• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Beragam Sikap & Tutur Kata yg Baik

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Beritajempolan.com Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia (1977: 50) menyebut manusia Indonesia tukang menggerutu. Hanya saja, katanya, mereka tidak berani mengerjakannya secara terbuka, beraninya di dalam rumah atau bersama kawan-kawannya yg sepaham atau seperasaan dengannya.
Beragam Sikap & Tutur Kata yg Baik

Namun, naga-naganya tesis tersebut hari ini mulai terbantahkan. Pasalnya, adanya media sosial saat ini menciptakan mereka dapat menggerutu secara terbuka. Setidaknya, mereka dapat menyindir dengan tanpa menyebutkan nama orang yg dimaksudnya. Kita dalam hal ini perlu ingat bahwa media sosial memberikan supervisi kepada diri kita masing-masing yg dilakukan oleh pengguna lain. Karenanya, kita harus berhati-hati dalam bersikap & mengunggah sesuatu. Setiap berkomentar atau mengunggah sesuatu, pastikan bahwa kata-kata yg kita pilih adalah yg terbaik, tidak menyinggung perasaan orang lain & merugikannya. Dalam hal ini, Allah swt. berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 83.


& berkatalah kalian semua kepada manusia dengan perkataan yg baik

Dalam Tafsir al-Jalalain Juz Awal, Imam Jalaluddin al-Suyuthi menafsirkan mengatakan husna sebagai suatu bentuk masdar & sifat dari mengatakan yg terbuang berupa masdar dari mengatakan kerja perintah sebelumnya, yakni qaula. Kata tersebut, lanjutnya, bermakna mubalaghah, kelipatan atau kesungguhan. Hal serupa juga dihinggakan Al-Baidhawi dalam kitab tafsirnya. Artinya, perintah untuk berkata kepada manusia dengan baik itu sungguh-sungguh harus dilaksanakan.

Apalagi Allah swt. dalam kalimat tersebut mengpakai mengatakan perintah (fiil amar). Dalam kajian Ushul Fiqih, perintah itu menunjukkan kewajiban pelaksanaannya. Menambahkan keterangan al-Suyuthi, Imam Ahmad al-Shawi dalam Hasyiyah Al-Shawi menjelaskan bahwa mengatakan manusia di situ berlaku umum, tidak saja kepada orang dengan agama atau bangsa tertentu. Ayat tersebut juga, katanya, senada dengan sebuah hadis wa khaliq al-nas bi khuluqin hasanin, bersikap kepada manusia dengan akhlak yg baik.

Sementara itu, Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Adzhim Juz Awal menjelaskan maksud ayat tersebut adalah berbicara dengan baik & bersikap rendah hati kepada mereka. Pun dalam mengingatkan orang lain untuk berlaku baik & mencegah diri dari kemungkaran juga harus dilakukan dengan baik, bukan dengan kekerasan.

Berbeda dengan Imam Ibnu Katsir, Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani menjelaskan dalam kitab tafsirnya yg berjudul Marah Labid Juz Awal (tt: 22), maksud dari qulu li al-nasi husna adalah perkataan yg dapat menghasilkan manfaat. Artinya, setiap kali kita mengunggah sesuatu di media sosial haruslah menghasilkan manfaat. Sebab, kalau tidak bermanfaat, unggahan kita sia-sia atau justru merugikan orang lain.

Hal ini yg menciptakan medsos jadi berbahaya bagi kita. Kita tidak seenaknya dapat mengunggah, menggerutu, atau malah membicarakan orang lain di media sosial. Pasalnya, kita diperintah Allah swt. untuk sering menjaga perkataan kita dengan ucapan atau tulisan di media sosial yg baik.


Selain itu, Quraish Shihab dalam bukunya yg berjudul Dia di Mana-mana Tangan Tuhan di Balik Setiap Fenomena (2004: 213) mengingatkan bahwa apapun yg sudah keluar dari lisan atau jemari kita di media sosial itu menawan kita sendiri. Hal ini berkaitan juga dengan ayat Al-Quran pada Surat Qaf (50) ayat 18.
Tiada suatu ucapan pun yg diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yg sering hadir. (Q.S. Qaf [50]: 18).

Oleh karena itu, kita harus mawas diri, sebetulnya, selain diawasi oleh netizen, Raqib & Atid juga sering menyaksikan setiap gerak-gerik kita. Dengan mengingat itu, kita segan untuk berlaku & berkata yg tidak elok, meskipun di media sosial. Jika warganet, termasuk seniman yg diceritakan di atas, mengingat hal ini, tentu peristiwa yg tidak diharapkan tersebut tidak akan terjadi.

Selanjutnya, setiap kali kita mengunggah sesuatu di media sosial janganlah hingga sia-sia. Terkait hal ini, saya jadi ingat sebuah syair yg saya dengar saat masih berseragam putih abu-abu pada upacara Bendera Merah Putih setiap Senin. Kepala Madrasah dalam amanatnya mengutip sebait syair bermetrum basith yg dibuat seorang kiai yg juga penyair, yakni KH Akyas Abdul Jamil Buntet Pesantren Cirebon.

Tushawwitu tang ting tung wa tot tet wa tot wa laa * tubali bi jironin faqauluka dlaiun(kamu bersuara tang ting tung & tot tet tot sedangkan tidak peduli dengan tetangga, maka ucapanmu sia-sia belaka).

Syair yg berbentuk talmi, campuran bahasa Arab & bahasa ajam (Jawa), itu memiliki makna yg mendalam. Muqaddam Tarekat Tijaniyah itu sebetulnya mengingatkan kita untuk tidak bersikap sia-sia dengan berkata macam-macam, tetapi tidak peduli kepada keadaan tetangga di sekitar. Maksudnya, kita mengunggah banyak hal di media sosial, memerkan sesuatu, menunjukkan pribadi, tetapi tidak memiliki kepedulian kepada sesuatu yg lain, perbuatan tadi hanyalah sia-sia, tidak memiliki arti sama sekali.

Mafhum mukhalafah dari peringatan Kiai Akyas melalui syairnya itu, kita sebetulnya harus memberikan manfaat bagi orang lain. Jangan cuma sesumbar, mengatakan pelbagai macam hal, tetapi tidak berbentuk laku sama sekali.

Rasa-rasanya, dalam hal ini, Mochtar Lubis (1977: 53) benar, bahwa ciri manusia Indonesia adalah kurang perduli dengan nasib orang, selama tidak menimpa dirinya atau kerabatnya. Padahal, kita juga perlu mengingat bahwa Rasulullah saw. bersabda bahwa orang Muslim sebetulnya adalah dia yg sanggup menjaga keselamatan muslim lain dari lisan & tangannya.

Lebih dari itu, ada peribahasa yg menyebut bahwa memang dasar lidah tak bertulang. Banyak manusia yg terpeleset karenanya. Tak ayal, ada pepatah yg menyebut bahwa keselamatan manusia terletak pada penjagaannya kepada lisan. Oleh karena itu, mari kita jaga lisan dengan mengucapkan atau mengunggah hal-hal baik saja di media sosial, yakni yg dapat melahirkan manfaat kepada manusia lainnya. Sebab, sebaik-baik manusia adalah dia yg paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Muhammad SyakirNF


Agan & Sist, dukung & tonton konten bernuansa religi, di channel YouTube kami: konten jempolan indonesia.jangan lupa like, share& subscibe, supaya konten kami dapat berkembang & bermanfaat buat agan & sist.
emoticon-thumbsup

Hari ini 16:36
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.