Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
1 september 1939
Polandia yg malang
Tiba tiba punggawa jerman keluar wilayah kekuasaan mereka menuju Polandia dari arah utara,selatan & barat menyerbu tanpa ampun
Nasib sial Polandia seakan sudah tertakdirkan
Segera sahaja britania raya & prancis menyatakan dukungan mereka kepada Polandia,perang dunia kedua pun dimulai
Perang dengan korban jutaan tentara, sipil bahkan anak anak & wanita
Perang terbesar yg pernah dialami umat manusia, apakah ini akan berakhir & jadi perang yg ke terakhir kalinya?
Semua manusia pasti akan menjawab dengan asa tinggi
"Ya diharapkan ini yg terakhir kali, kami muak dengan semua ini"
Iblis pun tertawa
Apakah manusia tidak dapat berlepas diri dengan apa yg namanya perang, konflik maupun kekerasan?
Perang besar, perang menghancurkan jutaan manusia, harapan, cita cita untuk menjadikan perang dunia perdana sebagai the end of the war to end of all war musnah dalam hitungan puluhan tahun.
Setelahnya
Perang vietnam,perang afghanistan,invasi soviet ke afghanistan,perang antara irak & iran,konflik di bosnia & berbagai macam kekerasan kalau disebutkan satu satu, habis kolom tulisannya dimari
Banyak yg sayang damai tetapi malah perang semakin ramai!
Bingung
Tentu kita khususnya saya ndak dapat mengklaim dengan tegas bahwa manusia adalah makhluk yg sayang damai atau makhluk yg sayang perang?
Mungkin agan agan dimari ada yg dapat menilai dengan tegas kalau manusia adalah makhluk yg sangat sayang damai
Jika agan dapat menjelaskan & menerangkan alasannya, ane salut dengan agan.....semoga alasan agan ini adalah termasuk doa untuk mewujudkan dunia yg damai penuh tentram tanpa peperangan dihari esok.
Konflik & kekerasan antar manusia terus berlanjut, karena kita adalah ksatria yg tak mau terhina & diremehkan, alasan yg tak masuk akal
Semakin majunya umat manusia bukanlah semakin mendorong kita untuk maju dibidang perdamaian dunia
Konflik terbarunya dapat dicontohkan dengan yg terbaru di Ukraina
Kemajuan teknologi beberapa sangat bermanfaat untuk manusia, beberapa lagi adalah cara yg cepat & efektif untuk membunuh, manusia sebanyak banyaknya
Ada juga yg berpendapat bahwa peperangan yg terjadi adalah keniscayaan untuk mendorong manusia semakin maju
Alasan yg mengherankan untuk TS
Tapi mereka mengatakan itu dengan bukti kuat,penicilin,roket v1 & banyak lainnya adalah buktinya
Alasan yg masuk akal sehingga kita terpaksa harus menutup angan angan dunia yg damai & tentram tanpa kekerasan untuk jangka waktu yg sangat lama, selama anda harap maju.....berperanglah
Spoiler for sumber perang:
Banyak yg Cinta Damai tetapi Kenapa Perang Makin Ramai?
Apakah itu manusia dasarnya tak dapat lepas dari kekerasan?
Sejarah peradaban manusia, yg muncul setidaknya antara 3.000 hingga 4.000 tahun yg lalu, adalah sejarah konflik yg seringkali berdarah. Apakah benar kita ditakdirkan jadi penganut kekerasan?
Dikutip dari LiveScience sebanyak 1 miliar orang diperkirakan tewas akibat langsung dari perang.
Perang modern pun terus berlanjut dengan bantuan teknologi. Yang terkini adalah di Ukraina akibat pencaplokan Rusia. Korea Utara masih berancang-ancang sambil 'mengasah' rudal yg diklaim berhulu ledak nuklir.
Para pakar mengungkap sumber masalah itu ada pada naluri kekerasan. Studi pada 2014 yg diterbitkan di jurnal Nature mencatat kekerasan adalah sifat biasa yg ditemukan dalam kerabat primata terdekat kita yg masih hidup, yaitu simpanse (Pan troglodytes).
Fakta itu menunjukkan kekerasan mungkin jadi bagian dari 'repertoar' manusia, setidaknya sejak nenek moyang terakhir kita hidup dengan simpanse sekitar 8 juta tahun yg lalu.
David C. Geary, ilmuwan kognitif & psikolog evolusioner di University of Missouri di Columbia, mengatakan sudah sangat jelas bahwa kekerasan lazim selama manusia ada.
"Kekerasan adalah penggerak beberapa akbar sejarah manusia. Semua kerajaan awal umat manusia dibangun melalui intimidasi & kekerasan," mengatakan dia.
