Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Waktu saya kecil, kehidupan di rumah kami sudah dimulai sejak pukul 3 pagi. Maklum, kami punya warung kecil yg menjual berbagai kebutuhan rumah tangga.
Dari sayuran pasar basah hingga minyak tanah, semua tersedia. Kakak-kakak yg sudah akbar menciptakan aneka penganan, yg lebih muda beberes rumah. Ada pula yg ke pasar pagi untuk belanja isi warung.
Di rumah lain, sering kudengar cerita. Ketika semua perempuan sibuk bekerja, yg laki-laki cuma tidur-tiduran menunggu waktunya makan. Di rumahku? Jangan harap!
Almarhum Bapak biasa mandi sebelum azan Subuh. Anak laki-lakinya menolong ke pasar atau ikut membersihkan rumah.
Setelah mandi, Bapak menciptakan sarapan, baru pergi bekerja. Sebelum saya lahir, menurut cerita kakak-kakak, Bapaklah yg mengurus mereka. Karena ibuku harus mengurusi beberapa dagangan dari luar kota.
Bapak tidak sekolah, tak paham dunia parenting. Dan seperti bapak-bapak jadul umumnya, ditakuti oleh anak-anak karena suaranya keras, serta lebih sering memukul daripada Mamak.
Tapi di balik segala kelemahan beliau. Kebiasaan mandi pagi & tidur sejenak yg beliau punya, sepertinya menular pada hampir semua anaknya.
Seperti yg kusebut di atas, beliau biasa mandi sebelum subuh. Siang atau sore sepulang kerja, biasanya Bapak tidur sejenak sekadar melepas lelah. Tidak seperti mengatakan orang-orang, yg menyebut laki-laki tidur lebih dalam & dengan durasi yg lebih panjang.
Bapak tidur siang tidak lebih dari 30 menit. Setelah kantuknya hilang, beliau membereskan apa saja yg perlu dibereskan. Bukan cuma urusan paku memaku yg khas laki-laki, Bapak bahkan biasa memasak, menyapu rumah & halaman, hingga mencuci gayung serta ember di kamar mandi. Intinya beliau tak dapat diam.
Karena banyak bergerak di siang hari, malamnya Bapak lebih cepat tidur. Beliau nyaris tak pernah begadang sehingga dapat bangun pagi lebih cepat. Kalau soal rajinnya, tidak semua kami mewarisi. Tapi kebiasaan tidurnya menurun ke seluruh anak-anak Bapak.
Ada satu kisah yg berulang-ulang diceritakan ibuku. Kisah yg memosisikan almarhum Bapak sebagai pahlawan abadi di hatiku.
Waktu anda kecil, mengatakan Mamak. Kamu itu kayak orang bengek. Kalau bernapas dadamu bunyi ngik. Kata orang, obatnya susu kambing segar. Tiap hari Bapakmu nyari kambing yg menyusui untuk diminta susunya. Tapi dak ketemu.
Sampai suatu hari, waktu itu hujan. Ada kambing orang lepas, Bapakmu lihat itu kambing mimiknya berisi. Jadi dia kejar kambing itu hingga jatuh-jatuh. Dia tangkap, langsung diperah susunya & diwadahi plastik.
Waktu itu anda masih dibedong. Bapak bawa pulang susu kambing seplastik kecil, jadinya cuma sesendok teh, & langsung diminumkan ke anaknya. Setelah minum susu kambing itulah, hingga sekarang napasmu dak bunyi lagi.
Jadi setiap saya kesal pada Bapak, waktu remaja dulu, kakak-kakak sering mengingatkan. Oi, ingat! Bapak ngejar kambing untuk kau! sambil bercanda tentunya.
Manfaat susu kambing untuk pernapasan saya pernah baca, tetapi apakah memang yg langsung ambil dari sumbernya gitu?
Entah memang gara-gara susu kambing atau sugesti, terserahlah. Yang jelas kejadian itu membuktikan betapa akbar sayang Bapak pada anaknya. Semoga beliau pun disayang Allah di tempatnya saat ini. Aamiin.
(Foto merupakan dokumentasi pribadi, diambil tahun 2008. 4 tahun sebelum Bapak wafat).
Hari ini 19:23