• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

[B] JAMUAN REVOLUSI Membangun Peradaban China Modern

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. xuXux
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

xuXux

IndoForum Newbie E
No. Urut
45114
Sejak
2 Jun 2008
Pesan
30
Nilai reaksi
1
Poin
8
Rene L Pattiradjawane

Menjadi negara besar seperti China ternyata menimbulkan persoalan-persoalan yang tidak ada preseden dalam sejarah manusia. Daratan China tidak hanya menarik sebagai tempat tujuan investasi masyarakat dunia, tetapi di sisi lain juga menghadirkan persoalan bagaimana perubahan menuju modernisasi harus mampu bersahabat dengan peradabannya yang sudah berusia ribuan tahun.

Dengan penduduk terbesar di dunia, China benar-benar ”lapar dan rakus” akan berbagai komoditas. Total penduduk China mencakup seperlima penduduk dunia dan bangsa di Negara Tengah ini ”menelan” berbagai produksi komoditas dunia.

Berbagai catatan yang dilaporkan beragam media menyebutkan bahwa China menghabiskan setengah produksi daging babi dunia, setengah semen yang dihasilkan secara global, sepertiga baja, serta seperempat produksi aluminium. China sekarang membelanjakan anggaran devisanya—yang 35 kali lebih banyak dibandingkan tahun 1999—untuk kacang kedelai dan minyak mentah, mengimpor 23 kali lebih banyak tembaga, dan menghabiskan lebih dari empat per lima pasokan tembaga dunia.

China berkembang menjadi sebuah negara kolonialis modern dalam bentuk baru yang tidak ada presedennya dalam sejarahnya. Kolonialisme China yang diterjemahkan dalam negara vatsal pada masa kekuasaan berbagai dinasti—mulai dari dinasti Yuan di bawah Kubilai Khan yang mengirim utusannya ke Pulau Jawa agar takluk terhadap Negara Tengah dengan membayar upeti—sekarang diwujudkan dalam bentuk kebutuhan konsumsi sumber daya alam yang diborong dari negara mana saja di dunia.

Kebutuhan China untuk menopang pertumbuhan industri dalam negeri bergeser dari manufaktur ringan ke industri berat dengan dampak yang sangat serius pada masa depan dalam berbagai kalkulasi ekonomi, politik, sosial, lingkungan hidup, dan sebagainya. Belum pernah dalam sejarah ekonomi, perdagangan, dan industri global bergerak pesat hanya untuk memenuhi kebutuhan satu negara.

Sumber inspirasi

Kolonialisme modern China digambarkan sebagai lebih menakutkan dari yang dilakukan oleh negara-negara Barat. China tidak hanya menjadi ”pemborong” berbagai sumber alam dunia, tetapi juga menjadi kekuatan komersial yang mengambil alih semua dogma politik global tentang diplomasi damai, demokrasi liberal, dan norma-norma internasional.

Belum pernah dalam sejarah pertumbuhan negara-negara Afrika yang kaya akan sumber daya alam memperoleh bantuan yang begitu besar dari China dibandingkan dengan apa yang dijanjikan oleh negara-negara Barat kampiun ekonomi liberal dan demokrasi. Banyak negara Afrika mulai melirik China sebagai sumber devisa penting bagi pertumbuhannya menggantikan posisi danang Moneter Internasional (IMF) yang memberikan bantuan dengan persyaratan ketat.

China adalah kekuatan baru dunia dengan skala ekonomi dan perdagangan yang masif, menjadi sumber inspirasi bagi negara Afrika dan Amerika Latin. Selama 50 tahun, upaya bantuan ekonomi dan kemanusiaan yang dijanjikan Barat tidak berhasil membawa kesejahteraan dibandingkan dengan China yang terus mencari sumber daya alam untuk keperluan domestik modernisasi dan reformasinya.

Ekspansi kekuatan China juga memengaruhi kebudayaan dan peradaban yang dianutnya. Bahasa Inggris yang menjadi lingua franca globalisasi mulai tergeser dengan bahasa Inggris dialek China yang disebut sebagai Chinglish (Chinese English). Seperti juga Singlish (Singapore English)— yang mengubah keseluruhan tata bahasa Inggris—Chinglish mengharuskan orang-orang Inggris sendiri harus belajar kembali bahasa ibunya untuk bisa berkomunikasi di daratan China.

Jamuan revolusi

Masa kejayaan China kembali terbentuk seperti pada masa Dinasti Tang (618-907) dan Dinasti Ming (1368-1644) yang kaya dengan peradaban tinggi, perdagangan yang luas, dan ekonomi yang makmur. Seperti ucapan Mao Zedong, pendiri China modern di bawah dogma komunisme, yang mengatakan, ”Sebuah revolusi bukan jamuan malam, atau menulis puisi, melukis, atau merajut....”

Mao menggambarkan revolusi adalah kebangkitan perlawanan, sebuah tindakan yang penuh kekerasan, di mana kelas masyarakat yang satu menggulingkan yang lain. Dan kebangkitan ekonomi dan pembangunan modernisasi China adalah sebuah revolusi, menggilas seluruh sumber daya alam yang dibutuhkannya.

Dari Indonesia dan Asia Tenggara, China membutuhkan karet untuk roda jutaan kendaraan yang diproduksinya. Dari Australia, China membutuhkan batu bara untuk menghidupkan industrinya. Di Angola, Kongo, dan Sudan, China membutuhkan minyak mentah murah. Di Amerika Latin, kayu hutan Amazon menjadi sumber penting bagi reformasi dan modernisasi China.

China tidak hanya menjadi pengimpor yang masif, tetapi juga pengekspor raksasa untuk berbagai macam komoditas. Persoalan yang dihadapinya pun memiliki skala besar berdampak masif ke seluruh dunia. Tahun 2006 saja, laporan Pemerintah China menyebutkan ada lebih dari 60.000 aksi protes dan demonstrasi, bukan hanya oleh kaum petani yang menjadi tulang punggung komunisme China, tetapi juga terstruktur oleh rakyat kelas menengah di Shanghai dan Xiamen.

Abad ke-21 adalah abad China yang entah akan berakhir kapan. Yang pasti, abad China yang ditandai dengan meluasnya perdagangan dan peningkatan kesejahteraan ekonomi telah mengubah peradaban dunia yang dibangun atas norma-norma yang berbeda, setidaknya menyesuaikan diri dengan norma dan peradaban yang dianut China. (Sumber KOMPAS CETAK Kamis, 21 Agustus 2008)
 
duh tulisan semua itu...

china emang hebat dari negara miskin sampe jadi negara kaya seperti sekarang, mereka bener bener bisa basmi korupsi yang ada ya
 
iya...

gw denger2, pertumbuhan ekonomi di China yang sampe 2 digit itu uda ditekan semaksimal mungkin sama pemerintahnya loh....
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.