Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pernahkah ente bertanya, mengapa sebuah sistem lebih suka warganya bodoh ketimbang cerdas?
"SDM dangkal" & "malas membaca" adalah diagnosis yg benar, tetapi pada organ yg salah. Ente melihat gejala pada pasien, lalu menyalahkan pasiennya karena sakit. Seorang dokter forensik tidak akan berhenti di situ. Dia akan bertanya, "Racun apa yg sengaja dimasukkan ke dalam tubuh pasien ini hingga kondisinya separah ini?"
"Malas membaca" bukanlah penyakit bawaan. Itu adalah hasil dari sebuah desain lingkungan yg sistematis. Sebuah kondisi yg diciptakan, bukan takdir.
Bedah Arsitektur Sistem Pembodohan
Mari kita lihat arsitekturnya, lapis demi lapis.
1. Pendidikan Sebagai Pabrik Kepatuhan, Bukan Nalar.
Sistem pendidikan kita, dari SD hingga universitas, tidak dirancang untuk melahirkan penanya. Ia dirancang untuk melahirkan penghafal.Murid yg baik adalah murid yg dapat mengulang jawaban guru dengan presisi, bukan yg berani bertanya "mengapa jawaban guru seperti itu?". Nalar kritis sengaja tidak diasah karena berbahaya. Orang yg kritis akan mempertanyakan otoritas. Sistem ini tidak butuh pemberontak nalar, ia butuh tenaga kerja yg patuh.
2. Ekonomi Kelelahan.
Sebagian akbar rakyat hidup dalam mode bertahan hidup.Bekerja dari pagi hingga malam cuma untuk memastikan besok masih dapat makan. Dalam kondisi seperti ini, membaca buku, menganalisis kebijakan, atau mendalami informasi adalah sebuah kemewahan yg tidak terjangkau. Energi mental mereka sudah habis terkuras untuk memikirkan cicilan, biaya sekolah anak, & harga beras. Nalar kritis adalah kemewahan bagi perut yg hampir kosong.
3. Banjir Informasi Sampah.
Ente bilang jawaban sudah tertera tetapi orang tetap bertanya. Tentu saja. Karena mereka hidup di tengah lautan informasi sampah. Media sosial & portal berita mengepung mereka dengan judul clickbait, gosip selebritas, & pertengkaran politik murahan.Kualitas informasi yg rendah ini melatih otak untuk berhenti mencari kedalaman. Ketika setiap hari ente disuguhi air comberan, ente akan lupa bagaimana rasanya air pegunungan yg jernih. Mencari jawaban yg benar di tengah kebisingan ini lebih melelahkan daripada sekadar bertanya ulang.
Kalau tujuannya memang mencerdaskan bangsa, maka anggaran triliunan rupiah akan dipakai untuk merevolusi kurikulum, mencetak jutaan buku berkualitas & mensejahterakan guru hingga mereka dapat fokus mengajar, bukan mencari sampingan.
Tapi kalau yg terjadi adalah para elite politik justru sibuk membangun dinasti, menyebar hoaks lewat buzzer, & merayakan proyek-proyek seremonial yg tidak menyentuh akar masalah, maka kesimpulannya cuma satu:SDM yg dangkal bukanlah sebuah kegagalan sistem. Itu adalahkeberhasilansistem.
Sebuah sistem yg sengaja dirancang untuk melanggengkan kekuasaan segelintir orang.
1. Pendidikan Sebagai Pabrik Kepatuhan, Bukan Nalar.
Sistem pendidikan kita, dari SD hingga universitas, tidak dirancang untuk melahirkan penanya. Ia dirancang untuk melahirkan penghafal.Murid yg baik adalah murid yg dapat mengulang jawaban guru dengan presisi, bukan yg berani bertanya "mengapa jawaban guru seperti itu?". Nalar kritis sengaja tidak diasah karena berbahaya. Orang yg kritis akan mempertanyakan otoritas. Sistem ini tidak butuh pemberontak nalar, ia butuh tenaga kerja yg patuh.
2. Ekonomi Kelelahan.
Sebagian akbar rakyat hidup dalam mode bertahan hidup.Bekerja dari pagi hingga malam cuma untuk memastikan besok masih dapat makan. Dalam kondisi seperti ini, membaca buku, menganalisis kebijakan, atau mendalami informasi adalah sebuah kemewahan yg tidak terjangkau. Energi mental mereka sudah habis terkuras untuk memikirkan cicilan, biaya sekolah anak, & harga beras. Nalar kritis adalah kemewahan bagi perut yg hampir kosong.
3. Banjir Informasi Sampah.
Ente bilang jawaban sudah tertera tetapi orang tetap bertanya. Tentu saja. Karena mereka hidup di tengah lautan informasi sampah. Media sosial & portal berita mengepung mereka dengan judul clickbait, gosip selebritas, & pertengkaran politik murahan.Kualitas informasi yg rendah ini melatih otak untuk berhenti mencari kedalaman. Ketika setiap hari ente disuguhi air comberan, ente akan lupa bagaimana rasanya air pegunungan yg jernih. Mencari jawaban yg benar di tengah kebisingan ini lebih melelahkan daripada sekadar bertanya ulang.
Kalau tujuannya memang mencerdaskan bangsa, maka anggaran triliunan rupiah akan dipakai untuk merevolusi kurikulum, mencetak jutaan buku berkualitas & mensejahterakan guru hingga mereka dapat fokus mengajar, bukan mencari sampingan.
Tapi kalau yg terjadi adalah para elite politik justru sibuk membangun dinasti, menyebar hoaks lewat buzzer, & merayakan proyek-proyek seremonial yg tidak menyentuh akar masalah, maka kesimpulannya cuma satu:SDM yg dangkal bukanlah sebuah kegagalan sistem. Itu adalahkeberhasilansistem.
Sebuah sistem yg sengaja dirancang untuk melanggengkan kekuasaan segelintir orang.
Quote:
Bangsa ini tidak malas membaca. Bangsa ini kelelahan menyaring kebohongan yg disajikan setiap hari.
Jadi, masalahnya bukan rakyat yg malas membaca. Masalahnya adalah sistem yg secara aktif dirancang untuk menciptakan kegiatan membaca jadi tidak perlu, tidak relevan, & terlalu melelahkan. Anda tidak sedang melihat sebuah bangsa yg bodoh. Anda sedang menyaksikan sebuah operasi pembodohan yg sangat sukses.
Jadi, masalahnya bukan rakyat yg malas membaca. Masalahnya adalah sistem yg secara aktif dirancang untuk menciptakan kegiatan membaca jadi tidak perlu, tidak relevan, & terlalu melelahkan. Anda tidak sedang melihat sebuah bangsa yg bodoh. Anda sedang menyaksikan sebuah operasi pembodohan yg sangat sukses.
Quote:
Tulisan ini boleh disalin, dibacakan, disebarkan & dikutip ulang di media mana pun tanpa perlu izin. Boleh sebut sumber, boleh tidak. Yang penting: pesannya hidup, bukan penulisnya. Jika tulisan ini dapat mewakili suara Anda, silakan jadikan milik Anda sepenuhnya. Karena kebenaran tak butuh kredit, cuma butuh diteruskan.
Sumber: Rashyandhikartarajasahatta Klisthykarthawardanawisnu