diskriminasi dariZamanKolonial
Pukul 00.00 WIB, para penghayat yg dipimpin ketua organisasi Budi Daya, Engkus Rusnawa melangsungkanhening panggalih.suasana hening & senyap seketika.Hening panggalihmenjadi momen penghayat untuk berdoa sebagai perwujudan rasa terima kasih pada Mei Kartawinata. Mereka menunduk & menutup mata, dibarengi pemanjatan doa masing-masing penghayat.
Selesaihening panggalih,Engkus bercerita kepadaSuakadengan sangat antusias, mulai dari sejarah hingga dinamika perjuangan Mei kartawinata. Engkus mulai menggeluti organisasi Budi Daya sejak tahun 1978, & pria yg berumur 68 tahun itu juga dipercayai sebagai Ketua Presidium I Majelis Luhur Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI).
Menyinggung tentang kepercayaan & agama, ia menyadari & merenungi, diskriminasi yg dialami penghayat itu akibat paham dominasi agama & label sejak kolonial. Para penghayat yg kental dengan ajaran leluhur sering dikaitkan dengan animisme-dinamisme. Dari zaman kolonial, nenek moyang Indonesia itu animis-dinamis dalam Antropologi, & diajarkan turun-temurun, lanjutnya, Minggu (17/9).
Engkus menganggap kebebasan beragama & berkeyakinan jadi hak dasar & penghayat juga semestinya mendapatkan hak untuk diakui agama dalam administrasi. Kegiatanpangeling-pangelingyang terbuka biasa bagi warga menunjukkan bahwa penghayat Budi Daya juga meluruskan kesalahpahaman masyarakat.
Ada yg jualan, parkir, hingga parkiran juga dipegang warga sini, bahkan kesenian juga ada dari warga. Kami itu penghayat bukan sosok yg menakutkan, yg dipikirkan orang itu ajaran sesat, pemuja setan, & segala macam gitu, tutup Cakra.
Reporter: Mohamad Akmal Albari/Suaka
Redaktur: Yopi Muharram/Suaka
Prosesikirab sesajenoleh 13 perempuan Wanoja Budi Daya dalam Pangeling-ngeling Pamendak Mei Kartawinata 96 Taun di Pasewakan Waruga Jati, Cicalung, Wangunharja, Lembang, Sabtu (16/9/2023). (Foto: Mohamad Akmal Albari/Suaka).
SUAKAONLINE.COM Kala itu, di dataran tinggi Bandung Barat, mentari mulai terbenam, cahaya langit mulai gelap. Keramaian mulai memenuhi sepanjang Jalan Cicalung, Wangunharja, Lembang. Baik warga yg berdagang hingga tamu acara memadati Bale Pasewakan Waruga Jati. Terlihat para perempuan mengenakan kebaya putih, merah, & biru bersiap untuk pentas pada penyelenggaraan Pangeling-ngeling Pamendak Mei Kartawinata ke-96 Taun.
Kegiatan Pangeling Pamendak merupakan ketekunan tahunan para penghayat kepercayaan Budi Daya untuk mengingat turunnya wangsit atau wahyu yg diterima Mei Kartawinata. Sesaat usai adzan Isya berkumandang. Jam di tangan menunjukkan pukul 19.10 WIB. Kegiatan selanjutkan akan dimulai denganTutunggulanoleh lima perempuan paruh baya berkebaya biru. Bernamakan Wanoja Budi Daya, kelima perempuan tersebut resmi membuka kegiatan pada Sabtu, (16/9/2023).
Selepas itu, 13 wanita berkebaya putih membawasesajen, satu memegang bendera merah putih, & di depan seorang lelaki di tanganya membawaparukuyan.Perlahan iring-iringan itu keluar dari Bale sebagai tanda dimulainya prosesikirab sesajen.Bau kemenyan menyebar di sekitar Pasewakan. Kecapi mulai dipetik. Gendang mulai dipukul & lantunanpupuholeh gadis muda berkacamata, Kiranti mulai dinyanyikan.
Salah seorang penghayat sekaligus panitia acara, Cakra Agranata sedikit menjelaskan proses upacara adat tersebut kepadaSuaka. Prosesikirabitu kami juga begitu mengagungkan hasil karyakersa(kuasa) Tuhan,sesajenitu bukan sebagai alat komunikasi dengan gaib, itu bentuk tulisan Tuhan, ada yg nyebuttisastra jendra hayuningrat, tulisan yg maha agung untuk keselamatan, tuturnya, Sabtu (16/9/2023).
