Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Keberhasilan Provinsi Bali dalam menekan kasusstuntingmendapat perhatian akbar dari pemerintah pusat. Penanganan kasusstuntingatau kekerdilan pada balita di Pulau Dewata dinilai dapat jadi contoh bagi daerah lainnya.
Prevalensistuntingdi Bali saat ini berada di angka 10,9 persen. Angka itu jauh lebih rendah dibanding angka prevalensistuntingsecara nasional sebesar 24,4 persen & angka prevalensistuntingdi dunia menurut WHO pada 2021, yakni sebesar 22 persen.
Bali memang terendah secara nasional. Model ini kita angkat sekarang secara nasional, ucap Kepala Badan Koordinasi Kependudukan & Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo dalam dialog Forum Merdeka Barat 9 (FMB9), pada Senin (4/4/2022).
Dialog Cegah Stunting, Tingkatkan Daya Saing itu dibuka Wakil Presiden KH Maruf Amin.
Selain Hasto Wardoyo, hadir sebagai pembicara dalam FMB9 itu Direktur Gizi & Kesehatan Ibu & Anak, Kementerian Kesehatan RI, Erna Mulati, & Plt Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Bali Mandara Provinsi Bali Ketut Suarjaya.
Dalam kesempatan itu, Hasto juga mengungkapkan pentingnya data yg valid danreal timebagi intervensi dalam penurunan kasusstunting. Harus mengerucut.Nah, mengerucutnya ini harus menuju satu titik. Satu titik ini adalah data, tegas Hasto.
Hasto menyebut ada beberapa daerah dengan angkastuntingtertinggi. Di antaranya, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, & Aceh.
Saat berkunjung ke NTT, Hasto melihat bahwa lingkungan jadi salah satu faktor penyebabstunting. Faktor lingkungan itu, di antaranya, air bersih, rumah tak layak huni, hingga jamban yg harus diperhatikan. "Di NTT, kalau kami lihat stunting dipicu faktor lingkungan. Itu jadi masalah yg masih penting untuk diperhatikan. Persoalan air bersih, rumah tidak layak huni, & juga jamban diketahui sebagai faktor sensitif," ujar Hasto.
Jika faktor lingkungan kurang bagus, dapat berdampak pada kesehatan anak. Sehingga, mudah sakit & berat badan sulit naik. "Kalau itu (faktor lingkungan) kurang bagus, anak mudah sakit & berat badannya tidak naik, & (masalah) seterusnya, seperti diare, TBC," ucap dia.
Berangkat dari faktor lingkungan itu, Hasto mengatakan, akibat pada anak di antaranya dapat menyebabkanstunting. Maka dia pun menyarankan, pemberian makanan tambahan dapat lebih diberdayakan & hingga tepat waktu, anggaran penangananstuntingdapat diberikan langsung kepada regu pendamping keluarga (TPK) di setiap desa.
Hasto mengatakan, anggaran itu dapat dipakai para TPK untuk mengelola produk lokal yg memiliki protein hewani tinggi sehingga dapat mencegah terjadinyastuntingdi dalam keluarga. Tidak usah yg mahal-mahal, lele, ikan kembung, sudah mengandung DHA & Omega-3, mengatakan Hasto.
Hasto mengungkapkan, untuk mencapai target 14 persen membutuhkan penurunan 3 persen menuju percepatan penurunanstuntingdi 2024. "Kalau kita harap menuju angka 14% sesuai dengan arahan presiden, pada 2024, maka dibutuhkan paling tidak 3% sehingga membutuhkan percepatan penurunan menuju ke 2024," ucap dia.
Sementara itu, Plt Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Bali Mandara Provinsi Bali Ketut Suarjaya mengatakan,stuntingsebenarnya dapat dicegah. Salah satunya, dengan mengubah perilaku masyarakat, yaknimindsetatau perilaku untuk hidup sehat.
Pada awal penangananstunting, menurut Ketut, Provinsi Bali memiliki angkastuntingcukup tinggi, yaitu sebesar 34 persen. Angka itu lebih akbar dari angka prevalensi nasional yg ketika itu berada di angka 30 persen.
Namun secara perlahan, angka itu semakin ditekan & terus menurun hingga kini mencapai 10,9 persen. Ketut Suarjaya berharap, angka itu dapat terus ditekan hingga 6,19 persen pada 2024, atau di akhir masa Pemerintahan Joko Widodo.
Tahun ini, paling tidak, dapat turun mencapai sembilan persen. Kemudian pada 2023 diharapkan jadi tujuh persen. Dan pada 2024, kami berharap angkastuntingdi Bali sudah mencapai 6,19 persen, ucap Ketut Suarjaya.
Walau begitu, kini di Provinsi Bali masih ada tiga kabupaten yg angkastunting-nya di atas rata-rata. Yaitu, di Karangasem sebesar 22,9 persen, Klungkung 19,4 persen, & Jembrana 14,3 persen.
Wakil Presiden Maruf Amin, ketika membuka acara Cegah Stunting, Tingkatkan Daya Saing di FMB9, mengatakan bahwa salah salah satu capaian di bidang ekonomi yg patut disyukuri yakni keberhasilan Indonesia menekan angka kemiskinan hingga di bawah 10 persen. Namun, Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah (PR) mengenai gizi anak.
"Di balik capaian tersebut, Indonesia masih mengalami permasalahan gizi kronis, pada anak & ibu hamil. Kekurangan gizi ini mencakup berat badan kurang, balita kurus, sertastunting," ujar Maruf.
Maruf mengungkapkan, prevalensistuntingbalita pada 2018 mencapai 30,8 persen. Artinya, hampir satu dari tiga anak Indonesia mengalami kekurangan gizi dalam jangka waktu lama, yaitu pada 1.000 hari perdana kehidupan. Sementara itu, batas toleransi yg ditetapkan WHO adalah di bawah 20 persen.
Maruf menuturkan, terjadi penurunanstuntingdalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan hasil survei Studi Status Gizi Indonesia atau SSGI 2021 terjadi penurunan dari 30,8 persen jadi 24,4 persen pada 2021. "Komitmen pemerintah tentu tidak lantas berhenti dengan capaian tersebut, target kita sekarang angkastuntingdapat ditekan hingga 14 persen pada 2024," katanya.
Ia juga menyebut, pemerintah sudah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan PenurunanStunting. "Perpres ini mengadopsi strategi nasional (stranas)stuntingyang sudah ada, sembari memberikan penguatan pada beberapa aspek pokok," katanya.
Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari
sumber: indonesia.go.id Kemarin 22:19