• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Bagaimana pandangan Anda?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Mr. Wei
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Mr. Wei

IndoForum Newbie A
No. Urut
40216
Sejak
13 Apr 2008
Pesan
376
Nilai reaksi
4
Poin
18
Thread ini dikhususkan bagi yang betul2 berniat belajar ajaran Sang Buddha n bukan penghasut/ ingin mengacaukan...

:)

Mari kita bertukar pikiran kita mengenai pandangan kita tentang Buddha Dhamma...

Bagaimana menurut Anda Buddha Dhamma? Apakah Anda ada merasa bahwa Buddha Dhamma yang diajarkan Sang Buddha dahulu sudah berbeda dengan sekarang? Apakah Anda mempunyai pemahaman Buddha Dhamma yang berbeda?

Apapun itu, dishare disini...

:)
 
salam

budha dharma bersifat fleksibel dan bisa mengikuti perubahan jaman,budha dharma bisa dikatan berubah menjadi lebih besar skala ajaran dan pemahamanya,belajar budhis bukan spektis terpaku pada sabdha2 sang budha banyak ajaran2 dari master2 zen,tantrayana,bhiksu sangha maupun dari orang2 ahli marketing yang menerapka budhisme dalam keseharian

bagi yang belajar budha dharma terpaku pada hanya ajaran sakyamuni budha itulah yang provokator dalam agama kita,karena orang ini saya bilang oknum penyaring dharma,padahal dirinya yang mendiskreditkan ajaran dan pendapat dari aliran2 lainnya di budhis,apapun argumentasi kalau sudah mengarah pada diskriminasi ajaran itu lah sesungguhnya seorang yang paling kasihan karena dia sedang menyia nyiakan berkah utama yaitu bertemu seorang budha,meremehkan dharma,tidak menghormati orang yang sedang berdana dharma,berhati sempit dan khawatir akan kebenaran dari ajaran yang lainnya

ingat dharma dari seorang samma sang budha pun mengatakan bahwa masi ada daun2 yang diluar genggaman ku,jadi kita ini lah daun2 diluar dharma harusnya kita memahami apa yang ada dalam genggaman dalam sakyamuni budha baru lah kita bisa mengetahui apa sebenarnya dharma diluar dari genggaman,pikiran kita sudah seperti terkunci dalam jalur sempit bagaimana kita bisa menerima pandangan dari lainnya,kenapa saya katakan kita sebenarnya berada diluar genggaman daunnnya??? karena kita hanya melihat daun yang digenggamannya tidak berusaha melihat daunnya yang lainnya,bagaimana bisa kita melihat daun yang digenggamannya apbila kita sendiri tidak bisa melihat dulu daun lainnya????
kita lihat daun diluar itu bentuknya seperti apa,warna seperti apa,ukurannya seperti apa,keunggulan daun dari luar itu seperti apa,
karena itulah ukurannya daun yang digenggam,kalau benar sama,itulah daun yang digenggam oleh sakyamuni budha
karena itulah bentuk daun yang digenggam oleh sakymuni budha,kalau benar sama dengan daun yang diluar ,apakah salah pandangan aku ini???
karena itulah keunggulan daun yang digenggam oleh sakyamuni budha mencakup semua inti dari dharma sejati,kalau benar sama dengan daun yang diluar lantas,apakah sakyamuni budha mengingkari dharma ajarannya????? tidak tentu saja,ingat sakyumni budha hanya berkesempatan 45 tahun membabarkan dharma,sehari sepatah kata dharma tidak akan lekang dimakan waktu,hanya saja insan tidak bisa menghargai budhadata insan lainnya hanya bisa menghargai budhata sakyamuni budha, sakyamuni budha berkata akulah yangtertinggi di dunia ini yang bermakna bahwa sang bhagava memberikan kita kepercayaan diri dan keyakinan bahwa kita sudah bertemu dan mendapatkan berkah utama dari sakyamuni budha yaitu budha dharma yang sudah ia babarkan kepada kita
kan ngak pernah ada dibilang dalam sutta kalau tidak melalui aku maka tidak ada nibbana,atau kalau ada yang mengaku lebih tinggi dari aku maka ia sesat dan salah besar,dan juga kalau ada yang mengaku seorang budha yang tidak pernah aku katakan maka ia sesat?????
ada ngak????????
bagaimana kalau genggaman sang bhagava tidak kita buka sendiri,kita buka genggaman daun dari sang bhagava dulu,yaitu kita lihat baik2 dan mengerti daun2 dari sang bhagava baru lah kita bisa tau apa itu bentuk,warna,ukuran,dan keunggulan dari daun itu ........ buka genggaman artinya kita buka pintu hati kita,melihat kita melhat,mengerti kita berusaha memahami kesunyataan pada akhirnya kesemuanya mencapai penerangan sempurna dan menjadi seorang budha juga pada akhirnya
silakan belajar dengan baik istilah daun dalam genggaman,kalau waktu dikatakan juga bahwa dunia dalam gengamannya maka saya yakin itu sudah semuanya dibabarkan tanpa harus kita cari2 lagi..........
agama budha tidak sama dengan agama lainnya didunia ini,sangat fleksibel dan bijaksana tidak ada kata aku lah yang paling nomer satu
ingat daun bukan hanya milik budha gautama ingat masi banyak daun bahkan pohon yang diluar dari gengaman budha sakyamuni
kalau masalahnya hanya dalam genggaman saja maka anda lah yang dalam genggaman tidak berusaha melihat bentuk,warna,ukuran dari daun tersebut,sudah digenggam sudah berubah bentuk dan sebagainya,karena kita terus bertanya dengan batin kita yang masi belum cerah,kita tidak membuka pintu hati kepada ajaran lainnya,terhadap yang lainnya masi tertutup bagaimana mau melihat dunia,dan apa kata dunia nanti kalau kita kuper


