Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Setelah sekian lama berkutat dengan fikiran serta masa lalunya, akhirnya Ayana memutuskan untuk pergi ke Cirebon. Tempat di mana sahabatnya akan menikah sekaligus tempat masa lalunya berada untuk saat ini.
"Assalamualaikum Kak," sapa Ayana dalam ponsel genggamnya.
"Wa'alaikumussalam. Jadi kan?"
"Insya jadi. Tiketnya asal jadi ya! kalau tiketnya nggak jadi, saya nggak bakal dateng pokoknya!"
"Siap deh. Aku deg-degan tau Kak, bentar lagi mau nikah," celoteh Dila.
"Kenapa cepet-cepet emangnya? Kamu nggak hamil kan?" tebak Ayana bergurau.
"Astaghfirullah Kak, ya enggak lah!" pekik Dila dari seberang.
"Hehehe, ya kali aja kan? Habisnya buru-buru banget sih. Kan saya jadi jomblo sendiri sekarang!" rajuk Ayana.
"Salah siapa nggak dapat move on dari masa lalu, salah siapa masih nungguin yg nggak pasti."
"Aku juga pengennya dapat move on Kak, tetapi mau gimana lagi, sulit banget rasanya."
"Ikhlasin Kak. Mungkin aja sekarang dia juga udah bahagia sama yg lain. Buat apa nunggu dia yg udah bahagia sama yg lain?!" jawab Dila degan gemas.
"Aku nggak nungguin Kak!" elak Ayana.
"Ya udah deh terserah anda aja. Aku nggak bakal ngundang dia kok, jadi kakak tenang aja. Kemungkinan ketemu dia cuma kecil, anda nggak usah khawatir."
"Siap. Makasih banget ya."
"Ay ay bu nyai, hahaha." Dila tertawa di susul oleh tawa Ayana yg juga terdengar jelas di balik ponsel Dila.
"Siap deh, saya tutup ya, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."Setelah mengerjakan percakapan singkat via telephone bersama dengan sahabatnya, akhirnya Ayana memutuskan untuk memejamkan kedua netranya guna mengusir kenangan indahnya di masa lalu.
Bukannya tak ada niat untuk mengikhlaskan pujaan hatinya. Namun sekuat apapun perasaannya, hatinya kembali lagi. Kembali pada masa lalu yg sudah berhasil mengambil alih kinerja perasaan kepada lawan jenisya.Sudah berulang kali juga Ayana mencoba untuk memejamkan kedua netranya, namun malam ini seperti malam-malam sebelumnya.
Hanya satu yg menciptakan Ayana muda untuk tertidur, yaitu surat pemberian dari pujaan hatinya beberapa tahun silam.Sudah letih sebenarnya Ayana seperti ini. Tidurnya bergantung pada surat yg entah mengapa masih dia simpan & jaga dengan baik. Dan Ayana-pun juga harus bekerja di pagi harinya dengan mata yg masih mengantuk.
Terasa berat kedua kelopak matanya ketika harap terbuka, namun kalau tidak di paksakan maka Ayana akan tertinggal sholat subuh.
Empat tahun menjalani kesendirian tanpa pasangan hidup, rasanya biasa bagi Ayana. Yang tak biasa adalah saat di mana dia teringat akan sosok penyemangat di saat masa terpuruknya enam tahun lalu. Saat di mana Ayana harus kehilangan sosok sang nenek yg biasa menemaninya saat tidur. Tidur yg terasa hangat karena mendapatkan pelukan hangat yg kini tak lagi & tak akan lagi di dapatkan olehnya.
"Kak, tangi!" teriak sang Ibu di depan kamarnya sembari mengetuk pelan pintu kamar Ayana.
"Nggeh Buk, pun tangi niki. Tasek dereng mbukak mripat mawon," jawab Ayana sembari mengerjapkan kedua netranya untuk menyeimbangi kedua netranya dengan sinar lampu yg menerangi kamar miliknya.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, tak ada lagi teriakan sang ibu yg menggema di penjuru rumah. Dengan perlahan & langkah kaki yg gontai, Ayana berjalan keluar kamarnya menuju arah kamar mandinya untuk mengambil air wudhu yg kemudian di lanjutkan dengan sholat subuh.
