yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Wajah Jakarta sebagai Ibu Kota negara kian lama kian berubah. Pembangunan makin masif, transportasi makin modern dan masyarakat yang juga makin berkembang, membuat Jakarta kini menjadi kota metropolitan dengan segala dinamisasinya.
Di tengah gerak cepat pembangunan, masih ada sudut Ibu Kota yang tak tersentuh riasan. Salah satunya moda transportasi unik yang hanya beroperasi di sekitar Pasar Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, yaitu becak motor, atau yang biasa disingkat, Caktor.
Mundakir (40), salah seorang pengojek Caktor menceritakan sedikit lelucon saat Kompas.com bertemu di pangkalan, Jumat (28/9/2012) siang. Menurut ayah satu anak tersebut, ia hampir sama berkaratnya dengan Caktor yang menjadi mata pencaharian sehari-harinya.
"Saya pertama kali ngojek Caktor tahun 1995-an. Itu karena becak dilarang sama pemerintah, sebelumnya saya narik becak. Akhirnya ada kali setahun saya merakit Becak Motor itu," ujarnya.
Awalnya, Mundakir membeli motor Vespa Super keluaran tahun 1977 sebesar Rp 800 ribu. Berbekal tempat duduk dari becak sebelumnya, kedua benda itu pun dirakit dan ditempel di sisi kiri Vespanya. Hasilnya, jadi lah Becak Motor yang siap mengangkut maksimal dua penumpang serta barang bawaannya.
Peminat moda transportasi langka itu cukup banyak. Dari matahari terbit hingga terbenam, Mundakir bisa mengangkut 10 orang penumpang dengan variasi tarif, antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu, tergantung jarak tempuh.
Namun, jumlah tersebut tidak lah pasti. Tak jarang, Caktornya hanya mengangkut beberapa kali saja per hari.
"Ya enggak tentu, namanya orang narik. Yang penting ada buat kita bayar kontrakan sama buat kirim anak istri di kampung saja. Ada duit, diterbangin, seadanya saja," ujarnya.
Puluhan tahun sudah Caktor berkarat miliknya menjadi sumber mata pencaharian. Berbagai pengalaman mulai dari dikejar-kejar Kamtib (Keamanan dan Ketertiban-kini Satpol PP), hingga kelebihan berat sehingga ban depan Caktor terangkat, telah dialaminya.
Aksesoris yang diberikan untuk menambah daya tampil, seakan tak bisa mengubah sejarah usang moda trasnsportasi tersebut. Namun sayang, raungan Caktornya seakan terpenjara di wilayah Pondok Bambu saja.
Sudah beberapa tahun, pemerintah setempat melalui Kecamatan dan Kelurahan setempat melarang moda transportasi unik itu untuk beroperasi di luar Pondok Bambu dengan alasan mengganggu Perda Ketertiban Umum. Kondisi itu pula lah yang membuat populasi Caktor berbanding terbalik dengan penduduk Ibu Kota.
Dahulu, Caktor bisa mencapai 25 unit. Namun, kian hari kian menyusut hingga saat ini yang tinggal berjumlah 8 unit. Faktor ekonomi, menjadi alasan para pengojek Caktor, pindah pekerjaan ke yang lainnya. Belum lagi Caktor harus bersaing dengan moda transportasi lain.
"Kalau harapannya banyak sebenarnya. Apalagi gubernur baru ya. Meski saya nggak nyoblos sih, tapi kan boleh ada harapan, misalnya diizinin trayek gitu, mungkin bagus," ujarnya.
Di tengah gerak cepat pembangunan, masih ada sudut Ibu Kota yang tak tersentuh riasan. Salah satunya moda transportasi unik yang hanya beroperasi di sekitar Pasar Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, yaitu becak motor, atau yang biasa disingkat, Caktor.
Mundakir (40), salah seorang pengojek Caktor menceritakan sedikit lelucon saat Kompas.com bertemu di pangkalan, Jumat (28/9/2012) siang. Menurut ayah satu anak tersebut, ia hampir sama berkaratnya dengan Caktor yang menjadi mata pencaharian sehari-harinya.
"Saya pertama kali ngojek Caktor tahun 1995-an. Itu karena becak dilarang sama pemerintah, sebelumnya saya narik becak. Akhirnya ada kali setahun saya merakit Becak Motor itu," ujarnya.
Awalnya, Mundakir membeli motor Vespa Super keluaran tahun 1977 sebesar Rp 800 ribu. Berbekal tempat duduk dari becak sebelumnya, kedua benda itu pun dirakit dan ditempel di sisi kiri Vespanya. Hasilnya, jadi lah Becak Motor yang siap mengangkut maksimal dua penumpang serta barang bawaannya.
Peminat moda transportasi langka itu cukup banyak. Dari matahari terbit hingga terbenam, Mundakir bisa mengangkut 10 orang penumpang dengan variasi tarif, antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu, tergantung jarak tempuh.
Namun, jumlah tersebut tidak lah pasti. Tak jarang, Caktornya hanya mengangkut beberapa kali saja per hari.
"Ya enggak tentu, namanya orang narik. Yang penting ada buat kita bayar kontrakan sama buat kirim anak istri di kampung saja. Ada duit, diterbangin, seadanya saja," ujarnya.
Puluhan tahun sudah Caktor berkarat miliknya menjadi sumber mata pencaharian. Berbagai pengalaman mulai dari dikejar-kejar Kamtib (Keamanan dan Ketertiban-kini Satpol PP), hingga kelebihan berat sehingga ban depan Caktor terangkat, telah dialaminya.
Aksesoris yang diberikan untuk menambah daya tampil, seakan tak bisa mengubah sejarah usang moda trasnsportasi tersebut. Namun sayang, raungan Caktornya seakan terpenjara di wilayah Pondok Bambu saja.
Sudah beberapa tahun, pemerintah setempat melalui Kecamatan dan Kelurahan setempat melarang moda transportasi unik itu untuk beroperasi di luar Pondok Bambu dengan alasan mengganggu Perda Ketertiban Umum. Kondisi itu pula lah yang membuat populasi Caktor berbanding terbalik dengan penduduk Ibu Kota.
Dahulu, Caktor bisa mencapai 25 unit. Namun, kian hari kian menyusut hingga saat ini yang tinggal berjumlah 8 unit. Faktor ekonomi, menjadi alasan para pengojek Caktor, pindah pekerjaan ke yang lainnya. Belum lagi Caktor harus bersaing dengan moda transportasi lain.
"Kalau harapannya banyak sebenarnya. Apalagi gubernur baru ya. Meski saya nggak nyoblos sih, tapi kan boleh ada harapan, misalnya diizinin trayek gitu, mungkin bagus," ujarnya.