Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
sumber ilustrasi
Bekerja simple itu memang oke. Bagaimanadenganmenulis simple aka singkat?Bisa saja oke, tetapi dapatjugabokek alias timbul kesalahpahaman. Persoalan menulis simple inilah yg sering disepelekan orang.Menulis di laman resmi semacam Kaskus,mungkinakan susah menemukan pengguna mengatakan simple karena akan sedikit mengganggu pembaca. Bukankah tidak semua orang suka dengan urusan mengatakan simple? Misalnya untuk mengatakan ulang menambahkan angka 2, memendekkan yg jadi yg & lain sebagainya.
Ketika kita kemudian membelok ke media sosial, maka mengatakan simple mengambur & menyemak. Alasannya mungkin biar cepat sebab ribet menulis panjang-panjang, hingga urusan penggunaan bahasa asing saja sering disimple-simplekan yg akibatnya akan menciptakan kesalahartian. Pun ketika antar anggota medsos dengan umur setara, maka penggunaan mengatakan simple menjadi sangat menggejala. Malahan ada yg beranggapan: tak memahami arti mengatakan simple sama dengan tak gaul.
Namun bagaimana bila yg berkomunikasi tersebut antara orang tua & anaknya? Ya, kalau orang tua yg mengetikkan mungin anak akan faham. Bagaimana kalau anak yg mengetik dengan mengatakan simple bahkan cenderung gaul? Kesalahpahaman akan terjadi. Tak jarang karena kesalahpahaman itu menciptakan seorangtua terpaksa menanyakan apa maksud mengatakan yg ditulis si anak.
Kejadian seperti ini pernah saya alami ketika anak menanyakan sesuatu. Karena saya tak faham, maka saya menanyakan apa maksudnya dengan kening berkerut. Mungkin ini kelihatan sepele, tetapi tentu saja akan sedikit menguras konsentrasi.
Baru-baru ini saja saya terjebak urusan mengatakan simple ini. Sebuah group medsos yg berkesan resmi karena beranggotakan guru & siswa (imbas dari #stayathome). Ya, semestinya sih untuk tidak menimbulkan kesalahpahaman, maka mengatakan yg dipakai tidak harus dibuat simple. Karena informasi yg dihinggakan itu penting. Bagaimana kalau yang membacanya salah tanggap, lalu berujung fatal, misalnya akan mengganggu proses belajar-mengajar.
Ya, mungkin dapat dimaklumi kalau mengatakan singkat yg dipakai cuma untuk mengobrol atau bercanda. Bagaimana bila itu untuk sebuah pengumuman resmi, tentu lain soal, karena kesalahpaham akan merugikan khususnya siswa.
Hal ini seperti yg baru saja saya alami. Seorang guru memberikan pengumuman resmi memperpakai kata-kata yg simple alias singkat. Ya, mungkin para siswa akan memahaminya. Bagaimana dengan orang tua siswa, apa sang guru yakin mereka juga akan memahaminya. Akibatnya akan ada pemahaman ganda antara cara pehamaman siswa & orangtuanya. Siswa memahami dengan benar karena sudah familier dengan mengatakan simple itu, sementara orangtua, kalau tidak dijelaskan, maka tetap tak akan memahami maksud pasti dari pengumuman itu.
Oleh karenanya kalau berkenaan dengan urusan resmi, usahanlah tidak menyingkat kata. Kita memang tahu apa yg kita tulis, tetapi apakah kita yakin orang lain akan faham?
Sumber : opini pribadi
Hari ini 11:40