• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Bapak, Pahlawan Tanpa Senjata

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Bapak, Pahlawan Tanpa Senjata


Jika mendengar mengatakan merdeka, tentunya kita tak dapat melupakan mengatakan pahlawan. Ya, dua mengatakan itu saling berhubungan. Indonesia merdeka karena adanya para pejuang yg memperjuangkannya, tak peduli nyawa melayang, tak peduli tubuh sudah berlumur darah, asal Indonesia mendapatkan haknya untuk merdeka. Ya, segitu sayangnya para pejuang kepada negara ini, sehingga tanggal 10 November ditetapkan sebagai hari pahlawan untuk menghargai jasa-jasa mereka.

Indonesia memang sudah merdeka sejak 1945, tetapi sosok para pahlawan masih banyak di sekitar kita, bahkan begitu dekat dengan saya.

Ketika lahir, saya tidak ingat apakah hari itu Sang Kuasa memberi opsi pada saya untuk keluar dari rahim yg mana. Hari itu, mungkin saya menangis hebat, seperti kebanyakan bayi yg baru lahir. Lalu, dengan bahagia mereka menyambut kedatangan saya. Mungkin begitu cerita awalnya saya mengenal para pahlawan-pahlawan ini.

Bapak, Pahlawan Tanpa Senjata


Para pahlawan yg saya maksud adalah keluarga, Bapak, Ibu, abang, kakak, & semuanya. Mereka adalah pahlawan hebat bagi saya, khususnya Bapak & Ibu.

Pernah suatu hari, Bapak mengantarkan saya ke sekolah. Waktu itu, saya duduk di bangku kelas dua Madrasah Aliyah. Karena, jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat, saya meminta Bapak untuk lebih sedikit kencang.

Niat awal harap cepat hingga, berujung pada sebuah kecelakaan yg tak dapat dielakkan lagi. Sepeda motor yg dibawa Bapak, menabrak sepeda motor yg ada di depannya. Dua sepeda motor saling jatuh, sedangkan kami masing-masing sudah tergelincir hingga beram aspal.

Orang-orang yg ada tepat di tempat kejadian, dengan sigap membantu. Ternyata, sepeda motor yg tadinya kami tabrak adalah milik wakil kepala sekolahku, yg juga hendak mengantarkan anaknya ke sekolah dengan seragam sekolah dasar. Setelah memohon maaf pada bapak itu & berjanji akan bertanggung jawab, kami kembali.

Di sepanjang jalan, Bapak terus saja mengkhawatarikanku.

Gita, nggak papa?

Itu lututnya sakit, nggak?

Aku lupa, apa lagi yg diucapkan Bapak saat itu. Namun, saya masih ingat betul, saat Bapak sibuk mengkhawatirkan luka di lutut kakiku yg tidak seberapa parah, mulutnya terluka hebat bahkan hingga mengeluarkan darah.

Ya, karena saat kejadian itu, posisi Bapak tersungkur seperti mencium aspal jalan. Lalu kaki sebelah juga tertimpa oleh sepeda motor. Namun, ia cuma memperdulikan lukaku yg tak seberapa itu. Mengabaikan rasa sakit yg ada di sekitar wajah.

Bapak, Pahlawan Tanpa Senjata


Itu hanyalah secuil dari banyaknya kisah yg terjadi antara saya & Bapak. Kejadian itu sudah berlalu sekitar lima tahun lalu, tetapi kalau saya mengingatnya kembali, air mata sering menetes. Bapak adalah pahlawan untukku, untuk kami sebagai anak-anaknya.

Semoga beliau diberi kesehatan & kebahagian. Bapak pahlawanku, siapa pahlawanmu?

Narasi pribadi
Foto pribadi
Pengalaman pribadi
Hari ini 11:40
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.