• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

BAGAIMANA NASIB AGAMA DI MASA DEPAN?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
BAGAIMANA NASIB AGAMA DI MASA DEPAN?

Agama-agama dilahirkan, tumbuh & mati. 3.500 tahun lalu, agama Zoroastrianisme jadi agama yg diikuti jutaan orang. Kini, agama ini sekarat & cuma diikuti sedikit orang.

Bagaimana nasib agama-agama lain?


Sebelum Muhammad, sebelum Yesus, sebelum Buddha, ada seorang Zoroaster. Sekitar 3.500 tahun yg lalu, pada Zaman Perunggu Iran, dia mendapatkan visi tentang satu-satunya Tuhan yg tertinggi.

Selang 1.000 tahun kemudian, Zoroastrianisme, agama monoteistik akbar perdana di dunia jadi kepercayaan resmi Kekaisaran Persia yg perkasa. Kuil-kuil apinya dihadiri oleh jutaan umat. 1.000 tahun setelah itu, kekaisaran runtuh, & para pengikut Zoroaster dipaksa & dimualafkan ke agama baru penakluk mereka, Islam.

Lalu 1.500 tahun kemudian, hari ini, Zoroastrianisme adalah kepercayaan yg sekarat. Jumlah para penyembah api kudusnya sudah mencapai titik paling minim.
Kita menerima begitu saja keyakinan bahwa agama dilahirkan, tumbuh & mati, tetapi anehnya kita juga abai kepada kenyataan tersebut. Ketika seseorang mencoba untuk memulai agama baru, dia sering dianggap sebagai aliran sesat.
Ketika kita mengakui suatu iman, kita memperlakukan ajaran & tradisinya sebagai suatu yg abadi & sakral. Dan ketika sebuah agama mati, ia jadi mitos, & klaimnya atas kebenaran suci berakhir. Kisah-kisah tentang panteon Mesir, Yunani & bangsa Norwegia sekarang dianggap legenda, bukan lagi kitab suci.

Bahkan agama-agama akbar masa kini pun sebenarnya sudah melewati tahapan evolusi sepanjang sejarah.



Kekristenan awal, misalnya, adalah kepercayaan yg dulunya benar-benar sangat luas. Termasuk di dalamnya, dokumen-dokumen antik berisi narasi tentang kehidupan keluarga Yesus & bukti-bukti kebangsawanan Yudas. Butuh waktu tiga zaman bagi agama Kristen untuk mengerjakan konsolidasi & menyepakati sebuah kanon kitab sucinya.
Kemudian pada 1054, gereja itu terpecah jadi Gereja Ortodoks Timur & Katolik. Sejak itu, agama Kristen terus tumbuh & terpecah jadi kelompok-kelompok yg semakin berbeda, dari Quaker yg senyap hingga gereja Pentakosta yg mengpakai ular dalam khotbahnya.

Jika Anda yakin iman Anda sudah berada di level kebenaran tertinggi, Anda mungkin menolak ide bahwa agama itu dapat saja berubah. Tetapi kalau sejarah jadi patokan, tidak peduli seberapa kuat kepercayaan kita saat ini, agama mungkin akan bertransformasi atau berubah pada waktunya ketika berpindah ke keturunan kita, atau menghilang begitu saja.


Jika agama sudah melalui perubahan dramatis di masa lalu, maka perubahan apa yg akan mereka alami di masa depan? Apakah ada kebenaran pada klaim bahwa kepercayaan pada tuhan-tuhan & dewa-dewa akan lenyap sama sekali? Dan ketika peradaban kita & teknologinya jadi semakin kompleks, mungkinkan bentuk pemujaan yg sepenuhnya baru akan muncul?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, titik awal yg baik adalah bertanya: mengapa ada agama?


Alasan untuk percaya

Satu jawaban terkenal datang dari Voltaire, filsuf Prancis zaman ke-18, yg menulis: "Jika Tuhan tidak ada, maka sangat perlu untuk menciptakannya."