Selain itu ada pula bukti serangan sebelum catatan sejarah, yaitu tulang-belulang yg jadi dengan bukti kematian lewat cara kekejaman.
Seorang psikolog evolusioner di University of Guelph di Ontario, Kanada, Pat Barclay mengungkapkan buktu berupa titik panah tertanam atau tengkorak manusia purba yg ditusuk.
Temuan itu menunjukkan kekerasan mendahului masyarakat yg kompleks & jadi kebangkitan peradaban.
Di sisi lain, mengatakan Barclay, tingkat kekerasan bervariasi di seluruh budaya & komunitas. Itu menunjukkan kekerasan dapat dinaikkan atau diturunkan secara dramatis pada spesies kita.
Orang-orang nomaden misalnya, cenderung memiliki tingkat kekerasan antarmanusia mematikan yg lebih rendah. Sementara wilayah yg penuh dengan populasi masyarakat, cenderung menjarah & menaklukkan sesama jenis.
Tidak mengherankan memiliki tingkat kekerasan yg lebih tinggi, & budaya Amerika modern dinilai lebih keras daripada kebanyakan orang di Eropa.
"Ada ragam yg luas dalam tingkat kekerasan - urutan disparitas besarnya," mengatakan Barclay.
"Dalam beberapa catatan masyarakat tertentu, setengah dari semua laki-laki mati dengan kekerasan di tangan laki-laki lain. Di masyarakat lain, kekerasan fisik sangat jarang, seperti di Jepang."
Kekerasan cenderung melahirkan budaya, di mana konflik sering terjadi lebih mungkin mengalami kekerasan dari generasi ke generasi.
Di samping itu dalam jurnal yg diterbitkan 2015 oleh Ahli biologi David Carrier mengungkapkan struktur tangan manusia sebagai senjata yg paling efektif untuk mengerjakan kekerasan.
Carrier menunjukkan bahwa kepalan yg ditopang, dengan ibu jari tertutup pada jari telunjuk & jari tengah, memberikan cara yg lebih kondusif untuk memukul seseorang dengan paksa.
"Serangkaian karakteristik pembeda yg konsisten dengan ide bahwa kita terspesialisasi, pada tingkat tertentu, untuk perilaku agresif," ujarnya, dikutip dari Scientific American.
Ahli epidemiologi University of Illinois Gary Slutkin menilai, dengan cara ini kekerasan ditularkan sebagai penyakit menular.
Brad Evans, profesor politik kekerasan di University of Bath Inggris, mengatakan orang-orang di komunitas yg paling progresif & damai pun sanggup mengerjakan kekerasan.
"Orang biasa, yg taat hukum dapat dengan cepat berubah jadi monster begitu kondisi berubah; sama halnya, beberapa orang yg paling tidak disukai dapat berakhir dengan menunjukkan tindakan kebaikan yg luar biasa," ujarnya.
Tidak ada rumus yg jelas mengapa seseorang bertindak dengan cara kekerasan. Dan itulah alasan kenapa masalah kekerasan jadi sangat rumit.
Menurut Barclay & Evans, tindakan kekerasan akan jauh lebih mudah dilakukan kalau perseorangan yg mengerjakan kekerasan berada jauh dari korbannya. Bahwa, jauh lebih mudah untuk menekan tombol peluncuran rudal nuklir daripada secara fisik & langsung mengerjakan serangan mematikan.
Bagaimana menurut agan, apakah ada sarana yg tepat hari ini untuk mencegah perang di esok hari?
Apapun alasan untuk perperang maka adalah alasan yg buruk karena perang adalah kejahatan
Semoga kita sering dihindarkan dari perang tak pernah mengalami negara dalam kondisi perang, kalau berkaca pada mereka yg mengalaminya maka saat saat berperang adalah saat saat yg paling suram dalam hidup manusia
Damai Indonesiaku
Jika ada salah & kekurangan dalam menciptakan tulisan mohon dikritik,karena bermanfaat untuk saya
Semoga tulisan ini bermanfaat juga untuk yg membacanya
Tulisan sendiri : @amekachi
Sumber tulisan & gambar :
Sumber gambar judul :
Sumber gambar lainnya :
Spoiler for cerita tentang gambar judul di thread :
Warsawa, 13 September 1939, dua anak gadis sedang mencari kentang ketika pesawat tempur Jerman mendekat & melepaskan tembakan yg menewaskan satu orang. Seorang fotografer asal AS mengabadikan momen tersebut.
