Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Coba angkat tangan, siapa disini yg sering banget dengar kalimat-kalimat semacam Sabun xxx membunuh 99% kuman, 9 dari 10 Ibu yakin dengan xxx atau Kecap xxx nomor 1 di Indonesia. Kita pasti sering mendengar kalimat-kalimat semacam itu dari iklan di televisi maupun di internet & seberapa banyak dari kalian yg percaya dengan apa yg mereka bilang?
Namanya juga iklan, pastilah semua iklan akan menonjolkan keunggulan-keunggulan produknya & sedapat mungkin menutupi kejelekan produk tersebut. Apapun akan dilakukan untuk menciptakan produk terlihat lebih baik meski harus berbohong sekalipun. Agan Sista disini pasti udah sering kan jadi korban iklan?
Kalau cuma menutup-nutupi keburukan sih sebenarnya nggak masalah, toh keputusan untuk membeli kembali lagi kepada kita. Masalahnya adalah kalau suatu iklan hingga berbohong demi meningkatkan nilai jual. Contohnya ada suatu produk shampo yg mengklaim sebagai nomor 1 di Indonesia sementara produk shampo yg lain mengklaim sebagai nomor 1 di dunia. Nah, masalahnya adalah siapa yg sudah merangking semua shampo di dunia ini & menetapkan mereka sebagai nomor 1?
Kalau iklan produk pembersih malah lebih lucu. Banyak sekali produk yg mengaku dapat membersihkan 99,9% kuman namun tak ada yg berani naik satu tingkat & mengaku dapat melenyapkan 100% kuman. Kenapa sih harus 99,9%? Apa 0,1% persen sisanya dibiarkan hidup untuk berkembang biak & menciptakan konsumen harus beli produknya lagi?
Sama seperti produk kesehatan, ada saja produk yg mengklaim hal-hal seperti 9 dari 10 dokter merekomendasikan xxx. Kenapa harus 9 dari 10 coba? Apakah itu cuma alasan supaya kalau ada dokter yg komplain maka akan digolongkan ke dalam 1 dari 10 dokter yg tersisa? Hmm, pola pikir yg menarik.
Lalu, apakah seluruh bualan iklan dapat dianggap sebagai penipuan? Hmm, kayaknya sih nggak, toh semua orang pasti pernah berbohong dalam hidupnya & selama tak ada korban yg benar-benar nyata maka tak akan ada pihak yg repot-repot mengurus hal ini. Atau kalau mau pakai logika pembeli, Namanya juga iklan, memang siapa yg masih percaya sama iklan jaman sekarang?
Menurut agan sista disini, apakah strategi marketing seperti itu benar? Atau salah? Yah, saya rasa sih kembali ke keputusan pembeli. Yang jelas sebagai konsumen kita perlu jeli dengan barang apa saja yg kita pesan & jangan termakan manisnya iklan karna iklan itu manisnya cuma di mulut saja, perihnya hingga ke kantong.
Sekian dari saya mari berjumpa di thread saya yg lainnya Hari ini 16:08