Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Halo ketemu lagi bareng ane, Arif Pambudi
Pasti banyak dari kalian yg sudah dengar istilah no pain, no gain. Bahkan sudah jadi pernyataan basi bagi setiap orang. Setiap rasa sakit menciptakan kita berkembang, setiap patah hati menciptakan kita lebih kuat, bla bla bla... Bahkan Friedrich Nietzsche pun pernah berkata; Apa yg tidak membunuhmu menciptakanmu jadi lebih kuat.
Tapi yg jadi pertanyaan, apakah semua rasa sakit menciptakan kita semakin berkembang? Bagiamana dengan rasa sakit gejala penarikan obat?
Pasti banyak dari kalian yg sudah dengar istilah no pain, no gain. Bahkan sudah jadi pernyataan basi bagi setiap orang. Setiap rasa sakit menciptakan kita berkembang, setiap patah hati menciptakan kita lebih kuat, bla bla bla... Bahkan Friedrich Nietzsche pun pernah berkata; Apa yg tidak membunuhmu menciptakanmu jadi lebih kuat.
Tapi yg jadi pertanyaan, apakah semua rasa sakit menciptakan kita semakin berkembang? Bagiamana dengan rasa sakit gejala penarikan obat?
Buat yg belum tahu atau asing dengan istilah gejala penarikan obat. Itu merupakan gejala yg melibatkan fisik & mental seseorang setelah menghentikan asupan zat tertentu. Seperti psikotropika atau zat aktif lainnya. Istilah umumnya sakau. Tentunya ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman & dapat jadi sangat berbahaya untuk beberapa kasus.
Ilustrasi orang yg suka konsumsi obat-obatan.
Mekanisme adaptasi manusia kepada lingkungan & keadaan itu sangat unik. Ketika manusia mengalami sebuah cobaan hal itu akan membangun sebuah karakter. Tapi itu tidak berlaku untuk sakau. Rasa sakau itu menurutku lebih dari sekedar rasa sakit. Itu benar-benar kacau. Tidak peduli sakau perdana kali atau yg kedua kalinya atau yg ketiga rasanya akan tetap sama. Itu tidak menguatkan apa pun atau membangun apa pun. Yang ada hanyalah rasa sakit & penderitaan. Ini mirip seperti lingkaran setan. Setidaknya begitulah yg saya alami selama jadi pengguna aktif kratom selama 3 tahun.
Buat yg belum tahu apa itu Kratom. Kratom adalah daun yg biasa diolah jadi kapsul atau bubuk yg efektif untuk memperbaiki mood & menghilangkan rasa sakit. Kebanyakan tumbuh subur di Kalimantan.
dokumen pribadi
Sebenarnya konsumsi Kratom itu sama halnya kita menkonsumsi kopi atau rokok atau alkohol atau apa pun itu yg dapat menyebabkan ketergantungan. Dan itu sebenarnya adalah reaksi yg wajar. Tapi menurutku tetap aja rasa gejala penarikan obat dari zat Kratom itu rasanya cukup bikin menderita. Berbeda dengan kopi yg cuma menyebabkan sakit kepala. Kratom kalau berhenti dikonsumsi sacara mendakak, tubuh rasanya sangat tidak nyaman. Hidung berair, mata berair & badan sakit semua khususnya pada bagian kaki & itu terjadi setelah 24 jam berhenti pakai & akan memuncak di hari kedua & ketiga kemudian efeknya akan menurun di hari keempat hingga satu Minggu. Menurutku karena Kratom ini herbal makanya efek sakaunya lebih singkat & tidak terlalu parah seperti tipe zat lainnya. Setiap orang mengalami gejala yg berbeda ya. Ini perlu digaris bawahi. Kebetulan yg saya rasakan itu seperti itu.
Alasan saya berhenti pakai karena saya punya batasan dosis. Jika misal sudah menyentuh takaran 15 gram tetapi sudah tidak berefek ke tubuh maka saya akan berhenti pakai selama 2 bulan untuk mereset takaran pemakaian. Fase menderita mungkin hingga 3-7 hari kemudian akan normal lagi. Setalah 2 bulan berjalan saya akan konsumsi lagi dengan takaran awal pakai. Begitu terus & ini sudah yg ketiga kalinya reset dosis.
Oh ya, tentu saja Kratom ini legal & agan-agan dapat dapat secara bebas di pasar online. Sebenarnya kratom itu tidak boleh dikonsumsi secara rutin supaya tidak menyebabkan ketergantungan tetapi saya pribadi lebih suka mengonsumsi secara rutin. Kratom sangat menolong untuk melepas stress setelah seharian bekerja. Dan selama 3 tahun mengonsumsi rasanya aman-aman saja. Tidak ada gejala yg signifikan pada tubuh. Hanya saja rasa sakaunya ketika berhenti dipakai secara mendadak yg sebelumnya dikonsumsi rutin itu sangat menganggu. Sangat menciptakan tidak nyaman khususnya pada fisik. Kalau secara mental sepertinya tidak berpengaruh.
