Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Di sebuah desa kecil bernama Sumberjati, tinggal seorang pria paruh baya bernama Pak Wiryo. Ia tinggal sendirian di rumah kayu tua yg mulai dimakan usia. Di mata warga desa, Pak Wiryo adalah pria pendiam, nyaris tidak pernah bicara kecuali kalau ditanya. Anak-anak menyebut rumahnya sebagai rumah berhantu, & orang dewasa cuma mengangguk setuju tanpa pernah benar-benar tahu apa yg terjadi di balik tirai rumah tua itu.
Setiap malam, lampu rumah Pak Wiryo cuma menyala sebentar, lalu padam. Namun, warga sering melihat **bayangan seseorang** berdiri diam di balik jendela kamarnya, bahkan saat lampu sudah mati. Tak ada yg berani mendekat.
Suatu hari, Dini seorang jurnalis muda dari kota datang ke desa itu untuk menyusun liputan tentang kehidupan pedesaan. Ia menyewa rumah dekat ladang yg cuma berjarak dua rumah dari tempat tinggal Pak Wiryo. Sejak hari pertama, Dini sudah mendengar bisik-bisik soal bayangan di balik jendela.
"Kalau malam, jangan lihat rumah itu terlalu lama," mengatakan Bu Lurah sambil tersenyum kecut. "Katanya kalau anda terlalu lama menatap jendela itu, anda akan melihat hal yg tidak anda harapkan."
Tentu saja, sebagai jurnalis, Dini menganggap itu cuma mitos. Tapi rasa penasarannya tumbuh. Ia mulai memperhatikan rumah tua itu diam-diam. Dan benar, setiap malam sekitar pukul sembilan, bayangan hitam seperti sosok manusia berdiri diam di balik jendela. Tak bergerak. Tak menoleh.
Hingga suatu malam, Dini nekat mendekat. Ia menunggu hingga pukul setengah sepuluh, lalu diam-diam berjalan menuju sisi rumah Pak Wiryo. Langkahnya perlahan, napasnya ditahan. Ia harap tahu siapa sebenarnya bayangan itu.
Saat ia menoleh ke jendela, **bayangan itu tidak ada**.
Tapi sebelum sempat merasa lega, Dini melihat **matanya sendiri di kaca jendela itupadahal ia belum berdiri tepat di depan kaca.** Dan lebih aneh lagi, **pantulan itu tersenyum**, sementara paras Dini sendiri tidak.
Ia mundur perlahan, lalu lari pulang.
Besok paginya, ia memutuskan memberanikan diri menemui Pak Wiryo. Pria itu membuka pintu dengan mata sembab & suara yg pelan. Rumahnya berdebu, & ada aroma dupa yg menyengat di dalamnya.
"Apa anda melihatnya?" tanya Pak Wiryo tanpa basa-basi.
Dini mengangguk pelan. "Siapa... atau apa itu?"
Pak Wiryo menatap jendela rumahnya yg buram. "Itu adalah anak saya."
Dini terdiam.
"Dulu... saya punya seorang anak perempuan. Namanya Sekar. Ia meninggal di kamar itu, dua belas tahun lalu. Sakit... & saya tak sanggup membawanya ke kota karena hujan deras & tanah longsor menutup jalan."
Ia menarik napas panjang. "Sejak malam itu... setiap jam sembilan malam, dia muncul di jendela. Berdiri diam. Seolah menunggu saya datang mengajaknya bermain, seperti dulu sebelum tidur."
Dini bergidik.
"Sudah banyak yg melihatnya, tetapi cuma orang tertentu yg dapat melihat dia tersenyum," lanjut Pak Wiryo. "Dan kalau anda melihat senyumnya... berarti dia mengizinkan anda bicara dengannya."
Dini merasa tubuhnya menggigil.
"Dan biasanya," mengatakan Pak Wiryo pelan, "orang yg melihat senyumnya akan mimpi berjumpa dengannya... malam ini."
---
Malam itu, Dini tidur dengan lampu menyala. Tapi tetap saja, ia bermimpi. Dalam mimpi itu, ia berada di sebuah taman kecil dengan ayunan kayu. Di sana, seorang anak perempuan kecil duduk, memakai baju putih dengan pita merah di rambutnya.
"Namaku Sekar," katanya dengan senyum lebar. "Kamu teman baru ayahku?"
Dini tidak tahu harus menjawab apa. Ia cuma tersenyum & mengangguk.
"Kalau begitu, tolong hinggakan ke ayah... saya sudah tidak sendiri. Sudah ada banyak teman di sini. Aku bahagia sekarang. Jadi... tak usah bersedih lagi."
Ketika Dini terbangun, mentari sudah tinggi. Ia langsung menuju rumah Pak Wiryo & mengetuk pintu. Lama tak dibuka. Sampai akhirnya tetangga datang memberitahu: **Pak Wiryo ditemukan meninggal dalam tidurnya. Tenang, seperti tersenyum.**
Dini diam terpaku di depan rumah itu. Lalu menatap jendela tempat bayangan itu biasa berdiri.
Hari itu... untuk perdana kalinya sejak dua belas tahun terakhir, **jendela itu benar-benar kosong.**
---