namo budhaya
 
ingat dharma dari seorang samma sang budha pun mengatakan bahwa masi ada daun2 yang diluar genggaman ku,jadi kita ini lah daun2 diluar dharma harusnya kita memahami apa yang ada dalam genggaman dalam sakyamuni budha baru lah kita bisa mengetahui apa sebenarnya dharma diluar dari genggaman,pikiran kita sudah seperti terkunci dalam jalur sempit bagaimana kita bisa menerima pandangan dari lainnya,kenapa saya katakan kita sebenarnya berada diluar genggaman daunnnya??? karena kita hanya melihat daun yang digenggamannya tidak berusaha melihat daunnya yang lainnya,bagaimana bisa kita melihat daun yang digenggamannya apbila kita sendiri tidak bisa melihat dulu daun lainnya????

asalkan telah di buktikan bahwa itu sungguh daun.

memang betul apa yang anda katakan...100% tidak salah...
tetapi sedemikian banyak sekarang aliran / ajaran baru...termasuk marketing,fisika,ilmu lainnya...
kita juga di tuntut untuk bijaksana dalam menentukan mana daun sesungguh nya dan mana daun palsu.

dan jalan untuk mengetahui daun palsu atau daun asli adalah dengan metode praktis dan sederhana...PEMBUKTIAN.

"Ajaranku bukanlah suatu doktrin atau filosofi. Ajaranku bukanlah hasil pemikiran diskursif ataupun rekayasa mental seperti berbagai filosofi yang telah merasa puas bahwa esensi fundamental alam semesta adalah api, air, tanah, ataupun roh, atau bahwa alam semesta tidaklah terbatas atau tanpa batas, bersifat sementara ataupun kekal. Rekayasa mental dan pemikiran diskursif mengenai kebenaran bagaikan semut-semut yang berjalan mengelilingi bibir mangkuk--mereka tak akan pernah sampai ke mana-mana.