Sesajenmulai ditaruh di hadapan foto Mei Kartawinata. Sesajen tersebut berisikan buah pisang, nanas, jeruk & pir. Tak lupa, sayur-sayuran ditempatkan melingkari tiang, dari bawang putih, tomat, kacang panjang, kol & terong.
13 wanita itu bersimpuh, dilanjutkan denganamitsunatau memohon izin kepada orangtua, leluhur,ibu agung(tanah kelahiran),rama agung(langit) & Tuhan Yang Maha Esa. Bagi penghayat, tata cara sepertikirabadalah bentuk terima kasih atas segala tulisan Tuhan melalui sumber daya alam.
Setelahamitsun,pembacaanrajahuntuk menghilangkan & melindungi dari hal buruk jadi akhir momen sakral para Penghayat Budi Daya. Kemudian, lagu kebangsaan Indonesia Raya mulai dilantunkan, disusul dengan pembacaan Pancasila & sambutan-sambutan. Hal ini tidak lepas dari paham kuat para Penghayat kepada Pancasila.
Memakai tema Pancasila Dasar Hidup Berbangsa & Bernegara, menurut Cakra, Mei Kartawinata sering erat dengan Pancasila Dasar Salira selama perjalanan kebatinan & spiritualitasnya. Apa yg Cakra katakan pernah ditelusuri oleh Ilim Abdul Halim dalam studinya Nilai-Nilai Aliran Kebatinan Perjalanan Dan Dasar Negara pada 2016. Ilim membahas perjuangan Mei Kartawinata & aliran kebatinan di tatar Sunda yg memperjuangkan nilai-nilai dasar hidup.
Karena Pancasila ini hasil perasan para pendiri bangsa yg paham betul dengan keanekaragaman negara ini, jadi kami harap mengingatkan kembali, bukan saja kami, tetapi warga & tamu yg datang, jelas Cakra.
Ratusan warga & tamu undangan mulai menikmati jajanan & hidangan. Kegiatan ini jadi ladang meningkatkan perekonomian warga & peran karang taruna menjaga lahan parkir. Jarum jam tangan menunjukkan pukul 21.00 WIB, 20 wanita dengan kebaya merah & biru mengerjakanrampak sekar, lagu Gentra Pancasila dinyanyikan. Tanpa alas kaki, mereka bergerak dari kanan ke kiri di depan para pengunjung.
Selanjutnya, enam senjata golok disimpan di depan keris yg ditancapkan ke meja. Terlihat golok tersebut diselimuti kain berwarna oranye. Dari Bale, dengan cepat enam perempuan muda memakai kostum berwarna hijau & emas dominan bersiap mengerjakan tarian Bedog Lubuk. Tari khas Karawang itu menyimbolkan ikut serta warga dalam penampilan kesenian.
9 Tahun Terpaksa Mengaku Islam
Di tengah acara yg dilanjutkan pergelaran wayang,Suakamewawancarai salah satu pemudi penghayat, Canisa di ruang perpustakaan Bale. Ia yg bertugas among tamu dengan berkebaya hitam, memberitahu kalau dirinya sebagai penghayat perlu banyak menutup diri tentang agama yg dianut.
Canisa bercerita, di bangku Sekolah Dasar (SD), ia mengaku beragama Islam kepada teman-temanya & mengikuti kegiatan ibadah salat di sekolah. Hal ini terus ia lalui hingga usai jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pernah sekali, ia memberanikan mengaku sebagai penganut kepercayaan, karena capek harus memenuhi yg bukan kewajibannya. Namun, tak ada yg percaya, ia yg bersemangat, kembali takut membuka diri.
Udah beres kelas, orang-orang mau salat zuhur, akutuhnyoba, akumahbukan Islam, gak akan solat. Aku bilang lah penganut kepercayaan. Emang itu agama apaceunah? Emang itu ada agama itu? mengatakan Canisa kepadaSuaka.
Memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), Canisa mengambil Paket C sembari kerja di tempat konveksi. Berangkat dari Putusan Mahkamah Konstitusi No. 97/PUU/XIV/2016 tentang kepercayaan masuk ke dalam agama, ia mulai melihat asa atas pemenuhan hak penganut kepercayaan.
