yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Sebagai otoritas moneter, bunk Indonesia (BI) bertanggung jawab untuk mendistribusikan uang rupiah ke semua wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berarti, bunk sentral pun harus mendistribusikan uang ke wilayah terluar, terdepan, terpencil, dan terjauh di Tanah Air.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang BI Suhaedi memberi contoh, kasir-kasir BI di wilayah Papua yang terpencil harus menempuh medan yang berat demi mendistribusikan uang rupiah ke seluruh masyarakat di sana. Selain itu, waktu tempuh untuk menjangkau masyarakat pun sangat lama.
"Kasir di Papua itu harus lewat jalan darat selama berjam-jam dan lewat jalur laut untuk menjangkau masyarakat di pedalaman. Kas keliling juga sampai ke daerah pedalaman untuk mendistribusikan uang," ujar Suhaedi di Kantor Pusat BI, Senin (23/11/2015).
Lebih lanjut, Suhaedi mengatakan, untuk melayani daerah yang luas, BI bekerja sama dengan beberapa bunk sebagai bunk pengelola kas titipan. Caranya, BI menitipkan uang rupiah kepada bunk yang melayani masyarakat di kawasan terpencil.
Meskipun demikian, Suhaedi mengakui bahwa jaringan bunk umum belum terlalu memadai dan terbatas. Sementara itu, ada setidaknya 500 kabupaten dan kota yang ada di Indonesia sehingga masih banyak area di beberapa provinsi yang belum dilayani secara optimal.
"Dalam pelayanan kepada masyarakat, masalahnya itu ketersediaan uang. Kami sedang kaji apakah dari BI ke bunk ada yang bisa meneruskan dari bunk ke masyarakat. Apakah semacam perusahaan yang mengantar jemput uang atau kantor pos, itu masih dalam kajian," kata Suhaedi.
Suhaedi menuturkan, bunk sentral ingin dapat melayani dan menjangkau masyarakat agar masyarakat dapat dengan mudah memperoleh uang sesuai pecahan yang dibutuhkan. Oleh sebab itu, bunk sentral kini tengah mempertimbangkan secara mendalam untuk melakukan kerja sama dengan pihak-pihak lain yang dapat membantu pendistribusian uang.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang BI Suhaedi memberi contoh, kasir-kasir BI di wilayah Papua yang terpencil harus menempuh medan yang berat demi mendistribusikan uang rupiah ke seluruh masyarakat di sana. Selain itu, waktu tempuh untuk menjangkau masyarakat pun sangat lama.
"Kasir di Papua itu harus lewat jalan darat selama berjam-jam dan lewat jalur laut untuk menjangkau masyarakat di pedalaman. Kas keliling juga sampai ke daerah pedalaman untuk mendistribusikan uang," ujar Suhaedi di Kantor Pusat BI, Senin (23/11/2015).
Lebih lanjut, Suhaedi mengatakan, untuk melayani daerah yang luas, BI bekerja sama dengan beberapa bunk sebagai bunk pengelola kas titipan. Caranya, BI menitipkan uang rupiah kepada bunk yang melayani masyarakat di kawasan terpencil.
Meskipun demikian, Suhaedi mengakui bahwa jaringan bunk umum belum terlalu memadai dan terbatas. Sementara itu, ada setidaknya 500 kabupaten dan kota yang ada di Indonesia sehingga masih banyak area di beberapa provinsi yang belum dilayani secara optimal.
"Dalam pelayanan kepada masyarakat, masalahnya itu ketersediaan uang. Kami sedang kaji apakah dari BI ke bunk ada yang bisa meneruskan dari bunk ke masyarakat. Apakah semacam perusahaan yang mengantar jemput uang atau kantor pos, itu masih dalam kajian," kata Suhaedi.
Suhaedi menuturkan, bunk sentral ingin dapat melayani dan menjangkau masyarakat agar masyarakat dapat dengan mudah memperoleh uang sesuai pecahan yang dibutuhkan. Oleh sebab itu, bunk sentral kini tengah mempertimbangkan secara mendalam untuk melakukan kerja sama dengan pihak-pihak lain yang dapat membantu pendistribusian uang.