Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengapresiasi Presiden Joko Widodo yg sudah menetapkan Hari Santri Nasional, Hari Lahir Pancasila 1 Juni, serta membentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Menurutnya, upaya tersebut sudah mencegah penetrasi ideologi asing yg dapat merongrong nasionalisme & ideologi Pancasila.
Kebijakan Presiden ini jadi simbol persenyawaan antara Islam & kebangsaan, sebagaimana kesepakatan awal para pendiri bangsa ketika menerima Pancasila sebagai dasar negara Indonesia Merdeka, mengatakan Basarah dalam keterangannya, Senin (6/12/2021).
Pembentukan BPIP juga sangat penting. Badan ini jadi leading sector pembinaan mental ideologi bangsa, lanjutnya saat membuka Kongres IV Persatuan Alumni atau PA GMN yg berlangsung di Bandung dengan tema Nasionalisme Menjawab Tantangan Zaman.
Basarah menjelaskan sebagai sebuah ideologi bangsa, Pancasila bukan tanpa tantangan. Dari barat misalnya, adanya sejumlah ilmuwan sosial yg menyatakan pertarungan ideologi sudah berakhir. Dan dunia cuma didominasi liberalisme-kapitalisme sebagai pemenang pasca runtuhnya Uni Soviet & Tembok Berlin.
Pandangan ini, lanjut Ketua Fraksi PDI Perjuangan itu, antara lain dihinggakan Daniel Bell yg menulis The End of Ideology & Francis Fukuyama yg menulis The End of History. Dalam buku tersebut, Fukuyama bahkan dinilai sangat yakin kapitalisme liberal jadi akhir sejarah umat manusia & liberalisme kapitalisme keluar sebagai pemenangnya.
Namun, klaim-klaim kemenangan ideologi seperti itu tanpa disadari justru jadi antithesis kebangkitan radikalisme & ekstremisme di sisi lain termasuk di negara kita, terang Basarah.
Ketua DPP PDI Perjuangan itu menyebut kelompok ini kerap mengungkapkan pandangan & tindakan yg radikal serta ekstrem, yg dikonstruksi atas tafsir keagamaan yg sempit. Ekstremisme agama ini lalu melahirkan politik anti semua, kecuali pada kelompok & keyakinan mereka.
Mereka menolak & memusuhi sistem sosial yg multikultural, Pancasila, NKRI, hingga pemerintahan yg menjalankan mandat rakyat yg dipilih secara demokratis. Tapi, anehnya, beberapa mereka menerapkan standar ganda memanfaatkan demokrasi, HAM, kemajuan teknologi informasi, serta media sosial untuk mewujudkan cita-cita perjuangan mereka, paparnya.
Dikatakannya, Sekjen Presidium GMNI 1996-1999 yg aktif dalam Gerakan Reformasi 1998 itu menganggap kondisi tersebut mengkhawatirkan. Sehingga mereka mengpakai strategi Kudeta Merangkak Konstitusional dengan memanfaatkan hak bicara, berkumpul, mengeluarkan pendapat secara lisan & tulisan untuk menyerang pemerintah yg sah & simbol-simbol negara lainnya. Serta mempropagandakan ideologi mereka kepada generasi muda. Adapun target yg diincar yaitu hancurnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Untuk itu, Basarah meminta Golongan Kebangsaan & Golongan Islam terus memperkuat sinergi. Kemudian bekerja sama dengan TNI/Polri untuk mengatasi ancaman ideologi bangsa.
Basarah mengatakan berdasarkan catatan historis, sinergi ketiga elemen strategis bangsa Indonesia ini terbukti berhasil merebut & mempertahankan kemerdekaan, nasionalisme, & ideologi Pancasila dari semua halangan.
Sebagai informasi, kongres IV PA GMNI digelar dengan sistem hybrid & diikuti secara langsung oleh 34 DPD PA GMNI dari seluruh Indonesia & 258 DPC secara virtual. Turut hadir dalam pembukaan Kongres tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi), Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Koperasi Teten Masduki, Hakim MK Arief Hidayat, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, & sejumlah alumni GMNI seperti, Guntur Soekarno, Theo Sambuaga, Palar Batubara & lain-lain
Kemarin 23:48