Ajaranku bukanlah suatu filosofi. Ajaranku merupakan hasil pengalaman langsung. Hal-hal yang kukemukakan berasal dari pengalamanku sendiri. Engkau dapat mengkonfirmasikan semuanya melalui pengalaman langsungmu sendiri. Aku mengajarkan bahwa segala sesuatu tidaklah kekal dan tanpa diri yang terpisah. Ini telah kupelajari dari pengalaman langsungku sendiri. Engkau juga bisa. Aku mengajarkan bahwa segala sesuatu tergantung pada segala sesuatu lainnya untuk muncul, berkembang, lalu menghilang. Tak ada sesuatu pun yang diciptakan dari satu sumber yang tunggal dan orisinil. Secara pribadi aku telah mengalami kebenaran ini dan engkau pun juga bisa. Tujuanku bukanlah untuk menjelaskan alam semesta melainkan membantu memandu orang-orang lain untuk mendapatkan pengalaman langsung akan realita. Kata-kata tak mampu melukiskan realita. Hanya pengalaman langsung yang memungkinkan kita untuk melihat wajah sejati realita."
 
asalkan telah di buktikan bahwa itu sungguh daun.

memang betul apa yang anda katakan...100% tidak salah...
tetapi sedemikian banyak sekarang aliran / ajaran baru...termasuk marketing,fisika,ilmu lainnya...
kita juga di tuntut untuk bijaksana dalam menentukan mana daun sesungguh nya dan mana daun palsu.

dan jalan untuk mengetahui daun palsu atau daun asli adalah dengan metode praktis dan sederhana...PEMBUKTIAN.

Ajaranku bukanlah suatu filosofi. Ajaranku merupakan hasil pengalaman langsung. Hal-hal yang kukemukakan berasal dari pengalamanku sendiri. Engkau dapat mengkonfirmasikan semuanya melalui pengalaman langsungmu sendiri. Aku mengajarkan bahwa segala sesuatu tidaklah kekal dan tanpa diri yang terpisah. Ini telah kupelajari dari pengalaman langsungku sendiri. Engkau juga bisa. Aku mengajarkan bahwa segala sesuatu tergantung pada segala sesuatu lainnya untuk muncul, berkembang, lalu menghilang. Tak ada sesuatu pun yang diciptakan dari satu sumber yang tunggal dan orisinil. Secara pribadi aku telah mengalami kebenaran ini dan engkau pun juga bisa. Tujuanku bukanlah untuk menjelaskan alam semesta melainkan membantu memandu orang-orang lain untuk mendapatkan pengalaman langsung akan realita. Kata-kata tak mampu melukiskan realita. Hanya pengalaman langsung yang memungkinkan kita untuk melihat wajah sejati realita."


salam



betul lewat praktek dharma lah kita bisa bisa tau dharma sejati sesat atau tidak,kalau saya memilih jalan tantrayana oleh master lu,maka itu lah jalan yang telah saya pilih saat ini,bukan yang lainnya,karena saya bisa memahami bagaimana rasa dharma yang diajarkan oleh beliau
rasa dharma seperti kita memasak,jangan terlalu lama gosong,terlalu cepat ras dharma menjadi aneh,sedeng2 caranya jadi setengah2 atau ragu2,harus pas dilidah kita dan "minimal"pas di lidah orang lainnya,itulah rasa dharma


namo budhaya
 
asalkan telah di buktikan bahwa itu sungguh daun.

memang betul apa yang anda katakan...100% tidak salah...
tetapi sedemikian banyak sekarang aliran / ajaran baru...termasuk marketing,fisika,ilmu lainnya...
kita juga di tuntut untuk bijaksana dalam menentukan mana daun sesungguh nya dan mana daun palsu.

dan jalan untuk mengetahui daun palsu atau daun asli adalah dengan metode praktis dan sederhana...PEMBUKTIAN.

"Ajaranku bukanlah suatu doktrin atau filosofi. Ajaranku bukanlah hasil pemikiran diskursif ataupun rekayasa mental seperti berbagai filosofi yang telah merasa puas bahwa esensi fundamental alam semesta adalah api, air, tanah, ataupun roh, atau bahwa alam semesta tidaklah terbatas atau tanpa batas, bersifat sementara ataupun kekal. Rekayasa mental dan pemikiran diskursif mengenai kebenaran bagaikan semut-semut yang berjalan mengelilingi bibir mangkuk--mereka tak akan pernah sampai ke mana-mana.

