Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pandemi, menciptakan mentari seperti muram sinarnya berusaha untuk menghangatkan & menghalau virus dengan panasnya namun hasilnya nihil. Siapa sangka bencana yg menimpa dunia saat ini, manusia terpaksa & dipaksa untuk sering berada dirumah. Namun bagaimana dengan mereka yg mengandalkan penghasilan tidak dengan gaji?
Mereka akan mencari jalan supaya tetap hidup, tak perduli dengan virus yg menghantui karena opsi berada di rumah sangat sulit. Mau tak mau mereka akan berdamai dengan alam, berdamai dengan keadaan, walau itu adalah opsi yg sulit antara mati lapar atau mati karena penyakit.
Badai PHK & pengangguran jadi masalah yg menakutkan, ribuan pekerja yg masih bertahan dengan skema work from home memang sudah menciptakan perputaran ekonomi jadi lebih lambat, restoran cepat saji, warung makan, yg berada dilingkungan perkantoran terancam bangkrut hingga banyak karyawannya pulang kampung atau beralih profesi.
Sebuah profesi yg harus memaksa mereka keluar dari rumah, yg menjadikan mentari dikala siang serta rembulan dikala malam sebagai teman. Usaha kecil supaya dapat bertahan untuk mengarungi hidup yg sudah abnormal, seperti penjual kopi keliling yg berjalan dari tempat yg satu ke tempat yg lain mencari pembeli yg senasib dengan mereka.
Rintihan mereka tentang nasib keluarga dirumah terasa menyayat hati yg mendengarnya, tangisan anak dirumah & murungnya paras sang Istri ketika bertanya "makan apa kita hari ini?" Sedangkan uang tak ada, jadi dilema dikala yg diatas sana cuma dapat menciptakan aturan tetapi tidak dengan bantuan.
Suka tidak suka aturan pun dilanggar, hingga ia rela meninggalkan rumah & berada dijalan demi mencari sesuap nasi, tukang sapu jalanan, ojek online, jadi buruan sang pedagang kopi keliling. Mereka yg berada di dalam rumah mewah, apartement kelas atas, tak merasakan kepanikan yg berarti sebab tabungan yg dikumpulkan cukup untuk setahun tanpa harus bekerja. Sedangkan mereka yg dinamakan wong cilik yg kemampuan ekonomi terbatas, sepertinya harus bergelut dengan debu jalanan kalau masih tetap di rumah sama saja itu bunuh diri.
Walau harus terpaksa diusir oleh Satpol PP yg sedang bertugas ketika sedang menjajakan dagangannya karena sudah menciptakan keramaian. Kita tidak dapat menyalahkan sang petugas yg terpaksa juga keluar rumah demi segenggam rupiah.
Pandemi sudah merubah gaya hidup seseorang, kehidupan berjalan secara tak wajar, terlihat manusia seakan dipaksa supaya tetap belajar mencari cara untuk bertahan dari kepunahan. Resesi ekonomi sudah menghantui banyak negara, termasuk di bumi nusantara.
Ya semua sedang bernasib sama, alam seakan sedang menghukum manusia. Namun kita merasa tidak sadar dengan apa yg sedang kita perbuat, kerusakan yg sering kita lakukan sepertinya sedang kita nikmati sendiri.
Seperti jeritan hati sang penjual kopi, layaknya nyanyian kematian yg akan terus dengar ditelinga, tanpa ada solusi berarti, mereka mulai menjamur dijalan cuma untuk bertahan supaya tidak mati.
Kisah pedagang keliling dimasa pandemi semoga menjadikan manusia lebih berempati, bahwa kita saling membutuhkan tak ada manusia yg sanggup berdiri sendiri.
Semoga cerita pedagang kopi & yg lainnya jadi renungan & juga memberikan warna baru dimasa depan, sebuah kisah duka ketika bertahan untuk hidup. Masihkah kita bertahan dengan gengsi?
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2020
referensi : klik
Pic : google
GIF