Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Bawang putih & Penyamun adalah dua orang yg sangat berbeda. Pertemuan keduanya tidak cuma menorehkan kisah bahagia, tetapi juga kesedihan. Perbedaan tabiat yg kentara, sering kali merusak pondasi keselarasan yg keduanya rajut , lalu menciptakan kegamangan-kegamangan juga prasangka.
Latar belakang keduanya seperti jumantara & bentala. Si Penyamun terbiasa hidup di jalanan, mengecap hitam, getir kehidupan. Dosa & pahala baginya sama, berkubang dengan maksiat jalan yg dia pilih. Sementara itu, Bawang putih hidup dalam aturan yg baku. Dia begitu naif memuja sayang. Baginya, kepatuhan adalah segalanya, hingga sering berakhir dimanfaatkan orang-orang sekitar.
Satu-satunya yg menciptakan keduanya bertahan adalah persamaan nasib. Mereka acap kali berada di tempat & waktu yg salah. Dipaksa jadi samsak kehidupan, penolakan & hinaan harus mereka telan dalam-dalam. Semesta terus saja menyeringai & menempa keduanya tak terjeda tanpa rasa bersalah & permintaan maaf. Sepertinya takdir memang sengaja mempertemukan dua orang asing itu dalam wadah sayang supaya dapat saling mengisi satu sama lain.
Pertemuan sang Penyamun & Bawang Putih adalah suratan sebagai kehendak Yang Mahakuasa. Mungkin saja nama mereka memang bersanding sebagai dua insan yg harus bersama, saling menguatkan satu dengan yg lainnya. Meskipun, disparitas keduanya seperti Kutub Utara & Selatan
Dua orang dengan tujuan berbeda, tetapi memiliki muara yg sama, kebahagiaan. Bawang putih tertatih berjalan mencari orang-orang yg memiliki hati seperti berlian, yg di dadanya bermukim ketulusan. Sedangkan Penyamun, sangat giat menyusuri terjal & curamnya lorong-lorong kehidupan, layaknya musafir. Dia harap menebus dosa-dosa masa silam.
Penyamun sering berprasangka baik kepada Tuhan. Pertemuan dengan Bawang putih bukanlah kebetulan semata. Dia merasa Dejavu, berharap ada rencana baik Tuhan di balik semua ini. Masih terngiang di benaknya nasihat seseorang dulu, bahwa takdirnya sudah tertulis dengan jelas, sebelum semesta diciptakan. Dia adalah penyeimbang bagi orang-orang di sekitarnya. Dia berharap singgahnya kali ini di hati Bawang putih, jadi sungguh.
Begitupun Bawang Putih. Dia dapat melihat benang merah yg menghubungkan mereka dengan jelas. Tuhan yg Maha membolak-balikkan hati mempertemukan keduanya untuk saling mengisi, menyeimbangkan, & jadi rem saat sang Penyamun tergoda terbawa laju arus kesesatan kembali.
Waktu bergulir, entah Bawang Putih sengaja menguji iman Penyamun dengan mendorongnya kembali ke jalan yg penuh kesesatan. Dia tak dapat menerima hitam masa lalu sang Penyamun yg terus mengusik ketenangannya. Terlalu berat untuknya yg harap menjalani hidup tanpa dibayangi prasangka. Dia tak peduli kalau itu bagian dari seseorang yg dia sayangi, ketakutan lebih akbar dari rasa sayangnya. Kembali, paras sangar si Penyamun menciptakan jantungnya terhenti beberapa detik. Dia kalah oleh perasaan, rela melepas walau berat.
Bawang Putih terlihat sedih, kangen harap kembali ke rumah yg memberikan asa & kebahagiaan dirinya ketika memasukinya, di mana dia datang & ketika pulang membawa terkabulnya harapan.
Sementara sang Penyamun larut dalam kegamangan. Sengajakah Bawang Putih meracuni pikiran-pikirannya supaya kembali jadi sosok bejat? Meskipun sakit hati, dia mengindahkan saran Bawang Putih untuk kembali jadi sesosok iblis, bahwa dia tidak pantas bertobat & mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.
Penyamun bertanya pada dirinya sendiri di depan cermin. "Apakah saya harus kembali menjadi iblis untuk menyenangkan hati Bawang Putih?" Mungkin dia akan mengerjakannya, sebab dianggap baik atau jahat bukan hal penting, dia cuma berharap namanya menggema di penjuru surga.
Namun, surga tak menerima seorang iblis, tetapi surga adalah tempat orang-orang yg sabar, mau berpikir & beramal salih. Penyamun dihadirkan untuk menggenapi skenario Tuhan, dia berpesan dengan menyentuh dada wanita berlesung pipi, "jangan kalah & takut oleh pikiran-pikiranmu sendiri!"
Penyamun cuma dapat memandangi & tersenyum absurd, mana kala Bawang Putih melaju meninggalkan kenang-kenangan dalam sebenarnya sayang ....
Lamongan 3 Oktober 2021
Aamir & Mia
Pak Supir Menulis Lepas Berjiwa Bebas Hari ini 07:46