"Ada rumah kayu di sana. Saat pesawat mendekat, Andzia berlari masuk," mengatakan Kazimiera "Kazia" Mika kepada Eugeniusz Starky, sutradara film "Koresponden Bryan," pada 2010.
Pada hari itu, 13 September 1939, bom Jerman berjatuhan di rumah tersebut. Andzia Kostewicz & yg lainnya melarikan diri. Meski dalam bahaya, mereka masih sempat mencoba mengambil kentang dari ladang. Kondisi lapar mengalahkan rasa takut mereka.
Pilot terbang rendah & lambat sehingga dapat melihat keberadaan seorang wanita & gadis remaja di tanah lapang. Namun mereka masih melepaskan tembakan. "Bahkan saat ini, meski sudah bertahun-tahun, saya tetap tidak dapat memaafkan mereka," mengatakan Kazia.
Saat peluru beterbangan, Andzia tertembak di leher & pecahan peluru merobek bahunya. Beberapa detik kemudian, Kazia yg saat itu berusia 12 tahun berlutut di atas tubuh adiknya yg terluka. Dia tidak tahu apa yg terjadi - itu adalah pertemuan pertamanya dengan kematian. Tidak berselang lama Andzia tewas.
Fotografer Amerika Serikat Julien Bryan bersama Kazimiera Mika yg berusia 12 tahunFoto: United States Holocaust Memorial Museum Collection, Gift of the Julien Bryan Archive
Ketika pesawat sudah pergi, fotografer asal Amerika Serikat (AS) Julien Bryan mendekat. Dia berada di Polandia untuk mendokumentasikan hari-hari perdana Perang Dunia II.
Ketika itu Bryan melihat tubuh tak bernyawa seorang wanita yg tergeletak di tanah & di sampingnya ada seorang anak dengan paras kosong. Tidak jauh dari situ, dia melihat Kazia berbicara dengan saudara perempuannya yg sudah meninggal. Bryan memotret & merekam peristiwa sedih itu.
"Dia memandang kami, tertegun. Saya menggendongnya. Dia menangis. Saya juga menangis, begitu pula para perwira Polandia yg ada di sana bersamaku. Apa yg dapat mereka jelaskan kepada anak itu?" ucap Bryan.
Bonus :
Spoiler for Indonesia penjaga perdamaian dunia:
Hari ini 10:33
Polandia yg malang
Tiba tiba punggawa jerman keluar wilayah kekuasaan mereka menuju Polandia dari arah utara,selatan & barat menyerbu tanpa ampun
Nasib sial Polandia seakan sudah tertakdirkan
Segera sahaja britania raya & prancis menyatakan dukungan mereka kepada Polandia,perang dunia kedua pun dimulai
Perang dengan korban jutaan tentara, sipil bahkan anak anak & wanita
Perang terbesar yg pernah dialami umat manusia, apakah ini akan berakhir & jadi perang yg ke terakhir kalinya?
Semua manusia pasti akan menjawab dengan asa tinggi
"Ya diharapkan ini yg terakhir kali, kami muak dengan semua ini"
Iblis pun tertawa
Apakah manusia tidak dapat berlepas diri dengan apa yg namanya perang, konflik maupun kekerasan?
Perang besar, perang menghancurkan jutaan manusia, harapan, cita cita untuk menjadikan perang dunia perdana sebagai the end of the war to end of all war musnah dalam hitungan puluhan tahun.
Setelahnya
Perang vietnam,perang afghanistan,invasi soviet ke afghanistan,perang antara irak & iran,konflik di bosnia & berbagai macam kekerasan kalau disebutkan satu satu, habis kolom tulisannya dimari
Banyak yg sayang damai tetapi malah perang semakin ramai!
Bingung
Tentu kita khususnya saya ndak dapat mengklaim dengan tegas bahwa manusia adalah makhluk yg sayang damai atau makhluk yg sayang perang?
Mungkin agan agan dimari ada yg dapat menilai dengan tegas kalau manusia adalah makhluk yg sangat sayang damai
Jika agan dapat menjelaskan & menerangkan alasannya, ane salut dengan agan.....semoga alasan agan ini adalah termasuk doa untuk mewujudkan dunia yg damai penuh tentram tanpa peperangan dihari esok.