Saat bergabung di organisasi Budi Daya, Canisa mulai membuka diri untuk mengungkapkan identitasnya ke masyarakat. Apa yg menciptakannya berkeyakinan kuat seperti itu, berasal dari ajaran Jembar atau mengikhlaskan apapun yg terjadi selagi memperjuangkan hak & kebenaran. Setiap sebulan atau dua pekan sekali, organisasi menyelenggarakan diskusilalampahan,wadah perbincangan ajaran darisesepuhdan antar anak muda.
Tantangan penghayat bukan saja takut membuka diri, tetapi label yg sering dikaitkan dengan penyembah hal-hal gaib. Para penghayat yg bersekolah, terkadang perlu dibantu oleh penyuluh berkonsultasi, namun tetap rentan diskriminasi.
Penyuluh datang ke sekolah, buat ngobrol. Kadang udah ada yg ngejelasin, tetapi guru itu kayak benci aja, ujar pemudi yg kini tengah kuliah di Sekolah Tinggi Desain Indonesia.
Labelisasi & Dikotomi
Putusan MK tidak sepenuhnya mengembalikan keadaan para penghayat. Kenyataan pahit dalam administrasi masih dibedakan, khususnya Kartu Tanda Penduduk (KTP). Kolom agama di KTP penghayat diganti dengan mengatakan kepercayaan. Hal ini dikeluhkan Cakra karena istilah agama sudah dipakai sejak dulu di tatar Sunda.
Leluhur kita itu sudah pakai istilah agama dari zaman kuno, Sunda kuno, bahasa kawi, dalam buku Siksa Kandang Karesian atau dari amanat Galunggung, itu ada nyebutin soal agama. Bahkan bukan cuma agama, ada sebutanHana-Gama,Parigama, itu leluhur kita sudah pakai itu. Jadi mengatakan agama itu asli Nusantara, jelas penghayat yg berusia 37 tahun itu.
Cakra mengakui pemerintah memfasilitasi penganut kepercayaan, menerima kebijakan itu adalah jalan berjuang tanpa harus memaksa pemerintah. Dengan tegas, ia berpandangan negara cuma mengakui golongan agama yg diakui saja, seperti; Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, & Konghucu.
Diskriminasi dariZamanKolonial
Pukul 00.00 WIB, para penghayat yg dipimpin ketua organisasi Budi Daya, Engkus Rusnawa melangsungkanhening panggalih.suasana hening & senyap seketika.Hening panggalihmenjadi momen penghayat untuk berdoa sebagai perwujudan rasa terima kasih pada Mei Kartawinata. Mereka menunduk & menutup mata, dibarengi pemanjatan doa masing-masing penghayat.
Selesaihening panggalih,Engkus bercerita kepadaSuakadengan sangat antusias, mulai dari sejarah hingga dinamika perjuangan Mei kartawinata. Engkus mulai menggeluti organisasi Budi Daya sejak tahun 1978, & pria yg berumur 68 tahun itu juga dipercayai sebagai Ketua Presidium I Majelis Luhur Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI).
Menyinggung tentang kepercayaan & agama, ia menyadari & merenungi, diskriminasi yg dialami penghayat itu akibat paham dominasi agama & label sejak kolonial. Para penghayat yg kental dengan ajaran leluhur sering dikaitkan dengan animisme-dinamisme. Dari zaman kolonial, nenek moyang Indonesia itu animis-dinamis dalam Antropologi, & diajarkan turun-temurun, lanjutnya, Minggu (17/9).
Engkus menganggap kebebasan beragama & berkeyakinan jadi hak dasar & penghayat juga semestinya mendapatkan hak untuk diakui agama dalam administrasi. Kegiatanpangeling-pangelingyang terbuka biasa bagi warga menunjukkan bahwa penghayat Budi Daya juga meluruskan kesalahpahaman masyarakat.
Ada yg jualan, parkir, hingga parkiran juga dipegang warga sini, bahkan kesenian juga ada dari warga. Kami itu penghayat bukan sosok yg menakutkan, yg dipikirkan orang itu ajaran sesat, pemuja setan, & segala macam gitu, tutup Cakra.
Reporter: Mohamad Akmal Albari/Suaka
Redaktur: Yopi Muharram/Suaka