Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Kalau bukan karena Mas Fatio, selakubaby sitterdi grup WhatsApp Cangkeman, saya tidak tahu adanya konflik yg terjadi antara Mbak Iin Farliani dengan Sajak Kofe. Jujur, saya bukanlah penggiat sastra, seniman, atau sekadar memiliki ketertarikan akbar pada bidang tersebut sehingga sayapun tidak tau nama-nama pihak yg sedang bekonflik. Namun, dengan mengetahui adanya konflik, seseorang dapat mendapatkan sebuah pelajaran yg dipakai supaya jadi pribadi yg lebih baik lagi di masa mendatang.
Sebelumnya, saya harap menyampaikan kalau tulisan ini ditulis sebagai proses pembelajaran dari seorang yg mengamati konflik tanpa bermaksud memperkeruh suasana.
Jadi konflik ini bermula ketika Mbak Iin Farliani bertanya, "Kalok mau kirim puisi ke Sajak Kofe, minimal berapa puisi, Min?" Disediakan honor kah bagi yg terbit?"
Sebuah pertanyaanto the point;langsung pada inti permasalahan yg merupakan gaya komunikasi generasi kini. Saya tidak tahu apakah Mbak Iin Farliani sudah mengerjakan komunikasi dengan pihak Sajak Kofe sebelum menanykan hal di atas. Jika belum, gaya komunikasi yg dilakukan Mbak Iin Farliani dapat menimbulkan masalah, khususnya kepada orang yg lebih tua. Dalam perspektif saya, orang yg lebih tua bukan cuma dilihat dari usia biologis. Tetapi juga dapat disematkan kepada orang yg lebih berpengalaman atau orang yg merasa berpengalaman. Bentuk komunikasi tersebut dapat dinilai tidak sopan untuk orang-orang tersebut.
Saya tidak tau secara pasti apa yg menyebabkan orang-orang tua & berpengalaman -serta merasa berpengalaman- berpikir kalau gaya bahasa yangto the pointseperti yg Mbak Iin Farliani lakukan itu tidak sopan. Barangkali, kalau melihat dari sudut pandang usia, beda zaman dapat jadi patokan. Beda zaman, beda pula gaya komunikasi. Barangkali norma kesopanan juga berbeda, khususnya dalam berkomunikasi. Tenty saja ada faktor lain yg dapat dijadikan alasan, misalkan pengalaman yg didapatkan dalam menjalani hidup. Barangkali pihak Sajak Kofe yg membalaschatMbak Iin Farliani pernah ditegur karena berkomunikasi dengan cara yg sama dengan Mbak Iin Farliani, sehingga mempengaruhi dirinya dalam berkomunikasi.
Meski dalam pandangan saya, gaya komunikasi yg dilakukan Mbak Iin Farliani itu biasa saja, tidak ada unsur ketidaksopanan atau indikasi hilangnya etika. Namun tidak semua orang memiliki gaya komunikasi seperti itu.
Untuk gaya komunikasi, saya punya saran untuk generasi masa kini untuk cobalah sebelum memulai pembicaraan, gaya komunikasinya disesuaikan dulu dengan lawan bicara, apalagi kalau komunikasi dalam bentuk teks, karena lawan bicara sangat mungkin tidak mengetahui intonasi yg kita pakai.
Bisa juga mengpakai template standar ketika berkomunikasi; dimulai dengan salam. Bisa mengpakai salam yg biasa dipakai lawan bicara. Selanjutnya memperkenalkan diri. Bisa juga ditambahkan informasi nama panggilan yg biasa dipakai, lalu hinggakan tujuan. Terakhir, salam penutup. Ribet? Iya memang ribet. Tetapi memang orang-orang yg lebih tua dari kita , yg lebih berpengalaman, atau yg sekadar merasa, cenderung berharap komunikasi dengan cara yg demikian; formal & kaku.
Namun, bukan berarti saya cuma melihat kesalahan yg dilakukan Mbak Iin Farliani saja. Pihak Sajak Kofe pun juga salah. Jika memang merasa pertanyaan yg diajukan Mbak Iin Farliani tidak sopan, tidak profesional, atau apapun yg intinya dianggap kurang berkenan, yah tidak perlu juga berlebihan dalam meresponnya. Bukannya malah merespon dengan kalimat seperti ini,"Kalok anda mau kirim berapa puisi? Bersedia membayar berapa untuk diterbitkan di Sajak Kofe?"
Untuk pertanyaan pertama, saya katakan netral. Tetapi, pertanyaan kedua, dapat menimbulkan kesan merendahkan lawan bicara. Saya tidak tahu secara pasti apa maksud dari pertanyaan; bersedia membayar berapa untuk diterbitkan di Sajak Kofe? Menurut saya, pertanyaan ini sudah tidak fokus. Karena Mbak Iin Farliani sudah bertanya soal honor. Kalau tidak mendapatkan honor yah katakan, Pun begitu kalau mendapatkan.
Selain mendapatkan pelajaran bagaimana berkomunikasi & mengatur emosi yg baik, saya mendapatkan dua pelajaran lain yg menurut saya cukup penting. Pertama, lepaskan konsep 'paling' ketika berhubungan sosial atau sekadar berkomunikasi dengan orang lain. Entah merasa paling hebat, paling pintar, paling kuat, & berbagai contoh lainnya. Konsep paling inilah yg seringkali menciptakan dunia kacau. Karena, kalau ada yg paling, berarti ada yg kurang atau tidak sama sekali. Kemudian yg kedua, ketika berhubungan dengan orang lain, tanamkan hubungan yg berlandaskan pada saling menghormati, saling jujur, saling berbaik sangka, saling peduli. Bukannya saling tuduh, saling berprasangka buruk, amarah, bahkan kekerasan fisik atau psikis.
Sebagai penutup, saya berharap supaya pihak manapun maupun yg mendukung pihak-pihak yg berkonflik, sanggup menuntaskan konflik yg terjadi dengan baik. Sehingga semua yg terlibat dapat kembali damai lahir & batin.
Tulisan ini ditulis oleh Angga Prasetyo diCangkemanpada tanggal 26 Desember 2021
Kemarin 22:41