Konflik & kekerasan antar manusia terus berlanjut, karena kita adalah ksatria yg tak mau terhina & diremehkan, alasan yg tak masuk akal
Semakin majunya umat manusia bukanlah semakin mendorong kita untuk maju dibidang perdamaian dunia
Konflik terbarunya dapat dicontohkan dengan yg terbaru di Ukraina
Kemajuan teknologi beberapa sangat bermanfaat untuk manusia, beberapa lagi adalah cara yg cepat & efektif untuk membunuh, manusia sebanyak banyaknya
Ada juga yg berpendapat bahwa peperangan yg terjadi adalah keniscayaan untuk mendorong manusia semakin maju
Alasan yg mengherankan untuk TS
Tapi mereka mengatakan itu dengan bukti kuat,penicilin,roket v1 & banyak lainnya adalah buktinya
Alasan yg masuk akal sehingga kita terpaksa harus menutup angan angan dunia yg damai & tentram tanpa kekerasan untuk jangka waktu yg sangat lama, selama anda harap maju.....berperanglah
Spoiler for sumber perang:
Banyak yg Cinta Damai tetapi Kenapa Perang Makin Ramai?
Apakah itu manusia dasarnya tak dapat lepas dari kekerasan?
Sejarah peradaban manusia, yg muncul setidaknya antara 3.000 hingga 4.000 tahun yg lalu, adalah sejarah konflik yg seringkali berdarah. Apakah benar kita ditakdirkan jadi penganut kekerasan?
Dikutip dari LiveScience sebanyak 1 miliar orang diperkirakan tewas akibat langsung dari perang.
Perang modern pun terus berlanjut dengan bantuan teknologi. Yang terkini adalah di Ukraina akibat pencaplokan Rusia. Korea Utara masih berancang-ancang sambil 'mengasah' rudal yg diklaim berhulu ledak nuklir.
Para pakar mengungkap sumber masalah itu ada pada naluri kekerasan. Studi pada 2014 yg diterbitkan di jurnal Nature mencatat kekerasan adalah sifat biasa yg ditemukan dalam kerabat primata terdekat kita yg masih hidup, yaitu simpanse (Pan troglodytes).
Fakta itu menunjukkan kekerasan mungkin jadi bagian dari 'repertoar' manusia, setidaknya sejak nenek moyang terakhir kita hidup dengan simpanse sekitar 8 juta tahun yg lalu.
David C. Geary, ilmuwan kognitif & psikolog evolusioner di University of Missouri di Columbia, mengatakan sudah sangat jelas bahwa kekerasan lazim selama manusia ada.
"Kekerasan adalah penggerak beberapa akbar sejarah manusia. Semua kerajaan awal umat manusia dibangun melalui intimidasi & kekerasan," mengatakan dia.
Selain itu ada pula bukti serangan sebelum catatan sejarah, yaitu tulang-belulang yg jadi dengan bukti kematian lewat cara kekejaman.
Seorang psikolog evolusioner di University of Guelph di Ontario, Kanada, Pat Barclay mengungkapkan buktu berupa titik panah tertanam atau tengkorak manusia purba yg ditusuk.
Temuan itu menunjukkan kekerasan mendahului masyarakat yg kompleks & jadi kebangkitan peradaban.
Di sisi lain, mengatakan Barclay, tingkat kekerasan bervariasi di seluruh budaya & komunitas. Itu menunjukkan kekerasan dapat dinaikkan atau diturunkan secara dramatis pada spesies kita.
Orang-orang nomaden misalnya, cenderung memiliki tingkat kekerasan antarmanusia mematikan yg lebih rendah. Sementara wilayah yg penuh dengan populasi masyarakat, cenderung menjarah & menaklukkan sesama jenis.
Tidak mengherankan memiliki tingkat kekerasan yg lebih tinggi, & budaya Amerika modern dinilai lebih keras daripada kebanyakan orang di Eropa.
"Ada ragam yg luas dalam tingkat kekerasan - urutan disparitas besarnya," mengatakan Barclay.
"Dalam beberapa catatan masyarakat tertentu, setengah dari semua laki-laki mati dengan kekerasan di tangan laki-laki lain. Di masyarakat lain, kekerasan fisik sangat jarang, seperti di Jepang."
Kekerasan cenderung melahirkan budaya, di mana konflik sering terjadi lebih mungkin mengalami kekerasan dari generasi ke generasi.
Di samping itu dalam jurnal yg diterbitkan 2015 oleh Ahli biologi David Carrier mengungkapkan struktur tangan manusia sebagai senjata yg paling efektif untuk mengerjakan kekerasan.
Carrier menunjukkan bahwa kepalan yg ditopang, dengan ibu jari tertutup pada jari telunjuk & jari tengah, memberikan cara yg lebih kondusif untuk memukul seseorang dengan paksa.
"Serangkaian karakteristik pembeda yg konsisten dengan ide bahwa kita terspesialisasi, pada tingkat tertentu, untuk perilaku agresif," ujarnya, dikutip dari Scientific American.