-----o0o-----
Beberapa hari sudah di lewati oleh Ayana. Karena terlalu sering memikirkan kapan dia pergi ke Cirebon, akhirnya dia melupakan bahwa besok dia harus sudah pergi ke sana. Satu yg di cemaskan oleh Ayana, yaitu kemungkinan dia akan berjumpa dengan sang pujaan hati.
Tak ada yg salah memang kalau mereka berjumpa lagi. Hanya saja Ayana takut dia akan kembali ke dalam pelukan sang kekasih hatinya. Ayana takut bahwa akan sulit untuk melupakan & mengikhlaskan sesorang yg sudah berhasil mengambil hatinya hinga saat ini. Dan hal terparahnya, yaitu apabila dia sekarang sudah berkeluarga dengan wanita lain.
Dengan membayangkannya saja sanggup menciptakan dada Ayana sesak, bagaimana kalau hal itu memang benar-benar terjadi?Andai saja Dila tidak menghubunginya tadi pagi & membicarakan masalah tiket, maka sudah di pastikan Ayana akan melupakan bahwa besoklah Ayana akan pergi ke Cirebon.
Beberapa baju serta keperluan pribadinya sudah di siapkan di dalam tas ransel miliknya. Tas berwarna hijau tersebut sudah tergeletak manis di atas meja di dalam kamarnya. Di pandangnya lagi paras seseorang yg berada di dalam ponsel miliknya.
"Besok saya pergi ke Cirebon untuk yg perdana kalinya Kak. Entah kita bakalan berjumpa atau enggak, saya harap itu yg terbaik untuk kita." Di pandanginya secara mendalam paras di dalam handphone. Ayana menghembuskan napasnya perlahan.
"Udah enam tahun kita nggak berjumpa sama sekali. Aku harap anda bahagia disana Kak. Hanya sepucuk surat serta foto ini yg saya miliki untuk mengingat kamu. Mengingat segala kenangan yg sudah terjadi di antara kita selama ini."
"Apa anda juga masih nyimpen surat dari aku? Ah, saya lupa. Suratnya udah kecuci kan ya? Udah nggak ada asa lagi berarti buat saya ya? Aku rindu sama kamu. Apa saya egois kalau saya harap sering bersamamu?" ayana tersenyum miris.Di pandangnya lagi surat yg sudah hampir sobek. Surat yg sering di jaga olehnya. Surat yg sering menemaninya di saat dia sedang merindukan sang pujaan hatinya.
"Bismillah, anda dapat Ayana. Kamu kuat apapun yg terjadi!" gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Keesokan paginya, Ayana sudah bersiap dengan baju gamis berwarna abu-abu beserta kerudung hitam miliknya. Karena dia pergi ke Cirebon, akhirnya dia meminta izin cuti tidak bekerja selama sepuluh hari lamanya.
Dengan modal bismillah, Ayana melangkahkan kakinya menuju mobil yg di kendarai oleh Bapaknya. Di temani dengan sang Ibu & Adik yg berada di dalam mobil, menciptakan suasana jadi tidak hening.Tingkah menjengkelkankan sang adik sering menciptakan Ayana merasa kesal sendiri. Namun setelah beberapa menit berlalu, mereka berdua kembali bercanda. Suara musik yg di putar juga menciptakan suasana jadi ramai.
Butuh waktu sekitar hampir satu jam lamanya hingga mereka ber-empat hingga di stasiun kereta api. Ini adalah kali pertamanya Ayana menaiki kendaraan yg bukan beroda empat, tiga ataupun dua. Di tambah lagi dia sendiri kali ini. Tidak ada teman yg menemani.
Duduk sendiri di dalam kereta api menciptakan Ayana jadi risih. Ada beberapa tatapan yg menciptakan Ayana sendiri bingung di buatnya. Setelah di lihat-lihat, Ayana merasa tidak ada yg salah dengan penampilannya.
Hingga sebuah suara yg cempreng menciptakan Ayana tersadar dari kebingungannya. Suara anak laki-laki yg memanggilnya menciptakan Ayana sendiri gemas mendengarnya.
