• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Baca Ini Biar Nggak Baper Dikerjai Algoritma Medsos

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Baca Ini Biar Nggak Baper Dikerjai Algoritma Medsos


Cangkeman.net- Setelah matinya friendster, temanku menyarankan untuk menciptakan akun Facebook, itupun supaya ia dapat mengajakku bermain game. Kubuat dengan nama asli, foto profilnya mengpakai foto default yg ada di folder wallpaper windows 7 komputer warnet. Pokoknya yg penting ada dulu. Setelah ada, ya nggak saya apa-apakan, penghuninya belum seramai sekarang yg udah kelewat bising. Akun facebook itu baru kuurusi ketika seorang teman meledekku di lab komputer kalau saya ternyata punya akun & fotonya mengpakai foto wallpaper komputer. Satu kelas menertawakanku. Aku sih yakin banget, mayoritas yg tertawa itu belum punya akun, bahkan belum pernah mengaksesnya sama sekali.
Dari situ saya mulai menghidupkan akun facebook. Aku pakai untuk membagikan hal-hal yg kualami, saling berkomentar, berbalas like, wall to wall, atau cuma saling berkata salkomsel.Seiring majunya waktu, saya mulai mengpakai Facebook untuk berbagi informasi-informasi, misuh, atau bahkan jadi album foto cloud. Karena fitur facebook masih sangat minim.

Tidak lama kemudian, akun menciptakan akun twitter di 2009. Seperti biasa, saya jelajahi fitur-fitur yg ada & ternyata twitter lebih terbatas, tetapi dari keterbatasan itulah timbul kesan ekslusif.
Aku kurang tahu bagaimana dapat instagram & twitter menyajikan konten yg saya sukai walaupun saya jarang membicarakannya. Aku cuma berinteraksi via kunjungan akun & like beberapa post. Begitu pula Facebook, mereka mengubah urutan kiriman yg awalnya berdasarkan waktu kiriman (yang paling baru dikirim akan ditampilkan paling atas) jadi yg dirasa menarik bagiku ditampilan paling awal.
Ternyata mereka sudah membangun algoritmanya!
Algoritma disusun berdasarkan data yg terkumpul dari aktivitas kita. Kata kunci, akun yg dikunjungi, kiriman yg dilihat, like, semuanya dikumpulkan & dikemas untuk kemudian diaplikasikan kembali ke akunku.

Aku analogikan media sosial adalah sebuah pasar yg sangat luas, & anda adalah calon pembelinya. Algoritma ini bagaikan calo. Ketika anda memasuki pasar pada saat perdana kali, anda melihat pasar seperti pada umumnya, pedagang yg beragam diposisinya yg bertebaran. Kamu mulai melihat lihat sayuran, sempat berhenti di depan toko daging, & akhirnya menanyakan harganya, kemudian pulang. Tapi tanpa anda sadari si calo tadi sering mengikuti kamu, mencatat apa yg anda lihat & di toko mana anda berhenti. Keesokan harinya ketika kemu mendatangi pasar, si calo langsung menhampirimu & menawarkan berbagai macam daging, kemudian sayuran & tetek bengeknya. Ia mengantarkanmu ke toko sayur yg ada. Di toko sayur, anda membeli cabai & wortel, namun calo tadi tetap menawarkanmu daging.

Hari ketiga anda ke pasar, calo tadi sudah menyajikan toko sayur & daging di bagian depan pasar, & langsung menawarimu berbagai cabai, wortel & sayuran lain, tak lupa juga tetap menawarkanmu daging. Sampai anda lupa bahwa anda juga harus mencari sabun cuci piring. Tapi karena calo tadi, toko sabun cuci piring seperti tak terlihat. Nah kalau anda turuti terus saran di calo ini maka anda akan tetap di situ-situ saja.
Calo harus dijinakkan, kitalah yg menentukan mau kemana & membeli apa. Kita harus dapat menolaknya & bilang kalau kita mau ke toko sabun. Maka ia pun akan mulai berhenti menyarankan sayuran & daging. Tapi masalah kembali muncul, yaitu esoknya ia akan menawari kita berbagai macam sabun, tampilan depan pasar dipenuhi pedagang sabun. Padahal kita cuma harap membeli garam, misalnya.
Kurang lebih seperti itulah cara algoritma media sosial bekerja. Membaca kebiasaan & ketertarikan kita kemudian menyajikan sesuatu yg revelan dengan itu.

Namun, bagiku algoritma ini semakin menjenuhkan. Bukan karena mereka jarang menyajikan yg saya sukai, namun justru lebih dari itu. Mereka menjadikanku katak dalam tempurung. Itu-itu saja yg kulihat. Tak ada pandangan lain, pemikiran yg berlawaan, atau penyeimbang argumen. Semuanya seperti tidak ada. Hanya yg sesuai dengan pemikiranku saja yg disajikan. Menurutku ini berbahaya sekali, ini dapat mematikan nalar seseorang & terjerumus dalam satu pandangan saja.

Aku berpikir untuk menjinakkan algoritma ini, supaya jangan hingga saya dikendalikan olehnya, tetapi ia yg kuperalat, & memang ia hanyalah alat untuk menolong manusia. Kita kembalikan ke fitrahnya saja kalau gitu.
Aku mulai mengakses akun-akun yg bersebrangan lalu semisal saya mempunyai pendangan A maka saya juga berinteraksi dengan pandangan B. Aku mendukung gerakan A & membenci gerakan B. Maka saya berinteraksi dengan keduanya. Informasi di beranda mulai beragam, tidak monoton seperti sebelumnya. Namun buah dari akses yg kubuka, mulai tampil akun-akun ekstrimis, ekstrimis kanan maupun kiri. Kontennya gila, sehari dapat puluhan kali, & karena "mau gak mau" pasti terlihat maka algoritma mencatat saya sering melihat konten tsb & mengira bahwa saya menyukainya. Tidak butuh waktu lama, akun-akun sejenis mulai makin banyak yg muncul.

Selanjutnya rumput-rumput liar ini kupangkas habis. Aku blokir satu persatu, report & memeriksa keterkaitannya dengan akun-akun yg saya ikuti. Kemudian saya sedikit berhati-hati menyetop scroll, cuma di konten yg benar-benar menurutku bermanfaat. Kemudian di akun-akun hiburan fresh. Bahkan tidak sekalipun menyempatkan like di konten yg sekiranya akun-akun sejenis dengan konten tersebut dapat menciptakan bising lagi. Feed media sosialku mulai bersih, setidaknya sampah yg ada hanyalah meme-meme komik lucu-lucuan & shitpost yg memang sengaja tidak "kubuang".
Akhirnya algoritma jadi jinak dengan sendirinya.

Algoritma dahulu memang sebuah teman bagi kita untuk menjelajahi luasnya internet & menemui apa yg kita maksud & yg serupa dengan itu. Namun semakin diikuti, kita justru akan terjebak dalam suatu circle yg kita buat sendiri & yg lebih parah algoritma terus menjejali kita dengan itu. Ia butuh dijinakkan. Butuh kekangan supaya tidak membabi buta. Aku berpikir, apakah mereka akan berhenti hingga di sini? Aku kira tidak.Mereka akan mempelajari kita lebih kompleks lagi. Tapi setidaknya hal-hal dasar kita dalam bersosial tidak terdikte olehnya. Tapi dengan semakin candunya kita kepada teknologi, apa kita dapat ?
Kembali lagi, ini semua cuma bisnis, sayang...


Masih banyak artikel menarik lainnya di
www.cangkeman.net
Update setiap hari!

Hari ini 10:17
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.