Ajaranku bukanlah suatu filosofi. Ajaranku merupakan hasil pengalaman langsung. Hal-hal yang kukemukakan berasal dari pengalamanku sendiri. Engkau dapat mengkonfirmasikan semuanya melalui pengalaman langsungmu sendiri. Aku mengajarkan bahwa segala sesuatu tidaklah kekal dan tanpa diri yang terpisah. Ini telah kupelajari dari pengalaman langsungku sendiri. Engkau juga bisa. Aku mengajarkan bahwa segala sesuatu tergantung pada segala sesuatu lainnya untuk muncul, berkembang, lalu menghilang. Tak ada sesuatu pun yang diciptakan dari satu sumber yang tunggal dan orisinil. Secara pribadi aku telah mengalami kebenaran ini dan engkau pun juga bisa. Tujuanku bukanlah untuk menjelaskan alam semesta melainkan membantu memandu orang-orang lain untuk mendapatkan pengalaman langsung akan realita. Kata-kata tak mampu melukiskan realita. Hanya pengalaman langsung yang memungkinkan kita untuk melihat wajah sejati realita."


salam

ada lagi bro,jaman sakyamuni mana ada daun palsu,semua asli,sekarang aja dimangga dua banyak tuh yang jual daun palsu................ hehehhehehe
 
harus pas dilidah kita dan "minimal"pas di lidah orang lainnya,itulah rasa dharma
tidak ada yang namanya nibbana pas-pas-an....hahaha......
masa di bilang arahat pas-pas-an.......hahaha

yah jelas sekali yg dimaksud sang buddha...kebenaran yang sejati telah dirasakan oleh nya itu....tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata gambarannya..

tetapi beliau mengatakan "engkau pun bisa merasakannya" dimana beliau memberikan JALAN / PETA / PEMBUKTIAN akan hal-hal apa yang dirasakannya.
 
Ajaran Buddha ajaran yang sangat tua. Saya melihat besarnya liberalisme di sini. bahwa kemandirian sangat diterapkan. Pencapaian pribadi melebihi pencapaian kolektif. Paling tidak ini yang dikatakan daun-daun dalam genggaman yang asli. Pencapaian dilakukan dengan pembuktian. Yang juga sifatnya sangat pribadi.

Seandainya anda secara pribadi sudah membuktikan, mungkin dengan mencermati gejala-gejala tubuh, alam semesta dan lain sebagainya. Pencapaian anda bukan untuk orang lain. Tapi untuk anda sendiri. Bisa anda membantu orang lain, namun tak sekali-kali anda akan sanggup menurunkan pencapaian anda pada orang lain tanpa orang lain itu harus melalui ritual religi menggali sendiri, mencapai sendiri.

Pencapaian dalam ajaran Buddha tidak dapat dilakukan dengan menerima hibah dari otoritas yang lebih besar. Misal saja dari sang juru selamat. Ajaran Buddha menolak ini. Tidak ada sama sekali Juru Selamat. yang ada hanya Guru Agung yang membabarkan dharma, mensarikan kebenaran, kemudian bila ingin diraih harus dipelajari, dipraktekkan dan diteliti sendiri oleh individu yang bersangkutan.

Secara melankolis setiap umat beragama akan mengklaim agamanya sebagai yang paling benar. Namun dimana kebenaran sejati? ironisnya justru dengan kebenaran yang mutlak, kebenaran sejati justru hanya bisa dibuktikan secara pribadi.

Dalam kondisi yang ekstrem akibat kefanatikan yang berlebihan, dalam usaha memaksakan pembuktian kebenaran yang vertikal dan pribadi itu, kebenaran pribadi orang lain justru dianggap kesesatan. Kalau sudah begini, kesesatanlah yang dicapai, bukan kebenaran. Kalau sudah menjalani, baru bisa merasakan apa yang sebenarnya.

Kemudian bila dikemudian hari, karena batara kala yang melintas jaman, muncul aliran-aliran baru yang katakanlah berbeda dengan daun dalam genggaman Sang Bhagava, mulai mendapat pengikut lantas pongah. Tidak sedikitpun dalam genggaman Sang Bhagava daun-daun itu akan berubah. Tidak bisa dibedakan mana yang asli mana yang palsu. Karena, daun itu sendiri sebenaranya apa? Adakah?

