• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Awas Hadits-Hadits Palsu!

bbbb1985able

IndoForum Newbie E
No. Urut
88518
Sejak
4 Jan 2010
Pesan
55
Nilai reaksi
5
Poin
8
Awas Hadits-Hadits Palsu!

Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah dua sumber hukum Islam yang menjadi pegangan hidup umat Islam. Allah sendiri yang akan menjaga al-Qur’an dari pengubahan, penambahan atau pengurangan, walaupun hanya satu huruf atau satu harakat saja. Begitu pula dengan As Sunnah (al-Hadits) sebagai penjaga makna atau penjelas al-Qur’an juga akan terjaga. Maka tidak ada seorangpun di ujung dunia yang membuat-buat hadits dusta kecuali akan terkuak kepalsuannya.

Bagaimana Hadits Bisa Terjaga?

Hadits terjaga dengan adanya sanad hadits. Dengan sanad itulah para ulama ahli hadits bisa membedakan manakah hadits shahih, hadits dhaif (lemah) dan hadits maudhu’ (palsu). Sanad adalah susunan orang-orang yang meriwayatkan hadits. Para periwayat tersebut diperiksa satu persatu secara ketat tentang riwayat hidupnya, apakah ia seorang jujur ataukah pendusta, hafalannya kuat ataukah lemah dan pemeriksaan ketat lainnya. Jika seluruh rawi dalam sanad hadits lulus pemeriksaan maka hadits tersebut berstatus shahih yang wajib kita jadikan pegangan hidup. Dan dengan demikian tersingkaplah hadits-hadits palsu bikinan para pendusta yang sengaja membuatnya untuk merusak agama Islam. Hanya orang-orang jahil saja yang bisa tertipu oleh mereka.

Bagaimana Kita Menyikapi Hadits?

Sebagaimana kita bersikap ilmiah dalam perkara-perkara dunia maka kita juga harus bersikap ilmiahlah dalam perkara agama. Jangan mengambil sebuah hukum atau syariat yang bersumber dari hadits lemah apalagi hadits palsu. Atau ikut-ikutan menyebarkan hadits-hadits lemah dan palsu tanpa menjelaskan status hadits itu. Bahkan ada yang dengan mudahnya mengatakan: “Hadits shahih!” padahal hadits tersebut palsu. subhanallah!! Perbuatan seperti ini telah diancam dalam sebuah hadits yang mulia, “Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di neraka.” (HR. Bukhari juz 1 dan Muslim juz 1). Hadits ini statusnya shahih dan mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalan). Betapa banyak hadits lemah dan palsu yang beredar di kalangan umat Islam karena mereka tidak selektif dalam mendengar dan mengambil hadits, akibatnya adalah munculnya masalah dan penyimpangan dalam kehidupan bermasyarakat, beribadah, berakhlak dan berakidah.

Maraknya Hadits Dhoif dan Maudhu’

Di negeri kita ini banyak sekali hadits-hadits lemah dan palsu yang laris di telinga masyarakat. Di samping ketidaktahuan tentang ilmu hadits, banyaknya para da’i yang menggembor-gemborkan hadits-hadits tersebut memberikan andil dalam menyemarakkannya. Salah satu contohnya ialah hadits, “Carilah ilmu sekalipun ke negri Cina.” Hadits ini adalah hadits mungkar dan batil, tidak ada asal usulnya serta tidak ada jalan yang menguatkannya. Demikianlah para imam ahli hadits telah mengomentari hadits ini seperti Imam Bukhari, Al Uqaili, Abu Hatim, Yahya bin ma’in, Ibnu Hibban dan Ibnu Jauzi. Selain dari sisi sanad yang lemah, maka hadits inipun juga memiki cacat dalam maknanya. Sebab negeri maju ketika itu adalah romawi dan persi, bagaimana Rasulullah hendak memerintahkan sahabatnya untuk belajar ke negeri China yang bukan termasuk negeri adidaya? Dan bagaimana pula Rasulullah menyuruh sahabatnya belajar pergi ke negeri kafir yang jelas-jelas akan membahayakan akidahnya? Wallahul musta’an!

Hadits lain yang laris manis adalah hadits, “Perselisihan umatku adalah rahmat.” Hadits tersebut adalah hadits yang tidak ada asal usulnya dan tidak dikenal oleh ahli hadits, artinya mereka tidak pernah mendapati hadits ini baik dalam status shahih, dhaif ataukah maudhu’. Bahkan Imam Ibnu Hazm berkata, “Ini adalah perkataan yang paling rusak. Sebab jika perselisihan adalah rahmat, maka konsekuensinya persatuan adalah azab. Ini tidak mungkin dikatakan seorang muslim. Karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan serta antara rahmat dan azab.”

