yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
PT bunk Central Asia Tbk (BCA) menyatakan tidak akan buru-buru menentukan bunk yang akan menjadi target akuisisi. Pengalaman membentuk BCA Syariah dan anak usaha asuransi, yang menjadi alasan bunk milik Grup Djarum ini.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja bercerita, pihaknya membutuhkan waktu yang lama untuk merealisasikan pertumbuhan anorganik melalui akuisisi. "Waktu BCA Syariah saja hampir dua tahun baru terealisasi. Begitu juga saat mendirikan perusahaan asuransi," terang Jahja, pekan lalu.
Selain itu, Jahja juga bilang, BCA masih terus memantau situasi dan kondisi perekonomian Indonesia. Alasan-alasan itu tentu saja agar BCA bisa mendapat perusahaan target yang sesuai dengan rencana bisnis dan pas dengan budget yang disiapkan.
Sejatinya, BCA sudah mulai melirik beberapa bunk dengan kategori bunk umum kelompok usaha (BUKU) 1 dan 2 atau bunk yang memiliki modal mulai di bawah Rp 1 triliun hingga Rp 5 triliun. Bahkan, Jahja optimistis, pihaknya tidak cuma mengakuisisi satu bunk, tapi hingga dua bunk.
"Kami incar bunk yang berfokus di sektor perdagangan. Maunya sih kami bisa akuisisi dua bunk," terang Jahja.
Saat ini, rencana akuisisi tersebut sudah masuk dalam rencana bisnis bunk (RBB) BCA tahun 2015. Dengan begitu, kata Jahja, akuisisi bisa langsung dilakukan jika kesempatan muncul dan tidak perlu lagi merumuskan rencana kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Selain itu, Jahja juga bilang, akuisisi bunk incaran bakal terjadi jika harga yang ditawarkan cocok dengan apa yang diinginkan BCA. "Yang penting, harga tidak mahal dan cocok juga dengan bisnis kami. Jika ada bunk murah yang kami akuisisi, nanti pasti valuasinya akan naik," ucap Jahja.
Sebelumnya, Jahja mengatakan, bunk dengan kategori BUKU 1 yang dilirik BCA adalah bunk dengan rekam jejak kinerja yang bagus dan dijual dengan harga yang tidak terlalu mahal. BCA tengah meneliti bunk-bunk kategori BUKU 1 dengan price book value (PBV) antara 1 sampai dengan maksimum 2.
Jahja bilang, tahun ini merupakan peluang yang baik bagi bunk dengan kode emiten BBCA ini untuk mengakuisisi bunk kecil lainnya. Sebab, PBV perbankan sedikit melandai lantaran kinerja perbankan tahun 2014 kemarin, kurang moncer. Bahkan, BCA sudah menyiapkan total danang sebesar Rp 1,5 triliun untuk rencana anorganik.
danang itu termasuk untuk suntikan danang kepada anak-anak perusahaan BCA. "Kami sediakan Rp 1,5 triliun, termasuk untuk anak usaha. Saya perkirakan anak usaha hanya butuh Rp 500 miliar. Jadi sediakan Rp 1 triliun untuk akuisisi bunk baru," ujar Jahja.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja bercerita, pihaknya membutuhkan waktu yang lama untuk merealisasikan pertumbuhan anorganik melalui akuisisi. "Waktu BCA Syariah saja hampir dua tahun baru terealisasi. Begitu juga saat mendirikan perusahaan asuransi," terang Jahja, pekan lalu.
Selain itu, Jahja juga bilang, BCA masih terus memantau situasi dan kondisi perekonomian Indonesia. Alasan-alasan itu tentu saja agar BCA bisa mendapat perusahaan target yang sesuai dengan rencana bisnis dan pas dengan budget yang disiapkan.
Sejatinya, BCA sudah mulai melirik beberapa bunk dengan kategori bunk umum kelompok usaha (BUKU) 1 dan 2 atau bunk yang memiliki modal mulai di bawah Rp 1 triliun hingga Rp 5 triliun. Bahkan, Jahja optimistis, pihaknya tidak cuma mengakuisisi satu bunk, tapi hingga dua bunk.
"Kami incar bunk yang berfokus di sektor perdagangan. Maunya sih kami bisa akuisisi dua bunk," terang Jahja.
Saat ini, rencana akuisisi tersebut sudah masuk dalam rencana bisnis bunk (RBB) BCA tahun 2015. Dengan begitu, kata Jahja, akuisisi bisa langsung dilakukan jika kesempatan muncul dan tidak perlu lagi merumuskan rencana kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Selain itu, Jahja juga bilang, akuisisi bunk incaran bakal terjadi jika harga yang ditawarkan cocok dengan apa yang diinginkan BCA. "Yang penting, harga tidak mahal dan cocok juga dengan bisnis kami. Jika ada bunk murah yang kami akuisisi, nanti pasti valuasinya akan naik," ucap Jahja.
Sebelumnya, Jahja mengatakan, bunk dengan kategori BUKU 1 yang dilirik BCA adalah bunk dengan rekam jejak kinerja yang bagus dan dijual dengan harga yang tidak terlalu mahal. BCA tengah meneliti bunk-bunk kategori BUKU 1 dengan price book value (PBV) antara 1 sampai dengan maksimum 2.
Jahja bilang, tahun ini merupakan peluang yang baik bagi bunk dengan kode emiten BBCA ini untuk mengakuisisi bunk kecil lainnya. Sebab, PBV perbankan sedikit melandai lantaran kinerja perbankan tahun 2014 kemarin, kurang moncer. Bahkan, BCA sudah menyiapkan total danang sebesar Rp 1,5 triliun untuk rencana anorganik.
danang itu termasuk untuk suntikan danang kepada anak-anak perusahaan BCA. "Kami sediakan Rp 1,5 triliun, termasuk untuk anak usaha. Saya perkirakan anak usaha hanya butuh Rp 500 miliar. Jadi sediakan Rp 1 triliun untuk akuisisi bunk baru," ujar Jahja.