Meneliti daun-daun yang berserakan, berusaha untuk mencari permata yang sesungguhnya. Dilakukan untuk tujuan apa? Apakah ini dapat memperbaiki sila? samadhi? dan panna? atau justru bermanfaat dalam meningkatkan saddha?

Dalam kondisi yang lain, ajaran Buddha justru mengajarkan pelepasan. Sebuah teori yang memberikan kebebasan pilihan bagi yang ingin mempercayainya. Sebuah ajaran agung yang justru mempersilahkan umatnya mencari sendiri kebenaran yang sebenar-benarnya, karena kebesaran yang sebenar-benarnya justru datang dari pelepasan. Karena, 'Tidak ada yang aku kejar..... kaulah yang sedang mencari...."

Lantas untuk apa membuktikan mana permata yang sesungguhnya mana yang sintetis? Permata yang sesungguhnya tidak perlu dibuktikan. Permata yang sesungguhnya justru akan tetap permata walau mau diuji dengan cara apapun. Permata yang sesungguhnya tidak bisa diraih, dia akan datang sendiri bila pencapaian anda sudah sampai saatnya untuk bertemu dengannya.

Ajaran Buddha ajaran yang sangat pribadi, oleh karenanya manjadi ajaran yang sangat menghargai pemikiran pribadi-pribadi, oleh karenanya menjadi sangat toleransi. Oleh karenanya menjadi sangat berpariasi, berbaur dan beradaptasi dalam hal metode pencapaian, ritual-ritual religi, kebudayaan setempat, sinkritisme dengan kepercayaan lain. Namun bisa sampai dianggap 'open source'? Sebuah agama open source? Hanya karena terobsesi pada kata universal?

Kembali lagi ke pembuktian pribadi, umat Buddha mencarinya sendiri.
 
tidak ada yang namanya nibbana pas-pas-an....hahaha......
masa di bilang arahat pas-pas-an.......hahaha

yah jelas sekali yg dimaksud sang buddha...kebenaran yang sejati telah dirasakan oleh nya itu....tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata gambarannya..

tetapi beliau mengatakan "engkau pun bisa merasakannya" dimana beliau memberikan JALAN / PETA / PEMBUKTIAN akan hal-hal apa yang dirasakannya.


salam

maksud saya nibbana itu pasti dan tidak pas2an,yang rasa dharma yang pas itu adalah kecocokan metode dengan si pelaksana,apabila memang lewat jalur meditasi memahami kesunyataan bisa mencapai penerangan sempurna silakan,lewat jalur bodhisatva seperti cerita sang kelinci yang mengorbankan diri untuk pertapa dalam cerita jataka juga silakan,toh akhirnya sakyamuni budha tetap mencapai penerangan sempurna,dan kenapa dijaman 2500 tahun yang lalu sakyamuni budha membabarkan dharmanya???? atau lahir dijaman itu????

jawaban gatot koco(bukan kutipan dari mana2)

1. pada jaman itu lah manusia masi bisa dibina lewat jalur dharma secara langsung lewat dari seorang samma sang budha,kita lihat pada jaman itu belum semodern sekarang mau kekota lain saja harus jalan kaki selama berhari2,mana alat transportasi cepat,pada masa itu manusia masi memilki banyak waktu luang untuk bercengkrama dengan lingkungan tidak seperti sekarang,jadi mereka mempunyai banyak waktu untuk mendengarkan dharma dan tidak disibukkan acara nonton tv,gathering night,clubbing dsbnya,so mereka punya waktu dan wawasan yang bisa diasah untuk mendengarkan dharma dan secara jelas dan menyeluruh,intinya mereka punya waktu dan sangat tanggap terhadap dharma,banyak bukti dalam sutta yang menceritakan hal2 bahwa manusia pada jaman dan tempat dimana sakyamuni budha yang memiiki keinginan kuat untuk belajar dharma secara langsung dari beliau,bandingkan dengan jaman ini,semuanya lewat rekaman,ada kesempatan malah lebih bagus nonton siaran ulangan dari pada siaran langsung,makanya dharma dari sakyamuni budha bisa bertahan selama ini dari dahulu,coba sekarang sakyamuni budha ada lahir pada saat ini nga mungkin dharma beliau bisa bertahan sampai 2500 tahun kemudian,karena manusia jaman sekarang sangat mementingkan materi dari pada kebenaran dharma itu,dan nga mungkin sebanyak arahat yang ada dimasa itu

