• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Benazir Bhutto Terbunuh

Ajido-Marujido

IndoForum VIP: The Special One
No. Urut
10016
Sejak
31 Des 2006
Pesan
4.815
Nilai reaksi
146
Poin
63
RAWALPINDI - Mantan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto tewas ditembak kemarin.

Penembakan terhadap perempuan pertama yang menjadi perdana menteri di negara Islam itu terjadi sesaat setelah dia berkampanye di Rawalpindi, dekat ibu kota Pakistan, Islamabad, sore kemarin.

Ketua Partai Rakyat Pakistan (PPP) itu meninggal akibat tembakan di leher dan dadanya, yang dilakukan seorang lelaki di antara kerumunan pendukungnya. Setelah berhasil menembak Benazir, lelaki itu langsung meledakkan diri sendiri, yang mengakibatkan sekitar 20 orang tewas seketika.

Benazir sebenarnya sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun, akhirnya dia mengembuskan napas terakhir pukul 18.16 waktu setempat (sekitar pukul 20.46 WIB). "Pihak rumah sakit mengonfirmasi Benazir Bhutto meninggal dengan cara syahid," kata pengacaranya, Babar Awan.

Penasihat keamanan PPP Rehman Malik yang menyaksikan rangkaian kejadian itu mengatakan bahwa Benazir tertembak ketika hendak memasuki mobilnya. Saat itu dia dan rombongannya berencana meninggalkan lokasi kampanye. "Dia langsung kami larikan ke Rumah Sakit Umum Rawalpindi," ujar Wasif Ali Khan, anggota PPP yang mendampingi Benazir pascainsiden penembakan tersebut.

Mendengar berita duka itu, para pendukung Benazir langsung berkumpul di rumah sakit itu. Mereka menyerukan yel-yel anti-Musharraf. "Pembunuh, Musharraf, pembunuh!"

Beberapa di antara mereka sempat melempari kaca pintu masuk rumah sakit, sedangkan yang lainnya menangis. Seorang pria dengan ikat kepala berlambang PPP terlihat memukuli dadanya untuk mengungkapkan kesedihannya. "Berkali-kali kami mengingatkan pemerintah untuk menyediakan fasilitas keamanan yang memadai bagi Benazir, tapi mereka tidak menggubrisnya," kata Malik.

Tidak berselang lama, Nawaz Sharif, mantan perdana menteri yang juga pemimpin partai oposisi, tiba di rumah sakit. Dia sempat terlihat duduk di samping mayat politisi berusia 54 tahun tersebut.

Kematian mantan perdana menteri (PM) Pakistan itu berakibat pada penurunan kondisi keamanan dan menimbulkan ketakutan bagi sebagian besar warga Pakistan. Pupus sudah harapan pendukung PPP untuk menyaksikan Benazir bersaing dalam Pemilu Pakistan 8 Januari 2008.

Di lokasi serangan, polisi segera mensterilkan lokasi dengan pita putih dan merah. Regu penyelamat segera melarikan para korban ke rumah sakit.

Tubuh dan pakaian beberapa korban meninggal tampak terkoyak. Warga yang selamat meletakkan bendera partai di atas tubuh para korban tersebut. Terlihat serpihan tubuh korban di banyak tempat.

Saat kampanye berlangsung, sebenarnya ratusan polisi sudah disiagakan. Namun, mereka kecolongan juga. Presiden Musharraf langsung menggelar rapat darurat.

Sejak kembali dari pengasingan di Dubai dan London dua bulan lalu (18/10), Benazir sudah disambut dengan sederet ancaman pembunuhan. Sehari setelahnya (19/10), politisi berusia 54 tahun itu selamat dari dua bom bunuh diri yang ditargetkan untuknya. Rangkaian bom bunuh diri itu menewaskan sekitar 140 pendukungnya dan mencederai 300 orang lain.

Santernya ancaman pembunuhan itu selalu dikait-kaitkan dengan organisasi Al Qaidah. Sebab, Benazir sempat menyatakan kesediaannya bekerja sama dengan militer Amerika Serikat (AS) untuk memburu Usamah bin Laden. Sejak saat itu, kelompok-kelompok militan di Pakistan yang berafiliasi dengan Al Qaidah mengancam melancarkan serangan bom bunuh diri untuk menarget Benazir.

Dugaan lain yang sempat menguat adalah karena organisasi Islam tersebut tidak setuju dengan kepemimpinan perempuan yang tidak sesuai dengan kaidah hukum Islam. Latar belakang pendidikan ibu tiga anak itu juga dijadikan alasan penolakan terhadap Benazir oleh milisi Islam. Benazir menyelesaikan pendidikannya di AS dan Inggris.

Istri Asif Ali Zardari itu sempat menyatakan bahwa pemerintah cenderung tidak serius dalam menanggapi ancaman pembunuhan terhadapnya. Dia sempat menyatakan kepada CNN (16/12) bahwa pengawasan dan pengamanan pemerintah terhadapnya mulai menurun.

Namun, politisi cantik itu mengatakan bahwa karena Islam melarang bom bunuh diri, maka dia percaya bahwa umat muslim tidak akan bertindak sekejam itu. "Apalagi jika menyerang seorang perempuan, mereka akan terbakar di neraka," tegasnya (18/10).


SBY Instruksikan Kapolri

Begitu mendengar mantan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto tewas, SBY memanggil Menlu Hassan Wirajuda dan mengontak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Pakistan. Menlu datang pukul 22.15. Agenda SBY untuk bertemu dengan panglima TNI dan calon KSAD tertunda karena mengadakan pembicaraan tertutup dengan Hassan.

SBY mengutuk pengeboman tersebut. "Presiden sangat prihatin atas kejadian itu," ujar Juru Bicara SBY Andi Mallarangeng di Istana Negara tadi malam (27/12).

Presiden juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Bhutto yang mengalami musibah. "Presiden dan Menlu merumuskan sikap terbaik yang akan diambil pemerintah Indonesia terhadap kejadian itu," katanya.

Menurut Andi, SBY yakin bahwa kejadian di Pakistan tidak akan terjadi di Indonesia. "Sampai sekarang, kondisi demokrasi di Indonesia lebih baik. Kemungkinan akan terjadi peristiwa seperti itu tidak ada," kata alumnus Fisipol UGM itu.

Setelah pertemuan, SBY juga memberikan instruksi resmi kepada Kapolri untuk menjamin keselamatan tokoh politik Indonesia, baik di level nasional maupun daerah. Apalagi menghadapi pemilu yang sebentar lagi terjadi di Indonesia.

Pemerintah Indonesia meminta semua pihak di Pakistan menghormati demokrasi. "Kami berharap, situasi segera teratasi. Karena ada tuduhan dilakukan orang (Presiden Pervez) Musharaf, SBY juga meminta agar itu tidak menimbulkan perpecahan di Pakistan."
 
Turut berduka atas ternodanya demokrasi di pakistan, demokrai taka akan pernah mati, meski sang pejuang telah pergi.
 
...koq bisa ya???
politik itu emang kejam....
 
/sob/sob/omg/omg sadis bener........
cewe lagi yang dibantaiiinya.......kacian bener...berkurang dah 1 orang penting di pakistan sono:P:P:P
 
bukan benazir bhutto saja, keluarganya juga banyak yang mati krn politik.
 
dari bapak trus kakak2nya smua mate karena brjuang d dunia politik yg kotor!! damm extrimist!!!turut berduka ya Bhutto/sob
 
harga yang harus d bayar dalam dunia politik yang kotor dan penuh trik /swt

tanya kenapa /? /? /? /?
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.