Karena Voltaire adalah kritikus yg sangat tajam kepada organisasi agama, ucapan ini sering dikutip dengan sinis. Tapi faktanya, dia benar-benar jujur. Dia berpendapat bahwa kepercayaan pada Tuhan diperlukan supaya masyarakat berfungsi, meskipun dia tidak menyetujui monopoli yg dipegang gereja atas kepercayaan itu. Banyak mahasiswa modern jurusan agama setuju.

Gagasan bahwa agama diperlukan untuk melayani kebutuhan masyarakat diketahui sebagai pandangan fungsionalis tentang agama. Ada banyak hipotesis fungsionalis, antara lain ide bahwa agama adalah "candu massa", yg dipakai oleh yg si kuat untuk mengendalikan orang miskin lemah. Ada pula proposal bahwa iman mendukung intelektualisme abstrak yg diperlukan untuk sains & hukum.

Salah satu tema yg sering muncul adalah kohesi sosial: agama menyatukan sebuah komunitas, yg kemudian dapat membentuk kelompok perburuan, membangun kuil atau mendukung sebuah partai politik.

Kepercayaan-kepercayaan yg bertahan adalah "produk jangka panjang dari tekanan budaya yg luar biasa kompleks, proses seleksi, & evolusi", tulis Connor Wood dari Pusat Pikiran & Budaya di Boston, Massachusetts.
Gerakan keagamaan baru dilahirkan sepanjang waktu, tetapi beberapa akbar tidak bertahan lama. Mereka harus bersaing dengan agama lain demi pengikut & bertahan dari lingkungan sosial & politik yg berpotensi melemahkan.

Dengan argumen ini, agama apa pun yg bertahan harus menawarkan manfaat nyata kepada penganutnya.
Kekristenan, misalnya, hanyalah salah satu dari banyak gerakan keagamaan yg muncul & beberapa akbar menghilang selama Kekaisaran Romawi. Menurut Wood, agama Kristen dibedakan oleh etos merawat orang sakit, yg berarti lebih banyak orang Kristen yg selamat dari wabah penyakit daripada orang kafir Roma.
Islam, juga, pada awalnya menarik pengikut dengan menekankan kehormatan, kerendahan hati & kasih amal, kualitas yg tidak ditemukan di Arab Abad ke-7 yg terus bertikai.

Berdasarkan hal ini, kita dapat memprediksi bentuk yg diambil agama supaya dapat memainkan fungsinya dalam masyarakat tertentu. Atau seperti yg dikatakan Voltaire, bahwa masyarakat yg berbeda akan menciptakan dewa-dewa tertentu yg berbeda sesuai dengan apa yg mereka butuhkan.
Sebaliknya, kita mungkin memperkirakan kalau masyarakat yg sama akan memiliki kepercayaan yg sama, bahkan kalau mereka berkembang secara terpisah. Dan ada beberapa buktinya, meskipun tentu saja ketika membicarakan agama, akan sering ada pengecualian.
Masyarakat pemburu & peramu, misalnya, cenderung percaya bahwa semua benda, baik hewan, sayuran atau mineral, memiliki aspek supernatural (animisme) & bahwa dunia dipenuhi dengan kekuatan supernatural (animatisme).

Mereka harus dipahami & dihormati, & moralitas manusia pada umumnya tidak menonjol secara signifikan. Pandangan dunia ini dapat diterapkan bagi kelompok-kelompok yg kecil yg tidak membutuhkan kode perilaku yg abstrak, tetapi harus memahami lingkungannya secara intim. (Pengecualian: Shinto, agama animisme kuno, masih dipraktikkan secara luas di Jepang yg sangat modern.)


Di ujung lain spektrum yg berbeda, beberapa akbar masyarakat Barat loyal pada agama-agama di mana ada satu tuhan yg mengawasi & berkuasa & kadang-kadang memaksakan instruksi moral: seperti Yahweh, Kristus, & Allah.
Menurut psikolog Ara Norenzayan, kepercayaan pada "Tuhan-tuhan yg Maha Besar" inilah yg memungkinkan terbentuknya masyarakat sosial yg terdiri dari sejumlah akbar orang yg tidak saling mengenal.

