Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Ada dua orang sahabat sedang berdiskusi bagaimana cara supaya dirinya dapat terkenal dengan cara popularitasnya naik secara cepat, si Gendatz punya ide ngajak si Kerempeng Tonggos ke dukun syar'i meminta nasehat spiritual.
Akhirnya si Kerempeng Tonggos bersepakat dengan ide si Gendatz. Dan berangkatlah mereka hingga hingga ke desa di daerah pegunungan. Si Gendatz tidak patah semangat meski harus melewati rawa-rawa & jalan curam licin yg menciptakan dirinya hingga terjatuh menggelinding seperti bola bekel.
Si Kerempeng Tonggos mulai mengeluh, tetapi demi popularitas, semangatnya kembali bangkit. Dua orang gila sanjung puji tersebut akhirnya hingga di rumah dukun syar'i yg kondisinya reot seperti pepatah Jawa Kuno 'gawe nunu kijing ora mateng'. Perjuangan luar biasa meski harus berkorban berkalung sepatu high heels tinggal sebelah seperti orang gila baru turun di jalan.
Si Gendatz & si Kerempeng Tonggos berteriak gantian naik di atas batu akbar di depan rumah Mbah Dikin eh Dukun Syar'i dengan bawa toa mirip mahasiswa orasi di atas mobil saat demonstrasi, maklum menurut cerita simpang siur, si Mbah Dikin ini rada budeg tetapi suka lihat paha mulus kliennya.
Hal-hal paling dasar sudah dilupakan oleh kedua orang sahabat ini, syarat-syarat seperti sesajen & konco-konconya tidak dibawa. Akhirnya setelah mereka kelelahan berteriak-teriak, datanglah Mbah Dikin dari sungai dengan membelah hutan membawa ikan sepat hasil dari memancing untuk lauk makan malam.
Raut paras si Gendatz bahagia sehingga pipinya melebar seperti gambar anak kecil gendut pipinya merona karena tersenyum (mirip bakpao basi), sedangkan si Kerempeng Tonggos senyum seringainya memperlihatkan giginya yg gede-gede seperti genteng buatan Karangpilang yg terkenal sejak zaman Majapahit.
Mbah Dikin menyuruh masuk ke rumah pada kedua orang yg gila sanjung puji & popularitas, sambil menunggunya memakai baju kebesaran. Maklum Mbah Dikin ini meski tua tetapi postur tubuhnya pendek seperti anak SD lagi puber, jadi terlihat seperti klelep dalam bajunya. Ritual tanya jawab pun dimulai beberapa saat setelah kedua sahabat tersebut lama menunggu.
Si Gendatz ujug-ujug ndak sabaran langsung mengutarakan maksud kedatangannya, "Mbah ...."
"Ssstt ... anda harap popularitas, bukan?" Jari telunjuk Mbah Dikin tempelkan ke mulut si Gendatz untuk menghentikan omongan secara dadakan & sok tau dengan mengucapkan apa keharapan wanita gendut tersebut.
Saking kagetnya dengan reaksi spontan dari Mbah Dikin, menciptakan latah si Gendatz kambuh & reflek menarik jenggot si dukun syar'i yg tumbuhnya cuma tiga belas helai. Si Kerempeng Tonggos yg melihat kejadian tersebut jadi sangat ketakutan. Takut dikutuk jadi anak kodok piaraan Jokowi di Istana Bogor.
Ketakutan si Kerempeng sangatlah beralasan, karena sekarang dirinya & sahabatnya jauh di wilayah yg hampir tidak pernah dijamah manusia. Sedangkan Mbah Dikin jadi sangat emosi setelah jenggotnya ditarik sehingga tersisa lima helai saja.
Kesaktiannya pun menurun drastis & lemas. Si Gendatz bahkan si Kerempeng mulai ketar-ketir binti ketakutan karena melihat keris Setan Kober melayang berputar-putar seperti layangan pedot membela sang Empu yg terzalimi oleh kelakuan tidak beradab kliennya.
"Waduh, saya ndak mau mati konyol di sini sekarang. Belum kehinggaan cita-cita bersayang dengan laki-laki ganteng pujaan hati di pantai," si Kerempeng menggumam, sambil bersembunyi di belakang si Gendatz.
"Apa ... anda mimpiin dia?" Spontan Gendatz kaget mendengar gerutu si Kerempeng
"Aslinya diriku masih dendam sama dia, cowok sok ganteng sejak zaman jahiliah. Karena pernah kutelepon, malah disuruhnya diriku telpon suamiku." Geram ekspresi Kerempeng bercerita
"Terus, anda jawab apa?"
"Udah chat, tadi. Kurang ajar banget, kan! Apa dia ndak peka kalo diriku sangat mengidolakannya."
Gendatz menertawakan kenaifan Kerempeng, meski keduanya sedang kebingungan untuk menyelamatkan diri, seketika berteriak ....
"Aku juga ndak mau! Aku belum jadi seleb yg popularitasnya naik dadakan kayak seniman layangan pedot." Gendatz pun ngos-ngosan sambil bicara menghindar dengan cara apa pun. Sehingga terjadilah adegan kejar-kejaran hingga keduanya jatuh si Kerempeng tertindih si Gendatz ndak dapat napas menghindari amukan keris Setan Kober. Bibir si Gendatz makin lebar kesangkut daun pintu saking paniknya, rasa sakit pun diabaikan.
Mbah Dikin yg masih baper karena jenggot kesayangan tinggal lima helai, langsung berteriak.
"Belum apa-apa kalian udah bikin sial. Pergi! Aku ndak mau bantu. Kalian ndak ada sopan-sopannya sama orang tua, dasar wanita edan ndak punya akhlak & etika. Meski saya dukun, tetapi syar'i. Mesti baca kalimat yg baik dulu, biar sesatnya tidak kelihatan mencolok di mata publik."
Si Gendatz & si Kerempeng cuma dapat bengong melihat Mbah Dikin masuk & membanting pintu dengan keras. Setelah mengusir' dua wanita tak beradab demi kehormatan, sanjung puji & popularitas menghalalkan segala cara
"Kaaan, sia-sia perjuangan kita ke sini." Keluh si Kerempeng.
Si Gendatz yg tadinya termenung, tiba-tiba menjentikkan jari.
"Siapa bilang? Kan, Mbah Dikin tadi bilang, supaya ndak keliatan jeleknya mesti pake kata-kata baik. Nah, kita tinggal cari aib orang, terus kita tulis jadi cerita. Tambahin bumbu-bumbu biar maknyus. Jangan lupa pake awalan "Assalamualaikum, Bismillah & Barokallohu Fiik" & jangan lupa mendoakan kebaikan untuk mereka. Biar kita ndak dosa & fitnahan terlihat islami."
Mata si Kerempeng langsung bersinar bahagia. "Bener juga. Ah, anda cerdas Gendatz! Nanti kita bikin yayasan jama'ah ghibah online."
Jadilah si Kerempeng bersepakat dengan ide si Gendatz, mengurusi orang lain, tetapi gagal menguruskan badannya sendiri. Pada akhirnya dua sejoli berjenis kelamin sama sedang menyeringai puas & buas mengakui dirinya orang yg Hajab binti Jahat bahwa fitnah secara syar'i dibolehkan sungguh menyedihkan (Asumsi Ngawur Keduanya)
Sumput, Gresik 18 Januari 2022
Sayuh
Orang Ganteng Sejak Zaman Jahiliah Wangi Sexi-nya Bikin Bidadari Lupa Diri Hari ini 06:21