Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Beritajempolan.com-Berdoa & berikhtiar adalah bagaikan dua sisi mata uang. Keduanya memang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Berdoa harus disertai ikhtiar & sebaliknya ikhtiar harus pula disertai doa. Dalam kaitan ini Ibnu Atha'illah al-Iskandari mengingatkan bahwa setiap asa menuntut adanya usaha konkret dari manusia sebagai berikut:
Artinya,"Harapan mesti disertai amal. Jika tidak, ia hanyalah angan-angan" (lihat Taqrib al-Turats al-Hikam al-Athaiyyah, Syarh ibn Abbad al-Nafaziy al-Rundiy, Markaz al-Ahram li al-Tarjamah wa al-Nasyr, Kairo, 1988, Cet. I, hal. 205). Harapan yg disandarkan kepada Allah disebut doa.
Doa yg tidak diikuti dengan ikhtiar hanyalah angan-angan yg dapat jadi karena itu Allah sulit mengabulkannya sebab dalam kaitan ini Allah subhanahu wa taala berfirman:
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yg ada pada diri mereka sendiri (QSAr-Rad, 11).
Jadi apa yg dihinggakan Ibnu Athaillah di atas sejalan dengan firman Allah di dalam Al-Quran bahwa setiap asa yg dimaksudkan untuk mencapai sesuatu, misalnya dari tidak memiliki jadi memiliki. Atau singkatnya, menghendaki adanya perubahan dari suatu keadaan ke keadaan yg lain, maka harus ada ikhtiar dari seseorang untuk mengerjakan perubahan itu. Jika tidak, maka asa itu hanyalah sebuah angan-angan kosong. Dalam konteks virus Corona, setiap orang yg berharap & berdoa supaya diselamatkan dari ancaman wabah ini, ia harus berikhtiar dengan mematuhi protokol kesehatan sebagaimana petunjuk yg sudah diberikan oleh para pakar di bidang kesehatan, yakni dengan mempraktikkan gaya hidup bersih, sosial distancing, mengenakan masker, & sebagainya.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang berdoa kepada Allah memohon suatu proteksi supaya sesuatu yg negatif atau buruk tidak menimpa dirinya. Atau ia menghendaki supaya ia dijauhkan dari suatu keadaan untuk mencapai keadaan sebaliknya yg baik & bermanfaat. Doa itu misalnya adalah doa sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai berikut:
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada Engkau dari bingung & sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah & malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut & kikir. Dan saya berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang & kesewenang-wenangan manusia." (HR. Abu Dawud). Sebagaimana disebutkan di atas bahwa setiap doa harus diikuti dengan ikhtiar, maka dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, barang siapa berdoa supaya dijauhkan dari perasaan bingung, maka ia harus berikhtiar menjauhkan diri dari hal-hal yg dapat menimbulkan kebingungan. Misalnya, ia harus menghindari berbuat banyak kesalahan yg dapat menciptakannya digugat banyak orang atas kesalahan-kesalahan itu. Singkatnya ia harus berhati-hati baik dalam ucapan maupun tindak- tanduk kepada orang lain.
Kedua, barang siapa berdoa supaya dijauhkan dari perasaan sedih, maka ia harus berikhtiar memiliki hati yg kuat yg tidak mudah dihinggapi rasa sedih. Ia harus belajar jadi orang yg sabar & tabah menerima ujian dari manapun asalnya. Untuk maksud ini ia harus belajar berpikir positif bahwa apa yg dikehendaki Allah terjadi pada dirinya memiliki hikmah tertentu untuk kebaikan dirinya. Kebaikan itu dapat jadi baru akan terwujud di masa depan yg belum dapat dilihat di saat sekarang.
Ketiga, barang siapa berdoa supaya dijauhkan dari perasaan lemah, maka ia harus berikhtiar jadi orang kuat baik secara fisik maupun mental. Ia harus belajar bagaimana jadi orang kuat. Jika ia mengharapkan jadi orang kuat secara fisik, maka ia harus dapat menjaga kesehatan jasmaniahnya dengan olah raga secara teratur & mengonsumsi makanan yg baik & bergizi.