Apakah kepercayaan itu merupakan sebab atau akibat, hingga baru-baru ini masih diperdebatkan. Tapi yg jelas berbagi kesamaan keyakinan memungkinkan orang hidup berdampingan dengan (relatif) damai. Pemahaman bahwa kita sedang diperhatikan oleh Tuhan yg Maha Besar menciptakan kita harus memastikan untuk berperilaku baik.


Atau setidaknya, dulu pernah begitu. Sekarang, banyak masyarakat kita yg sangat akbar & multikultural: penganut banyak agama saling berdampingan satu sama lain - & juga semakin banyak orang yg mengatakan bahwa mereka tidak beragama sama sekali.
Kita mematuhi hukum yg dibuat & ditegakkan oleh pemerintah, bukan oleh Tuhan. Sekularisme sedang meningkat, dengan ilmu pengetahuan menyediakan media untuk memahami & membentuk dunia.

Mengingat semua itu, ada konsensus yg berkembang tentang masa depan agama adalah bahwa, ia tidak memiliki masa depan.

Bayangkan kalau tidak ada surga
Arus intelektual & politik yg kuat sudah menawarkan ide ini sejak awal zaman ke-20. Sosiolog berpendapat bahwa kebangkitan sains mengarah pada "kekecewaan" masyarakat: jawaban supernatural untuk pertanyaan akbar terasa tak dibutuhkan. Negara-negara komunis seperti Soviet Rusia & China mengadopsi ateisme sebagai kebijakan negara & bahkan tidak menyukai ekspresi keagamaan pribadi.
Pada tahun 1968, sosiolog terkemuka Peter Berger mengatakan kepada New York Times bahwa pada "abad ke-21, umat beragama cenderung ditemukan cuma dalam sekte kecil, berdesakan bersama untuk menolak budaya sekuler di seluruh dunia".

Sekarang setelah kita benar-benar berada pada zaman ke-21, pandangan Berger tetap jadi artikel pedoman bagi banyak sekularis. Para penerusnya tetap bertahan dengan hasil survei yg menunjukkan bahwa di banyak negara, makin banyak orang menyatakan bahwa mereka tidak beragama.

Utamanya di negara-negara kaya & stabil seperti Swedia & Jepang, tetapi juga, yg lebih mengejutkan, di tempat-tempat seperti Amerika Latin & dunia Arab. Bahkan di AS, yg sebelumnya merupakan dispensasi dari aksioma bahwa negara-negara kaya lebih sekuler, jumlah "tidak beragama" sudah meningkat tajam.

Dalam Survei Sosial Umum 2018 tentang sikap masyarakat AS, "tidak ada agama" jadi grup tunggal terbesar, mengalahkan jumlah penganut Kristen evangelis.
Meskipun demikian, agama tidak menghilang dalam skala global, setidaknya dalam hal jumlah.
Pada 2015, Pusat Penelitian Pew menciptakan model perkiraan masa depan dari agama-agama akbar dunia berdasarkan demografi, migrasi, & konversi.
Bertentangan dengan data penurunan religiusitas yg tinggi, ia justru meramalkan peningkatan rata-rata jumlah penganut agama, dari 84% populasi dunia saat ini jadi 87% pada tahun 2050. Muslim akan tumbuh dalam jumlah yg menyamai Kristen. Adapun jumlah mereka yg tidak berafiliasi dengan agama apa pun akan sedikit menurun.
Pola yg diprediksi Pew adalah "Barat akan semakin sekuler, namun di belahan dunia lain sisanya, agama justru tumbuh cepat". Agama akan terus tumbuh di tempat-tempat yg tidak stabil secara ekonomi & sosial seperti beberapa akbar sub-Sahara Afrika. Sebaliknya, kaum beragama akan menurun di tempat yg stabil.
Ini sesuai dengan apa yg kita ketahui tentang pendorong utama sisi psikologis & neurologis para penganut agama. Ketika kehidupan sulit atau bencana melanda, agama tampaknya memberikan benteng pertahanan psikologis (dan kadang-kadang praktis).

Dalam sebuah penelitian penting, korban gempa bumi 2011 di Christchurch, Selandia Baru jadi jauh lebih religius daripada orang Selandia Baru lainnya, yg secara biasa jadi sedikit kurang religius.


