talam
IndoForum Senior E
- No. Urut
- 48451
- Sejak
- 16 Jul 2008
- Pesan
- 3.672
- Nilai reaksi
- 25
- Poin
- 48
Sering orang mengatakan, berpikirlah untuk orang lain, (dalam arti kata, banyaklah berempati, atau ikut memahami perasaan orang lain, atau me-ngutamakan kepentingan orang lain terlebih dahulu).
Sebenarnya perkataan ini mudah diucapkan tapi tidak untuk melaksanakannya. Khususnya di dalam lingkungan masyarakat sekarang ini, banyak sekali konsep buruk yang meracuni cara berpikir manusia. Sehingga memikirkan orang lain menjadi sangat tidak mudah! Mari kita lihat dua kisah cerita di bawah ini.
Cerita Seorang Dokter Muda
Ada seorang dokter yang masih muda, ia membuka praktek sendiri. Ia sangat baik tapi kurang mahir dalam mengobati orang sakit. Oleh karena itu pasien yang datang untuk berobat kepadanya tidaklah begitu banyak.
Sang dokter juga sangat mementingkan nama baik dan reputasi dirinya. Demi reputasinya agar semua orang mau berobat padanya, ia sering menggunakan obat-obatan yang mahal dengan mengenakan bayaran yang murah kepada fakir miskin yang berobat padanya, sehingga dengan demikian ia pun mendapat nama baik.
Suatu hari, si dokter sedang gelisah, sudah menganggur seharian karena tak banyak pasien yang datang. Lalu datanglah seorang ibu membawa anaknya untuk berobat, anak itu kelihatannya sangat kurus dan lemah, tak bersemangat. Kedatangan pasien ini membuat si dokter sangat gembira, setelah memeriksa anak kecil itu, ia pun berkata pada si ibu, ”Tubuh anak ibu ini sangat lemah, saya masih memiliki ginseng gunung yang sangat bagus jika dicampur dengan obat – obatan lain untuk merawat tubuhnya, anak ibu pasti akan segera sembuh!”
Sang ibu berkata, ”Kami adalah orang miskin, tidak mampu membeli obat-obatan yang demikian mahal!”
Dokter itu berkata, ”Saya hanya akan menerima setengah harga saja dari ibu, asalkan anak ibu bisa segera sembuh itu sudah cukup bagi saya.” Lalu dokter pun memberikan anak itu obat untuk dosis pemakaian selama setengah bulan. Ibu dan anak itu pun pulang ke rumah dengan riang gembira.
Sebenarnya anak itu hanya menderita ketidakselarasan limpa dan maag akibat panas dalam yang berkepanjangan, yang telah mempengaruhi selera makannya menjadi menurun sehingga menyebabkan tubuhnya tampak lemah. Yang dibutuhkannya hanya obat untuk membersihkan panas dalam, lalu menggunakan dua atau tiga resep untuk kembali membangkitkan selera makannya, itu sudah cukup.
Tapi dokter ini telah menggunakan obat yang berlebihan... Terbukti benar, setelah minum obat dari sang dokter, anak itu bukan saja tidak sembuh dari penyakitnya tetapi justru semakin tidak bisa makan dan minum, hidungnya terus mengeluarkan darah. Ibunya terpaksa membawanya ke dokter lain untuk didiagnosa kembali, dan akhirnya anak itu baru dapat disembuhkan.
Kisah Seorang Profesor
Ada seorang profesor di sebuah perguruan tinggi yang tenama, karena sibuk meniti karir sang profesor baru mendapatkan seorang anak di usianya yang ke-40. Anak sang profesor sangat lucu dan juga cerdas, dalam hati sang profesor berpikir bahwa kelak ia akan membina anaknya menjadi seorang ilmuwan yang lebih unggul dari pada dirinya. Sejak anaknya berusia 5 tahun ia pun mulai memberikan sang anak berbagai macam pe-lajaran, terutama pelajaran-pelajaran di perguruan tinggi seperti matematika, kimia, dan fisika.
Mula-mula anak itu terlihat sangat berminat, seperti mendengarkan suatu cerita. Tapi jika diminta untuk belajar sungguh-sungguh, anak itu tidak pernah mau, lama kelamaan sang anak pun tak senang lagi mendengar ajaran profesor.
Tapi sang profesor tidak mau menyerah begitu saja, demikianlah anak itu berangsur-angsur tumbuh menjadi anak remaja, yang semakin lama semakin jengkel mendengarkan ajaran ayahnya itu. Mulanya ia hanya menangis kemudian ia pun mulai membolos. Profesor itu menjadi murka, di dalam hatinya ia berpikir bahwa semua yang diajarkannya itu adalah ilmu murni! Orang lain bahkan tidak mungkin mendapatkannya! Ia pun mulai memukuli sang anak untuk memaksanya belajar.
Bertahun-tahun kemudian, anak itu pun tumbuh dewasa, tapi rapor sekolahnya sangat jelek, anak itu benci sekali belajar, hampir setiap kali melihat buku ia akan merasa sakit kepala. Sang profesor masih saja tidak mau menyerah, setiap malam ia terus memberikan pelajaran pada anaknya, bercerita tentang kemajuan teknologi terbaru. Hingga akhirnya pada suatu hari, anaknya pergi ke sekolah dan tidak pernah pulang ke rumahnya lagi, ia meninggalkan rumah itu dan pergi jauh...
