Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Kembali lagi dengan thread kontroversial, penuh dengan hujatan & semua ini bersumber dari seorang guru yg cukup gembul.
Kali ini kita akan membicarakan tentang ateis, kalau dari literasi mungkin sudah banyak yg paham kalau Ateisme adalah paham yg menyangkal sama sekali keberadaan Tuhan karena tidak dapat dibuktikan secara empiris ataupun logis akan keberadaan-Nya.
Namun yg kita bahas kali ini adalah kenapa orang ateis kok pinter-pinter?
Dalam banyak kasus, orang yg lebih cerdas banyak jadi ateis karena mereka dapat berdikari secara intelektual, sebenarnya kasus seperti ini sudah muncul sejak zaman Romawi & Yunani Kuno.
Anggapan bahwa orang cerdas cenderung Ateis ini juga dikemukakan Edward Dutton dari Ulster Institute for Social Research di Inggris, & Dimitri Van der Linden dari Rotterdam University di Belanda, dalam sebuah artikel diEvolutionary Psychological Sciencejurnal Springer.
Maka, Dutton & Van der Linden berpendapat bahwa agama harus dianggap sebagai suatu naluri atau domain berkembang yg terpisah. Nah, anggapan seperti ini sesungguhnya tak terlalu relevan karena agama itu interpretatif juragan.
Hal ini juga dibantah oleh Elaine Howard Ecklund, sekaligus direktur pendiri Program Studi Agama & Kehidupan Publik, Rice University.
Menurut Ecklund, lebih dari setengah ilmuwan di India, Italia, Taiwan, & Turki mengidentifikasi diri sebagai orang religius. Jadi, sains & agama dapat hidup berdampingan & mendukung satu sama lain.
Lantas apa yg menyebabkan ateis di peradaban modern zaman 20, dari tahun 1900-1999 ini mulai tumbuh subur?
"Secara tidak langsung memang perkembangan teknologi sains, tetapi garis besarnya akibat perang idiologi yg berlangsung"
Contoh,
Ada seorang anak yg belajar berhubung TS muslim, maka contohnya memakai agama yg TS yakini. Dimana anak itu belajar di pesantren, lalu belajar banyak hal ilmu seperti bahasa Arab, Nahwu shorof, tata Balaghah & lain sebagainya. Selama 20 tahun lulus lalu keluar dari pesantren dengan ilmunya.
Tapi diluar pondok, hatinya mulai tergoncang dengan banyak godaan seperti lihat ketidak adilan, melihat perang, bahkan mulai teracuni dengan wanita seksi, main tik tok, politik cebong kadrun & sebagainya, hingga timbul di pikirannya banyak pertanyaan! Bila anak ini berteman dengan seorang ateis selama 1 tahun, dapat saja terkontaminasi & anak ini jadi ateis radikal & menghujat agama. Kenapa dapat seperti itu?
Jadi dalam dirinya mengalami goncangan yg luar biasa, secara mendadak dalam kehidupannya & revolusioner. Mungkin kalau diberikan kesempatan untuk belajar kembali ilmu agama, anak ini dapat kembali ke agamanya dalam keadaan yg lebih bijak karena cara berfikirnya lebih kompromistis.
Jadi dalam hal ini, biasanya yg mengaku ateis ini anak-anak muda karena melihat agama itu dari perspektif yg sempit, yg melihat sesuatu dalam rasionalisme yg kering.
Melihat agama itu tidak cuma dapat dibuktikan dari benar & salahnya saja juragan, namun lebih akbar daripada itu.
Jadi, ateis ini tumbuh subur karena ketika ia mempertanyakan Tuhan tentang keadaan yg ia alami. Maka kalau dalam keadaan perang, pasti tingkat ateis akan tinggi karena mereka merasa dirugikan, tidak diuntungkan sebab banyak kehilangan dari harta benda, saudara, orang tua & sebagainya. Atau mengalami sakit, banyak lika liku hidup penderitaan hingga akhirnya iman tergadaikan.
Hal ini yg menciptakan orang dapat berpindah-pindah keyakinan agama, atau sama sekali tidak beragama & jadi ateis.
Pada dasarnya manusia bila hidupnya diuntungkan, biasanya orang tersebut akan lebih banyak bersyukur kepada Tuhan.
Jadi kesimpulannya ateis muncul bukan karena berfikir secara rasional atau pintar, tetapi karena ada pengaruh emosional.
Sumber klik, klik, klik, klik