Kebudayaan modern terdiri atas berbagai macam agama yg hidup berdampingan.

Kita juga perlu berhati-hati ketika menafsirkan apa yg orang maksudkan dengan "tidak ada agama". "Mereka yg tidak beragama" mungkin tidak tertarik pada agama yg terorganisasi, tetapi itu tidak berarti mereka ateis secara militan.
Pada tahun 1994, sosiolog Grace Davie mengklasifikasikan orang berdasarkan apakah mereka termasuk dalam kelompok agama dan/atau percaya pada posisi keagamaan. Penganut agama tradisional mengaku masuk dalam salah satu kelompok agama percaya pada posisi keagamaan. Ateis garis keras tidak mengerjakan keduanya.

Lalu ada orang-orang yg mengikuti agama tradisional tetapi tidak percaya. Seperti orang tua yg menghadiri gereja demi tempat bagi anak mereka di sekolah agama, mungkin. Dan, akhirnya, ada orang-orang yg percaya pada sesuatu, tetapi tidak termasuk kelompok mana pun.
Penelitian menunjukkan bahwa dua kelompok terakhir itu signifikan. Proyek Understanding Unbelief di University of Kent di Inggris mengerjakan survei selama tiga tahun di enam negara mengenai sikap mereka yg tidak percaya Tuhan itu ada ("ateis") & mereka yg berpikir tidak mungkin untuk mengetahui apakah Tuhan itu ada atau tidak ("agnostik").


Dalam hasil sementara yg dirilis pada Mei 2019, para peneliti menemukan bahwa beberapa orang yg tidak percaya benar-benar mengidentifikasi diri mereka dengan label-label ini, sementara sejumlah minoritas signifikan lain memilih bukti diri agama.
Selanjutnya, sekitar tiga perempat ateis & 9 dari 10 agnostik terbuka kepada keberadaan fenomena supernatural, mulai dari astrologi hingga makhluk supernatural & kehidupan setelah kematian. Orang-orang yg tidak percaya "menunjukkan keragaman yg signifikan" di berbagai negara.

Maka, ada banyak cara untuk jadi orang yg tidak percaya, laporan itu menyimpulkan. Ini termasuk, khususnya, status yg banyak dipasang di situs kencan "spiritual, tetapi tidak religius". Seperti banyak klise, itu berakar pada kebenaran. Tapi apa sebenarnya artinya?

Para dewa tua kembali

Pada tahun 2005, Linda Woodhead menulis The Spiritual Revolution, di mana ia menggambarkan hasil studi intensif tentang kepercayaan di kota Kendal di Inggris.
Woodhead & rekan penulisnya menemukan bahwa orang-orang dengan cepat berpaling dari agama yg terorganisasi, yg menekankan pada kemampuan menyesuaikan diri pada hal-hal yg sudah mapan, menuju praktik-praktik yg dirancang untuk menonjolkan & menumbuhkan pemahaman perseorangan tentang siapa diri mereka.
Jika gereja-gereja Kristen di kota itu tidak menerima perubahan ini, mereka menyimpulkan, jemaat-jemaat akan menyusut jadi tidak relevan sementara praktik-praktik yg membimbing diri sendiri akan jadi arus utama dalam sebuah "revolusi spiritual".
Hari ini, menurut Woodhead revolusi sudah terjadi, & bukan cuma di Kendal. Agama yg terorganisasi semakin berkurang di Inggris, tanpa diketahui bagaimana akhirnya nanti.
"Agama-agama akan berjalan dengan baik, & sering berhasil, ketika mereka sanggup meyakinkan secara subyektif, ketika Anda memiliki perasaan bahwa Tuhan bekerja untuk Anda," mengatakan Woodhead, sekarang profesor sosiologi agama di University of Lancaster di Inggris.

Dalam masyarakat yg lebih miskin, Anda mungkin berdoa untuk keberuntungan atau pekerjaan yg stabil.
"Injil kemakmuran" adalah pusat beberapa gereja akbar Amerika, yg jemaatnya sering didominasi oleh jemaat yg tidak kondusif secara ekonomi. Tetapi kalau kebutuhan dasar Anda terpenuhi dengan baik, Anda cenderung mencari kepuasan & makna hidup.