Seorang dokter yang tahunya hanya menggunakan obat yang baik tapi tidak memahami bahwa memberi obat pun harus sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. Tidak peduli apakah obat yang digunakan itu murah atau pun mahal, hanya dengan penggunaan obat yang sesuai, suatu penyakit baru dapat disembuhkan. Si dokter tidak mengerti akan prinsip penerapan obat yang tepat.
Meskipun dokter ini telah mengenakan biaya murah saat ia mengobati penyakit pasiennya, tapi hanya untuk melindungi sifatnya yang suka menjadi pahlawan bagi orang lain, ia sama sekali tidak lagi mempedulikan keadaan penyakit yang diderita pasiennya. Ia mengira bahwa ia sudah menaruh perhatian dan memikirkan pasiennya, padahal sebenarnya? Sama sekali tidak. Ia sama sekali tidak memikirkan keadaan pasiennya, yang ada dalam pikirannya hanyalah memuaskan sifatnya yang suka menjadi pahlawan.
Profesor tersebut telah keliru memberikan sesuatu yang menurutnya terbaik bagi anaknya secara paksa, tanpa mempertimbangkan kemampuan menerima anaknya. Dengan demikian, ia tidak hanya gagal dalam hal mengajarkan ilmunya kepada sang anak, tetapi juga telah mencelakan diri anaknya karena sang anak sama sekali tidak bisa menerimanya!
Namun sang profesor dari awal hingga akhir masih saja beranggapan bahwa yang ia berikan adalah yang terbaik, mengapa sang anak justru tidak mau? Ia sudah terbelenggu akan pikirannya sendiri, tak terpikir olehnya bahwa ia juga mengawalinya dari SD, lalu SMP, SMA, lalu perguruan tinggi... dan seterusnya, demikian, mempelajari ilmunya setahap demi setahap!
Ia terlalu terikat akan perencanaan terhadap anaknya itu. Ia bisa menjadi seorang profesor yang baik, tapi belum tentu demikian dengan anaknya, menjadi musisi atau penulis, bukankah itu juga sangat baik? Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing, memaksakan maksud dan kehendak sendiri pada orang lain, apakah ini berarti kita sudah berpikir demi orang lain?
Seperti bunyi peribahasa, hati yang baik belum tentu dapat mengerjakan hal yang baik. Memang benar, dengan suatu kesungguhan hati memikirkan orang lain seharusnya seseorang dapat memberikan sesuatu yang dibutuhkan orang tersebut, memberikan sesuatu yang bisa diterimanya, dan bukan berdasarkan pemikiran dan kepentingan diri kita sendiri.
Namun demikian kebaikan seperti ini merupakan kebaikan yang telah berubah wujud, karena menunjukkan suatu kebaikan yang justru menciptakan rintangan, hal inilah yang paling dapat menipu diri sendiri dan menipu orang lain.
Kebaikan mereka (dokter dan profesor) itu semu, tidak mencerminkan empati pada orang lain, walaupun yang ditunjukkan di situ adalah kebaikan terhadap Anda, di dalam hati mereka sesungguhnya masih terikat akan, “Anda harus melakukan hal ini menurut rencana dan pendapat saya.” Apa ini dapat dikatakan benar-benar berpikir demi orang lain? Sebenarnya mereka hanya memikirkan keterikatan mereka sendiri.
Lalu bagaimana yang dikatakan benar-benar berpikir demi orang lain?
“Saya sering mengatakan suatu ungkapan : jika seseorang tidak memiliki pikiran ego apa pun akan dirinya, tidak berpijak pada sisi kepentingan pribadinya sebagai tolok ukur, dan sepenuh hati senantiasa berbuat demi kebaikan orang lain, maka pada saat ia memberitahukan kekurangan atau kesalahan orang lain, maka orang tersebut pasti akan terharu mendengar penuturannya. Kekuatan dari Shan (kebajikan) ini sangat besar, hanya saja pada umumnya seseorang pada saat memberitahukan sesuatu yang baik pada orang lain acap kali justru membawa serta konsep kepentingan pribadinya. Bahkan ada pula yang takut akan kehilangan, sehingga terbawa serta pula perasaan hati yang berniat untuk melindungi kepentingan diri sendiri. Ada banyak faktor yang tercampur di dalamnya, maka perkataan yang terucap, kedengarannya tidak akan lugu, tidak murni lagi, dan acap kali disertai emosi. ”Jika benar-benar timbul kebaikan dari dalam sanubari Anda, dan tidak ada sedikit pun konsep manusia (=kepentingan pribadi) tercampur di dalamnya, perkataan yang Anda ucapkan benar-benar akan dapat membuat orang lain terharu.” --- Master Li Hongzhi, pendiri Falun Gong.
Saya berpendapat, benar-benar berpikir untuk orang lain, bukan hanya harus dapat menyingkirkan ego dan kepentingan pribadi, melainkan juga harus menggunakan hati yang murni suci berempati demi orang lain, itulah yang disebut berpikir untuk orang lain yang sesungguhnya. Marilah kita melihat ke dalam diri kita sendiri, apakah kita sudah benar – benar melakukan berempati atau berpikir demi orang lain?