• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Begini Cocoklogi dalam Menafsirkan Suatu Legenda

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Begini Cocoklogi dalam Menafsirkan Suatu Legenda


Cangkeman.net -Kalau membicarakan hal yg sulit diterima akal sehat seperti legenda, tak jarang pembicaraan ini langsung diabaikan. Hal ini terjadi karena dianggap tidak rasional & sulit dibuktikan kebenarannya. Namun dari legenda, seseorang sebetulnya sanggup mengungkap suatu peradaban & menebak pesan yg harap dihinggakan dengan cara yg dapat dikatakan cukup simpel.

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui pengertian dari legenda. Dalam pengertian sederhana, legenda merupakan sebuah cerita yg dianggap pernah terjadi pada suatu tempat & memuat suatu pesan tertentu. Sementara menurut KBBI, legenda merupakan cerita rakyat pada zaman dahulu yg ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Jadi, poin pentingnya dalam pengertian yg sudah disebutkan adalah: adanya sebuah cerita di suatu wilayah, berisi sebuah pesan, & sejarah.

Dari tiga pesan yg ditulis pada paragraf sebelumnya, menyinggung sejarah. Nah, ilmu sejarah inilah yg dapat dijadikan dasar untuk mengetahui suatu legenda di suatu tempat dalam batasan tertentu. Menurut Kuntowijoyo yg merupakan sejarawan, dalam bukunya yg berjudul Pengantar Ilmu Sejarah, sejarah merupakan rekonstruksi masa lalu.

Jelas, dalam merekonstruksi suatu sejarah tidak cuma disusun cuma berdasarkan dari sebuah cerita atau suatu legenda saja. Karena sejarah merupakan salah satu produk ilmu pengetahuan. Pastinya terdapat suatu metode dalam pelaksanaanya supaya jadi valid & reliabel. Misalkan, dengan melihat sumber sejarah. Adapun sumber sejarah antara lain: prasasti sezaman, peninggalan arkeologis sezaman, karya sastra sezaman, berita asing sezaman, sastra dari zaman kemudian, mitos & legenda, & terakhir, pendapat dari para ahli.

Memang, dalam mengungkap suatu sejarah, mitos & legenda merupakan sumber lemah daripada yg lain. Namun yg menarik, hal ini tetap dimasukkan ke dalam sumber sejarah. Roland Barthes; semolog alias pakar semiotika atau ilmu ketandaan, dalam sebuah penelitian yg berjudul, Mitos Kala dalam Arsitektur Wolff Schoemaker pada Gedung Landmark Bandung, diterbitkan pada 1 Juni 2020 menyatakan, mitos merupakan suatu sistem atau cara komunikasi untuk menyampaikan suatu pesan & bukanlah suatu wicara sembarangan, biasanya dimasukkan simbol-simbol tertentu. Terlebih kalau terjadi di suatu masyarakat yg punya keterikatan yg kuat pada suatu agama atau kepercayaan. Maka, tidak mengherankan kalau suatu mitos masuk dalam sumber sejarah. Hal ini juga termasuk dengan suatu legenda. Nah, dari sini kita mendapatkan mengatakan kunci, yakni: simbol.

Adanya suatu simbol dalam legenda, mitos, bahkan di dalam suatu karya sastra & lain sebagainya, punya dua fungsi. Pertama, sebagai smita atau pasemon, merupakan upaya dalam menyembunyikan suatu pesan tertentu. Kedua, alasan lahirnya dari legenda itu sendiri: upaya masyarakat setempat untuk memahami sesuatu yg sulit dipahami oleh mereka. Yah, dapat dikatakan dalam memahaminya, masyarakat masa itu mengerjakan cocoklogi.

Jika di masa kini banyak orang lebih mengpakai ungkapan, Rahasia Illahi atau mengatakan yg memiliki makna sejenis saat tidak memahami suatu hal. Di masa lalu, masyarakat membangun suatu cerita untuk mencoba memahami apa yg mereka tidak pahami. Sedikit banyak memunculkan kagum dalam diri saya kepada mereka karena mengembangkan sisi kreatif.

Namun, di saat bersamaan, seseorang harus punya kemampuan dalam membaca & menginterpretasikan simbol-simbol yg terkandung di dalamnya serta berbagai bahan mentah saat mengkonstruksi informasi. Sama seperti masyarakat terdahulu dalam membangun legenda, saya mengpakai cara yg sama untuk memahami informasi yg mereka konstruksikan, yaitu, mengpakai cocoklogi.

Kita langsung masuk contoh berikut penerapan membaca simbol pada suatu legenda dengan cara yg sederhana. Karena saat menuliskan ini kebetulan terdapat tukang getuk meluncur pada jalanan menurun di depan rumah sambil menyalakan lagu Banyu Langit karya alm. Didi Kempot, tercetus ide untuk menuliskan legenda yg terkandung di dalam lagu tersebut, yg berasal dari gunung Nglanggeran, berlokasi di Gunungkidul, Wonosari, Yogyakarta.