"Tante, Boy boleh duduk di sini?" pinta anak laki-laki tersebut sembari menunjuk kursi yg ada di sebelahnya.
"Boleh kok," jawab Ayana sembari tersenyum ke arahnya.
"Maaf Mbak, saya boleh duduk di sini juga?" kata seorang laki-laki dewasa yg berusia kurang lebih lima tahun di atasnya.
"Iya, silahkan Mas." Ayana tersenyum kecil.Sejak kedatangan sang anak kecil, suasana di sekitar tempat duduk Ayana jadi sedikit ramai. Celoteh anak berusia tiga tahun itu tak sedikit menciptakan Ayana jadi terhibur.
"Boy boleh panggil tante Bunda?" harap anak tersebut.Hening.
"Boy, ngga boleh gitu ya," bujuk ayahnya.
"Yah, ya udah deh." Raut kecewa jelas terpancar dari sudut kelopak mata sang anak.
Hingga enam mengatakan sanggup menciptakannya kembali berbinar. "Boy boleh panggil tante Bunda kok."
"Seriusan?!" tanya Boy dengan mata yg sudah berbinar.
"Iya sayang, boleh kok," jawab Ayana gemas hingga mengacak rambut Boy secara pelan.
"Makasih Bunda!" pekik Boy yg kemudian berhambur di pelukan Ayana. Ayana yg melihat tingkah ajaib Boy cuma sanggup terkekeh pelan & membenarkan surai rambut milik Boy yg tadinya sudah tidak berbentuk rapi. Setelah sekian lama berceloteh, akhirnya Boy tertidur di kursi samping Ayana karena merasa kelelahan.
"Maaf ya Mbak, Bundanya Boy udah meninggal waktu ngelahirin Boy. Jadi dia kurang kasih sayang seorang Ibu. Mungkin karena terlalu kangen sama Ibunya, jadi Boy tadi bilang gitu sama Mbak," sesal lelaki tersebut.
"Nggak papa kok Mas, kasian juga Boy."
"Makasih ya Mbak," ujar lelaki tersebut dengan nada yg tulus.
"Sama-sama Mas." Setelah itu tidak ada lagi dialog antara Ayana dengan lelaki tersebut, hingga akhirnya Ayana memutuskan untuk menyusul Boy yg tertidur di dalam mimpinya.Karena merasa ada tepukan di lengan tangannya, menciptakan Ayana harus bangun tidur lelapnya.
Dengan mata yg masih mengerjap, Ayana mencoba untuk bangun & mencari kesadarannya.
"Bunda bangun, kita udah hingga," celetuk Boy sembari menepuk lengan milik Ayana.
"Bunda ketiduran ya?" Ayana mengerjapkan kedua kelopak netranya.
"Boy tadi juga ketiduran kok Bun. Ayo kita turun,"
"Ayo."Di saat Ayah Boy harap menggandeng tangan milik Boy, Boy justru menolaknya & lebih memilih bergandengan tangan dengan Ayana. Ayana yg kaget sempat menepis tangan milik Boy sehingga menciptakan bibir Boy jadi menekuk ke bawah.
"Eh, maaf ya Boy, Bunda tadi kaget. Bunda kira tangannya siapa tadi," ujar Ayana sembari mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh milik Boy.
"Iya, ngga papa kok Bunda."
"Boy mau bunda gendong?"
"Mau Bunda!" jawab Boy mengangguk antusias.
"Ya udah sini." Ayana membuka kedua lengan tangannya dengan lebar & dengan gerakan cepat, Boy sudah berada di dalam pelukan Ayana. Karena Ayah Boy merasa tidak enak hati dengan Ayana. Akhirnya Putra, ayah Boy membawakan tas milik Ayana walau sebelumnya Ayana sudah menolak.
"Mbak ada acara apa ke Cirebon?" tanya Putra.
"Mau ngehadiri acara nikahan temen, kalau Mas?"
"Sama Mbak, tiga hari lagi acaranya."
"Eh, kok sama ya? Ngomong-ngomong, jangan panggil saya Mbak ya Mas, panggil saya Lestari aja."