Jika ia juga mengharapkan jadi orang yg kuat secara mental, maka ia harus belajar bagaimana memiliki kekuatan mental yg baik, misalnya, dengan memperlajari biografi para tokoh atau pemimpin akbar dunia seperti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, para sahabat Nabi, tokoh-tokoh dunia & nasional, & sebagainya.
Keempat, barang siapa berdoa supaya dijauhkan dari perasaan malas, maka ia harus membentuk dirinya jadi orang yg suka berkegiatan positif. Setiap kemalasan harus dilawan dengan hal yg sebaliknya. Jika ia malas bekerja, ia harus sadar bahwa kemalasan dapat menciptakannya jatuh pada jurang kemiskinan. Untuk itu ia harus giat bekerja. Jika ia malas beribadah, maka ia harus berusaha melawannya dengan mengerjakan ibadah-ibadah wajib yg memang tidak boleh ditinggalkan. Jika ibadah yg wajib sudah dapat dilaksanakan dengan baik, ia dapat meningkatkan dengan ibadah-ibadah yg sunnah.
Kelima, barang siapa berdoa supaya dijauhkan dari sifat pengecut, maka ia harus berikhtiar jadi orang yg dapat dipercaya & bertanggung jawab dengan apa yg jadi tugas & tanggung jawabnya. Ia tidak boleh mencoba lari dari tanggung jawab dengan alasan apapun sebab setiap perbuatan buruk pasti akan mendapat balasan yg setimpal dari Allah subhanahu wa taala.
Keenam, barang siapa berdoa supaya dijauhkan dari sifat kikir, ia harus berikhtiar jadi orang yg suka berderma dengan apa yg sudah ada di tangan. Ia tak perlu menunggu kaya dahulu baru kemudian berpikir bagaimana jadi seorang dermawan. Seorang dermawan pasti kaya amal meski ia bukan seorang hartawan. Sebaliknya seorang hartawan tidak otomatis jadi seorang dermawan kalau ia memiliki sifat kikir. Jadi setiap orang yg tidak harap jadi orang kikir, ia harus melawan kekikirannya dengan hal sebaliknya.
Ketujuh, barang siapa berdoa supaya dijauhkan dari lilitan utang, maka ia harus berikhtiar untuk tidak berutang pada orang lain kecuali dalam keadaan sudah sangat terpaksa. Dalam keadaan seperti ini agama membolehkan seseorang berutang pada orang lain. Agar tidak terlilit utang maka seseorang harus menahan diri dari berutang lagi sebelum utang yg sudah ada terbayar terlebih dahulu. Intinya untuk tidak terlilit dengan utang, seseorang harus berhati-hati untuk tidak mudah membiasakan diri berutang kepada orang lain.
Kedelapan, barang siapa berdoa supaya dijauhkan dari kesewenang-wenangan manusia, maka ia harus berhati-hati baik dalam sikap maupun tindak-tanduk kepada orang lain. Jika sikap berhati-hati sudah ditempuh dengan baik, tetapi masih saja ada orang lain yg bersikap sewenang-wenang, maka ia harus melawannya sesuai dengan kemampuan yg dimilikinya. Jika ia tak sanggup melawannya secara langsung ia dapat mengadukannya kepada pihak yg berwenang. Intinya seseorang tidak boleh menyerah begitu saja atas kesewenang-wenangan orang lain sebab pada dasarnya setiap orang wajib mengerjakan nahi munkar (mencegah perbuatan buruk).
Kedelapan hal sebagaimana terkandung dalam doa di atas cuma jadi sebuah angan-angan yg sulit diwujudkan kalau tanpa disertai dengan ikhtiar nyata untuk mengerjakan hal-hal yg sebaliknya. Prinsip ini sesuai dengan nasihat Ibnu Athaillah sebagaimana tertulis dalam kitab beliau yg sangat terkenal, yakni Al-Hikam, & juga sejalan dengan firman Allah subhanahu wa taala dalam surat Ar-Rad. Singkatnya, ikhtiar adalah konsekuensi logis & teologis dari sebuah doa.( Penulis:Muhammad Ishom)
Hari ini 11:31