Agama tradisional gagal mewujudkan hal ini, khususnya ketika doktrin berbenturan dengan keyakinan moral yg muncul dari masyarakat sekuler. Kesetaraan gender, contohnya.

Sebagai tanggapan, orang-orang sudah mulai membangun kepercayaan pribadi mereka sendiri. Seperti apa agama-agama berdikari ini? Salah satu pendekatan adalah sinkretisme, pendekatan "ambil & campur" yg menggabungkan tradisi & praktik yg sering dihasilkan dari percampuran budaya.
Banyak agama memiliki unsur-unsur sinkretis, meskipun seiring waktu mereka berasimilasi & jadi praktik biasa. Festival seperti Natal & Paskah, misalnya, memiliki unsur-unsur pagan kuno, sementara praktik sehari-hari bagi banyak orang di China melibatkan campuran agama Buddha, Taoisme, & Konfusianisme Mahayana.
Gabungan lebih mudah dilihat dalam agama yg relatif muda, seperti Vodoun atau Rastafarianisme.

Alternatifnya adalah merampingkan. Gerakan-gerakan keagamaan baru sering berusaha untuk melestarikan prinsip inti agama yg lebih tua, sambil menanggalkan ornamen antik yg mungkin menciptakan sesak.
Di Barat, satu bentuk yg diambil adalah ketika kaum humanis berusaha memperbaiki bentuk keagamaan. Ada upaya untuk menulis ulang Alkitab tanpa unsur supranatural, menuntut pembangunan "kuil-kuil ateis" yg didedikasikan untuk kontemplasi.

Dan "Sidang Minggu" bertujuan untuk menciptakan kembali suasana pelayanan gereja yg hidup tanpa merujuk kepada Allah. Tetapi tanpa akar-akar agama tradisional yg dalam, mereka sulit bertahan: Majelis Minggu misalnya, setelah peluasan awal yg cepat, sekarang dilaporkan harus berupaya keras untuk mempertahankan momentumnya.
Tetapi Woodhead berpikir bahwa agama-agama yg mungkin muncul dari kekacauan saat ini akan memiliki akar yg lebih dalam.

Generasi perdana revolusi spiritual, yg dimulai pada 1960-an & 1970-an, memiliki pandangan optimistis & universal, dengan bahagia hati mengambil inspirasi dari agama-agama dari seluruh dunia. Namun cucu-cucu mereka yg tumbuh dalam dunia yg penuh tekanan geopolitik & kecemasan sosial ekonomi lebih cenderung mengingat kembali masa lalu yg semestinya lebih sederhana.
"Ada pergeseran dari universalitas global ke bukti diri lokal," mengatakan Woodhead. "Sangat penting bahwa mereka adalah tuhan pribadinya, bukan sesuatu yg dibuat-buat."
Dalam konteks Eropa, ini memberikan pentas untuk kebangkitan minat pada paganisme. Menciptakan kembali tradisi "pribumi" yg setengah terlupakan memungkinkan pengungkapan kepedulian modern sambil mempertahankan semangat zaman.

Paganisme juga sering menampilkan dewa-dewa yg lebih mirip kekuatan membaur daripada dewa-dewa antropomorfik. Ini memungkinkan orang untuk fokus pada masalah-masalah yg mereka pedulikan tanpa harus mengerjakan lompatan iman kepada dewa-dewa supranatural.

Di Islandia, misalnya, kepercayaan satr yg kecil tetapi tumbuh cepat, tidak memiliki doktrin tertentu di luar seremoni di lingkup kebiasaan & mitologi Norwegia Kuno, tetapi aktif dalam masalah sosial & ekologi.
Gerakan serupa ada di Eropa, seperti Druidry di Inggris. Tidak semua cenderung liberal. Beberapa termotivasi oleh keharapan untuk kembali ke apa yg mereka lihat sebagai nilai-nilai "tradisional" yg konservatif. Dalam beberapa kasus, ini berbenturan dengan validitas keyakinan yg bertentangan. Hari ini 00:14
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.