2.di jaman ini saja apabila ada yang mengaku mencapai kebudhaan maka akan buru2 dibandingkan dengan sakyamuni budha,bahwa mana yang benar dan mana yang tidak,menjadi seorang budha tidak menghiraukan siapa yang rendah dan siapa yang tinggi,menjadi budha adalah menjadi sesosok guru agung pembabar dharma atau rajanya dharma,lihat kemabali kesejarah bagaiman seorang devadata menfitnah sakyamuni budha melalui cerita cinca,hanya saja pada masa itu dunia belum seglobal saat ini,masi di lingkup india saja,kalau ada pada masa ini maka bukan seorang cinca saja melainkan banyak terpaan gosip dan kecemburuan akan pencapaiaan seseorang,ini biasa manusia memilki perasaan tersaingi akan nama harum seseorang jadi berbagai cara akan ditempuh untuk mencari kesalahan dari seseorang,maka kalau kita saat ini belajar dharma sudah bukannya jaman sakyamuni budha bahwa segala sesuatu masi daun dalam genggaman sang bhagava,coba lihat daun lainnya sama atau tidak dengan genggaman sang bhagava,teliti lah sebelum "membeli"/memilih ajaran,sesuaikan dengan akal sehat kita dan minimal rasa dharma itu pas dengan lidah kita dan "minimal"dengan orang lainnya

3.belajar budha dharma harus "walubi" wawasannya luwes dan bijaksana:D,
dalam artian jika kalau tidak cocok dengan ajaran yang telah diajarkan oleh seseorang jangan lah setelah kita tinggalkan kita mencela dan mencari2 kesalahan dan kelemahan akan ajaran tersebut karena nya hal tersebut hanya akan menimbulkan pandangan yang salah terhadap ajaran dan pengikut2 ajaran tersebut dimata masyarakat umum,contoh seperti ada seorang master baru2 ini yang "mantan" dari seorang guru besar vajrayana(saya ngak perlu sebutkan),dia pada saat diwawancara di sebuah radio kenamaan yang sering berdialog tentang ajaran budhis,sang master itu tidak pernah menyebutkan bahwa dia sebelum mendalami ajaran sekarang ini pernah belajar dari aliran vajrayana,dikatakan bahwa mendalami ajaran mahayana selama 20 tahun,dan langsung ke aliaran sekarang ini,padahal sang master ini pernah mendalami ajaran vajrayana selama 20tahun,tetapi tidak disebutkan dia dalam wawancara tersebut,lalu cerita yang saya dapat secara akurat bahwa sang master ini pada saat ia mendalami ajaran vajrayana juga sesorang yang dipercaya oleh gurunya,dan dia tega menjual nama gurunya untuk mendapatkan dana dan keuntungan yang digunakan untuk kepentingan pribadi,pada saat nya karena sang guru sangat welas asih berusaha menyadarkan sang master lalu sang master malah berbalik menghianati gurunya dan mengadu domba umat dari aliran vajrayana untuk ikut dengan dirinya.........
kita lihat hal ini,dalam era globalisasi ini informasi tuh gampang ditelusuri,sebentar saja kita sudah tau informasi,jaman dahulu mau kirim surat aja butuh berhari2,jadi dijaman ini sangat sulit memberi pengertian budha dharma kepada para insan karena informasi yang salah sangat cepat diterima karena info yang salah biasanya lebih mudah disampaikan dari pada yang benar,sulit mengajarkan yang benar,lah 20tahun belajar vajrayana aja bisa menghianati guru dan mengadu domba para umat,bahkan yang lucu dan anehnya ajaran dari gurunya masi digunakan hanya saja berkedok membantu umat,ilmu pengetahuan dari guru nya masi dipakai dan tidak ditinggalkan,hanya saja berganti jubah dan berganti identitas dan nama saja
metode2 yang digunakan masi saja vajrayana,tetapi sampai saat ini umat yang diajaknya pun masi ikut dan manut dengan sang master itu,itulah pengaruh informasi yang simpang siur,orang yang kaya gitu aja bisa jadi master,hati2 dalam memilih ajaran dan belajar ajaran teliti sebelum memilih