Saya pikir saya akan terbiasa dengan gejala penarikan obat setelah mengalami yg ketiga kalinya tetapi ternyata tidak & ini tentu saja jadi hal yg menarik untuk saya bagikan di Kaskus. Semoga kisah sayang & benci saya dengan kratom dapat memberi manfaat & pelajaran bagi agan & sista. Tentunya apa pun yg kita konsumsi secara berlebihan tentu saja tidak baik. Contohnya saja gula. Gula itu legal & mudah didapat tetapi justru sangat berbahaya kalau dikonsumsi terlalu sering. Terimakasih.
GIF
Jangan lupa cendolnya gan
Ilustrasi orang yg suka konsumsi obat-obatan.
Mekanisme adaptasi manusia kepada lingkungan & keadaan itu sangat unik. Ketika manusia mengalami sebuah cobaan hal itu akan membangun sebuah karakter. Tapi itu tidak berlaku untuk sakau. Rasa sakau itu menurutku lebih dari sekedar rasa sakit. Itu benar-benar kacau. Tidak peduli sakau perdana kali atau yg kedua kalinya atau yg ketiga rasanya akan tetap sama. Itu tidak menguatkan apa pun atau membangun apa pun. Yang ada hanyalah rasa sakit & penderitaan. Ini mirip seperti lingkaran setan. Setidaknya begitulah yg saya alami selama jadi pengguna aktif kratom selama 3 tahun.
Buat yg belum tahu apa itu Kratom. Kratom adalah daun yg biasa diolah jadi kapsul atau bubuk yg efektif untuk memperbaiki mood & menghilangkan rasa sakit. Kebanyakan tumbuh subur di Kalimantan.
Sebenarnya konsumsi Kratom itu sama halnya kita menkonsumsi kopi atau rokok atau alkohol atau apa pun itu yg dapat menyebabkan ketergantungan. Dan itu sebenarnya adalah reaksi yg wajar. Tapi menurutku tetap aja rasa gejala penarikan obat dari zat Kratom itu rasanya cukup bikin menderita. Berbeda dengan kopi yg cuma menyebabkan sakit kepala. Kratom kalau berhenti dikonsumsi sacara mendakak, tubuh rasanya sangat tidak nyaman. Hidung berair, mata berair & badan sakit semua khususnya pada bagian kaki & itu terjadi setelah 24 jam berhenti pakai & akan memuncak di hari kedua & ketiga kemudian efeknya akan menurun di hari keempat hingga satu Minggu. Menurutku karena Kratom ini herbal makanya efek sakaunya lebih singkat & tidak terlalu parah seperti tipe zat lainnya. Setiap orang mengalami gejala yg berbeda ya. Ini perlu digaris bawahi. Kebetulan yg saya rasakan itu seperti itu.
Alasan saya berhenti pakai karena saya punya batasan dosis. Jika misal sudah menyentuh takaran 15 gram tetapi sudah tidak berefek ke tubuh maka saya akan berhenti pakai selama 2 bulan untuk mereset takaran pemakaian. Fase menderita mungkin hingga 3-7 hari kemudian akan normal lagi. Setalah 2 bulan berjalan saya akan konsumsi lagi dengan takaran awal pakai. Begitu terus & ini sudah yg ketiga kalinya reset dosis.
Oh ya, tentu saja Kratom ini legal & agan-agan dapat dapat secara bebas di pasar online. Sebenarnya kratom itu tidak boleh dikonsumsi secara rutin supaya tidak menyebabkan ketergantungan tetapi saya pribadi lebih suka mengonsumsi secara rutin. Kratom sangat menolong untuk melepas stress setelah seharian bekerja. Dan selama 3 tahun mengonsumsi rasanya aman-aman saja. Tidak ada gejala yg signifikan pada tubuh. Hanya saja rasa sakaunya ketika berhenti dipakai secara mendadak yg sebelumnya dikonsumsi rutin itu sangat menganggu. Sangat menciptakan tidak nyaman khususnya pada fisik. Kalau secara mental sepertinya tidak berpengaruh.
Saya pikir saya akan terbiasa dengan gejala penarikan obat setelah mengalami yg ketiga kalinya tetapi ternyata tidak & ini tentu saja jadi hal yg menarik untuk saya bagikan di Kaskus. Semoga kisah sayang & benci saya dengan kratom dapat memberi manfaat & pelajaran bagi agan & sista. Tentunya apa pun yg kita konsumsi secara berlebihan tentu saja tidak baik. Contohnya saja gula. Gula itu legal & mudah didapat tetapi justru sangat berbahaya kalau dikonsumsi terlalu sering. Terimakasih.
GIF
Jangan lupa cendolnya gan