yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Dibanding dengan duduk berjam-jam, istirahat dengan berjalan kaki tiap 20 menit ternyata dapat membantu menurunkan kadar glukosa dan insulin setelah makan. Hasil studi yang baru dipublikasikan dalam jurnal "Diabetes Care" ini seolah menegaskan bahaya duduk terlalu lama bagi tubuh.
"Saat kita duduk, otot kita berada dalam keadaan tidak digunakan. Otot tidak berkontraksi dan juga tidak membantu tubuh kita melakukan proses metabolisme," kata David Dunstan, profesor dari Baker IDI Heart and Diabetes Institute di Melbourne, Australia.
Mengutip kantor berita Reuters, Kamis 8 Maret 2012, Dunstan dan rekan-rekannya menjadikan 19 orang dewasa yang kelebihan berat badan dan jarang olahraga sebagai sampel penelitian. Mereka diminta duduk selama tujuh jam sementara kadar gula darah dan insulin mereka diperiksa setiap jam.
Setelah dua jam, mereka diberi minuman dengan kandungan lemak dan gula yang tinggi, kemudian harus duduk lagi selama lima jam. Tiap orang diuji selama tiga hari, dengan jeda selama seminggu atau dua minggu.
Pada satu hari, mereka diharuskan duduk dan hanya boleh istirahat untuk ke kamar kecil. Hari berikutnya, mereka boleh istirahat tiap 20 menit sekali dengan berjalan selama dua menit setelah minum. Di hari selanjutnya, mereka beristirahat dengan cara yang sama, namun disibukkan dengan aktivitas yang lebih banyak.
Hasilnya, kadar gula darah meningkat selama dua jam setelah minum. Namun peningkatan lebih tajam terjadi saat orang kembali duduk jika dibandingkan dengan bergerak. Hal yang sama berlaku juga untuk insulin.
"Apa yang mengejutkan saya dalam studi ini bukan tentang betapa bagusnya istirahat, namun tentang buruknya duduk terlalu lama," kata Barry Braun, profesor dari University of Massachusetts.
Namun Dunstan menyatakan, penilaian itu diperoleh dalam studi yang hanya diadakan selama sehari. "Pertanyaannya adalah, dapatkah penurunan kadar gula darah dan insulin ini dicapai secara reguler?" katanya
• VIVAnews
"Saat kita duduk, otot kita berada dalam keadaan tidak digunakan. Otot tidak berkontraksi dan juga tidak membantu tubuh kita melakukan proses metabolisme," kata David Dunstan, profesor dari Baker IDI Heart and Diabetes Institute di Melbourne, Australia.
Mengutip kantor berita Reuters, Kamis 8 Maret 2012, Dunstan dan rekan-rekannya menjadikan 19 orang dewasa yang kelebihan berat badan dan jarang olahraga sebagai sampel penelitian. Mereka diminta duduk selama tujuh jam sementara kadar gula darah dan insulin mereka diperiksa setiap jam.
Setelah dua jam, mereka diberi minuman dengan kandungan lemak dan gula yang tinggi, kemudian harus duduk lagi selama lima jam. Tiap orang diuji selama tiga hari, dengan jeda selama seminggu atau dua minggu.
Pada satu hari, mereka diharuskan duduk dan hanya boleh istirahat untuk ke kamar kecil. Hari berikutnya, mereka boleh istirahat tiap 20 menit sekali dengan berjalan selama dua menit setelah minum. Di hari selanjutnya, mereka beristirahat dengan cara yang sama, namun disibukkan dengan aktivitas yang lebih banyak.
Hasilnya, kadar gula darah meningkat selama dua jam setelah minum. Namun peningkatan lebih tajam terjadi saat orang kembali duduk jika dibandingkan dengan bergerak. Hal yang sama berlaku juga untuk insulin.
"Apa yang mengejutkan saya dalam studi ini bukan tentang betapa bagusnya istirahat, namun tentang buruknya duduk terlalu lama," kata Barry Braun, profesor dari University of Massachusetts.
Namun Dunstan menyatakan, penilaian itu diperoleh dalam studi yang hanya diadakan selama sehari. "Pertanyaannya adalah, dapatkah penurunan kadar gula darah dan insulin ini dicapai secara reguler?" katanya
• VIVAnews