Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Berkaca Dari Malaysia : Anwar Ibrahim Perdana Menteri Yang Menolak Digaji
Negara jiran Malaysia baru saja menyelesaikan Pilihan Raya Umum (Pemilu) pada 19 November 2022 kemarin. Koalisi Pakatan Harapan (PH) yg dipimpin oleh Dato' Seri Anwar Ibrahim berhasil memenangi suara mayoritas dengan mengumpulkan 83 kursi. Setelah mengerjakan loby-loby politik & memutuskan berkoalisi dengan Barisan Nasional & beberapa partai kecil lain, akhirnya mayoritas kursi parlemen dikuasai & Anwar dilantik jadi Perdana Menteri Malaysia yg ke 10. Upacara pelantikan Anwar Ibrahim oleh Sultan Yang Dipertuan Agong Malaysia, Al Sultan Abdullah berlangsung pada Kamis 24 November 2022. Anwar secara otomatis diberi sematan gelar Yang amat Berhormat Perdana Menteri.
Dalam janjinya sebelum pelantikan, Anwar Ibrahim menyatakan tidak akan menerima sepeserpun dari gajinya selama menjabat sebagai Perdana Menteri. Bahkan dia dengan tegas menyatakan juga akan memangkas gaji para Menteri yg akan bersama dalam kabinet yg dipimpinnya.
Hal tersebut dilakukan mengingat kondisi perekonomian dalam negeri Malaysia yg memprihatinkan. Kondisi harga-harga bahan pokok yg kian melambung tinggi menimbulkan keprihatinan yg mendalam bagi pimpinan Partai Keadilan Rakyat tersebut. Masyarakat di sana juga dihadapkan pada minimnya lapangan kerja pasca bencana wabah Covid 19 dua tahun terakhir.
Dari peristiwa ini, dapat diambil pelajaran yg sangat mulia. Betapapun gaji adalah hak bagi pejabat negara, namun Perdana Menteri baru Malaysia itu merasa dia tidak pantas menerimanya. Dia tidak merasa bahagia hidup bergelimang harta sedangkan rakyatnya kelaparan & kesulitan mendapatkan lapangan pekerjaan.
Sebagai negara jiran & serumpun, Indonesia sudah sepatutnya mengambil teladan yg baik ini. Para Pejabat di negara ini semestinya memiliki rasa empati di tengah merosotnya nilai pendapatan masyarakat. Belum lagi gelombang PHK yg marak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan beberapa waktu terakhir menambah daftar panjang persoalan pengangguran & kemiskinan di negara kita.
Kedepan, sudah sepatutnya para pemimpin di negara ini serius memikirkan rakyatnya. Bukan malah berselancar ria di tengah gelombang keruntuhan ekonomi yg kian lekat di tengah-tengah masyarakat. Belum lagi, tahun 2023 adalah tahun yg sangat krusial bagi perekonomian dunia di tengah ancaman resesi global yg bakal menghadang.
Jadi bagaimana agan & sista, mantap kan Perdana Menteri negeri jiran kita? Bagaimana di Indonesia?, anda tahulah jawabannya.
Sumber :
Ulasan pribadi diolah dari berbagai referensi
Hari ini 00:12
Negara jiran Malaysia baru saja menyelesaikan Pilihan Raya Umum (Pemilu) pada 19 November 2022 kemarin. Koalisi Pakatan Harapan (PH) yg dipimpin oleh Dato' Seri Anwar Ibrahim berhasil memenangi suara mayoritas dengan mengumpulkan 83 kursi. Setelah mengerjakan loby-loby politik & memutuskan berkoalisi dengan Barisan Nasional & beberapa partai kecil lain, akhirnya mayoritas kursi parlemen dikuasai & Anwar dilantik jadi Perdana Menteri Malaysia yg ke 10. Upacara pelantikan Anwar Ibrahim oleh Sultan Yang Dipertuan Agong Malaysia, Al Sultan Abdullah berlangsung pada Kamis 24 November 2022. Anwar secara otomatis diberi sematan gelar Yang amat Berhormat Perdana Menteri.
Dalam janjinya sebelum pelantikan, Anwar Ibrahim menyatakan tidak akan menerima sepeserpun dari gajinya selama menjabat sebagai Perdana Menteri. Bahkan dia dengan tegas menyatakan juga akan memangkas gaji para Menteri yg akan bersama dalam kabinet yg dipimpinnya.
Hal tersebut dilakukan mengingat kondisi perekonomian dalam negeri Malaysia yg memprihatinkan. Kondisi harga-harga bahan pokok yg kian melambung tinggi menimbulkan keprihatinan yg mendalam bagi pimpinan Partai Keadilan Rakyat tersebut. Masyarakat di sana juga dihadapkan pada minimnya lapangan kerja pasca bencana wabah Covid 19 dua tahun terakhir.
Dari peristiwa ini, dapat diambil pelajaran yg sangat mulia. Betapapun gaji adalah hak bagi pejabat negara, namun Perdana Menteri baru Malaysia itu merasa dia tidak pantas menerimanya. Dia tidak merasa bahagia hidup bergelimang harta sedangkan rakyatnya kelaparan & kesulitan mendapatkan lapangan pekerjaan.
Sebagai negara jiran & serumpun, Indonesia sudah sepatutnya mengambil teladan yg baik ini. Para Pejabat di negara ini semestinya memiliki rasa empati di tengah merosotnya nilai pendapatan masyarakat. Belum lagi gelombang PHK yg marak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan beberapa waktu terakhir menambah daftar panjang persoalan pengangguran & kemiskinan di negara kita.
Kedepan, sudah sepatutnya para pemimpin di negara ini serius memikirkan rakyatnya. Bukan malah berselancar ria di tengah gelombang keruntuhan ekonomi yg kian lekat di tengah-tengah masyarakat. Belum lagi, tahun 2023 adalah tahun yg sangat krusial bagi perekonomian dunia di tengah ancaman resesi global yg bakal menghadang.
Jadi bagaimana agan & sista, mantap kan Perdana Menteri negeri jiran kita? Bagaimana di Indonesia?, anda tahulah jawabannya.
Sumber :
Ulasan pribadi diolah dari berbagai referensi
Hari ini 00:12