4,banyak yang mengatakan bumbu ku nomer satu tetapi pada saat praktek bumbunya gosong,mengapa demikian???? karena alasan sederhana yaitu UUD(ujung2nya duit),banyak aliaran2 dan ajaran agama yang bertujuan mencari keuntungan untuk pribadi ujungnya berkedok menjalankan misi dharma,tidak tau nya malah melobi teman bisnis di tempat sosial keaagaman,ini sudah banyak terjadi,saya ngak usah bilang,dimana,dan kapan,udah banyak kok yang begini,harus dipahami bahwa kita masuk pintu agama berarti kita siap minum racun bukan minum cappucino:D......
agama itu racun untuk terbebas dari penderitaan/samsara
sedangkan materi itu adalah sumber diabetes bagi manusia apabila minum kebanyakan,minumbulkan penyakit apabila kebanyakan,hehehhehheh
kalau begitu kita memilih yang mana racun atau cappucino????
sakyamuni budha memilih menenggak cappucino dulu baru racun,baru lah kita ada agama budha hari ini
sadarlah wahai umat budha sekalian kita semua yang masuk ke tempat sosial keagamaan sedang meminum racun bukan menjual cappucino
kalau sudah masuk berusahalah memahami apa itu sunyata,dukha,anata,avijja,nidana,dan ehipasiko
jadi kalau kita sudah masuk jangan lah kita memperhitungkan untung dan ruginya kita dalam misi dharma,karena pahala tidak bisa ditimbang dan dan diukur satuannya,pahala itu adalah cahaya para budha dialam semesta ini,para budha selalu meyertai kita begitu juga mara pengoda,kita mau ikut yang mana?????


5.pintar2 lah memilih ajaran dan asahlah batu permata anda sekalian karena jangan menggangap telah meneukan permata yang berharga sebelum kita mengasah dan melihat isi dari permata tersebut,tidak ada permata,tidak ada budha dharma,tidak ada budha dharma tidak ada sunyata,sunyata itu ada karena kosong,kosong itu isi,dan isi itu hampa
bijaksanalah kita dalam budha dharma


namo budhaya>:D<
 
Setahu saya, yang diajarkan oleh BUDDHA GOTAMA telah di-kumpul-kan dengan sangat baik di dalam 2 PITAKA AWAL (yaitu SUTTA PITAKA DAN VINAYA PITAKA) yang disusun oleh 500 arahat siswa langsung BUDDHA GOTAMA (ehi bhikkhu) pada konsili sangha I. Dimana 2 kitab inilah yang "SANGAT KREDIBEL" menurut saya.

Dharma yang tercantum dalam 2 PITAKA AWAL ini tidak pernah berubah dari jaman ke jaman. Untuk itulah, saya tetap berpegang pada 2 PITAKA AWAL tersebut.
 
rasa pas dari dhamma adalah samuthi sacca....

sedangkan paramatha sacca adalah sama...tidak mungkin rasa dari paramatha sacca itu berbeda..

jika ada keraguan tentang buddha dhamma, maka tidak mungkin seseorang mencapai sottapana sih penetang arus.

bagi umat awam sangat sulit untuk membedakan kemelekatan dengan keinginan...
mari melatih pikiran(samadhi), moral(sila),panna(bijak)

-------------
@gatotkoco
kemerosotan batin sekarang lebih tinggi ketimbang jaman dulu ^^

dulu sammasambuddha membabarkan dhamma...kebanyakan langsung mencapai tingkat kesucian sotapanna di tempat itu juga.

sekarang...biar sampai berbusa-busa mulut.....telinga pecah...hampir tidak ada yang mencapai tingkat sotapanna....
beda yah..padahal sama-sama mendengar 4 kesunyataan mulia,anicca,dll.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.