Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Dropoutatau putus kuliah artinya terhentinya proses pendidikan jenjang perguruan tinggi di tengah jalan yg disebabkan oleh suatu hal. Sebuah fenomena yg sering ada sepanjang masa di dunia pendidikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada tahun 2020 mengeluarkan data statistik mengenai fenomena putus kuliah. Disebutkan angka putus kuliah pada tahun 2019 di Indonesia sebanyak 602.208 atau 7% dari 8.483.213 total mahasiswa yg terdaftar. Sementara pada tahun sebelumnya sebesar 8%.
Terlepas angka atau persentase tersebut dianggap akbar atau kecil, fenomena putus kuliah pasti mempengaruhi banyak aspek. Misalkan dari sudut lingkungan pendidikan seperti: universitas, fakultas, & jurusan, akan berpengaruh akreditasi. Barangkali, akreditasi dapat diibaratkan sebagai standar mutu. Jika suatu mengalami penurunan, maka nilai tawar akan bernasib sama. Hal ini juga menungkinkan kemampuan untuk menjaring calon mahasiswa baru akan berkurang daripada sebelumnya. Secara teknis, rasanya juga tidak berlebihan kalau turunnya angka akreditasi dianggap sebagai penurunan kinerja berbagai pihak terkait di kalangan perguruan tinggi. Hanya berdasarkan dari sudut pandang sesempit ini, saya yakin, putus kuliah merupakan kondisi yg wajib dihindari oleh perguruan tinggi manapun.
Sementara dari pihak mantan mahasiswa yg mengalami putus kuliah, akibat nyatanya dapat dilihat dari cita-cita jadi sarjana akan terbang bersama angin. Jelas, fenomena didepak dari kampus jadi momok serupa hantu di kalangan mahasiswa. Menyeramkan. Bahkan, tercetus sejak dalam alam pikiran pun wajib dihindari.
Memang, saat ini, kita mudah menemukan narasi berisi kisah suatu tokoh punya pendidikan hancur lebur tetapi punya kesuksesan pada suatu bidang. Namun berapa banyak yg sukses? Muncul anggapan di dalam pikiran,Jangan-jangan, yg gagal lebih banyak daripada yg berhasil?
Adanya narasi bahwa kuliah itu tidak penting, tidak menciptakan minat untuk melanjutkan pendidikan tinggi jadi berkurang. Memang, saya tidak memegang suatu data akan hal ini. Hanya berdasarkan keyakinan. Menurut keyakinan saya, minat untuk melanjutkan pendidikan jenjang pendidikan di atas SMA/Sederajat masih tinggi. Setidaknya, demi mendapatkan ijazah yg diperuntukkan dalam melamar pekerjaan.
Kuliah seakan-akan jadi jembatan menuju tempat bernama masa depan yg lebih baik. Kuliah sangat jelas menawarkan hal itu. Jika seseorang menjalankan masa kuliah dengan baik & benar, sanggup melahirkan banyak penawaran lebih baik daripada jenjang pendidikan sebelumnya.
Namun, mereka yg putus kuliah, seakan-akan berjalan di atas jembatan, lalu terjatuh ke jurang. Dalam. Gelap. Pekat. Tak ada asa tentang masa depan. Tak ada jalan keluar. Tak ada secercah cahaya. Malah, timbul pikiran & perasaan bahwa akan terjebak selamanya di dasar jurang. Kegagalan masa studi sangat sanggup melahirkan ketakutan & kecemasan apabila membicarakan masa depan.
Apa yg harus dilakukan sekarang?
Barangkali itulah pertanyaan yg menuntut jawaban dalam tempo yg sesingkat-singkatnya. Karena hidup harus tetap berjalan meski latar belakang studi hancur lebur. Kalau sudah enggan dalam menjalankan, kematian mungkin jadi solusi, terlepas dari masalah yg dihadapi. Untuk apa menjalankan hidup kalau sudah tak mau?
Mungkin ada benarnya kegagalan masa studi bukanlah akhir dari segalanya. Namun segalanya jadi lebih rumit kalau mengalami kegagalan dalam pendidikan. Kalau bukan masalah berkurangnya penawaran dalam urusan pekerjaan, atau harus menghadapi cibiran yg dialamatkan kepada kaumdropout, paling tidak harus menghadapi berbagai pikiran & perasaan negatif yg tumbuh dalam diri. Kadang hal ini tidak sanggup dikendalikan. Bisa muncul & berkembang begitu saja.
Bagi manusia yg berhasil lulus kuliah dengan baik & benar, atau para tenaga pendidik & pihak universitas, mahasiswadropouttidak lebih dari manusia malas & tak bertanggung jawab atas opsi yg diambil. Padahal, mantan mahasiswa tersebut dianggap sudah memutuskan berkuliah tetapi malah mengakhiri dengan cara salah & tidak baik. Di sini timbullah stigma.
Sebuah stigma terjadi atas suatu pandangan seseorang kepada orang lain yg memiliki suatu ciri negatif. Kemudian, dijadikan dasar dalam bersikap ditujukan kepada mereka yg dipandang rendah atau buruk. Hal ini mempengaruhi diri yg menerima stigma.
Saat seseorang mendapatkan sesuatu yg buruk dalam kehidupan, dibutuhkan proses penerimaan. Karena mendapatkan suatu stigma, proses tersebut berjalan lebih lambat. Padahal, penerimaan sebuah kejadian buruk merupakan langkah awal yg berdampak besar. Jika langkah perdana mengalami kendala atau sudah jadi gangguan besar, berpengaruh pada berbagai tahapan lain.
Suatu stigma yg tersemat kepada kaum dropout sanggup menimbulkan berbagai stressor atau tekanan, kemudian mempengaruhi pikiran. Pikiran merupakan sesuatu yg unik. Ada kalanya manusia tak sanggup mengendalikan pikirannya sendiri. Jika pikiran sudah kacau, maka akan mempengaruhi hal lain, perilaku salah satu contohnya. Hal ini dapat saja semakin parah ketika sempitnya penerimaan diri pasca dikeluarkan dari kampus di lingkungan sosial mereka.
Terlebih di masa sekarang. Kita lebih mudah menemukan orang-orang yg berhasil dalam pendidikan. Bukan saya menganggap sepele. Namun, dengan banyaknya informasi tersebut, saya merasa bahwa yg gagal dalam studi, seakan-akan jadi pihak yg sulit membagikan kisah. Seperti ruang bercerita cuma penuh & disesaki yg berhasil. Karena sebetulnya, tidak semua orang sanggup meraih keberhasilan.
Dengan adanya tulisan ini, saya berharap bagi yg membaca, sanggup mendapatkan suatu citra kecil tentang fenomena ini. Juga, bagi yg sedang mengalami masa kritis dalam masa studi, asa saya, akan lebih sadar & segera menyelesaikan pendidikan dengan cara yg baik & benar. Pokoknya, segera selesaikan masa pendidikan meski mungkin sekarang dalam kondisi kehidupan sedang tidak enak & sedikit banyak mulai mempengaruhi kelancaran studi. Percayalah, kehidupan pascadropoutlebih tidak enak. Kalau tidak percaya, monggo, silakan bertanya kepada mereka yg menyandang titel dropout.
Tulisan ini ditulis oleh Angga Prasetyo diCangkemanpada tanggal 28 Oktober 2022. Hari ini 14:22