yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Pergerakan saham dan rupiah bisa berbeda-beda setelah Pilpres 2014. Hal ini bergantung pada hasil Pilpres 2014.
Head of Equity Analyst PT mandilu Sekuritas John Daniel Rachmat melihat bahwa pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan rupiah bergantung kepada kandidat yang terpilih dalam pesta demokrasi tersebut.
"IHSG bisa bull case di Rp5.550 kalau kandidat yang disukai pasar, paling tidak base case Rp4.550. Rupiah bisa (berada) di Rp10.500 per dolar AS," kata John di Plaza mandilu, Jakarta, Senin 9 Juni 2014.
Tapi, lanjut John, kalau presidennya tak sesuai dengan harapan rakyat dan pasar, kondisinya bisa berubah bearish.
"Kalau tidak, IHSG bisa bearish di Rp4.000, bahkan bisa di bawah itu. Rupiah juga bisa melorot (dan) tembus Rp15 ribu per dolar AS," ujar dia.
Sementara itu, Kepala Ekonom PT bunk mandilu (Persero), Destry Damayanti, mengatakan bahwa kondisi rupiah masih melemah terhadap dolar AS.
Untuk informasi, seminggu terakhir mata uang ini berada di kisaran Rp11.800 per dolar AS. Namun, pada penutupan kemarin, rupiah menguat tipis di level Rp11.778 per dolar AS.
Destry mengatakan, kondisi rupiah akan membaik kalau dalam proses Pilpres 2014 berjalan lancar.
"Bisa ada di Rp11.400 per dolar AS kalau proses pemilunya smooth," kata dia di tempat yang sama.
Destry menjelaskan, kalau hasil pilpresnya bagus, sentimen pasar akan positif sehingga aliran danang masuk menjadi deras. Tapi, kalau hasilnya tak sesuai keinginan pasar, akan menjadi lain ceritanya.
"Rupiah bisa terpuruk di level Rp12 ribu per dolar AS," ujar dia.
Destry menuturkan, ada tiga periode yang membuat pasar bergolak seusai Pilpres 2014. Yang pertama adalah pemilihan presiden pada 9 Juli 2014 dan yang kedua adalah pengumuman presiden dan wakil presiden terpilih.
"Yang ketiga adalah bulan Oktober. Ini adalah sektor penting dua kandidat untuk membenahi tenaga kerja, infrastruktur, pendidikan, dan sebagainya. Pasar akan melihat, oh, ternyata (orang yang menjadi pejabat) itu orang profesional atau teknokrat. Market berubah lagi. Jadi, susah sekali diprediksi," kata dia.
Meskipun demikian, kondisi ini hanya bersifat sementara. Secara fundamental, perekonomian Indonesia sudah cukup baik secara fundamental.
"Secara fundamental ekonomi kita baik. Rupiah bisa berada di antara Rp11.000-11.500 per dolar AS. Ini ada di luar pengaruh sentimen global," kata dia.
Head of Equity Analyst PT mandilu Sekuritas John Daniel Rachmat melihat bahwa pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan rupiah bergantung kepada kandidat yang terpilih dalam pesta demokrasi tersebut.
"IHSG bisa bull case di Rp5.550 kalau kandidat yang disukai pasar, paling tidak base case Rp4.550. Rupiah bisa (berada) di Rp10.500 per dolar AS," kata John di Plaza mandilu, Jakarta, Senin 9 Juni 2014.
Tapi, lanjut John, kalau presidennya tak sesuai dengan harapan rakyat dan pasar, kondisinya bisa berubah bearish.
"Kalau tidak, IHSG bisa bearish di Rp4.000, bahkan bisa di bawah itu. Rupiah juga bisa melorot (dan) tembus Rp15 ribu per dolar AS," ujar dia.
Sementara itu, Kepala Ekonom PT bunk mandilu (Persero), Destry Damayanti, mengatakan bahwa kondisi rupiah masih melemah terhadap dolar AS.
Untuk informasi, seminggu terakhir mata uang ini berada di kisaran Rp11.800 per dolar AS. Namun, pada penutupan kemarin, rupiah menguat tipis di level Rp11.778 per dolar AS.
Destry mengatakan, kondisi rupiah akan membaik kalau dalam proses Pilpres 2014 berjalan lancar.
"Bisa ada di Rp11.400 per dolar AS kalau proses pemilunya smooth," kata dia di tempat yang sama.
Destry menjelaskan, kalau hasil pilpresnya bagus, sentimen pasar akan positif sehingga aliran danang masuk menjadi deras. Tapi, kalau hasilnya tak sesuai keinginan pasar, akan menjadi lain ceritanya.
"Rupiah bisa terpuruk di level Rp12 ribu per dolar AS," ujar dia.
Destry menuturkan, ada tiga periode yang membuat pasar bergolak seusai Pilpres 2014. Yang pertama adalah pemilihan presiden pada 9 Juli 2014 dan yang kedua adalah pengumuman presiden dan wakil presiden terpilih.
"Yang ketiga adalah bulan Oktober. Ini adalah sektor penting dua kandidat untuk membenahi tenaga kerja, infrastruktur, pendidikan, dan sebagainya. Pasar akan melihat, oh, ternyata (orang yang menjadi pejabat) itu orang profesional atau teknokrat. Market berubah lagi. Jadi, susah sekali diprediksi," kata dia.
Meskipun demikian, kondisi ini hanya bersifat sementara. Secara fundamental, perekonomian Indonesia sudah cukup baik secara fundamental.
"Secara fundamental ekonomi kita baik. Rupiah bisa berada di antara Rp11.000-11.500 per dolar AS. Ini ada di luar pengaruh sentimen global," kata dia.