Berdasarkan penamaan tempat kejadian perkara, yakni, gunung Nglanggeran. Menurut berbagai sumber yg saya dapatkan, Nglanggeran berasal dari mengatakan nglanggar, yg punya arti melanggar. Pertanyaanya, apa yg dilanggar oleh penduduk setempat sehingga melahirkan suatu legenda?

Pada suatu masa, penduduk setempat harap mengerjakan hajatan setelah mendapatkan panen raya. Salah satu rundown acara tersebut berupa nanggap wayang. Didatangkanlah seorang dalang beserta jajarannya. Namun, terdapat manusia-manusia yg mengerjakan perbuatan yg tidak menyenangkan menciptakan murka sang dalang.

Mungkin di masa sekarang banyak yg meyakini, dalang merupakan pekerjaan biasa, sekadar memberikan suatu hiburan rakyat yg biasanya berlangsung semalam suntuk dengan memainkan benda bernama wayang. Kalau menggali lebih lanjut, dalang bukanlah profesi sembarangan. Secara praktis, selain menghibur, mereka memberikan suatu ilmu yg berasal dari lakon yg dipentaskan. Sehingga, ilmu tersebut harapannya dapat diterapkan oleh penonton setelah menonton nanggap wayang. Bisa dikatakan dalang bertugas sebagai guru.

Adanya kisah yg termuat dalam Murwakaladapat dijadikan citra kelahiran profesi dalang semakin mengejawantahkan betapa sakralnya profesi ini. Ceritanya begini, Dewa Wisnu beserta para dewa lain turun ke bumi untuk aksi penyelamatan manusia akibat kerakusan Batara Kala. Sang Hyang Wisnu menyamar sebagai Ki Dalang Kandabhuana atau Ki Dalang Karungrungan, sementara dewa lain menyamar sebagai para nayaga alias pengrawit atau penabuh. Batara Kala mengalami kekalahan lantaran Dewa Wisnu sanggup membaca rajah di tubuhnya. Sebelumnya terdapat perjanjian antara Batara Kala dengan Dewa Siwa, yaitu; Batara Kala harus tunduk kepada siapa saja yg sanggup membaca rajah tersebut. Barangkali dari sinilah profesi dalang terlahir & ilmu tentang ruwat mulai tersebar.

Dari kisah tersebut, dalang merupakan profesi yg sakral dari sudut pandang spiritual & supranatural. Karena dalang juga jadi pemimpin dalam suatu ritual. Misalkan, dalang akan memimpin ritual ruwat yg dilaksanakan dalam suatu pementasan wayang. Secara tidak langsung, mereka yg jadi dalang memiliki tugas untuk menyelamatkan manusia yg masuk dalam sukerta, yakni orang-orang dengan ciri-ciri & kesalahan-kesalahan tertentu. Nah, mereka yg masuk kategori ini harus diruwat karena jadi mangsa Batara Kala. Kalaupun tidak betulan mati, akan mengalami hidup yg penuh kesialan. Artinya, dalang agak mirip dengan imam di suatu agama & keyakinan lain. Mereka bertanggung jawab untuk menyelamatkan manusia dalam sudut spiritual & supranatural.

Dalang merupakan sebuah profesi yg semestinya dihormati. Namun yg terjadi malah sebaliknya, adanya pihak yg merusak wayang miliknya. Inilah pelanggaran yg dilakukan oleh beberapa penduduk. Membuatnya murka lalu memberikan suatu kutukan. Diubahnya manusia-manusia tersebut jadi wayang sebelum dilempar di dataran yg lebih tinggi, yg tempat kejadian perkara tersebut sekarang diketahui sebagai gunung Nglanggeran.

Apa pesan dari legenda gunung Nglanggeran? Perkara ini, sih, sebetulnya bagaimana seseorang menarik kesimpulan. Buat saya, betapapun tidak logisnya suatu mitos & legenda, tetap dapat dijadikan sebagai media untuk mempelajari suatu hal, lalu pada gilirannya, akan dipakai dalam mengembangkan sisi baik dalam diri kita.

Salah satunya: mari mulai belajar untuk tidak merendahkan profesi orang lain. Karena belum tentu kita betul-betul mengetahui pekerjaan yg dilakukan yg bersangkutan sedang mengupayakan menyelamatkan orang-orang disekitarnya. Misalkan, melalui pekerjaannya, dari sekadar memenuhi kebutuhan harian hingga mengangkat derajat dirinya beserta keluarganya.


Tulisan ini ditulis oleh Angga Prasetyo di Cangkeman pada tanggal 1 Juli 2022 Hari ini 10:17
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.