Follow along with the video below to see how to install our site as a web app on your home screen.
Catatan: This feature may not be available in some browsers.
Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis. Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.
misalkan kalau ane punya uang 1 juta, yang kalau dibelanjakan bisa membeli satu mangkok bakso, maka setelah redenominasi, ane punya uang 1000 tetap bisa membeli satu mangkok bakso.... hhhmmm.....
ane setuju lah... biar ga banyak nolnya doang, tapi bagaiman dengan nilai mata uang rupiahnya? kalau investor berbondong2x menjual rupiahnya, bisa2x satu dollar tetap rp. 10.000 terhadap rupiah yang telah di-redenominasi...
Kecuali kita tidak mengacu pada dollar amerika... bisa ga?
^
sejak awal nilai mata uang harusnya memang tidak boleh mengacu ke situ, harusnya mengacu pada nilai emas, perak dan perunggu. bahkan tidak boleh menggunakan uang kertas bila benar2 ingin nilai mata uang stabil.
ingat "1 dinar emas" "10 dinar perak" dan "100 dinar perunggu."
nilainya stabil waktu saat itu .
uang kertas penyebab utama inflasi loooh kalau diperhatikan baik2
hah?yg bener aja.rasanya bakal aneh banget.dari baru pertama kali kenal duit sampai sekarang,kalau tiba2 nolnya jadi dikit rasanya gak puas.ada yg hilang gtu.apalg kalau yg uda umur 50-70,seumur hidup lihat duit nolnya banyak,tapi tiba2 lihat 100rb jadi 100perak bisa berabe.bs protes tuh nenek,"kenapa kembalian cuma 100perak padahal saya ksh kamu 200rb".