"Sopan emangnya nggak pakek embel-embel Mbak?"
"Sopan lah Mas, kan lebih tua Masnya juga."
"Iya juga sih, hehehe."
"Saya mau permisi dulu Mas, udah ada yg jemput."
"Iya Tar, nggak papa. Boy sama Ayah dulu ya, Bunda mau ke rumah temennya," ujar Putra sembari mengelus kepala Boy.
"Bunda mau tinggalin Boy sama Ayah?" tanya Boy pelan.
"Nanti kapan-kapan kalau ada waktu, kita insyaallah dapat ketemu lagi kok. Maaf ya," jelas Ayana hati-hati.
"Nggak papa kok Bunda, kapan-kapan kita main bareng ya Bunda," ajak Boy antusias.
"Siap kapten," ujar Ayana sembari meletakkan tangan kanannya ke pelipisnya, sehingga Ayana sekarang seperti sedang hormat saat upacara.
"Dadah Bunda," teriak Boy sambil melambaikan tangan kanannya.
"Dadah."Setelah itu, bayangan Putra beserta dengan Boy sudah tak lagi tampak di hadapan Ayana. Hilang di telan oleh banyaknya kumpulan manusia yg sedang berlalu lalang.
Butuh waktu kurang lebih dua jam untuk hingga di daerah Grogol, tempat di mana akan di langsungkan acara perkawinan sang sahabat. Sehingganya di tempat tujuan, Ayana sudah di sambut dengan hangat oleh Dila serta keluarganya.Suara salam di terima oleh keluarga Dila.
Karena rasa bahagianya, Dila langsung memeluk Ayana sebagai pembalasan atas rasa rindunya yg sudah beberapa tahun ini tidak pernah berjumpa secara langsung.
"Dila, lepasin dulu. Malu tau sama keluargamu!" bisik Ayana.
"Eh iya. Kenalin ini Bapak sama Ibuku, & ini Mas serta Kakak Iparku," papar Dila setelah melepaskan pelukannya.
"Assalamualaikum," ucap Ayana sembari mencium punggung tangan kedua orang tua serta kakak ipar Dila. Sedangkan untuk kakak kandung Dila sendiri, dia menelungkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Wa'alaikumussalam. Lestari ya, temen Dila waktu di Jombang?" tebak Ibu Dila.
"Iya tante, maaf ya numpang nginep di sini selama satu minggu, hehehe."
"Nggak papa kok. Anggep aja ini rumah sendiri. Lagi pula, Dila juga kan yg nyuruh anda biar dapat nginep di sini. Sekalian nanti bantu-bantu ya."
"Iya tante."
"Ya udah, ayo masuk. Masa mau ngobrol di luar? Biar Lestari juga bersih-bersih sama istirahat dulu. Nanti aja kalau mau ngobrolnya," titah Bapak Dila.
"Udah makan belum Kak?" tanya Dila saat mereka sudah hingga di kamar tamu.
"Belum Kak, hehehe."
"Ya udah, kakak bersih-bersih aja dulu. Aku ambilin makan."
"Siap, Kak agak banyak dikit ya, laper," bisik Ayana.
"Gampang deh." Dila mengacungkan ibu jarinya sebelum keluar dari kamar yg sementara akan di tempati oleh Ayana.
Setelah Dila keluar dari kamar tamu, Ayana langsung membereskan pakaian yg sudah dibawa olehnya. Usai di rasa sudah selesai semua, Ayana melangkahkan kakinya keluar kamar untuk membersihkan tubuhnya yg sudah agak bau keringat.
"Aku udah hingga di Cirebon Kak," ujar Ayana pada foto yg berada di dalam ponsel miliknya seusai mandi serta makan. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Ayana memutuskan untuk pergi ke alam mimpinya sembari memeluk ponsel yg ada foto seseorang di dalamnya.
-----o0o-----
Kisah kita akan terus terkenang
Meski banyak halangan yg melintang,
Percayalah bahwa kita akan sering bersama
Walau 'tak sanggup bertatap lewat netra
Setidaknya kita jumpa lewat do'a
-----o0o-----