Contoh sebuah hadits palsu yang terkenal adalah hadits, “Barang siapa yang shalat seratus rakaat pada malam nishfu sya’ban dari bulan sya’ban, ia baca pada setiap rakaat sesudah Al-Fatihah: Qulhu 10X, maka tidak ada seorangpun yang shalat seperti itu melainkan Allah kabulkan semua hajat yang ia minta pada malam itu ….”. Hadits ini palsu (Lihat Al-Maudhu’at karya Imam Ibnul Jauzi) dan menjadi sumber bid’ah dalam peringatan malam nishfu sya’ban, memberatkan umat dengan sesuatu yang tidak pernah diajarkan Rasulullah. Dan beliau sendiri tidak pernah mengucapkan perkataan ini!

***

Penulis: Abu Ilyas R. Handanawirya
 
Hadist dhaif paling termasyur adalah JIHAD YG PALING BESAR ADALAH JIHAD MELAWAN HAWA NAFSU


" Kita telah pulang dari Jihad kecil menuju Jihad besar" Beberapa
sahabat lalu bertanya, apakah Jihad besar itu wahai Rasulullah
s.a.w? Beliau menjawab : Jihad melawan hawa nafsu".

Itulah hadits yang digunakan oleh banyak orang untuk mengelakkan
diri dari kewajiban Jihad melawan kaum kafir.

Ibnu Taimiyah menyebutkan :
Terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok tertentu
yang menyatakan bahwa sepulang dari perang Tabuk Rasulullah s.a.w
bersabda: "Kita telah kembali dari Jihad kecil menuju Jihad besar".
Hadits ini tidak ada sumbernya, tidak ada seorangpun yang melibatkan
diri dalam bidang keilmuan Islam meriwayatkan hadits ini. Jihad
melawan kafir adalah jelas merupakan satu amalan yang sangat mulia,
bahkan merupakan amal yang sangat penting demi kemanusiaan" (Al-
Furqan Baina Auliyaa-ir Rahman Wa-Auliyaa-isy Syaithaan: 44-45)

padahal firman ALLAH SWT

"Tidaklah sama antara mu'min yang duduk (yang tidak mau beperang)
yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan
Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-
orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang
duduk satu derajat …" (An-Nisa (4) :95)

Dalam shahih Bukhari disebutkan:

"Dari Dzakwan, bahwa Abu Hurairah bercerita kepadanya, katanya:
Seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w dan berkata:
Tunjukkanlah kepadaku amal yang menyamai Jihad Fie Sabilillah.
Rasulullah s.a.w menjawab: Aku tak mendapatinya. Kata beliau
lagi: "Sanggupkah engkau, begitu Mujahid keluar menuju Jihad Fie
Sabilillah, pada masa yang sama engkau memasuki mesjidmu, lalu
engkau sholat terus menerus tak berhenti, dan shaum terus menerus
tanpa pernah berbuka?" Orang yang bertanya tadi berkata : "Mana ada
yang sanggup seperti itu ?" (HR.Al-Bukhari, Kitaabul Jihaad Was-
Sayru: 2577)
 
Disimpulkan saja sekalian bang asoy...
 
Kenapa kita lebih sibuk dengan perowinya ketimbang mengamalkan isi, makna dan inti dari hadist tersebut ya, ironi memang. Terlalu ribet dengan formalitas islam, malah jadi "kering" diliatnya. :(
 
Kenapa kita lebih sibuk dengan perowinya ketimbang mengamalkan isi, makna dan inti dari hadist tersebut ya, ironi memang. Terlalu ribet dengan formalitas islam, malah jadi "kering" diliatnya. :(

dalam islam untuk menyampaikan kebaikan itu harus lah dengan kebaikan..
tidakboleh berdusta atau berbohong dan menggunakan cara yg salah walaupun maksudnya baik.
jadi bukan masalah formalitas.. tapi Islam itu ada aturanya dan harus dipisahkan antara haq dan yg bathil.
klo nt perbendapat seperti itu bisa membahayakan aqidah umat islam

ini ada hadist buat pendapat nt

“Barang siapa yang mengatas namakan aku, apa2 yang tidak pernah aku katakan, maka hendaknya ia mengambil tempatnya di neraka” (Hadits Shahih, Riwayat Bukhari juz 1, Ahmad juz 4)

Juga hadits yang lain :
“Tidak seorangpun yang berkata atas namaku dengan bathil atau dia mengatakan apa2 yang tidak pernah aku ucapkan, melainkan tempat tinggalnya di neraka. (Hadits Shahih, riwayat Ahmad)

Juga Hadits yang senada dengan itu :
“Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya dineraka” (Hadits Shahih, riwayat Bukhari dan Muslim).

