• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Beragama dengan Sayang

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Beragama dengan Cinta


Cangkeman.net -Islam, agama yg saya anut yg awalnya karena keturunan ini sudah melewati banyak cerita & banyak peradaban. Dari mulanya seorang pembaharu dari Suku Quraisy dari Bani Hasyim, kini agama ini sudah menyebar ke seluruh dunia dengan segala corak & budayannya.

Tapi belakangan, nama baik agama ini sedikit terkoyak dengan berbagai aksi-aksi yg dilakukan oleh para penganutnya sendiri. Meski saya tidak dapat memungkiri, terkadang memang ada hal-hal yg bias yg seringkali dituduhkan kepada penganut Islam. Tapi bukan berarti itu semua menciptakan kita tidak membenarkan adanya hal-hal intoleransi & rasa ekslusivitas pada Islam.

Saya cukup kaget ketika mendengar penuturan adik saya yg masih duduk di kelas 2 SD. Dia bercerita bahwa ada temennya di sekolah yg tidak diajak main oleh teman-teman lainnya cuma karena agama dia bukan Islam, dalam kasus ini agamanya Kristen.

"Dia kan kristen..."

Begitu mengatakan adik saya menirukan teman-temannya ketika adikku bertanya kenapa salah satu temannya itu tidak diajak bermain.

Aku enggak tau pola pikir anak kecil seperti itu berasal dari keluarga yg seperti apa, lingkungan yg bagaimana. Kok yah dapat anak-anak kecil berpikir seperti itu?

Eh tetapi setelah saya ingat-ingat masa kecil saya, ternyata yah enggak jauh beda juga, malah bukan antar agama, namun antara organisasi. Sewaktu saya kecil, saya hidup di lingkunganNahdliyyinyang tentu saja fanatik banget sama NU. Ketika ada orang yg ikut Muhammadiyah langsungdirasanimeskipun saya pribadi tidak hingga pada level tidak mengajaknya bermain, tetap saja saya kecil tetapngerasaniitu teman saya.

Waktu itu saya & teman-teman sekampung saya merasa kalau Muhammadiyah itu aneh -mungkin kalau waktu itu saya sudah mengenal mengatakan sesat, dapat-dapat saya sesatkan juga-. Yah walaupun sebenarnya waktu itu bukan ke arah Muhammidiyahnya sih, tetapi lebih ke arah selain NU itu aneh, salah, & menyimpang. Yah karena memang kami sudah dididik pada lingkungan yg NU banget sejak kami lahir.

Mungkin kita juga seperti itu dalam beragama. Sejak kecil kita diajari kita Islam, menyebut Tuhan dengan Nama Allah, nabinya Bernama Muhammad SAW, lalu kita diajarkan salat, puasa, zakat serta hal-hal lainnya. Namun kita tidak pernah diajarkan sama sekali tentang esensi dalam bergama, tentang mengapa kanjeng Rasul Muhammad SAW diutus.

Kita sering diceritakan tentang keperkasaan kekaisaran-kekaisaran Islam di masa lalu, lalu menciptakan kita berpikir kalau itulah yg harus diraih di masa depan. Padahal bukankah Islam hadir bukan untuk kekuasaan, tetapi untuk sayang seperti pada Al-Anbiya 107,"Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."

Anggapan tentang Islam sebagai kekuatan komunal untuk kekuasaan sebenarnya bukan hal baru. Hal ini sudah terjadi sejak masa kenabian. Setelah perang Badr selesai dengan kemenangan gemilang umat Islam, banyak orang berbondong-bondong masuk Islam karena melihat kekuatan Islam. Akibatnya motivasi orang-orang ini tentu saja berbeda dengan orang-orang yg masuk Islam di awal-awal yg semata-mata percaya kepada kanjeng Rasul Muhammad & mensayanginnya.

Kondisi ini sempat diisyaraktan Nabi dalam sabdanya,"Betapa beruntungnya orang-orang yg percaya kepadaku sedangkan mereka tidak berjumpa (fisik) denganku."(HR Abu Sa'id Al-Khudri). Sabda Nabi ini merujuk pada orang yg percaya sepenuhnya pada Nabi tanpa memandang keperkasaan-keperkasaan dalam kekuasaan Islam.

Bahkan ketika menjelang Nabi Wafat,SayyidinaAli enggan menanyakan tentang siapa pemimpin selanjutnya sepeninggalan Nabi. Hal ini karenaSayyidinaAli paham bahwa Islam bukan tentang itu, bukan tentang suatu kekuasaan dipegang siapa mengerjakan apa. Islam adalah sayang, Islam adalah kasih.

Namun dapatkah kita bergama dengan sayang? Bergama tanpa embel-embel apapun. Dengan begitu kita tidak mudah mengklaim jadi yg paling benar, mengklaim jadi yg paling terselamatkan, pemegang kuasa surga. Mau minoritas atau mayoritas itu bukanlah suatu hal, karena menganggap agama bukan unjuk banyak-banyakan atau kuat-kuatan, tetapi beragama sebagai jalan menuju sayang.

Bukankah Allah juga menciptakan dunia itu karena Cintanya kepada Nur Muhammad?

Tulisan ini ditulis oleh Fatio Nurul Efendi diCangkemanpada tanggal 10 April 2022.
Kemarin 23:09
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.