Ahli epidemiologi University of Illinois Gary Slutkin menilai, dengan cara ini kekerasan ditularkan sebagai penyakit menular.
Brad Evans, profesor politik kekerasan di University of Bath Inggris, mengatakan orang-orang di komunitas yg paling progresif & damai pun sanggup mengerjakan kekerasan.
"Orang biasa, yg taat hukum dapat dengan cepat berubah jadi monster begitu kondisi berubah; sama halnya, beberapa orang yg paling tidak disukai dapat berakhir dengan menunjukkan tindakan kebaikan yg luar biasa," ujarnya.
Tidak ada rumus yg jelas mengapa seseorang bertindak dengan cara kekerasan. Dan itulah alasan kenapa masalah kekerasan jadi sangat rumit.
Menurut Barclay & Evans, tindakan kekerasan akan jauh lebih mudah dilakukan kalau perseorangan yg mengerjakan kekerasan berada jauh dari korbannya. Bahwa, jauh lebih mudah untuk menekan tombol peluncuran rudal nuklir daripada secara fisik & langsung mengerjakan serangan mematikan.
Bagaimana menurut agan, apakah ada sarana yg tepat hari ini untuk mencegah perang di esok hari?
Apapun alasan untuk perperang maka adalah alasan yg buruk karena perang adalah kejahatan
Semoga kita sering dihindarkan dari perang tak pernah mengalami negara dalam kondisi perang, kalau berkaca pada mereka yg mengalaminya maka saat saat berperang adalah saat saat yg paling suram dalam hidup manusia
Damai Indonesiaku
Jika ada salah & kekurangan dalam menciptakan tulisan mohon dikritik,karena bermanfaat untuk saya
Semoga tulisan ini bermanfaat juga untuk yg membacanya
Tulisan sendiri : @amekachi
Sumber tulisan & gambar :
Redirect Notice
www.google.com
Sumber gambar judul :
Sumber gambar lainnya :
Redirect Notice
www.google.com
Spoiler for cerita tentang gambar judul di thread :
Warsawa, 13 September 1939, dua anak gadis sedang mencari kentang ketika pesawat tempur Jerman mendekat & melepaskan tembakan yg menewaskan satu orang. Seorang fotografer asal AS mengabadikan momen tersebut.
"Ada rumah kayu di sana. Saat pesawat mendekat, Andzia berlari masuk," mengatakan Kazimiera "Kazia" Mika kepada Eugeniusz Starky, sutradara film "Koresponden Bryan," pada 2010.
Pada hari itu, 13 September 1939, bom Jerman berjatuhan di rumah tersebut. Andzia Kostewicz & yg lainnya melarikan diri. Meski dalam bahaya, mereka masih sempat mencoba mengambil kentang dari ladang. Kondisi lapar mengalahkan rasa takut mereka.
Pilot terbang rendah & lambat sehingga dapat melihat keberadaan seorang wanita & gadis remaja di tanah lapang. Namun mereka masih melepaskan tembakan. "Bahkan saat ini, meski sudah bertahun-tahun, saya tetap tidak dapat memaafkan mereka," mengatakan Kazia.
Saat peluru beterbangan, Andzia tertembak di leher & pecahan peluru merobek bahunya. Beberapa detik kemudian, Kazia yg saat itu berusia 12 tahun berlutut di atas tubuh adiknya yg terluka. Dia tidak tahu apa yg terjadi - itu adalah pertemuan pertamanya dengan kematian. Tidak berselang lama Andzia tewas.
Fotografer Amerika Serikat Julien Bryan bersama Kazimiera Mika yg berusia 12 tahunFoto: United States Holocaust Memorial Museum Collection, Gift of the Julien Bryan Archive
Ketika pesawat sudah pergi, fotografer asal Amerika Serikat (AS) Julien Bryan mendekat. Dia berada di Polandia untuk mendokumentasikan hari-hari perdana Perang Dunia II.
Ketika itu Bryan melihat tubuh tak bernyawa seorang wanita yg tergeletak di tanah & di sampingnya ada seorang anak dengan paras kosong. Tidak jauh dari situ, dia melihat Kazia berbicara dengan saudara perempuannya yg sudah meninggal. Bryan memotret & merekam peristiwa sedih itu.
"Dia memandang kami, tertegun. Saya menggendongnya. Dia menangis. Saya juga menangis, begitu pula para perwira Polandia yg ada di sana bersamaku. Apa yg dapat mereka jelaskan kepada anak itu?" ucap Bryan.
Bonus :
Spoiler for Indonesia penjaga perdamaian dunia:
Hari ini 10:33