Sekali lagi camkanlah hadits2 ini :

“Barang siapa berbohong atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka” (Hadits Shahih, riwayat Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Majah)

“Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat dan ceritakanlah tentang Bani Israil tidak mengapa, dan barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di neraka” (Hadits Shahih, Riwayat Bukhari, At Tirmidzi dan Ahmad)

“Janganlah kamu berbohong atas namaku!, Sesungguhnya barang siapa yang berbohong atas namaku, maka hendaklah ia masuk neraka” (Hadits Shahih, Riwayat Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

“Sesungguhnya orang yang berbohong atas namaku, akan dibangunkan untuknya satu rumah di neraka” (Hadits Shahih, riwayat Ahmad dengan sanad shahih atas syarat Bukhari dan Muslim).

"Barang siapa yang meriwayatkan hadits dariku, dan dia menyangka bahwa haditsku itu dusta/palsu, maka ia termasuk salah seorang dari para pendusta” (Hadits Shahih, riwayat Muslim juz 1 dan Ibnu Hibban juz 1)

dan ini buat nt pribadi


Dari Abu
Hurairah radhiallahu anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wa salam, beliau bersabda:
”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata-kata yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR Bukhari dan
Muslim)
 
Kenapa kita lebih sibuk dengan perowinya ketimbang mengamalkan isi, makna dan inti dari hadist tersebut ya, ironi memang. Terlalu ribet dengan formalitas islam, malah jadi "kering" diliatnya. :(

klo tanpa perowi mah itu bukan hadits, tp puisi..=))

lgian jika tanpa perowi, bagaimana hadits tsb bs sampai ke kita?

lewat mimpi kah?
:-?
 
@Asoy
Iya saya setuju dengan pendapat bro asoy /no1
Memang islam sendiri mempunyai aturan yang jelas. Tapi bukan berarti hadist yg perowinya lemah itu tidak baik untuk di amalkan isinya. Selama tidak menimbulkan kerusakan kepada sesama, tidak apa2 kan klo di amalkan /ok

klo tanpa perowi mah itu bukan hadits, tp puisi.. =))

lgian jika tanpa perowi, bagaimana hadits tsb bs sampai ke kita?

lewat mimpi kah ?
:-?

Hehhe ,, memang lewat perowi kita bisa tahu tentang isi hadist itu lemah atau tidak. Tapi sangat disayangkan, khususnya anak muda seperti saya contohnya, terlalu gampang "menuduh" klo hadist dhoif itu tidak baik untuk di amalkan. Padahal kalau dilihat dari esensi hadistnya, saya rasa tidak ada masalah untuk di amalkan isinya /ok
 
@Asoy
Iya saya setuju dengan pendapat bro asoy /no1
Memang islam sendiri mempunyai aturan yang jelas. Tapi bukan berarti hadist yg perowinya lemah itu tidak baik untuk di amalkan isinya. Selama tidak menimbulkan kerusakan kepada sesama, tidak apa2 kan klo di amalkan /ok

menyampaikannya saja tidak boleh apalagi mengamalkanya, pahami hadist hadist diatas

ini perkataan imam Muslim Imam Muslim -rahimahullah- berkata, “Ketahuilah -semoga Allah memberikan taufiq padamu- bahwasaya wajib atas setiap orang yang mengerti pemilahan antara riwayat yang shohih dari riwayat yang lemah dan antara perowi yang tsiqoh (terpercaya) dari perowi yang tertuduh (berdusta; agar tidak meriwayatkan dari riwayat-riwayat tersebut melainkan yang dia ketahui keshohihan periwatnya dan terpercayanya para penukilnya, dan hendaknya dia menjauhi riwayat-riwayat yang berasal dari orang-orang yang tertuduh dan para ahli bid’ah (yang sengit permusuhannya terhadap ahlus sunnah). Dalil dari perkataan kami ini adalah firman Allah yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. Al Hujurat: 6)


“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran”.
An-Najm :28

"Jauhilah zhon (prasangka), karena prasangka itu sedusta-dusta perkataan atau ucapan". (Muttafaqun Alaihi).

klo mau tau syarat syarat menggunakan hadist dhoif silahkan cari sendiri disitu ada syarat syaratnya
 
Sip bro, nanti saya coba baca2 lagi, sambil cari2 pengetahuan baru lagi soal hadist dhoif ini /no1
 
Setuju ama bro asoy ..... /no1
 
@Asoy
Iya saya setuju dengan pendapat bro asoy /no1
Memang islam sendiri mempunyai aturan yang jelas. Tapi bukan berarti hadist yg perowinya lemah itu tidak baik untuk di amalkan isinya. Selama tidak menimbulkan kerusakan kepada sesama, tidak apa2 kan klo di amalkan /ok



Hehhe ,, memang lewat perowi kita bisa tahu tentang isi hadist itu lemah atau tidak. Tapi sangat disayangkan, khususnya anak muda seperti saya contohnya, terlalu gampang "menuduh" klo hadist dhoif itu tidak baik untuk di amalkan. Padahal kalau dilihat dari esensi hadistnya, saya rasa tidak ada masalah untuk di amalkan isinya /ok


hmm..

ok..
coba sekarang kita simak dan telaah perkataan "anak muda" bernama lengkap Abdul Husain bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi yang kita kenal dengan Imam Muslim, dalam Muqoddimah Shohih Muslim-nya..

”Ketahuilah –semoga Allah memberikan taufiq padamu- bahwasaya wajib atas setiap orang yang mengerti pemilahan antara riwayat yang shohih dari riwayat yang lemah dan antara perowi yang tsiqoh (terpercaya, pen) dari perowi yang tertuduh (berdusta, pen); agar tidak meriwayatkan dari riwayat-riwayat tersebut melainkan yang dia ketahui keshohihan periwatnya dan terpercayanya para penukilnya, dan hendaknya dia menjauhi riwayat-riwayat yang berasal dari orang-orang yang tertuduh dan para ahli bid’ah (yang sengit permusuhannya terhadap ahlus sunnah). Dalil dari perkataan kami ini adalah firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. Al Hujurat: 6)
Ayat yang kami sebutkan ini menunjukkan bahwa berita orang yang fasik gugur dan tidak diterima dan persaksian orang yang tidak adil adalah
tertolak.”

atau kita simak lagi ucapan para "anak-anak muda" islam, yg telah mendahului kita rahimahumullah..

Sufyan bin ‘Uyainah, salah satu guru Imam Syafi'i, berkata :

حدث الزهري يوماً بحديث؛ فقلت له : هاته بلا إسناد فقال : أترقى السطح بلا سلم؟.

“Pada suatu hari Az-Zuhri menyampaikan satu hadits. Aku berkata padanya : ‘Sampaikanlah hadits itu tanpa sanad’. Ia (Az-Zuhri) berkata : ‘Apakah aku akan menaiki loteng tanpa tangga ?’.

Dan dalam Shahih Muslim dari ‘Abdaan, ia berkata :

سمعت عبد الله بن المبارك يقول : الإسناد عندي من الدين ولو لا الإسناد لقال من شاء ما شاء.

“Aku mendengar ‘Abdullah bin Al-Mubaarak berkata : ‘Sanad bagiku termasuk bagian dari agama. Jika sanad tidak ada, niscaya orang akan berkata sesuka hatinya”
 
Assalammualaikum.Wr.Wb

sebenarnya kita sebagai umat muslim yang gemar membaca hadist nabi atau hadist qudsi.
kita harus berhati-hati,karena bisa jadi hadist yang kita baca adalah hadist palsu yang dikarang oleh manusia yg ingin merusak kaum muslim.Sebenarya ada tingkatan2 dlm hadist yg petama Hadist hasan sohih, hadist sohih, hadist dhaif(kalau gak salah,maaf kalau salah),dan ada beberapa tingkatan hadist yang lain tapi gw lupa. Dan dalam menentuka apakah hadist yg dibaca sohih atau tidak, ada tiga cara yaitu secara sanad, martab, dan yang satu gw lupa.

Wassalammualaium.wr.wb
 
Nah bagi gw yang awam dan masih cetek agama kalo bener apa ga nya itu hadist kadang suka pusing. soalnya orang2 pada sok pinter semua... Jadi kita yang masih belajar jadi mudah kebawa2
 
@kerong xxx : gw juga masih cetek tentang agama, tapi gw pernah di bilangin sama temen gw namanya Ibnu Rusyd, mending lo banyak baca buku kalau mau banyak tau tentang agama, tapi jangan hanya teerpatok satu buku atau hanya pada buku saja. tapi jangan lupa sering belajar dengan para ulama, karena untuk memperjelas tafsiran al'quran atau hadist yang kita baca.

Untuk menafsirkan sebuah hadist kita jangan hanya membaca pada teks atau kalimatnya, tapi kita harus membaca konteksnya..
 
Assalamualaikum
klo menurut saya, yang utama tetap hadist yg sohih / jelas, untuk tingkatan lainnya itu bisa kita katakan hanya untuk memotivasi,

misal dalam kondisi perang hendak nya kita tidak memanfaatkan hadist lemah yg berbunyi jihad besar adalah jihad melawan hawa nafsu, kita tetap mengutamakan jihad mengangkat senjata, nah bila datang masa gencatan senjata hadist tersebut bisa kita gunakan untuk motivasi agar lebih baik dlm berahklak....kiranya begitu.

wassalam
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.